NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Terperangkap Dalam Cinta Pria Beristri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Konflik etika / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

‎PLAAKK!

‎‎Suara tamparan itu menggema keras di lorong lantai tiga puluh, seakan membelah keheningan yang menyelimuti gedung perkantoran itu.

‎‎Anindya terpaku di tempatnya. Pipi kirinya memerah seketika, terasa panas menyengat. Matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang hendak tumpah. Tangannya terangkat secara refleks, menutupi sisi wajah yang baru saja dihantam.

‎‎Lita yang ada disana untuk menyerahkan berkas, terbelalak tak percaya. "Ibu Gisella?!" serunya lirih, nyaris tak terdengar.

‎‎Gisella masih mencengkeram lengan Anindya erat-erat. Senyum sinisnya belum hilang, meski matanya memancarkan kemarahan yang meluap-luap.

‎‎"Inilah akibatnya jika berani merebut suami orang!" ucapnya, suaranya bergetar, bercampur amarah dan kepedihan yang tak sanggup dibendung.

‎‎Anindya tidak melawan. Ia hanya menunduk dalam, bibirnya bergetar menahan isak tangis.

‎‎"S-saya tidak, Nyonya... saya tidak pernah—"

‎‎"DIAM!" bentak Gisella sekali lagi, mengangkat tangannya untuk kedua kalinya.

‎‎‎"CUKUP!"

‎‎Sebuah suara terdengar, dingin, tegas, membelah udara yang tegang itu.

‎‎Reynand berdiri di ambang pintu. Rahangnya mengeras, menandakan kemarahan yang ditahan sekuat tenaga. Matanya gelap, menatap tajam ke arah istrinya.

‎‎"Lepaskan dia."

‎‎Dua kata saja. Diucapkan rendah. Namun begitu berat dan mengancam, hingga seluruh lorong mendadak sunyi senyap.

‎‎Gisella menoleh perlahan, tangannya masih mencengkeram lengan Anindya.

‎‎"Berani kau membentakku? Demi dia?!"

‎‎Reynand melangkah cepat menghampiri. Dengan tegas, ia melepaskan cengkeraman istrinya dari lengan Anindya, lalu berdiri tegak di depan wanita itu, melindunginya sepenuhnya.

‎‎"Anindya, masuk ke dalam," perintahnya tanpa menoleh ke belakang.

‎‎Anindya mengangguk cepat, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia berlari masuk ke ruangan itu dan menutup pintu rapat-rapat.

‎‎Kini tinggal Reynand dan Gisella, serta Lita yang masih berdiri mematung.

‎‎"Kau sudah gila?" Reynand menahan amarahnya, suaranya rendah namun tajam menembus dada. "Ini tempat kerja, Gisella. Bukan pasar!"

‎‎Gisella tertawa getir, air mata mengalir deras di pipinya.

‎‎"Tempat kerja? Kau membawa sekretaris itu masuk ke ruanganmu! Makan siang bersamanya di dalam! Dan kau menyebut ini tempat kerja?!"

‎‎"Aku sudah berkali-kali bilang, ini bukan karena dia!" Reynand melangkah selangkah lebih dekat. "Tetapi jika kau berani menyentuhnya sekali lagi... aku bersumpah, Gisella. Aku akan pastikan Wijaya Group tidak lagi memiliki tempat di dunia bisnis ini."

‎‎Ancaman itu terucap lugas, tanpa kedok, tanpa ragu.

‎‎Gisella mundur selangkah, seolah baru saja menerima tamparan yang jauh lebih keras dari sebelumnya.

‎‎"Kau... kau mengancamku? Demi wanita itu?"

‎‎"Aku melindungi seseorang yang tidak bersalah," jawab Reynand menatapnya lekat. "Yang mengkhianati pernikahan ini bukan Anindya. Melainkan kita. Sejak awal."

‎‎DEG.

‎‎Kalimat itu menghantam dada Gisella lebih berat daripada pukulan apa pun. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang menahan tangis.

‎‎"Baiklah... baiklah, Reynand..." bisiknya parau. "Kau memilih dia. Kau memilih menghancurkan segalanya."

‎‎Ia berbalik perlahan, melangkah sempoyongan menuju pintu lift. Sesaat sebelum pintu tertutup, ia berhenti dan menoleh ke arah suaminya.

‎‎"Kau menginginkan perang? Baiklah. Kita perang."

‎‎Pintu lift tertutup pelan, menyisakan keheningan yang mencekam.

‎‎Lita masih berdiri kaku di tempatnya. "P-Pak..."

‎"Panggil tim keamanan," perintah Reynand dengan wajah datar namun tegas. "Perketat akses ke lantai ini. Dan Lita, sampaikan pengumuman resmi kepada seluruh karyawan — ini langsung dari saya. Siapa pun yang menyebarkan kabar tidak benar atau fitnah, akan dikenakan sanksi tegas. Tidak ada toleransi."

‎Lita mengangguk sigap. "Baik, Pak. Segera saya kerjakan."

‎‎Reynand melangkah masuk ke ruangannya dan menutup pintu. Di dalam ruangan, suasana hening dan berat. Anindya duduk di tepi sofa, menunduk dalam. Pipi kirinya masih tampak merah dan bengkak sedikit.

‎‎Reynand mendekat, berhenti sekitar satu meter di hadapannya.

‎‎"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pelan, penuh keprihatinan yang tak disembunyikan.

‎‎Anindya menggeleng, lalu mengangguk lemah. "S-saya baik-baik saja, Pak."

‎‎Reynand mengambil kotak obat kecil dari laci meja, lalu mengeluarkan tisu basah. Ia berlutut perlahan di depan wanita itu.

‎‎Anindya terkejut, mundur sedikit. "P-Pak, tidak usah—"

‎‎"Diam sebentar," ucapnya lembut.

‎‎Ia mengusap sisi pipi yang memerah itu dengan hati-hati, menenangkan kulit yang terasa panas. Gerakannya sangat pelan, penuh perhatian, seolah sedang menangani sesuatu yang paling rapuh di dunia.

‎Anindya menahan napas, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sesak.

‎‎"Maafkan aku," bisik Reynand, matanya menatapnya lekat. "Kau terseret ke dalam hal ini karena kesalahanku."

‎‎"Ini bukan kesalahan Bapak," jawab Anindya lirih, menunduk kembali. "Saya yang seharusnya tidak berada di sini."

‎‎Reynand terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri perlahan.

‎‎"Makanlah dulu," ucapnya menunjuk kotak makan yang masih tertutup di meja kecil. "Rapat dimulai pukul satu. Kamu tidak akan fokus bekerja dengan perut kosong."

‎‎Kotak makan di hadapan Anindya masih tertutup rapat. Ia menatapnya lama, namun tak ada sedikit pun selera yang muncul.

‎‎Reynand telah kembali ke kursi kerjanya, membuka layar laptopnya, namun jemarinya diam di atas papan ketik tertahan di udara. Matanya terpaku pada email yang baru masuk.

‎‎Rapat Darurat Dewan Direksi — Penarikan Dana Wijaya Group — Pukul 15.00

‎‎Keheningan menyelimuti ruangan. Berat, canggung, dan menekan.

‎‎Akhirnya Anindya membuka tutup kotak itu. Nasi masih mengeluarkan uap hangat, disertai lauk ayam dan capcay yang tampak lezat. Namun tangan kanannya bergetar halus, membuat suapan pertama terasa begitu berat.

‎‎"Pak..." suaranya terdengar lirih, memecah kesunyian.

‎‎Reynand mendongak perlahan. "Ya?"

‎‎"Apakah... apakah Nyonya Gisella akan baik-baik saja?"

‎‎Suara Anindya begitu kecil, namun tulus, meski wajahnya masih menyisakan bekas perlakuan kasar wanita itu.

‎‎Reynand terdiam, menatapnya lekat-lekat cukup lama.

‎‎"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Dia sudah menyakitimu."

‎‎Anindya menunduk, menatap nasi di sendoknya.

‎‎"Tapi beliau tampak... begitu terluka, Pak. Saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga Bapak dengannya. Tapi saya bisa melihat... Nyonya Gisella sangat mencintai Bapak."

‎‎Kalimat itu menghantam dada Reynand lebih keras daripada apa pun. Ia menutup laptopnya, bersandar di kursi, menatap wanita itu dengan pandangan yang tak dapat dibaca.

‎‎"Kamu masih mampu merasa iba pada orang yang melukaimu."

‎‎Anindya tak menjawab. Ia menyuapkan nasi ke mulutnya perlahan, namun air mata menetes jatuh begitu saja. Ia segera menyeka pipinya, berusaha menyembunyikan kesedihannya, berpura-pura terbatuk karena pedas.

‎‎Reynand menyaksikan semuanya. Dadanya terasa sesak, seakan tertimpa beban yang tak kasat mata.

‎‎Ia bangkit berdiri, meraih kotak makan miliknya sendiri, lalu melangkah duduk di sofa seberang Anindya, menjaga jarak sekitar satu meter. Jarak yang aman, namun cukup dekat untuk menunjukkan kehadirannya.

‎‎"Makanlah," ucapnya pelan.

‎‎Ia pun membuka kotak makannya, mulai menyantapnya dalam diam.

‎‎Tak ada percakapan. ‎Itulah kali pertama mereka makan bersama, bukan sebagai atasan dan bawahan, melainkan sebagai dua jiwa yang sama-sama terluka, terjebak dalam situasi yang tak diinginkan siapa pun.

-

-

‎‎Tok. Tok.

‎‎Hansen masuk ke ruangan itu. Wajahnya tampak tegang. Ia melirik sekilas ke arah Anindya, ke arah pipi yang masih memerah, lalu menunduk hormat.

‎‎"Maaf mengganggu, Tuan... kabar telah menyebar ke seluruh bagian perusahaan."

‎‎Reynand tidak tampak terkejut. Ia meletakkan sendoknya perlahan.

‎‎"Apa yang dikatakan mereka?"

‎‎"Kabar yang beredar... Nyonya Gisella menampar Anindya karena memergoki Tuan berselingkuh," suara Hansen tertahan. "Grup percakapan pesan kantor ramai membahas hal itu."

‎‎Wajah Anindya menunduk semakin dalam. Rasa malu menyusup tajam ke seluruh tubuhnya. Ia ingin menghilang seketika.

‎‎Reynand meletakkan kotak makannya di meja kecil, gerakannya tenang namun tegas.

‎‎"Kirimkan pengumuman resmi kepada seluruh karyawan. Siapa pun yang menyebarkan berita tidak benar dan memfitnah akan ditindak tegas. Tidak ada toleransi." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada mantap. "Dan mulai saat ini... tidak ada satu orang pun yang boleh mendekati Anindya tanpa izin langsung dariku. Mengerti?"

‎‎"Baik, Tuan."

‎‎Anindya menggenggam sendoknya begitu erat hingga buku jarinya memutih.

‎"Pak... kalau terus begini... saya akan jadi beban Bapak."

‎‎"Kamu bukan beban." Potong Reynand cepat. Terlalu cepat. Ia menarik napas. "Kamu korban."

‎‎Anindya mendongak. Mata mereka bertemu. Untuk tiga detik itu, tak ada lagi CEO dan sekretaris. Hanya Reynand dan Anindya.

‎‎Lalu Reynand memalingkan wajahnya, berdeham pelan. Ia menatap jam dinding, lalu menoleh pada Hansen yang masih berdiri di sana.

‎‎"Hansen..." panggilnya pelan.

‎‎"Ya, Tuan."

‎‎"Antar Anindya pulang lebih awal. Sekarang."

‎‎Anindya terperanjat. "Tidak perlu, Pak... saya bisa pulang sendiri."

‎‎"Kondisimu tidak memungkinkan," potong Reynand lembut namun tegas, lalu beralih menatap Hansen. "Beritahu bagian rapat, aku akan datang. Rapat direksi pukul tiga akan aku hadapi sendirian."

‎‎"Tapi Pak..."

‎‎"Jangan menolak, Anindya." Tatapannya tak dapat digoyahkan. "Aku tidak ingin ada yang melihatmu dalam keadaan seperti ini. Hansen akan menemanimu sampai ke pintu rumah."

‎‎Hansen mengangguk. "Baik, Tuan. Mari, Anindya."

‎‎Anindya menatap punggung Reynand yang sudah berbalik ke arah jendela. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun tak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya ia hanya membungkuk pelan.

‎‎"Terima kasih, Pak."

‎‎Langkah kakinya terdengar menjauh. Pintu tertutup pelan.

‎‎Kini Reynand benar-benar sendirian. Ia menatap layar ponsel, pesan masuk demi pesan, kabar itu menyebar begitu cepat. Namun yang paling berat bukan itu. Ia membiarkan Anindya pergi, bukan karena mengusirnya, tapi karena takut... takut wanita itu terluka lebih dalam lagi.

‎‎Tangannya mengepal di tepi meja. Jam menunjukkan pukul satu kurang seperempat. Waktu tak menunggu. Rapat direksi tinggal dua jam lagi.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
erai kan gak harus kedua belah pihak setuju
〈⎳ FT. Zira
ancamanya aja yg gak efisien🤧
〈⎳ FT. Zira
sebutannya tetep pelakor ya walau mereka saling suka dan terjebak keadaan.. mulut netizen kan emng paling bener🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
Rey sih gak bakal mundur nin
Bunda HB
bu lady yg trhormat ank mu tdr dgn pria lain yg bernama Gavin .di namakan istri gatal...makanya di cerai sama suami nya 😅😅
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣 lady Gaga 🤭🤣✌️
total 1 replies
Fay
Kutunggu lanjutannya thor biar semangat ku kasi vote deh💪💪
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 🙏😘
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
ehh... gak bisa komen.. lagi revisi katanya🤧🤧🤧
〈⎳ FT. Zira
dirimu punya hak apa nglarang, suami bukan/Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira
anakmu yg nyosor duluan loh nyonyaaa
〈⎳ FT. Zira
sengaja banget ngasih terapi jantung yak🤧
🍓ADIRA🍓
Ayooo cari tau Rey... 🧐
🍓ADIRA🍓
sepertinya si binik sama kekasih gelapnya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
yg salah y statusnya Reynand 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
MBOK YA JANGAN LANGSUNG PLAK TOH BUK 😎 TANYA DULU BAEK-BAEK GTU LOH 😠
🍓ADIRA🍓
iya iya yg lgi lope lope dah /Heart/🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Terbawa perasaan sesaat??? plis deh ya buk 😎 Reynand itu bukan anak 17 tahun lagi loh 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
🍓ADIRA🍓
maap sya klarifikasi y nyonya... anakmu itu loh yg demen ambil kesempatan dalam kesempitan dluan 😂😂😂🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk calon besan tak boleh galak^ loh NyoMar 😂😂😂
kymlove...
beresin dulu aja ray hubungan mu sama gisella... cari taulah tentang gisella biar kamu tau keburukkan gisella, jadi jika beneran cerai km punya alasan yg kuat. untuk menggugat... biar semua tidak menyalahkan anindya jadi pihak ketiga terus...
kymlove...
hadeh.... udah ketebak pasti bakalan nyalahin nindya.... tapi ibuuuu..... kalau nindya pergi siapa. yang bakalan nanggung pengobatan mu!!!! mbok ya tolong jangan cuma lihat jeleknya aja!!! emang anak ibuuu jg mau terjebak sm. suami orang!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!