NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 21 ] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

"Awalnya semua terasa baik-baik saja. Kami datang bersama, dan sama sekali tak menyangka Kak Edward juga ada di sana..."

Napas Azy terdengar memburu di dalam ruangan berkaca tebal itu. Matanya menyipit, menatap kosong ke cangkir porselen di atas meja yang mulai dingin. Ia meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak penyesalan yang mendadak mencekik lehernya.

Ia menoleh pada sosok di sampingnya, lalu berbisik dengan nada yang pecah oleh rasa bersalah, "Aku... aku tidak pernah menyangka kalau meninggalkan Anisa sendirian di sana benar-benar keputusan yang sangat salah."

Suasana mendadak menghening. Waktu seolah berputar mundur, menarik ingatan mereka kembali ke hari di mana petaka anggun itu bermula.

...Hari pertama di saat kepergian nya Oscar...

Udara siang itu terasa lengket dan gerah, tipikal cuaca Jakarta yang menekan dada. Di dalam rumah mewah bergaya minimalis modern milik keluarga Carlous, sunyi merayap di setiap sudut. Anisa duduk sendirian di sofa ruang tamu, jemarinya mengusap pelan permukaan meja kayu yang licin. Suaminya baru saja berangkat ke luar kota beberapa jam yang lalu untuk urusan bisnis, meninggalkan kehampaan yang biasa ia dekap erat-erat.

Klek. Pyarrr!

Pintu depan terdorong kasar tanpa ketukan.

"Anisa!"

Suara lengkingan khas itu membelah kesunyian rumah. Azy melangkah masuk dengan gaun terusan kain sutra warna krem yang berkibar, tumit high heels-nya menggetuk lantai marmer dengan irama yang tajam dan terburu-buru. Wajahnya dipoles riasan sempurna, memancarkan aura sosialita yang haus akan perhatian.

Anisa tersentak kaget, namun sedetik kemudian senyum tipis terukir di bibirnya. Dadamu sedikit terangkat lega; setidaknya, sepi hari ini ada yang mengusir.

"Ya Allah, Kak Azy... kaget aku," sahut Anisa lembut sambil berdiri, membetulkan letak jilbab instan polosnya yang agak miring.

"Ayo, Sayang! Temani aku pergi ke pembukaan pameran seni. Hari ini ada lelang megah yang harus banget aku hadiri!" Azy berkacak pinggang, matanya berbinar penuh ambisi, sama sekali tidak memberi ruang bagi Anisa untuk bernapas.

"Lelang?" Anisa membelalakkan mata. Kerutan halus muncul di dahinya. "Mendadak banget, Kak?"

Azy mengibaskan tangannya di udara, memutar bola mata seolah keberatan Anisa adalah hal sepele. "Nanti habis pulang dari lelang, kita shopping. Bagaimana? Lagipula, liat deh baju kamu ini. Kamu itu butuh baju baru yang lebih modis, Nis. Biar nggak kaku-kaku amat!"

"Masya Allah, Kak Azy... aku kira ada acara darurat apa, ternyata niat ujung-ujungnya belanja, ya?" Anisa terkekeh geli, mencoba mencairkan atmosfer. Suara tawanya terdengar merdu namun tertahan.

"Tentu saja, Sayangku!" Azy menepuk bahu Anisa agak keras, mengikis jarak di antara mereka. Senyumnya melebar penuh rasa bangga.

"Hidup itu perlu dinikmati! Caranya? Belanja! Manfaatkan kekayaan suami semaksimal mungkin... iya, kan?"

Anisa mengelus dadanya pelan, mencoba menolak dengan kelembutan khasnya. "Iya, Kak... tapi selagi pakaian yang aku pakai ini masih nyaman dan sopan, rasanya belum perlu beli baru, deh."

Mendengar penolakan itu, raut wajah Azy berubah kilat. Senyumnya tertahan di bibir, matanya menajam, mendengus pelan dengan raut kesal yang ditutupi tawa buatan.

"Ughhh! Sudahlah, jangan membuang-buang waktu! Membuang waktu orang cantik itu dosa besar, lho," potong Azy cepat, menarik paksa pergelangan tangan Anisa. "Meskipun kamu kagak mau belanja, setidaknya temani aku shopping! Okay?"

Anisa hanya bisa menggelengkan kepala, pasrah. Menghela napas panjang, ia membiarkan tubuhnya diseret. Dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa semoga di pameran seni nanti, Azy tidak benar-benar memaksanya memborong barang-barang mewah yang tak ia butuhkan.

Perjalanan siang itu dikawal ketat. Dua pria berbadan tegap bersetelan jas hitam duduk tegak di kursi kemudi depan, sementara Azy dan Anisa duduk di bangku belakang mobil Alphard yang dingin oleh semburan AC. Aroma parfum mahal beraroma vanilla-musk milik Azy memenuhi kabin mobil, menyengat hidung Anisa.

Azy memang begitu. Jika sudah menemukan teman bicara, ceritanya tak akan pernah usai. Sepanjang jalan, bibir tipisnya tak henti-hentinya membanggakan sosok suaminya yang bergelimang harta—sebuah rutinitas pamer halus yang sudah dihafal luar kepala oleh Anisa.

Sesampainya di pelataran galeri seni, megahnya bangunan berarsitektur Eropa klasik itu menyapa pandangan. Karpet merah membentang megah dari pintu mobil hingga ke dalam aula, diperuntukkan khusus bagi tamu VIP.

Azy turun dari mobil bagaikan seorang ratu. Kacamata hitam berbingkai tebal bertengger di hidungnya, gaun glamornya memantulkan cahaya matahari, dan sepatu YSL berwarna merah menyala melengkapi penampilannya. Setiap langkahnya memancarkan keangkuhan kaum aristokrat yang paham betul berapa nilai harga dirinya.

"Wah... selalu tampil cantik dan anggun ya, Nyonya Azy~" seru sebuah suara wanita dari arah samping.

Itu adalah Direktur Yu Guan Yin, pemimpin perusahaan swasta raksasa yang dingin dan penuh kalkulasi. Di sampingnya, berdiri seorang wanita lansia berpenampilan megah dengan tongkat berukir emas—Nyonya Amarta Nawa, CEO veteran dari departemen bisnis haluan barat.

Azy membusungkan dada, menegakkan posisinya seraya mengibas rambut panjangnya. "Ya jelas, dong! Semua orang di ruangan ini harus tahu siapa istri Tuan Muda Hans Carlous yang paling cantik ini."

Tanpa canggung, Azy menarik lengan Anisa yang sejak tadi berusaha bersembunyi di balik bayang-bayangnya. "Oh iya, kenalkan. Ini istrinya Kakak Iparku, namanya Anisa Lezman."

Alis Yu Guan terangkat sebelah. Tangannya yang memegang kipas melipat pelan. "Lezman? Sepertinya saya tidak asing dengan nama marga itu..." Tatapannya meneliti Anisa dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum penuh arti.

Nyonya Nawa menyela, suaranya berat dan serak khas usia senja. "Setahu Saya, Tuan Azriel Lezman hanya memiliki satu cucu tunggal. Lantas... wanita ini siapa?"

Atmosfer di sekitar karpet merah mendadak berubah tegang. Anisa meremas ujung bajunya, merasa dihakimi oleh tatapan tajam dua wanita berkuasa itu.

Azy menyadarinya. Ia segera memotong dengan nada suara yang sedikit dinaikkan untuk menutupi kecanggungan.

"Duh, Ya ampun... Tidak semua nama belakang itu nama marga kaya raya kali, Nyonya! Lagipula, istri kakakku ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Lezman yang penuh skandal bisik-bisik di luar sana itu."

Yu Guan Yin tersenyum tipis, sebuah senyuman formalitas yang terasa amat dingin."Ah... tentu saja. Maaf kalau saya salah menilai. Mungkin sebaiknya kita segera masuk, acaranya sudah mau dimulai."

"Ngg... iya, tentu," balas Azy cepat.

Melangkah masuk ke dalam galeri seni adalah pengalaman yang benar-benar asing bagi Anisa. Udara di dalam ruangan terasa begitu dingin, beraroma minyak cat basah dan kelembapan yang terkontrol. Lampu-lampu sorot menyinari lukisan-lukisan berharga miliaran rupiah. Di sekelilingnya, orang-orang berbisik dalam bahasa formal, saling melempar senyum palsu dan pamer kekuasaan.

Meski mencoba bersikap biasa saja, dada Anisa terasa sesak. Kata-kata 'keluarga Lezman yang penuh skandal' tadi masih tertancap tajam di hatinya.

Mengerti ketidaknyamanan itu, Azy mendekatkan wajahnya ke telinga Anisa. Cahaya lampu galeri memantul di kacamata hitamnya.

"Anisa..." bisik Azy pelan.

"Iya, Kak Azy?"

"Kamu jangan dimasukin ke hati ya, kata-kata mereka tadi. Orang-orang tua begitu memang suka lupa tempat kalau lagi ngomong," bisik Azy seraya menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.

Anisa menatap Azy, lalu mengangguk pelan "Iya, Kak, kagak apa-apa kok."

Langkah Anisa mendadak terhenti. Matanya terpaku pada sebuah lorong luar galeri. Di dinding marmer kelabu itu, tergantung sebuah lukisan berukuran besar. Lukisan itu menggambarkan pemandangan danau yang tenang dengan warna pink pastel yang sangat lembut. Begitu indah, damai, dan memancarkan aura menenangkan yang seolah menyedot seluruh perhatian Anisa.

"The Echoes of Eternity?" Suara Yu Guan terdengar kaget dari arah belakang. Ia memegang dadanya sendiri, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Bagaimana bisa lukisan legendaris jajaran teratas ini dipajang di lorong luar begini?"

Anisa menoleh, melihat Yu Guan dan Nyonya Nawa mendekat dengan raut wajah terperanjat.

"Apa yang ada di pikiran wanita itu sampai tega menyimpannya di sini? Dan... cuma dilindungi bingkai kaca biasa?" gumam Yu Guan, matanya tak lepas dari goresan kuas di atas kanvas itu.

Seharusnya, lukisan sehebat ini hanya diperuntukkan bagi tamu VVIP di ruangan tertutup, dipandang dari jarak jauh dengan penjagaan ketat. Tapi sekarang, lukisan bernilai sejarah tinggi itu terpajang bebas, bahkan bisa disentuh jika tidak ada bingkai kaca.

"Indah, bukan?"

Sebuah suara berat, berkarisma, dan sarat akan dominasi memotong keheningan.

Seorang wanita melangkah mendekat. Dialah Chika Anastasya. Gaya rambutnya yang hitam pekat terurai hingga ke pinggang, membingkai wajah tegasnya. Ia mengenakan setelan jas hitam panjang berbahan velvet yang membalut tubuh seksinya dengan sangat elegan. Aura kekuasaan terpancar kuat dari setiap inci geraknya.

"Banyak orang yang tidak pernah mengerti nilai jual karya seni legendaris ini," ujar Chika pelan, suara alto-nya memenuhi lorong.

"Aku sengaja memajangnya di sini. Karena setidaknya, semua orang harus memandangnya sekali saja... sebelum aku benar-benar melepasnya hari ini."

Anisa memberanikan diri melangkah satu tapak ke depan. "Sebelum melepasnya? Maksud Anda... lukisan ini mau dilelang hari ini?" tanya Anisa antusias, matanya berbinar jujur.

Chika menoleh pelan. Tatapan matanya yang tajam menancap pada Anisa—seorang wanita yang tampil begitu sederhana dan tidak mencolok di antara lautan perhiasan menyilaukan di tempat itu.

"Anda?..." Chika menggantung kalimatnya.

Azy langsung memotong cepat, melangkah maju menyembunyikan Anisa di balik bahunya. "Dia ini istrinya Kakak Iparku!, Direktur Chika. Namanya Anisa." Azy sengaja berhenti di sana, enggan menyuarakan nama Lezman

Alis Chika terangkat tinggi. Bibirnya mengukir senyum sinis,"Apa? Tuan Edwardo Carlous punya dua istri? Sungguh... benar-benar keterlaluan...si pria cerewet itu." Raut wajah Chika berubah kesal secara terbuka. Semua orang tahu Chika adalah sahabat dekat Barbara, istri sah dari Edward.

Dada Anisa berdesir panik. Ia segera maju dan meluruskan salah paham itu. "Bu... bukan, Saya Anisa Lezman. Sa... saya istrinya Tuan Muda Oscario Carlous."

Deg.

Ekspresi Chika seketika membeku. Matanya membelalak kecil.

Oscario Carlous? Pria dingin, kejam, dan tak tersentuh bagai es di puncak gunung itu... punya istri? Kapan pria itu menikah? Mengapa tidak ada berita di kalangan elite? Atau jangan-jangan... pernikahan ini adalah rahasia besar?

Atmosfer menjadi kaku dan menekan. Chika menetralkan raut wajahnya dengan cepat, merapikan lengan jas hitamnya.

"Ah... ternyata ya," Chika terkekeh dingin. "Pria itu selalu punya kejutan,jadi ingat masalalu di mana aku pernah hampir dengan nya?. ahhh Baiklah, sesuai jadwal, pelelangan utama di aula dalam akan segera dibuka. Sebaiknya kalian segera masuk."

"Ah, iya... tentu, Direktur." balas Azy kaku.

Suasana di dalam aula pelelangan terasa amat megah dan temaram. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan. Anisa duduk di bangku VIP yang dilapisi kain bludru merah bersama Azy. Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di tempat itu.

Kata-kata Chika tadi terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak.

Apakah Chika punya hubungan khusus dengan suaminya Oscar? Kenapa tatapannya berubah begitu mendengar nama suaminya dan kata kata wanita itu...?

Jemari Anisa gemetar di atas pangkuannya. Rasa panas merambat ke dadanya—sebuah perasaan asing bernama cemburu. Ia merogoh tas kecilnya, mengambil ponsel. Jarinya mengusap layar, membuka aplikasi WhatsApp dan menatap nama Mas Oscar di daftar obrolan teratas.

(Perlukah aku meneleponnya sekarang? Tapi... bagaimana kalau Mas Oscar sedang rapat penting siang ini? Bagaimana kalau dia marah karena aku mengganggu pekerjaan penting nya hanya demi kecemburuan tidak jelas ini?)

(ehhkk? Apa aku cemburu..ihhk apaan sih!)

Batin Anisa benar benar tidak tenang.

Dengan helaan napas berat, Anisa akhirnya mematikan layar ponselnya kembali. Namun, rasa cemas itu tak kunjung menguap.

Dari tempat duduknya, Anisa menatap punggung Chika yang duduk dua baris di depannya. Lewat bisikan Azy tadi, Anisa baru menyadari siapa sosok Chika Anastasya sebenarnya.

Chika bukan sekadar pelukis atau direktur galeri seni biasa. Di kalangan papan atas, galeri seni milik Chika adalah panggung diplomasi. Pameran seni seperti ini bukanlah hobi bersenang-senang, melainkan alat untuk mengontrol reputasi, mencuci uang, serta mengikat hubungan politik dan finansial. Suami Chika, Rolando S.J., menguasai pergerakan uang dari dalam kantorsaham, sementara Chika mengunci para pejabat, investor, dan petinggi bisnis dari balik dinding galeri seni.

Bahkan pria sekeras kepala Edwardo Carlous pun bisa terjerat dalam lingkaran pengaruh wanita itu. Di ruangan ini, para istri pejabat dan putri pewaris bisnis saling bertukar rahasia rahasia negara dan perusahaan di balik cangkir teh mereka.

Anisa meremas gaunnya sendiri. Udara AC di aula lelang terasa makin membekukan.

Ia kini berada di tengah panggung serigala berbulu domba. Dan bukannya tidak mungkin... suaminya yang dingin itu, Oscario, juga sudah atau akan terjerat dalam permainan berbahaya yang dikendalikan oleh wanita berjas hitam di depannya itu.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!