NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Foto Masa Lalu di Kamar Aira

Mobil hitam Devan masuk pelan ke halaman rumah keluarga Hermawan pas pukul tujuh malam lewat sepuluh. Lampu-lampu pilar halaman memantulkan cahaya hangat di atas paving blok, menyambut kedatangan mereka malam ini.

Begitu pintu utama terbuka dari dalam, Mami Maya dan Papi Surya sudah berdiri menyambut di ruang depan dengan senyuman ramah. Di sebelah Mami Maya, berdiri seorang lelaki jangkung berwajah tegas dengan senyum lebar yang amat dirindukan Aira.

"KAK ALARIC!" jerit Aira histeris.

Aira langsung berlari kencang menerjang tubuh Alaric Hermawan, kakak kandungnya yang baru saja mendarat dari luar negeri setelah menyelesaikan proyek konstruksi internasionalnya di Eropa.

Alaric tertawa renyah, merentangkan tangannya dan mendekap tubuh adiknya erat. Aira langsung menyembunyikan wajahnya di dada Alaric, memeluk pinggang kakaknya itu dengan manja yang luar biasa. Sisi manja yang selalu ia tunjukkan pada Alaric.

"Aduh, adeknya Kakak ini makin manja aja ya. Mentang-mentang udah nikah, bukannya mandiri malah makin nempel kayak perangko, maaf ya, kemarin gak bisa hadir di pernikahan kalian," goda Alaric lembut sambil mengelus-elus pucuk kepala Aira penuh sayang.

"Hah... Biarin! Wleee!" cibir Aira manja, sengaja mendongak sambil menunjukkan lidahnya, lalu menerima kantong oleh-oleh berisi cokelat kesukaannya yang disodorkan Alaric.

Devan yang melangkah masuk menyusul di belakang mengamati momen itu dengan senyuman tipis. Sebagai pria yang tumbuh besar bersama Alaric, Devan tahu persis seberapa protektifnya Alaric terhadap Aira.

Setelah basa-basi cipika-cipiki hangat dengan Mami Maya dan Papi Surya, giliran Devan yang menyapa Alaric. Kakak beradik itu bersalaman sekilas dengan gaya formal khas pengusaha muda. Tapi begitu tangan mereka terlepas, Alaric mendekatkan wajahnya ke telinga Devan, menyamarkan seringai ramah di wajahnya dengan tatapan mata yang berubah tajam menusuk.

"Gue tau masa lalu lu, Devan," bisik Alaric dingin namun sangat pelan, cuma bisa didengar oleh mereka berdua. "Kalau sampai lu bikin adik kesayangan gue nangis darah lagi kayak delapan tahun lalu... jangan harap lu bisa tidur nyenyak di sisa hidup lu. Paham?"

Devan sama sekali tidak gentar. Alisnya terangkat sebelah, lalu ia membalas bisikan itu dengan senyumannya. "Tenang aja, Kak. Dulu gue bodoh. Sekarang... gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin dia lagi, termasuk diri gue sendiri."

Alaric mendengus pendek, menepuk bahu Devan dua kali agak keras sebelum akhirnya mereka semua beranjak menuju ruang makan yang sudah dihiasi deretan hidangan lezat.

Suasana meja makan malam itu bener-bener hidup dan ramai. Alaric, dengan sejuta pesona dan bahan leluconnya yang segar, terus-terusan menjadikan Aira sebagai bahan godaan.

"Ih, Kakak emang rese banget dari dulu!" protes Aira sambil mencubit pelan lengan Alaric di tengah gelak tawa Mami Maya dan Papi Surya.

Di sinilah Devan menunjukkan kelasnya sebagai suami idaman di depan keluarga besar Hermawan. Pria itu bergerak cekatan. Tanpa diminta, Devan mengambilkan piring Aira, memisahkan irisan daging bebek panggang dari tulangnya, bahkan menuangkan air hangat ke gelas Aira dengan gestur yang manis banget.

"Pelan-pelan makannya, Ra. Jangan buru-buru, nanti tersedak lagi," bisik Devan lembut di sebelah telinga Aira, cukup keras sampai bisa didengar oleh Mami Maya dan Papi Surya yang langsung tersenyum penuh arti melihat keharmonisan pasutri baru itu.

Aira melirik tajam ke arah Devan, di bawah meja tangannya mencubit paha suaminya itu pelan-pelan sebagai kode peringatan agar Devan berhenti berakting berlebihan. Tapi Devan cuma tersenyum manis, seolah cubitan itu sama sekali tidak terasa apa-apa.

Obrolan malam itu mayoritas berpusat pada cerita-cerita seru Alaric selama di luar negeri, diselingi candaan renyah yang membuat makan malam keluarga ini terasa sangat hangat.

Begitu makan malam selesai dan obrolan santai di ruang keluarga mereda, Aira memilih berpamitan untuk naik ke kamarnya di lantai atas dengan dalih mau merapikan oleh-oleh dari Alaric.

Baru saja ia membuka pintu kamar miliknya, langkah Aira terhenti saat mendengar suara langkah kaki mengekor di belakangnya.

Klek.

Devan melangkah masuk, lalu menutup pintu kamar Aira dari dalam.

Wajah Aira langsung berubah masam. "Lu ngapain masuk kamar gue?! Sana balik ke kamar tamu atau tidur di sofa luar!"

Devan terkekeh santai, melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas meja rias Aira. "Enak aja. Kamar suami istri ya tidurnya di satu tempat. Lagian di luar gerah."

"Rumah ini full AC ya, Argawinata!" sergah Aira sewot, melipat tangannya di dada. "Gak usah cari alasan buat nyari gara-gara sama gue!"

Sebelum adu mulut itu berlanjut ke babak baru, pandangan mata Devan tanpa sengaja mendarat pada sebuah bingkai foto berukuran sedang yang tergantung rapi di sudut rak buku milik Aira.

Langkah Devan terhenti. Pria itu mendekati rak tersebut, meraih bingkai foto itu.

Itu adalah foto Aira saat masih duduk di kelas dua SMA. Rambutnya dikuncir kuda, pipinya masih agak chubby, dan ia sedang nyengir lebar sambil memegang piala juara lomba debat sekolah.

"Wah, wah... liat nih," ejek Devan, memutar bingkai itu menghadap Aira sambil tersenyum geli. "Ternyata dari zaman SMA lu emang udah hobi pasang muka galak ya, Ra. Tapi lucunya nggak ilang-ilang."

Muka Aira seketika memerah padam. "Woy! Balikin gak foto itu?! Siniin!" seru Aira histeris, melompat maju berusaha merebut bingkai foto dari tangan Devan.

Tapi Devan yang tinggi badannya jauh di atas Aira dengan mudah mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas, membuat Aira yang melompat-lompat kecil sama sekali tidak bisa menggapainya.

"Ih, curang! Lu tinggi banget sih! Balikin!" rajuk Aira kesal, memukul-mukul lengan Devan bertubi-tubi.

Devan tertawa lepas, menikmati momen gemas melihat Aira yang mengamuk kayak anak kecil. Tapi saat matanya kembali meneliti sudut meja rak buku itu, ia melihat tumpukan buku catatan lama dan sebuah album foto.

Devan iseng membuka halaman pertama album foto SMA itu. Dan seketika, tawa di wajah Devan mereda, digantikan oleh senyuman yang jauh lebih lembut.

Di halaman itu, terpampang foto Devan dan Aira sewaktu masih pacaran masa SMA. Devan yang merangkul pundak Aira di kantin sekolah dengan seragam putih abu-abu yang agak berantakan, sementara Aira tersenyum sangat manis menatap kamera.

"Oh... jadi foto ini masih disimpen ya?" goda Devan dengan nada suara rendah yang sengaja dibuat menggoda. "Katanya benci banget sama gue, tapi album foto kita malah ditaruh di tempat istimewa."

Aira langsung membeku di tempatnya. Darahnya berdesir hebat. Ia lupa kalau album foto zaman alay itu masih tersimpan di sana.

"Bacot aja bacot! Siniin foto itu, Devan!" Aira menyerbu maju dengan kalap, berusaha merebut album itu dari tangan Devan.

Dalam pergulatan kecil itu, tubuh mereka kehilangan keseimbangan. Devan mundur selangkah, sementara Aira yang terus mendesak maju membuat tubuh mereka berdua limbung ke belakang dan—bruk!—keduanya jatuh terduduk bersama di atas karpet di sebelah tempat tidur Aira.

Posisi yang sangat berbahaya. Aira berada di atas tubuh Devan, dengan kedua tangan menahan dada Devan, sementara kedua tangan Devan secara refleks melingkar di pinggang Aira.

Napas mereka beradu. Jarak wajah mereka tersisa beberapa sentimeter saja. Devan menatap Aira dengan intensitas yang begitu membakar, membuat seluruh kata-kata protes di kepala Aira menguap entah ke mana.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu kamar membuyarkan keheningan di antara mereka berdua.

"Ra? Devan? Kalian di dalam? Buka bentar dong!" suara Alaric terdengar dari balik pintu.

Aira tersentak kaget. Dengan panik, ia mendorong dada Devan sekuat tenaga, lalu bangkit bergeser menjauh sambil merapikan bajunya. Devan ikut berdiri sambil tersenyum simpul, merapikan kerah kausnya dengan santai.

"Masuk, Kak! Gak dikunci!" seru Aira, mencoba menetralkan napasnya yang masih naik-turun.

Klek.

Alaric membuka pintu, lalu melangkah masuk ke dalam kamar sambil menenteng dua stick konsol game nirkabel di tangannya. Cowok itu menatap Aira dan Devan bergantian dengan tatapan curiga.

"Kalian ngapain berdiri dempetan gitu? Kayak maling ketangkep basah aja," selidik Alaric menyipitkan mata.

"Gak ngapa-ngapain, Kak! Devan nih rese, ngambil-ngambil barang gue!" kilah Aira cepat, salah tingkah setengah mati.

Alaric mendengus pelan, lalu melemparkan salah satu stick game ke arah Devan yang ditangkap dengan sigap oleh pria itu.

"Lu, Devan. Katanya jago main game balapan mobil masa SMA dulu? Sini, buktikan omongan lu. Gue tantangin main di kamar adek gue sekarang," tantang Alaric menyeringai, melangkah mendudukkan dirinya di tepi karpet.

Devan terkekeh ringan, melirik sekilas ke arah Aira yang masih cemberut di pojok ruangan. "Boleh, Kak. Tantangan diterima."

Maka, malam itu, di tengah kamar tidur Aira, dua laki-laki dewasa itu duduk bersila berdampingan, adu skill main game balapan mobil di layar televisi kamar Aira sambil sesekali saling melontarkan ejekan kompetitif.

Sementara itu, Aira memilih mengabaikan mereka. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, menarik selimut, lalu memilih scroll video TikTok di ponselnya dengan muka ditekuk.

Waktu terus berjalan sampai jam dinding menunjuk pukul sebelas malam lewat.

Pertandingan sengit antara Alaric dan Devan akhirnya berakhir dengan kemenangan tipis di tangan Devan. Alaric tertawa puas, meletakkan stick game-nya kembali, lalu berpamitan keluar kamar.

"Udah malem, gue mau tidur. Besok pagi ada meeting pagi. Kalian berdua jangan berantem lagi ya," pesan Alaric sambil tersenyum jahil, lalu menutup pintu kamar.

Kini... tersisalah Aira dan Devan yang terjebak berdua di dalam kamar yang sama.

Aira yang masih pura-pura sibuk dengan ponselnya bergeser ke sisi kanan tempat tidur, membelakangi Devan. "Sana lu tidur di sofa sofa panjang sebelah sana! Jangan berani-berani naik ke kasur gue!"

Devan yang baru saja melepas kaus luarnya, menyisakan kaus polos hitam tipis, mendengus pelan. Ia memadamkan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur.

Tanpa mempedulikan omelan Aira, Devan melangkah naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sisi sebelah kiri, lalu menarik selimutnya sendiri.

"Gue capek, Ra. Jangan mulai cerewet lagi malam-malam," gumam Devan dengan suara bariton yang lelah.

Aira mendengus kesal di balik selimutnya.

Akhirnya, mereka terbaring dengan saling memunggungi, namun sama-sama terjaga dengan debaran jantung yang diam-diam bergemuruh di dalam dada masing-masing.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!