AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 DIUSIR DARI WARUNG BU LASMI
Tiga hari setelah sidang keluarga Pak Karim di rumah induk, hidupku seharusnya lebih tenang. Rendo sudah resmi diusir ke Kalimantan selama satu tahun, tidak boleh pulang. Pernikahan siriku dengan Arga sudah disahkan keluarga besar, tinggal nunggu urus ke KUA bulan depan. Anak di perutku yang 8 minggu sudah diakui sebagai cucu Pak Karim dan anak sah Arga secara hukum. Mbah Joyo sudah kasih jimat garam merica buat taruh bawah bantal sampai melahirkan.
Seharusnya tenang. Tapi ternyata tidak.
Pagi itu, jam 8 pagi, aku mau ke warung Bu Lasmi beli garam dan minyak goreng. Perutku 8 minggu belum kelihatan buncit kalau pakai daster longgar, tapi kalau pakai daster ketat biru pudar pemberian Bu Minah, sudah mulai kelihatan sedikit. Salsa aku gendong di punggung pakai jarik, karena Salsa tidak mau ditinggal di rumah bocor sendirian sejak kejadian Rendo bawa pisau.
Baru sampai di warung Bu Lasmi, tiga ibu-ibu yang lagi duduk ngerumpi langsung diam. Tatapan mereka langsung ke perutku.
"Eh Kirana," sapa Bu Lasmi agak canggung. Bu Lasmi ini temannya Mbah Sarti, sebenarnya baik, tapi gampang terpengaruh.
"Bu, beli garam setengah kilo sama minyak seperempat ya, Bu," kataku pelan, menunduk, tangan otomatis mengelus perut.
Bu Lasmi ambilkan garam, tapi ibu yang duduk di sampingnya, Bu Tati yang suaminya Ketua RT, langsung nyeletuk keras, sengaja biar semua warung dengar.
"Itu hamilnya sudah berapa bulan ya? Kok perutnya sudah besar? Katanya belum nikah resmi? Katanya sama Rendo anak Pak Karim?"
Aku pura-pura tidak dengar, fokus ke Salsa yang rewel kepanasan.
Ibu satunya lagi, Bu Wati, nambahin lebih keras, "Katanya sih sudah nikah siri sama kakaknya, Mas Arga. Tapi mana ada orang mau nikahin bekas pacar adiknya yang sudah dihamili adiknya sendiri? Pasti cuma kasihan, bukan cinta. Paling juga cuma tampung sampahnya Rendo."
Kata sampah itu masih sama persis kayak kata Rendo kemarin. Dadaku sesak.
"Bu, berapa, Bu?" tanyaku cepat, mau segera pergi.
"7 ribu, Nduk," kata Bu Lasmi pelan, kasihan lihat aku.
Aku rogoh kantong daster, uangku cuma 10 ribu pemberian Pak Karim tadi pagi setelah sidang. Sisa 3 ribu rencananya buat beli tempe besok buat Salsa.
Pas aku mau kasih uang, Bu Tati narik tangan Bu Lasmi dengan kasar.
"Bu Lasmi, jangan jualan sama dia! Nanti warung Bu Lasmi dikira sarang maksiat! Perempuan hamil duluan dibiarkan belanja di sini! Warga bisa lapor RT lho! Apalagi dia tinggal di rumah angker bekas Mbah Wiryo itu, rumah bekas dukun santet! Nanti warung Bu Lasmi kena kutukan Kembang Kantil juga!"
Aku kaget, hampir jatuh. Diusir dari warung padahal sudah disahkan keluarga.
"Bu Tati, saya sudah nikah siri sama Mas Arga, Bu. Pak Karim dan Pak RT jadi saksi di sidang kemarin malam... Saya bukan perempuan tidak bener, Bu..." kataku pelan, mata sudah berkaca-kaca, suara bergetar.
"Nikah siri? Mana buktinya? Suratnya mana? Kalau cuma omongan Pak Karim, siapa yang percaya? Warga cuma tahu kamu hamil duluan sama Rendo, terus sekarang numpang hidup di rumah bocor Arga! Sana pulang! Jangan bikin warung Bu Lasmi sial! Nanti dagangan gak laku karena ada pembawa sial!"
Bu Lasmi yang sebenarnya kasihan sama aku, cuma bisa diam, karena takut sama Bu Tati yang suaminya Ketua RT dan yang paling mulut ember di Desa Wonorejo.
Aku tarik garam dan minyak yang sudah dibungkus plastik, taruh uang 10 ribu di meja dengan tangan gemetar, dan lari sambil gendong Salsa di punggung. Salsa menangis karena guncangan lariku.
Di belakang, aku dengar mereka ketawa puas.
Sesampainya di rumah bocor, aku nangis sejadi-jadinya di atas tikar pandan. Salsa ikut nangis karena lihat aku nangis.
Kenapa harus sekejam ini? Padahal kutukan Wiryo sudah putus tadi malam. Boneka santet sudah dibakar di bawah pohon beringin depan nisan Mirah. Arwah Mirah sudah bebas tersenyum bilang terima kasih. Sidang keluarga sudah memutuskan aku sah jadi istri Arga. Tapi kenapa warga masih anggap aku sampah?
Jam 11 siang, Arga pulang dari kebun lebih cepat. Biasanya dia pulang jam 5 sore. Wajahnya cemas, boot penuh lumpur. Bu Minah pasti sudah cerita lewat telepon.
"Kamu nangis lagi? Mana garamnya? Kamu pegang pakai tangan kosong? Eh bukan santet, maksudnya kamu diusir lagi di warung?" tanya Arga bertubi-tubi, panik. Sejak kejadian santet dan sidang, Arga jadi sangat protektif.
Aku ceritakan kejadian di warung Bu Lasmi tadi, sambil masih sesenggukan.
Arga menghela napas panjang, duduk di sampingku, melihat Salsa yang masih terisak.
"Maafkan aku, Kir. Harusnya tadi aku antar kamu ke warung. Aku pikir setelah sidang keluarga, warga akan diam. Ternyata mulut Bu Tati lebih sakti dari santet Wiryo."
Dia ambil garam dan minyak yang aku beli, taruh di dapur bocor yang atapnya masih ditutup seng bekas pemberiannya malam itu.
"Bu Tati itu dari dulu memang begitu Kir, mulutnya ember. Dulu waktu Mira masih hidup, Mira juga pernah diusir dari warung Bu Lasmi karena dikira santet juga. Padahal Mira hamil anakku, anak sah. Warga Wonorejo memang begitu, suka menghakimi."
"Terus aku harus gimana, Pak? Kalau beli garam saja diusir, gimana aku bisa hidup di sini sampai melahirkan? Perutku masih 8 minggu, masih 7 bulan lagi..."
Arga diam lama, menatap kebun karet belakang yang sekarang sudah tidak angker lagi sejak kutukan putus. Hawa kebun sekarang hangat, harum kamboja, tidak dingin menusuk lagi.
"Kita pindah, Kir," kata Arga pelan.
"Pindah kemana, Pak? Kontrakan di kota? Kan kemarin Bapak bilang kita harus lawan kutukan di sini?"
"Kutukan Wiryo sudah putus, Kir. Tadi malam kita sudah bakar bonekanya. Arwah ibuku Mirah sudah bebas. Sekarang yang harus kita lawan bukan kutukan, tapi mulut warga. Dan itu lebih berat dari santet. Kalau di kota, tidak ada yang kenal kita, tidak ada yang julid. Kamu bisa melahirkan dengan tenang di rumah sakit besar, sesuai pesan Bapakku Pak Karim. Salsa juga bisa sekolah TK di kota nanti, tidak diejek anak haram."
Aku menatap Arga, kaget. Arga yang dulu dingin dan mau pindah karena takut kutukan, sekarang mau pindah karena mau lindungi aku dari julidan warga.
"Pak, saya... saya mau, Pak. Asal Bapak sama Salsa ikut. Saya tidak mau sendirian lagi."
Arga tersenyum tipis, senyum tulus kedua setelah senyum waktu Salsa panggil aku Bunda.
"Kita bertiga pindah. Bulan depan setelah nikah resmi di KUA. Aku sudah nabung hasil karet 3 bulan, cukuP buat kontrakan petak di pinggir Jombang kota. Dekat puskesmas. Kamu bisa kontrol hamil tiap bulan, tidak usah takut pendarahan seperti Mira."
Malam harinya, kami makan nasi goreng gosong buatanku bertiga di balai bambu depan rumah bocor. Untuk pertama kalinya, Arga tidak makan di dapur sendirian, tapi makan bersama kami.
Salsa menyuapi aku, aku menyuapi Salsa, Arga melihat kami sambil tertawa kecil.
Di luar, tidak ada lagi suara kresek-kresek langkah kaki. Tidak ada bau kemenyan. Tidak ada bayangan hitam di kebun karet. Hanya suara jangkrik dan angin hangat.
Rumah bocor itu masih bocor di satu titik, tapi malam ini tidak hujan. Dan di depan pintu, ada karung kayu bakar baru yang Arga taruh sore tadi, bukan karena dia malu jadi bayangan, tapi karena dia memang mau jaga kami.
Besok aku tidak akan ke warung Bu Lasmi lagi. Bu Minah bilang dia yang akan belanjakan. Sampai kami pindah bulan depan.
Malam itu aku tidur nyenyak dengan Salsa memelukku dari samping, Arga tidur di depan pintu kamar dengan golok dan jimat garam merica dari Mbah Joyo di bawah bantalku.
Untuk pertama kalinya setelah diusir dari warung, aku tidak merasa diusir dari keluarga.
Karena sidang keluarga Pak Karim sudah memutuskan: aku adalah istri Arga, ibu Salsa, dan cucu menantu Pak Karim. Bukan sampahnya Rendo.
---