Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : GAUN YANG DIBAKAR
Pagi itu Laura bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Meskipun hari ulang tahunnya telah berlalu, senyum dari percakapannya bersama Kakek Arthur masih tersisa di wajahnya. Ia bahkan sempat memandangi kalung pemberian sang kakek yang kini tersimpan rapi di dalam kotak kecil.
Laura kemudian mengalihkan pandangannya kepada gaun yang tergantung di dekat lemari. Gaun itu adalah hadiah yang paling berarti baginya. Bukan karena harganya, bukan pula karena modelnya yang indah, tetapi karena gaun tersebut diberikan oleh seseorang yang selalu mengingat keberadaannya.
Laura mendekati gaun itu dan menyentuh kainnya dengan lembut."Terima kasih, Kek," gumam Laura sambil tersenyum kecil.
Setelah mengambil tas, Laura bersiap pergi ke kampus. Sebelum keluar kamar, ia kembali memastikan gaun tersebut tersimpan dengan baik. Setelah itu, ia menutup pintu dan meninggalkan rumah.
Laura tidak tahu bahwa beberapa menit setelah dirinya pergi, seseorang masuk ke kamarnya.
Dinda.
Dinda berjalan menuju kamar Laura setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. dia membuka pintu perlahan dan langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak banyak barang berharga di kamar itu. Sebagian besar benda milik Laura sederhana dan tertata rapi.
Namun, pandangan Dinda berhenti pada sebuah gaun yang tergantung di dekat lemari.
Gaun pemberian Kakek Arthur.
Dinda mendekatinya dan menyentuh bagian kainnya. Wajahnya berubah ketika melihat betapa indahnya gaun tersebut.
"Jadi ini gaun yang diberikan Kakek kepada Laura," gumam Dinda dengan nada tidak suka.
dia mengangkat gaun tersebut dan memperhatikannya lebih dekat. Semakin lama melihatnya, rasa iri di dalam hati Dinda justru semakin besar.
Selama ini Dinda selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang tua mereka selalu berada di pihaknya, Adrian selalu memberikan perhatian kepadanya, dan hampir semua orang di keluarga menganggap dirinya istimewa.
Namun, ada satu hal yang membuatnya kesal.
Kakek Arthur selalu lebih memperhatikan Laura,dinda tidak menyukai kenyataan itu.
"Kenapa semua orang harus selalu memperhatikan dia?" gumam Dinda sambil menggenggam kain gaun tersebut lebih erat. "Padahal aku yang selalu mendapatkan apa pun yang kuinginkan."
dinda diam sebentar sebuah pikirannya muncul di kepala dan dinda membawa gaun itu keluar dari kamar.
Beberapa saat kemudian, Dinda berdiri di halaman belakang rumah. dia memastikan keadaan di sekitar sepi sebelum meletakkan gaun tersebut di tempat yang aman untuk dibakar.
Tangannya memegang sebuah korek api dia menatap gaun itu untuk terakhir kalinya."Kalau gaun ini hilang, dia tidak akan bisa terus membanggakannya."
dia menyalakan korek api dan menjatuhkannya ke bagian bawah gaun, api kecil mulai menyambar kain,awalnya hanya sedikit.
Namun perlahan api merambat semakin besar, warna indah gaun tersebut berubah menjadi hitam, kainnya mulai mengerut lalu sebagian terbakar dan jatuh ke tanah.
Dinda hanya berdiri memperhatikan tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Beberapa menit kemudian, yang tersisa hanyalah potongan kain hitam dan abu.
Dinda tersenyum tipis."Sudah selesai."
Setelah memastikan tidak ada yang melihat, dia meninggalkan halaman belakang seolah-olah tidak pernah melakukan apa pun.
Siang menjelang sore ketika Laura pulang dari kampus. Hari itu dosennya membatalkan satu kelas sehingga dia memutuskan pulang lebih cepat.
Sesampainya di rumah, Laura langsung menuju kamarnya, dia ingin mengganti pakaian sebelum membantu pekerjaan rumah.
Namun ketika membuka lemari, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Gaunnya tidak ada.
Laura mengerutkan kening dan mulai mencari di sekitar kamar."Tadi aku taruh di sini."
dia memeriksa lemari sekali lagi tidak ada.Laura kemudian melihat ke atas meja, belakang pintu, bahkan di dalam kotak penyimpanan, tetap tidak ada.
Rasa panik mulai muncul "Itu tidak mungkin hilang."
Laura keluar dari kamar dan bertanya kepada salah satu pelayan rumah apakah ada yang memindahkan gaunnya. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Laura kembali ke kamarnya dengan pikiran semakin kacau.dia mencoba mengingat kapan terakhir kali melihat gaun tersebut.
Pagi tadi,Sebelum berangkat ke kampus,dia yakin sekali gaun itu masih tergantung di tempatnya.
Laura kemudian berjalan keluar menuju halaman belakang. entah mengapa hatinya merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Begitu sampai di sana, langkahnya langsung berhenti di dekat sudut halaman, dia melihat sesuatu yang berwarna hitam.
Laura mendekat perlahan Matanya membesar ketika menyadari apa yang sedang dilihatnya potongan kain yang terbakar.Laura langsung mengenali bahan tersebut.
Itu gaunnya gaun pemberian Kakek Arthur."Tidak..."
Laura berjongkok dan mengambil sisa kain tersebut dengan tangan gemetar, Matanya mulai berkaca-kaca."Siapa yang melakukan ini?"
Dadanya terasa sesak.
Gaun itu bukan sekadar pakaian baginya, Itu adalah hadiah dari satu-satunya orang yang selalu mengingat ulang tahunnya, satu-satunya orang yang membuatnya merasa berharga.
dan sekarang hadiah itu telah menjadi abu Laura berdiri sambil membawa sisa kain tersebut, dia kembali masuk ke rumah dengan langkah cepat.
Ketika sampai di ruang keluarga, dia melihat Dinda sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
Laura langsung menghampirinya."Dinda."
Dinda mengangkat wajahnya. "Apa?"
Laura menunjukkan sisa gaun yang terbakar di tangannya."Ini kamu yang lakukan?"
Dinda melihat kain tersebut sekilas, lalu kembali melihat ponselnya. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Jangan bohong." bentak Laura ke arah dinda membuat Dinda sedikit kaget.
Suara Laura bergetar. "Aku tahu gaun itu ada di kamarku pagi tadi, sekarang gaun itu ditemukan terbakar di halaman belakang, Kamu satu-satunya orang yang suka masuk ke kamarku saat setelah aku pergi kuliah."
Dinda meletakkan ponselnya dan berdiri.
"Kalau memang aku yang membakarnya, lalu kenapa?"
Laura Terdiam menatap Dinda dengan mata berkaca-kaca "Kamu benar-benar melakukannya?"
Dinda mengangkat bahu. "Iya, aku yang membakarnya."
Laura menggenggam sisa kain itu semakin erat "Kenapa?"
"Karena aku tidak suka melihatmu mendapatkan sesuatu yang begitu bagus."
Laura menatapnya tidak percaya. "Itu pemberian Kakek."
"Aku tahu." jawab Dinda.
"Dan kamu tetap membakarnya?" tanya Laura lagi ke Dinda.
Dinda mendengus. "Memangnya kenapa? Itu cuma gaun."
"Cuma gaun?" Laura mengulang perkataan itu dengan suara bergetar, dia mengusap air mata yang mulai jatuh di pipinya. "Kamu tahu gaun itu sangat berarti buatku."
"Kalau memang sangat berarti, Kakekmu bisa membelikan yang baru," jawab Dinda dengan santai.
Laura menatap adiknya dalam diam selama bertahun-tahun dia selalu mengalah.
Ketika Dinda mendapatkan perhatian, Laura diam, ketika Dinda mendapatkan sesuatu yang lebih baik, Laura mengalah, Ketika keluarganya menyalahkannya tanpa mendengar penjelasan, Laura memilih diam.
Tetapi kali ini berbeda Dinda telah menghancurkan sesuatu yang diberikan oleh satu-satunya orang yang selalu menyayanginya.
"Kamu benar-benar keterlaluan," ucap Laura akhirnya.
Dinda menyilangkan tangan di depan dada. "Lalu kamu mau melakukan apa?"
Laura tidak menjawab,Tubuhnya gemetar, Tangannya mengepal kuat sementara air matanya terus mengalir.
Dinda justru tersenyum sinis."Kenapa diam? Bukankah biasanya kamu hanya bisa menangis dan mengadu kepada Kakek?"
Laura perlahan mengangkat wajah tatapan matanya berubah, tidak ada lagi ketakutan seperti biasanya dan tidak ada lagi keinginan untuk mengalah.
Yang tersisa hanyalah rasa sakit dan kemarahan yang sudah terlalu lama dia pendam.
"Kamu seharusnya tidak melakukan ini, Dinda." bentak Laura dengan suara keras ke arah Dinda.
"Kalau aku melakukannya, memangnya kamu bisa apa?" jawab Dinda dengan santai sambil tersenyum licik.
Laura menatap adiknya beberapa detik Kemudian tangannya perlahan terangkat.
Dinda membelalakkan mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Laura tidak peduli lagi dengan akibat dari tindakannya.
Plak!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruang keluarga, dinda memegang pipinya dengan mata penuh keterkejutan.
para pelayan yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan baru kali ini mereka melihat nona Laura sudah habis kesabarannya.
Sementara Laura berdiri di hadapannya dengan air mata yang masih mengalir.
untuk pertama kalinya, Laura telah berhenti mengalah.
sedih kan ya...
kaki emak melyang terbang menghantam kepala richard.
DUAK
"emm.. puas emak, RASAIN! set ... an!" 🤯🤯🤯