Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Tanda Tangan
“Mereka semua benar-benar tidak bisa diandalkan! Kalau aku tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada perusahaan kita, Mas?”
Jingga menghela napas panjang, lalu meregangkan otot-otot bahunya yang terasa kaku seolah baru saja dipikul beban berton-ton seharian penuh. Hari ini benar-benar menguji kesabarannya hingga batas tertinggi, pemasok utama yang tiba-tiba membatalkan kontrak sepihak di saat mendesak, karyawan kunci yang menghilang tanpa memberi kabar sedikit pun, hingga laporan keuangan yang berantakan tanpa penanggung jawab yang jelas. Keringat dingin masih menetes pelan di pelipis Jingga, meski kini ia sudah berada di dalam rumah mewah yang ia bangun sendiri dari nol, hasil keringat dan kerja kerasnya bertahun-tahun.
“Sayang, kamu pasti lelah sekali. Sini, biar Mas pijat.”
Bima mendekat perlahan, langkah kakinya tak terdengar di atas karpet tebal. Kedua tangannya yang hangat mulai mengusap lembut pundak Jingga yang tegang dan kaku. Sentuhan Bima terasa begitu menenangkan, seolah mampu menyedot perlahan segala kelelahan yang menggerogoti tubuh serta pikiran sang istri. Perlahan, kerutan di wajah Jingga mulai luruh, ketegangan di bahunya perlahan hilang. Ia menoleh, menatap wajah tampan sang suami dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu menggenggam erat tangan Bima yang masih bergerak lembut di bahunya.
“Terima kasih, Mas. Kalau tidak ada kamu di sisiku, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua ini sendirian.” Ucapan Jingga tulus, mengalir lurus dari lubuk hatinya yang paling dalam. Selama bertahun-tahun membangun dan mengurus perusahaan, menanggung beban utang peninggalan sang ayah, hanya Bima tempat ia bersandar, tempat ia meletakkan segala lelah dan takutnya.
Bima tersenyum tipis, namun di balik senyum itu, sorot matanya menyembunyikan sesuatu yang tak tertangkap oleh Jingga, kilat keinginan yang kuat, rencana yang sudah disusun rapi sejak lama. Ia mempererat pelukannya di pinggang sang istri, mendekatkan wajahnya.
“Sayang, sudah hampir lima tahun kita menikah. Selama itu pula kamu selalu sibuk dengan urusan pekerjaan, tak pernah ada waktu benar-benar untuk dirimu sendiri. Aku rasa, sudah saatnya kamu berhenti dan istirahat saja di rumah. Biar urusan perusahaan serahkan sepenuhnya padaku. Aku janji akan menjaganya sebaik kamu, bahkan lebih baik lagi. Lagipula, Mas sangat ingin segera memiliki anak dari kamu.” Bujuk Bima dengan nada lembut namun penuh keyakinan, suaranya terdengar begitu meyakinkan.
Kata-kata itu menembus langsung ke hati Jingga. Ia diam sejenak, membiarkan ucapan sang suami meresap perlahan ke dalam pikiran. Perlahan senyum tipis namun tenang terukir di bibirnya.
“Kamu benar juga, Mas. Utang yang ditinggalkan Ayah sudah hampir lunas. Rumah dan perkebunan peninggalan Ayah di desa tidak akan disita bank, perusahaan yang kita bangun juga semakin meningkat pesat. Rasanya memang sudah saatnya aku meletakkan beban ini, menjadi ibu rumah tangga yang tenang, dan menantikan kehadiran buah hati kita.” Jingga menyandarkan kepalanya di bahu bidang Bima, merasa damai dengan keputusan itu.
“Tunggu sebentar ya, Sayang.”
Bima beranjak dengan langkah cepat menuju lemari nakas di sudut kamar. Ia membuka laci yang terkunci, mengambil sebuah map tebal berwarna cokelat berisi berkas-berkas yang sudah lama ia persiapkan sendiri, lalu kembali duduk di hadapan Jingga dengan wajah penuh harap yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
“Lihat ini. Berkas ini berisi surat pengalihan kuasa penuh pengurusan perusahaan, lengkap dengan semua akta dan persyaratan hukumnya. Bagaimana kalau kamu tanda tangani surat ini sekarang? Mulai besok, serahkan semua urusan pekerjaan padaku sepenuhnya. Kamu fokus saja menjaga kesehatan, beristirahat cukup, dan mempersiapkan diri untuk segera hamil.” Bima menatap lekat mata Jingga, seolah ingin memastikan sang istri tak menolak tawaran itu.
Jingga menatap berkas di tangannya, lalu mengangguk pelan. “Kamu benar juga, Mas. Dokter memang pernah bilang, untuk mempersiapkan kehamilan dengan sehat, aku sama sekali tidak boleh mengalami stres berat.”
Jingga tampak berpikir sejenak, namun keyakinan sudah tertanam kuat di hatinya. Tanpa curiga sedikit pun, tanpa membaca isinya secara mendalam karena percaya sepenuhnya pada sang suami, Jingga meraih pena yang disodorkan Bima. Ujung pena hampir menyentuh kertas putih itu, namun tiba-tiba ponsel di saku celananya berdering nyaring, memecah keheningan kamar yang tadi terasa hangat.
Bima menahan amarahnya. Rahangnya mengeras kuat, urat di lehernya menonjol, napasnya terdengar berat saat ia mendengus pelan. Rencana yang telah ia susun rapi selama berbulan-bulan hampir terwujud detik ini juga, namun terhenti hanya karena satu dering telepon. Bima mengatupkan gigi rapat-rapat, berusaha menyembunyikan kekesalan di balik senyum paksa yang kaku.
Jingga mengerutkan kening saat melihat nama penelepon yang muncul di layar. “Kenapa Ibu menelpon jam segini, Mas? Apa jangan-jangan Mawar membuat masalah lagi?”
“Angkat saja, Sayang. Kita akan tahu apa yang terjadi setelah kamu bicara dengan Ibu.” Jawab Bima tenang, meski di dalam hatinya rasa penasaran bercampur curiga mulai merayap perlahan mendengar nama adik iparnya disebut.
Jingga mengangguk pelan, lalu menekan tombol hijau. “Halo, Bu? Ada apa?”
Baru beberapa kalimat terucap dari seberang telepon, wajah Jingga seketika berubah pucat pasi seputih kain, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Darah di wajahnya seolah tersedot habis. Mulutnya terkatup rapat, ia hanya sesekali mengangguk pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan napas yang tertahan.
“Baik, Bu... Aku mengerti. Aku akan segera berangkat sekarang juga.”
Begitu sambungan terputus, ponsel terlepas dari genggaman Jingga dan jatuh berdentang di atas permukaan meja samping tempat tidur. Tubuh Jingga gemetar hebat, lututnya terasa lemas seakan tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
“Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu pucat begitu?” Bima segera mendekat, tangannya menahan bahu Jingga yang bergetar.
“Kita harus segera pulang ke rumah Ibu sekarang juga... Sesuatu yang buruk telah terjadi pada Mawar.” Ucap Jingga dengan suara bergetar penuh kecemasan.
Bima menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan kilatan di matanya. “Apa yang terjadi? Katakan padaku.”
“Ibu bilang Mawar sakit, tapi bukan sakit biasa... Ibu menemukan sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Dia memintaku pulang segera, sendirian jika perlu, tapi aku tak bisa membiarkanmu tinggal di sini sendiri saat ada hal besar yang sedang dihadapi keluarga kita.” Jingga menarik tangan Bima, matanya memohon. “Ayo kita pergi sekarang, Mas. Aku takut apa yang akan terjadi pada adikku.”
Bima mengangguk pelan, namun di balik kepatuhannya itu, hatinya berdebar kencang bukan karena cemas, melainkan karena tahu bahwa badai yang selama ini ia tunggu akhirnya tiba.
“Baik, Sayang. Kita pergi sekarang. Apa pun yang terjadi, aku di sisimu,” ucap Bima lembut, menyisir rambut istrinya yang berantakan, sementara di dalam batinnya tersenyum licik, seolah telah memenangkan langkah pertama dari permainan yang jauh lebih besar.
Mereka berdua segera bersiap, melangkah keluar dari rumah yang tenang itu menuju perjalanan panjang kembali ke desa, tempat di mana rahasia kelam perlahan mulai terungkap satu per satu, dan di mana kepercayaan yang selama ini dijaga rapat-rapat akan diuji hingga ke titik yang paling menyakitkan.
Bersambung...