"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Suasana di lorong belakang Sayap Barat terasa kian mencekam seiring bergantinya hari. sebulan yang lalu, Arthur berjanji dengan penuh gairah dan air mata di matanya untuk membawa Snow mengucap sumpah di depan altar secara sembunyi-sembunyi di pegunungan utara. Namun, janji manis itu menguap begitu saja menjadi debu.
Arthur kehabisan cara. Rencananya tersandung tembok tebal yang tak terduga: Eve.
Entah mengapa, sejak insiden histeris Savea di pelataran waktu itu, pengasuh berusia tiga puluh tahun itu malah memilih untuk tidur di kamar yang sama dengan Snow.
Eve yang berhati tulus dan protektif merasa bertanggung jawab menjaga Snow dari amukan susulan Duchess Blackwood.
Kehadiran Eve yang hampir dua puluh empat jam berada di samping Snow membuat Arthur sama sekali tidak memiliki celah untuk membawa Snow keluar dari area istana tanpa menimbulkan kecurigaan besar.
••
Siang itu, memanfaatkan momen singkat saat Eve sedang pergi ke ruang cuci khusus pelayan untuk mengambil pakaian bersih Pangeran Ocean, Arthur menyusup masuk ke dalam ruang perawatan bayi.
Pria tegap itu berdiri menatap Snow dengan napas memburu dan raut wajah dipenuhi rasa frustrasi yang menumpuk.
"Kenapa kau selalu menolak diajak keluar denganku, Snow?" tuntut Arthur dengan suara rendah yang menahan kekesalan. "Aku sudah memikirkan semuanya! Aku akan membawa Eve dan Ocean sekalian ke pegunungan utara agar tidak ada satu orang pun di istana ini yang curiga! Tapi kau terus-terusan menghindar!"
Snow yang sedang melipat kain selimut bayi memiringkan kepalanya pelan. Tidak ada binar cinta, tidak ada binar kepasrahan seperti Satu bulan lalu. Hanya ada tatapan dingin dan menusuk.
"Aku tidak ingin menjadi seorang selir di kerajaan pria yang kucintai," ucap Snow lirih namun tegas, menatap lurus ke dalam manik mata sang Duke. "Jika kau memang mencintaiku... ceraikan Savea."
Deg.
Tubuh Arthur membeku seketika. "Snow... apa yang baru saja kau katakan?"
Snow menghentikan kegiatannya melipat kain. Langkah kakinya bergerak mendekati Arthur, menatap pria yang pernah mengisi seluruh relung hatinya itu dengan tatapan yang sarat akan kepahitan dan luka lama yang kembali menganga.
"Lupakan kejadian malam terakhir itu," lanjut Snow tanpa ragu, suaranya mantap tanpa ada getaran takut sedikit pun. "Kau sudah meninggalkan aku empat tahun lalu dan memilih menikahi Savea! Sekarang, kau ingin membuatku terlihat hina? Kau ingin menjadikanku wanita murahan yang kau sembunyikan di luar istana sementara kau masih berstatus sebagai suaminya?! Tidak, Arthur! Aku tidak mau!"
Sentilan kata-kata itu menghantam ulu hati Arthur dengan telak. Wajah tampan Pangeran Blackwood itu memucat seketika. Ia merasa terhantam, tersindir keras oleh realitas terbalik yang baru saja dilemparkan oleh Snow tepat di hadapannya.
"Kau... kau tidak mencintaiku lagi? Hm?" bisik Arthur dengan raut wajah hancur, melangkah maju berusaha mengikis jarak. "Kau tahu betul betapa besarnya cintaku padamu, Snow! Dan soal Savea... kau tahu dia tidak semudah itu untuk kuceraikan!"
"Kenapa?!" potong Snow cepat dan tajam. Matanya berkilat oleh amarah yang membara. "Jika kau memang tidak mencintainya seperti yang selalu kau katakan, kenapa tidak kau ceraikan saja dia dari dulu?! Dasar bajingan pembohong!"
Tudingan "bajingan pembohong" memantul keras di dinding kamar yang sunyi. Arthur terperanjat, tak menyangka wanita yang dulunya begitu lembut dan penurut kini sanggup memaki wajahnya secara terbuka.
Di dalam dadanya, lidah api pembalasan dendam Snow kini telah berganti bentuk. Ia tidak akan pernah menyetujui ajakan menikah rahasia yang ditawarkan Arthur sebulan lalu.
Snow menolak keras menjadi wanita kedua, apalagi harus disembunyikan di balik bayang-bayang status Savea sebagai istri sah. Dan yang paling membakar benak Snow adalah alasan tak masuk akal Arthur yang selalu berlindung di balik kalimat 'tidak bisa menceraikan Savea'.
Pertanyaan besar terus bergulir di kepala Snow: Kenapa? Pria ini pasti mendustaiku.
Awalnya, Snow sempat menduga apakah Arthur yang dikenalnya dulu telah berubah dan memang mencintai Savea, ataukah pernikahan ini terjadi karena perjodohan sesama bangsawan tinggi? Namun, informasi dari Eve beberapa hari lalu mematahkan dugaan itu.
Eve bersumpah bahwa sejak hari pertama pernikahan, Arthur dan Savea tidak pernah terlihat mesra, apalagi tidur di kamar yang sama. Lebih-lebih Eve Sudah Menyaksikan secara langsung sejak Ocean berumur satu hari interaksi kedua majikannya.
Snow percaya pada ucapan Eve. Artinya, ada sebuah rantai rahasia kelam yang mengikat Arthur hingga pria itu tak berkutik menghadapi Savea. Dan Snow bersumpah dalam hatinya, ia akan menggali dan menyelidiki rahasia itu sampai ke akarnya!
"Snow, dengarkan aku dulu—" Arthur yang tak sanggup lagi menahan gejolak rindu dan keputusasaannya mendadak meraih pinggang Snow secara kasar. Pria itu menarik tubuh Snow rapat ke dadanya, menundukkan kepala hendak mendaratkan ciuman paksa di bibir wanita itu.
Namun dengan gerakan secepat kilat, Snow mengangkat kedua tangannya dan menahan dada tegap Arthur dengan sekuat tenaga, mendorongnya menjauh.
"Kau gila, Arthur!" desis Snow dengan napas memburu, matanya membelalak menatap pintu luar yang bisa terbuka kapan saja. "Para pelayan dan Eve bisa melihat kita kapan saja di sini!"
Arthur tertahan, napasnya naik turun dengan hebat saat memandangi wajah Snow yang memerah akibat amarah. Pria itu mengusap wajahnya yang frustrasi dengan kedua tangan, tampak begitu terdesak dan tak berdaya di hadapan wanita ini.
"Lalu aku harus apa, Snow?!" pangkas Arthur dengan suara serak yang memohon, matanya menatap Snow penuh keputusasaan. "Harus apa yang kulakukan agar kau mau bersamaku lagi?! Kumohon... Aku benar-benar tidak bisa menceraikan Savea saat ini! Aku punya alasan... Aku berhutang besar padanya!"
Snow menaikkan sebelah alisnya, menangkap sinyal rahasia dari kalimat itu. Hutang? Hutang apa?
"Oke. Kalau begitu, menyingkirlah dariku," ucap Snow dingin, menepis tangan Arthur yang masih menggantung di udara.
Arthur menelan ludahnya yang terasa pahit. Ditatapnya Snow yang membalikkan badan membelakanginya. "Kumohon... nanti malam, masuklah ke kamarku di Sayap Timur. Aku menunggumu di sana, Snow..."
Snow tidak merespons dengan kata-kata. Tanpa menyandarkan tubuhnya, wanita itu hanya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, lalu mengacungkan jari tengahnya tepat di depan wajah Arthur tanpa berbalik sedikit pun.
Melihat respon konyol dan bernada ejekan dari jari tengah itu, alih-alih marah, sudut bibir Arthur justru terangkat tipis. Sebuah senyuman samar terukir di paras tampannya. Wanitanya kini benar-benar telah berubah—jauh lebih berani, makin dewasa, dan liar dibanding gadis polos yang ditinggalkannya lima tahun lalu.
•••
Sementara itu, di Sayap Timur, kegilaan Savea telah mencapai puncaknya.
Wanita itu melangkah bolak-balik di dalam kamar mewahnya bagaikan binatang buas yang terkurung dalam kandang emas. Efek dari penghentian obat penenang secara mendadak atas perintah Raja Alistair membuat saraf-saraf kepalanya serasa ditarik paksa.
Wajahnya makin pucat, matanya sembap dengan lingkaran hitam yang kian menebal.
"Hutang...?" bisik Savea dengan suara parau yang amat mengerikan, menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Arthur bilang dia berhutang padaku...? Hahaha!"
Tawa histeris yang gila mendadak menyembur dari tenggorokan Savea. Ia meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau memang berhutang padaku, Arthur!" jerit Savea pelan pada cermin, lalu melempar botol parfum kaca tebal hingga menghantam pantulannya sendiri sampai pecah berantakan.
PRANG!
"Kau berhutang seluruh hidupmu padaku!" raung Savea, berlutut di antara pecahan kaca tanpa peduli telapak tangannya tertusuk dan berdarah. "Aku yang menutupi dosa kecelakaan mautmu empat tahun lalu! Aku yang menyuruh ayahku membungkam saksi kunci dan polisi! Dan sekarang... kau mau membuangku demi ibu susu murahan itu?!"
Pikiran Savea yang makin tidak stabil kini menyusun rencana pembalasan yang teramat gelap.
Jika Arthur tidak mau menyentuhnya, maka Savea akan memastikan bahwa tidak ada seorang pun di istana ini yang keluar dalam keadaan bernyawa.
"Kau tidak akan pernah bisa menceraikanku, Arthur..." desis Savea dengan senyum miring yang dipenuhi darah dari tangannya sendiri. "Karena jika kau berani menceraikanku... aku sendiri yang akan menyeretmu ke tiang gantungan atas kasus tabrak lari itu!"
Kilas-balik
Tok. Tok. Tok.
Ketukan tiga kali di pintu rahasia yang menghubungkan kamar pribadinya dengan lorong pelayan Sayap Timur terdengar sangat pelan, hampir tak terdengar jika bukan karena keheningan kamar yang mencekam.
Savea menyapu darah di tangannya ke kain gaunnya tanpa peduli. Ia bangkit berdiri dengan tatapan mata yang menyala-nyala, melangkah cepat dan memutar kunci kuningan itu.
Sesosok wanita paruh baya dengan seragam pelayan senior menyusup masuk dengan gerakan secepat kilat, lalu segera mengunci pintu kembali dari dalam. Wanita itu adalah Marta—salah satu mata-mata kepercayaan Savea yang telah disuap dengan sebongkah emas untuk mengawasi setiap gerak-gerik di Sayap Barat.
"Bagaimana?" desis Savea dengan suara parau yang amat menakutkan. Matanya menatap Marta bagaikan rahang predator yang haus darah. "Apa yang kau lihat di kamar perawatan Pangeran Ocean?!"
Marta menunduk dalam-dalam, tubuhnya bergetar menghadapi raut wajah Savea yang makin menyerupai iblis.
"Nyonya... laporan hari ini sesuai dugaan Anda," bisik Marta penuh kehati-hatian. "Pangeran Arthur kembali menyusup masuk ke kamar perawatan Pangeran Ocean secara sembunyi-sembunyi sewaktu Pengasuh Eve sedang pergi ke ruang cuci."
"Lalu?!" jerit Savea tertahan, mencengkeram cermin meja rias di dekatnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa yang dilakukan pangeran brengsek itu pada si jalang murahan?!"
"Saya mengintip dari celah ventilasi atas, Nyonya..." lanjut Marta dengan nada serak. "Pangeran Arthur berusaha merangkul dan menciumnya secara paksa. Pangeran memohon padanya... memohon agar Snow mau masuk ke kamarnya nanti malam. Pangeran terus mengatakan bahwa beliau sangat mencintainya dan berniat membawa Snow pergi dari istana ini..."
BRANG!
Savea menghentakkan tangannya ke meja rias, membuat wadah-wadah perhiasan terlempar hancur ke lantai. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun bagaikan diterpa badai mutlak.
Tebakannya seratus persen tepat. Kecurigaannya selama sebulan kini telah berubah menjadi fakta yang teramat telanjang dan menjijikkan.
"Jalang murahan..." bisik Savea dengan tawa pelan yang bergetar penuh racun. Tawa gila yang membuat Marta merinding ketakutan. "Snow si wanita busuk itu... dia memang berniat datang ke istana ini sejak awal hanya untuk menaiki ranjang suamiku!"
Savea menyugar rambutnya yang acak-acakan dengan kasar. Kemurkaan di kepalanya kini berputar menyusun jaring-jaring rencana yang teramat rapi. Dalam pandangan Savea yang telah keruh, Snow adalah racun mematikan yang tidak sengaja ia bawa sendiri dari luar untuk masuk ke dalam rumah tangganya.
Dialah yang memohon Untuk Putra Dari Snow, menyetujui persyaratan ibu susu itu, dialah yang mengizinkan wanita miskin itu menginjakkan kaki di Istana Blackwood.
"Aku yang membawanya masuk..." desis Savea, matanya membelalak lebar memandangi pecahan kaca di lantai. "Aku yang membukakan pintu untuk ular ini masuk dan memagut suamiku dari belakang!"
Namun, di tengah kegilaannya yang hampir meledak, ada satu benang halus kesadaran yang menahan Savea untuk tidak langsung menerjang ke Sayap Barat dengan pisau di tangan.
Savea tahu persis rahasia terbesar yang dipegang oleh ibu susu itu: Pangeran Ocean.
Ocean adalah putra kandung yang terlahir murni dari rahim Snow. Dan satu hal yang pasti, jika ia bertindak gegabah atau menyerang Snow secara terbuka tanpa perencanaan matang, wanita licik itu bisa membocorkan seluruh dalang penukaran Bayinya yang meninggal dan kenyataan bahwa Ocean bukan anak kandung Savea di hadapan Raja Alistair dan Ratu Baxeena. Jika hal itu terjadi, kedudukan Savea sebagai Duchess akan runtuh dalam sekejap mata.Dan kemungkinan terbesar dia akan masuk penjara.
Savea menarik napas panjang, menahan gemuruh amarahnya hingga berubah menjadi dingin yang membekukan.
"Aku tidak boleh bertindak bodoh..." gumam Savea pada dirinya sendiri, jemarinya yang berdarah mengusap dagunya perlahan. "Jika aku ingin menyingkirkan Snow... aku harus memusnahkannya secara bersih dan sempurna. Tanpa memberinya kesempatan sepatah kata pun untuk membuka mulutnya soal rahasia Ocean!"
Marta memandangi majikannya dengan patuh. "Lalu apa perintah Anda selanjutnya, Nyonya Savea?"
Savea menyunggingkan senyum miring yang teramat kejam. Cahaya membunuh berbinar jelas di kedua matanya yang memerah.
"Biarkan Arthur menunggunya nanti malam di kamarnya," desis Savea dengan nada dingin bagaikan belati yang diusap es. "Terus awasi Sayap Barat. Catat setiap detik pergerakan Snow. Aku akan menyiapkan skenario racun yang tak berbau... Sebuah jebakan yang akan membuat Snow mati mengenaskan atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi, tanpa ada satu orang pun yang sempat mendengar pembelaan dari mulutnya."
"Baik, Nyonya. Saya akan menjalankan perintah," jawab Marta tunduk, lalu menyusup keluar kembali melalui pintu rahasia.
Pintu kembali terkunci rapat. Savea berdiri mematung di tengah kegelapan kamarnya, memandangi bayangan hitam dirinya sendiri. Racun kecemburuan telah mengubahnya menjadi monster yang utuh.
"Kau pikir kau bisa bertingkah bagai ratu di istanaku, Snow?" bisik Savea amat lirih ke udara malam yang hampa. "Kau pikir kau bisa mengambil Arthur dan putra kandungmu begitu saja dariku? Dalam mimpimu, Pelacur... Aku yang membawamu ke sini, dan aku sendiri yang akan mengantarkan nyawamu ke neraka."
Kilas-Balik Off