menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HILANG DAN MUNCUL
Keesokan harinya*
Sinar matahari pagi menembus celah jendela dapur Akira. Wangi nasi dan telur masih tertinggal di udara.
Dari arah dapur terdengar langkah kaki ringan.
"pagi aki"
Itu suara Riyumi. Dia muncul sambil membawa nampan berisi sarapan, dengan senyum yang selalu berhasil bikin suasana jadi cerah.
Akira yang sedang duduk di meja makan langsung menoleh. Alisnya sedikit terangkat.
"pagi umi... ini siapa yang masak?" tanyanya dengan nada datar, tapi ada rasa penasaran di sana.
Riyumi menyodorkan piring di hadapannya sambil terkekeh bangga.
"emang bisa masak nya"
"yaa emang bisaa hehe," lanjutnya sambil duduk di seberang Akira dan menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri.
Akira hanya mengangguk pelan. Di dalam dadanya ada rasa hangat yang sudah lama tidak ia rasakan. Sudah lama tidak ada orang yang masakin dia.
Setelah sarapan selesai, Riyumi mulai membereskan piring-piring kotor. Gerakannya cepat dan cekatan.
"aku pulang dulu" kata Riyumi sambil mengelap tangannya dengan lap. "terimakasih sudah dibolehin nginap di rumah kamu. dah aku pulang dulu bye bye. Sampai jumpa besok di sekolah"
Akira berdiri dari kursinya dan mengikuti Riyumi sampai depan pintu.
"mau di antar?" tawar Akira.
Riyumi menggeleng sambil tersenyum. "gak usah, aku masih mau pergi ke tempat lain"
"oke" jawab Akira singkat.
Pintu tertutup.
Dan tanpa Akira sadari, itu adalah terakhir kalinya dia melihat Riyumi dengan senyum seperti itu.
---
*Tiga hari kemudian.*
Bangku di sebelah Akira kosong. Sudah 3 hari.
Hujan turun rintik-rintik sejak pagi, sama seperti suasana hati Akira.
Akira sudah mencoba menghubungi Riyumi berkali-kali lewat chat dan telepon. Tapi yang muncul hanya centang satu. Begitu juga dengan Nana. Nana juga bilang tidak bisa menghubungi Riyumi sama sekali.
Kelas terasa terlalu sunyi tanpa tawa Riyumi.
Akhirnya Akira memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Dengan alamat rumah yang dikasih Nana seminggu lalu, Akira memberanikan diri datang ke rumah Riyumi setelah pulang sekolah.
Rumahnya sepi. Lampu mati. Halaman depan penuh daun kering.
Akira mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban.
Akhirnya tetangga sebelah membuka pintu. Seorang ibu paruh baya dengan wajah bingung.
"permisi, mau tanya orang yang di rumah ini kemana?" tanya Akira sopan.
"oh... 5 hari yang lalu kalau gak salah mereka pindah ke kota lain" jawab ibu itu.
Dada Akira seperti ditusuk.
"pindah? tau mereka pindah ke mana?" tanyanya lagi, dengan suara yang mulai bergetar.
"kurang tau nak. Perginya buru-buru"
"terimakasih" kata Akira pelan, lalu berbalik pergi.
Di sepanjang jalan pulang, hujan semakin deras. Akira berjalan tanpa payung.
_Ada apa dengan dia? Kenapa tiba-tiba pindah? Kenapa dia tidak mengirimkan pesan sampai sekarang?_
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Akira. Pesan yang ia kirim ke Riyumi sudah menumpuk. Tapi tidak ada satupun yang dibalas.
---
*Libur sekolah*
Agar tidak terus memikirkan Riyumi, Akira mencari kesibukan. Dia akhirnya kerja paruh waktu di sebuah kafe kecil di dekat stasiun.
"oi Akira cepat layani tempat duduk no 5"
teriak teman kerjanya dari kasir.
Akira menghela napas lalu menjawab, "iyaa"
Dia menghampiri meja dengan buku catatan di tangan. Wajahnya datar seperti biasa.
"permisi mau pesan apa?"
"makan ini 1 dan minuman ini" kata pengunjung kafe, seorang bapak-bapak.
"masih ada yang lain?" tanya Akira lagi.
"udah itu aja,"
"di tunggu pesanannya" kata Akira sebelum kembali ke dapur.
Saat sedang di dapur, teman kerjanya yang bernama Dito menepuk bahu Akira.
"ada apa dengan mu Akira? apa yang terjadi, kenapa kaya gak semangat"
Akira hanya mengangkat bahu. "gak ada apa-apa"
"kalau ada apa-apa cerita. Mana tau aku punya solusi oke" kata Dito sambil tersenyum.
Akira hanya mengangguk. Tapi hatinya tetap kosong.
---
*Malam itu.*
Sepulang kerja jam 9 malam, jalanan sudah sepi.
Di sebuah gang kecil, Akira melihat 3 orang preman SMA sedang mengepung seorang gadis. Gadis itu berteriak minta tolong, tapi tidak ada siapa-siapa.
Awalnya Akira ingin cuek dan lewat saja. Tapi entah kenapa kakinya berhenti.
Tanpa pikir panjang dia maju dan menghajar para preman itu. Setelah beberapa menit, para preman itu kabur ketakutan.
Gadis itu menunduk, masih gemetar. "terimakasih udah menolong aku."
Akira menatapnya sekilas. "apa yang kamu lakuin malam?"
"aku abis beli ini dari toko sana, tiba-tiba mereka datang" jawab gadis itu sambil menunjukkan kantong belanjaan.
"lain kali jangan keluar malam. Bahaya apalagi seorang gadis" kata Akira dengan nada sedikit kesal.
Gadis itu menatap tangan Akira yang lecet. "luka mu gapapa? mau di obatin?"
"ini gak seberapa. Nanti juga hilang, cuma goresan" jawab Akira singkat.
Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering. Dia langsung panik.
"sampai jumpa lagi" kata gadis tersebut buru-buru ke arah Akira, lalu lari.
Akira hanya mengangguk dengan wajah datar, lalu melanjutkan langkahnya pulang ke rumah.
---
*Waktu libur sekolah telah usai.*
Hari pertama masuk sekolah setelah libur. Akira datang dengan wajah lelah. Pikirannya masih dipenuhi nama Riyumi.
"oke anak-anak sekarang kita kedatangan teman baru" kata wali kelas di depan kelas.
"silakan perkenalkan dirimu,"
Suasana kelas langsung gaduh.
"he hey Akira liat ada gadis yang cantik masuk kelas kira" kata Yasiro sambil menyikut lengan Akira.
Akira tidak peduli. Dia masih menatap keluar jendela, melihat hujan yang mulai turun lagi.
"nama saya Yuki Kashima. Saya baru pindah ke kota ini karena ikut orang
tua yang pindah kerja. Saya harap kita bisa berteman dengan baik."
Gadis itu berdiri di depan kelas. Rambutnya berwarna putih bersih, bola matanya keemasan, dan tubuhnya langsing. Semua anak cowok di kelas langsung bersorak.
"Yuki silahkan duduk di bangku kosong di belakang sana" kata wali kelas.
baik sensei" jawab Yuki dengan sopan.
Saat jam istirahat, Yuki langsung dikerumuni. Semua orang bertanya ini itu sampai Yuki kewalahan.
Beruntung Yasiro datang menolong. "udah-udah bubar kalian bikin dia risih"
Anak-anak pun bubar sambil menggerutu "Yasiro lagi, Yasiro lagi."
"kenalin aku Yasiro" kata Yasiro dengan senyum lebar dan gaya paling PD.
Yuki membalas. "salam kenal aku Yuki."
"kalau ada apa-apa atau ada yang ganggu datang ke aku biar aku bantu" kata Yasiro sambil membusungkan dada.
Di pojok kelas, Akira tertidur dengan kepala menunduk di meja.
Yuki melirik ke arahnya lalu bertanya pelan ke Yasiro. "itu siapa? kenapa dia kelihatan tidak peduli dengan sekitarnya,"
"itu teman ku. Dia emang begitu, selalu cuek ke sekitarnya. Namanya Akira Riyuma. Jagoan kelas kita. Dan dia sangat populer setelah aku" jawab Yasiro sambil memuji dirinya sendiri.
Penasaran, Yuki pun menghampiri Akira. Tapi Akira tetap tidur.
Sampai akhirnya Yasiro yang berisik. "oi Akira ada cewek cantik yang mau berkenalan dengan mu,"
Akira muak dengan keributan itu. Dia mengangkat kepalanya dan menatap ke depan.
Dan dia membeku.
Begitu juga Yuki.
"hehhhhh kamu yang tadi malam" kata Yuki kaget. "ternyata kita satu kelas. Maaf untuk tadi malam gak sempat kenalan karena ada hal mendadak."
Akira mengerjap. Lalu menjawab dengan suara serak.
"iya. Kenalin aku Akira Riyuma, panggil aja Akira."
"aku Yuki Kashima, panggil aja Yuki,"
Satu kelas langsung heboh. Semua cewek menatap Yuki dengan tatapan sinis.
"hey Yasiro kenapa yang lain melihat aku kayak gitu" tanya Yuki bingung.
Yasiro berbisik, "kan udah ku bilang Akira itu orang populer di kelas. Banyak yang mau dekat dengan nya apalagi kalangan cewek. Tolong biasakan dirimu Yuki."
"kenapa begitu? padahal aku cuma berteman dengan nya"
"orang yang paling dekat dengan Akira hanya Riyumi"
Mendengar nama itu, wajah Akira langsung berubah. Dingin.
"oii oii Yasiro tolong jangan kasih tau tentang Riyumi ke orang baru" kata Akira dengan tatapan tajam ke arah Yasiro.
Yasiro langsung diam, ciut.
Yuki pun ikut terdiam. Untuk pertama kalinya dia melihat Akira yang marah. Dan entah kenapa, rasanya berbeda sekali dari Akira yang tadi malam menolongnya.
______
Hujan turun sejak siang. Tidak deras, hanya rintik-rintik yang mengganggu.
Bel pulang berbunyi. Suara kursi didorong dan langkah kaki memenuhi koridor.
Akira membereskan bukunya paling cepat. Dia membenci keramaian setelah pulang sekolah. Apalagi hari ini.
"eh Akira, pulang bareng yuk"
Suara cerah itu lagi.
Yuki Kashima berdiri di depan meja Akira. Dia sudah rapi dengan tas selempang dan memegang payung warna krem. Rambut putihnya yang panjang sedikit basah kena angin dari jendela. Mata keemasannya menatap Akira dengan polos.
Akira tidak menoleh. Dia hanya menutup tasnya dan berjalan keluar kelas.
"oi tunggu" Yuki langsung mengejar. Langkahnya cepat menyusul. "tadi malam... terimakasih ya udah nolongin aku"
Akira berhenti di depan pintu kelas. Dia menatap lurus ke depan.
"lupain aja" jawabnya datar. "aku cuma kebetulan lewat"
"tetep aja. Kalau bukan kamu, aku bisa apa-apa" kata Yuki sambil tersenyum.
"udah" potong Akira. "jangan ikutin aku"
Tapi Yuki tidak bergeming. Saat mereka keluar gerbang, hujan makin deras.
Yuki langsung membuka payungnya dan tanpa ba bi bu, dia memiringkan payung itu ke arah Akira. Bahu mereka jadi berdekatan.
Sepanjang jalan, Yuki cerewet sekali.
"eh Akira, kamu kerja di kafe mana? Jauh gak dari sini?"
"hmm"
"pelajaran matematika tadi susah ya. Kamu ngerti gak?"
"oh"
"hujan gini enaknya makan ramen ya. Kamu suka ramen gak?"
"iya"
Jawaban Akira hanya sepotong-sepotong. Tapi Yuki tidak menyerah. Dia terus ngomong, terus ketawa sendiri.
Di dalam kepala Akira berisik.
_Kenapa dia ngomong terus..._
_Kenapa caranya nawarin payung mirip..._
_Kenapa... kenapa dia bikin aku inget dia lagi._
Sesampai di perempatan lampu merah, Akira berhenti mendadak.
"pulang sana" kata Akira. "aku bisa sendiri"
Yuki menatapnya bingung. "eh tapi hujan-"
"aku bilang pulang"
Kali ini suara Akira lebih dingin dan tegas. Yuki langsung terdiam. Senyumnya pudar.
Akira berjalan melewati Yuki, menerobos hujan tanpa peduli bajunya basah.
Dari belakang, Yuki hanya bisa melihat punggung Akira yang semakin menjauh.
Yuki menggigit bibirnya. "kenapa... dingin banget sih" gumamnya pelan.
---
*Malamnya. Kafe tempat Akira kerja.*
"oi Akira, semangat dikit dong" kata Dito sambil melempar lap ke arah Akira.
Akira menangkapnya tanpa ekspresi. Matanya kosong menatap meja no 5.
Pintu kafe berdering.
"selamat datang-"
Kalimat Akira terhenti.
Yuki masuk. Basah kuyup. Payung kremnya menetes di lantai.
"permisi... satu orang" kata Yuki pelan.
Seluruh pegawai kafe melirik. Cowok-cowok di kafe juga ikut melirik.
Akira menghela napas panjang. "ikuti aku" katanya singkat, lalu mengantar Yuki ke meja paling pojok.
"mau pesan apa?" tanya Akira sambil mencatat, tanpa menatap Yuki.
"es teh aja" jawab Yuki. "dan... kamu gak apa-apa? Tadi hujanan"
Akira meletakkan buku catatannya agak keras.
"ngapain kamu kesini"
"aku... cuma mau minta maaf. Kalau tadi aku bikin kamu risih" Yuki menunduk. "aku gak bermaksud"
Akira diam. Dia ingat tangan Yuki yang gemetar tadi malam saat dia tolong.
Ingat juga mata Yuki yang sama-sama bingung dan kesepian seperti dirinya.
"besok jangan ikutin aku lagi" kata Akira akhirnya, lalu pergi ke dapur.
Yuki hanya mengangguk. Saat Akira pergi, dia berbisik pelan yang tidak Akira dengar.
"...tapi aku cuma pengen temenan sama kamu, Akira"
Di dapur, Dito berbisik ke Akira. "itu cewek cantik yang nyariin kamu ya? Pantes kamu murung. Naksir?"
Akira membanting wajan. "kerja!" bentaknya.
Tapi saat dia cuci piring, bayangan rambut putih dan mata keemasan itu tidak hilang dari kepalanya.
Dan lebih parahnya... bayangan senyum Riyumi pagi itu juga masih ada.
Dua bayangan. Satu pergi. Satu datang.
_Yang mana yang harus aku kejar?_
*Keesokan harinya. Sekolah.*
Sejak kejadian kemarin, suasana kelas jadi aneh.
Semua cewek ngeliatin Yuki sinis. Semua cowok ngeliatin Akira penasaran.
Dan Yuki? Dia duduk di bangku belakang... tepat satu meja di belakang Akira.
"pagi"
Suara itu lagi. Pelan, dari belakang. Hampir berbisik.
Akira tidak menoleh. Dia buka buku dan pura-pura fokus.
Sepanjang pelajaran 1 dan 2, Yuki beberapa kali nyolek pensil Akira pelan. Pas Akira nengok, Yuki langsung nunduk pura-pura baca buku.
Sampai jam istirahat.
"oi Akira! makan bareng yuk" ajak Yasiro sambil narik lengan Akira.
"nggak" jawab Akira singkat.
"duh jangan gitu dong. Ada Yuki juga nih" kata Yasiro sambil nunjuk Yuki.
Yuki berdiri dengan bekal di tangan. Tangannya agak gemetar. "bo... boleh... gabung?" tanyanya hati-hati, suaranya kecil banget.
Akira langsung berdiri dan keluar kelas. "gak usah"
Dia pergi ke atap sekolah. Tempat yang dulu biasa dia makan bareng Riyumi.
Angin dingin. Sepi.
Beberapa menit kemudian pintu atap terbuka pelan.
"permisi..."
Yuki masuk sambil membawa 2 kotak bekal. Pipinya merah karena lari. "aku liat kamu kesini dari jendela... maaf kalau ganggu"
Akira mengerutkan dahi. "turun"
"sebentar aja" Yuki duduk agak jauh dari Akira. Jaga jarak 1 meter. "aku gak akan ganggu. Cuma... takut makan sendirian di kelas..."
Hening. Hanya suara angin dan plastik bekal dibuka.
Yuki makan dengan pelan. Sesekali dia melirik Akira, terus langsung nunduk lagi.
"maaf ya kalau aku bikin kamu risih kemarin" kata Yuki tiba-tiba, suaranya hampir tenggelam angin.
Akira tetap menatap langit.
"aku denger dari Yasiro... kamu lagi nyari seseorang ya?"
Plak.
Sendok di tangan Akira berhenti.
"jangan sebut nama itu" suara Akira rendah, tapi dingin.
Yuki langsung menunduk dalam. Bahunya sedikit bergetar. "ma... maaf... aku gak bermaksud"
Akira berdiri. "udah. Aku turun"
"eh tunggu" Yuki buru-buru berdiri juga. Matanya berkaca-kaca. "minimal... izinin aku duduk di sini aja. Gak usah ngomong. Aku janji diem. Aku cuma... gak mau sepi"
Akira berhenti di depan pintu. Dia tidak menjawab. Tapi dia juga tidak menyuruh Yuki pergi.
Itu artinya... boleh.
---
*Malamnya. Kafe.*
Hujan lagi. Sama seperti kemarin.
Yuki masuk lagi. Kali ini dia tidak basah. Dia bawa payung warna krem, dan tangannya masih gemetar kedinginan.
"selamat datang" sapa Akira dengan nada datar.
"me... meja pojok ya?" tanya Yuki sambil tersenyum kecil, kaku.
Akira mengangguk lalu pergi.
Jam 9 malam, kafe mau tutup. Hanya tinggal Yuki yang masih duduk. Pesanan es teh nya belum habis-habis.
Dito nyenggol Akira. "tu anak udah 2 hari berturut-turut kesini loh. Nungguin kamu pulang?"
"urusan dia" jawab Akira.
Saat mau pulang, Yuki nyamperin kasir. Suaranya pelan banget.
"permisi... ini untuk Akira"
Dia naruh sekotak P3K kecil di atas meja kasir. "tangan dia masih ada goresan kan. Bilang... buat jaga-jaga. Maaf ngerepotin"
Lalu Yuki langsung lari keluar karena malu.
Akira liat kotak P3K itu dari dapur. Lama.
_Kenapa dia selalu perhatiin hal kecil..._
---
*Pulang kerja. Gang yang sama.*
Lampu jalan mati.
Tiba-tiba dari belakang ada suara langkah kaki cepat.
"hei! dompetnya!"
3 orang preman yang sama seperti minggu lalu muncul lagi. Kali ini mereka bawa pentungan.
Akira pasang kuda-kuda.
Tapi dari belakang, ada suara teriakan kecil. "Akiraa!!"
Yuki. Dia yang ngikutin dari jauh. Wajahnya pucat ketakutan.
"jangan... jangan sakitin dia" kata Yuki sambil nangis, tapi tetap maju mau ngelindungin Akira dari belakang.
Akira langsung maju duluan dan ngelawan 3 preman itu. Setelah 2 menit, preman itu kabur.
Akira balik badan, nafasnya masih ngos-ngosan.
Yuki masih berdiri di tempat, gemetar sambil nutup mulut. "kamu... kamu gak apa-apa? Darah..."
"aku gapapa" kata Akira. "ngapain ngikutin"
"aku... aku takut kamu kenapa-kenapa" Yuki terisak. "maaf... aku penakut ya"
Akira terdiam. Liat Yuki yang ketakutan tapi tetep mau maju buat dia.
Berbeda banget sama Riyumi yang ceria dan kuat.
Yuki ini... rapuh. Dan jujur.
Hujan turun lagi.
Akira melepas jaketnya dan naruh ke kepala Yuki. "pulang. Basah kuyup nanti sakit"
"eh? kamu gak marah?"
"belum. Tapi jalan di belakang aku. Jangan jauh-jauh"
"iya!" Yuki langsung mengangguk cepat sambil senyum lega, masih sambil nangis.
~ TO BE CONTINUED ~