NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Kedatangan Clarissa

   ​Pagi itu, suasana di kediaman megah keluarga Ziko terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.

   Sejak pukul lima subuh, Bu Rani sudah mondar-mandir di ruang tengah dengan raut wajah yang dipenuhi binar antusiasme yang tidak biasa. Gaun sutra terbaik berwarna krem dipadukan dengan selendang bordir benang emas melapisi tubuhnya. Aroma parfum mahal membumbung memenuhi sudut-sudut ruangan, mengalahkan wangi teh melati yang sedang diseduh oleh Mahira di dapur.

   ​"Mahira! Cepat sedikit gerakan tanganmu itu!" seru Bu Rani seraya melangkah masuk ke dapur dengan nada suara yang melengking kencang. "Gelas-gelas porselen impor di lemari kaca dikeluarkan semua! Cuci sampai mengkilap tanpa ada setitik pun noda air. Hari ini ada tamu yang sangat istimewa. Jangan sampai kamu membuat malu keluarga ini di depan dia!"

   ​Mahira tidak mendongak. Jemarinya yang dingin tetap mengusap piring porselen di bawah kucuran air kran. Suaranya terdengar tenang dan datar. "Siapa tamu istimewa yang Ibu maksud?"

   ​Bu Rani menyilangkan kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum penuh kemenangan yang penuh rasa bangga. "Clarissa! Clarissa sudah kembali dari Inggris kemarin malam. Kamu tidak tahu siapa Clarissa? Dia itu putri tunggal pemilik Syailendra Utama, lulusan magister manajemen bisnis dari London, dan yang paling penting... dia adalah mantan kekasih Ziko yang paling berkelas."

   ​Bu Rani sengaja menekankan setiap kata dalam kalimatnya, menatap Mahira dengan pandangan menelisik, berharap melihat riak cemburu, minder, atau rasa takut terukir di wajah menantunya. Namun, Mahira hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi yang berarti.

   ​"Oh," respon Mahira amat singkat. Ia mematikan kran air dan mengeringkan jemarinya dengan serbet bersih.

   ​"Cuma 'oh'?!" Bu Rani mendengus keras, merasa jengkel karena reaksi Mahira yang terlampau tenang. "Dengarkan saya ya, Hira! Clarissa itu wanita berpendidikan tinggi, cantik, modern, dan sangat sepadan kalau disandingkan dengan Ziko yang sekarang sudah jadi pengusaha sukses beromset ratusan miliar. Tidak seperti kamu yang cuma berijazah SMA kampung dan hanya tahu cara pegang sapu. Kalau bukan karena Ziko yang dulu terlalu polos dan termakan kasihan, harusnya Clarissa-lah yang berdiri sebagai nyonya di rumah ini."

   ​Mahira memandang mertuanya lurus. Di balik penampilannya yang bersahaja dengan atasan kaos polos dan rok kain sederhana, ada kilatan dingin yang membuat Bu Rani tertegun sejenak. Namun, Mahira memilih untuk menyembunyikan kembali aura kebesarannya. Ia membalikkan badan dan merapikan cangkir-cangkir porselen di atas nampan kayu.

   ​"Tugas saya di dapur sudah selesai, Bu. Saya menyajikan minumannya sekarang," ucap Mahira datar, mengabaikan seluruh provokasi mertuanya.

   ​Tepat pukul sepuluh pagi, suara deru mesin mobil sedan sport berwarna putih terdengar memasuki pekarangan rumah. Suara ketukan sepatu high heels berkulit mahal di atas lantai marmer depan terdengar teratur dan anggun.

   ​Bu Rani setengah berlari menuju pintu depan, menyambut tamu itu dengan senyuman paling merekah yang tidak pernah sekalipun ia perlihatkan kepada Mahira selama tiga tahun terakhir.

   ​"Clarissa, sayang! Ya ampun, cantiknya anak Ibu!" seru Bu Rani penuh kehangatan seraya merentangkan kedua tangannya.

   ​Wanita bergaun pastel-tailored berpotongan tegas itu tersenyum manis. Rambut bergelombang berwarna cokelat gelapnya terurai sempurna, membingkai wajah dengan riasan flawless khas wanita kelas atas.

   Pria di sampingnya, Ziko, yang sengaja menyempatkan diri pulang dari kantor hanya untuk menjemput Clarissa di bandara, tampak menatap wanita itu dengan binar memuja yang terang-terangan.

   ​"Tante Rani! Kangen sekali," sapa Clarissa dengan suara lembut dan artikulasi yang sangat tertata rapi. Ia memeluk Bu Rani erat, lalu menyerahkan sebuah tas belanja berlogo brand mewah asal Paris. "Ini sedikit buah tangan dari London untuk Tante. Semoga Tante suka."

   ​"Aduh, Clarissa... Kamu ini selalu saja repot-repot. Sudah cantik, sukses, perhatian pula," puji Bu Rani berlebihan, menimang tas mahal itu dengan mata berbinar-binar. Ia membandingkannya secara langsung dalam hati dengan Mahira yang tak pernah memberinya barang berharga. "Ayo masuk, Nak! Rumah ini selalu terbuka lebar untuk kamu!"

   ​Mereka bertiga melangkah menuju ruang tamu utama. Ziko tampak begitu protektif dan perhatian pada Clarissa, menarikkan kursi sofa empuk untuk wanita itu dan memastikan kenyamanannya.

   ​"Terima kasih, Ziko," ucap Clarissa manja seraya menyibakkan rambutnya. Matanya kemudian mengedar meneliti interior rumah. "Rumahmu makin bagus ya, Ko. Tapi... rasanya ada yang kurang. Suasananya sedikit kaku."

   ​"Ah, biasalah, Clarissa," sahut Ziko seraya terkekeh pelan. "Rumah ini cuma diurus sama orang yang tidak tahu estetika. Jadi ya begini saja rasanya."

   ​Tepat saat kalimat itu terlontar dari bibir Ziko, Mahira melangkah keluar dari lorong dapur membawa nampan berisi cangkir teh melati hangat dan sepiring pastry buatan tangannya. Langkah kaki Mahira perlahan, matanya menatap bertaut dengan mata Clarissa untuk pertama kalinya.

   ​Atmosfer di ruang tamu itu seketika berubah mencekam. Clarissa menatap Mahira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang halus namun penuh penghinaan tersembunyi. Senyum tipis yang meremehkan terukir di bibir bergincu merah muda milik Clarissa.

   ​"Oh... ini... istri kamu, Ziko?" tanya Clarissa dengan nada pura-pura terkejut, menutupi mulutnya dengan jemari berhias cincin berlian. "Maaf, aku pikir tadi asisten rumah tangga baru yang kamu sewa."

   ​Bu Rani tertawa melengking mendengar ucapan Clarissa, merasa mendapatkan amunisi baru untuk menjatuhkan Mahira. "Hahaha! Kan, benar kata Tante. Siapa pun yang melihat dia pasti mengira dia itu pembantu. Penampilannya saja dekil dan tidak ada aura cantiknya sama sekali."

   ​Ziko tidak membela istrinya. Pria itu justru ikut tersenyum sinis, menatap Mahira dengan pandangan dingin. "Hira, taruh minumannya di meja. Setelah itu, kamu buatkan es kopi krim untuk Clarissa. Dia tidak suka teh panas."

   ​Mahira meletakkan nampan di atas meja kaca dengan gerakan yang sangat tenang dan hati-hati. Sama sekali tidak ada tremor di tangannya, tidak ada getaran ketakutan di dadanya. Ia berdiri tegak, menatap Ziko dan Clarissa bergantian.

   ​"Maaf, Mas Ziko. Jika Mbak Clarissa ingin es kopi krim, bahan kopinya ada di lemari dapur. Bisa buat sendiri atau Mas Ziko yang buatkan," jawab Mahira dengan suara pelan namun tegas dan berbobot.

   ​Ruang tamu itu seketika hening. Bu Rani melotot murka, sementara Clarissa membelalakkan matanya tidak percaya atas kelakuan "istri kampung" Ziko yang berani menolak perintah di depannya.

   ​"Mahira! Kurang ajar kamu ya!" bentak Bu Rani berdiri dari sofa, dadanya naik turun menahan amarah. "Di depan tamu berkelas seperti Clarissa kamu berani membangkang. Kamu tahu siapa Clarissa? Dia ini tamu kehormatan keluarga ini!"

   ​Clarissa dengan cepat memegang lengan Bu Rani, memasang raut wajah prihatin dan lembut yang dibuat-buat. "Sudah, Tante... Jangan marah-marah. Mungkin Istri Ziko merasa cemburu atau merasa tersaingi dengan kedatangan saya. Saya mengerti kok, wanita yang tidak punya latar belakang pendidikan dan karier biasanya memang mudah merasa terintimidasi."

   ​Clarissa kemudian menatap Mahira dengan tatapan penuh rasa kasihan yang dibuat-buat. "Mbak Hira, saya minta maaf ya kalau kedatangan saya membuat Mbak merasa tidak nyaman. Saya cuma mau bersilaturahmi dengan keluarga Ziko. Saya tahu posisi Mbak pasti berat berada di rumah semewah ini tanpa punya kontribusi apa-apa untuk Ziko."

   ​Ziko merasa tersanjung dan makin membela Clarissa. Ia menatap Mahira dengan pandangan yang penuh rasa muak.

   ​"Hira! Lihat bedanya!" tegas Ziko dengan nada membentak. "Clarissa wanita terdidik, bicaranya sopan, pemikirannya luas. Sedangkan kamu? Cuma tahu cara bersikap kasar dan merusak suasana. Harusnya kamu malu berdiri di samping Clarissa."

   ​Mahira menatap ketiga orang di hadapannya. Rasa kasihan yang amat sangat justru membuncah di dalam dadanya, kasihan pada Ziko yang begitu buta, kasihan pada Bu Rani yang begitu gila harta, dan kasihan pada Clarissa yang berakting terlampau murah.

   ​Mahira menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin. Sebuah senyuman misterius yang membuat Clarissa mendadak merasa risih di balik keangkuhannya.

​"Saya tidak pernah merasa terintimidasi oleh siapa pun, Mbak Clarissa," ucap Mahira berbisik halus namun gaungnya memenuhi ruangan. "Dan untuk Mas Ziko... Jangan pernah membandingkan batu kerikil dengan perhiasan yang bahkan belum pernah Mas lihat kilau aslinya."

​"Kamu...!" Ziko hendak berdiri murka, namun Mahira sudah lebih dulu membalikkan badan.

​Dengan langkah kaki yang tenang dan bermartabat, Mahira berjalan menuju kamarnya. Ia meninggalkan ruang tamu yang kini dipenuhi riuh makian Bu Rani dan bujukan manis Clarissa.

​Di dalam kamar yang sepi, Mahira berjalan mendekati jendela, menatap langit Bandung yang mulai mendung. Ia menghela napas panjang, mengusap dadanya yang kini tak lagi merasakan perih, hanya rasa dingin dan kehampaan yang tersisa untuk suaminya.

​Mahira tahu, permainan Clarissa dan kesombongan keluarga ini baru saja dimulai. Namun, Mahira memilih untuk tetap diam dan mengikuti arus penderitaan ini sebentar lagi, sampai saatnya tiba bagi Ziko untuk menyadari betapa besarnya kesalahan yang telah ia perbuat.

  

1
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Widiyarti
semoga lekas bangkrut ziko ...
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
Sri Rahayu
Mahira keren...uda dihina, direndahkan tp tetap tenang...nunggu bom waktu yg akan diledakkan nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu: eh salah bukan Ardi tp Ziko...maaf salah sebut nama /Silent/
total 4 replies
Sri Rahayu
jgn tanda tangan proposal dr pershn Ardi...mereka bertiga jahat pd mu Mahira...biarkan saja prshn Ardi kolaps... lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mahira sdh terlalu lama kamu menyia nyiakan hdp mu msh juga mau bertahan dgn suami dan mertua yg selalu menghina dan merendahkan mu Mahira untuk apa Mahira bertahan tinggal bersama Ziko , lbh baik segera keluar dari rumah Ziko dan balas semua perbuatan Ziko , Bu Rani juga Clarisa .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!