Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
Pertengkaran hebat semalam meninggalkan jejak kelabu yang tebal di kediaman keluarga Pradipta. Sepanjang hari Minggu, tidak ada suara tawa, tidak ada sahutan jahil, dan tidak ada aksi saling sindir. Baik Naya maupun Arka memilih mengurung diri di dalam aktivitas masing-masing, membiarkan keheningan rumah terasa begitu mencekam.
Malam harinya, sekitar pukul sembilan, hembusan angin dingin menyapu kaca jendela kamar tidur mereka di lantai dua. Tante Elena dan Om Adrian sedang pergi menghadiri jamuan makan malam organisasi alumni universitas hingga larut malam.
Naya duduk di tepi tempat tidur, memangku kedua lututnya. Matanya yang agak sembab menatap lembar kertas HVS putih yang tergeletak di atas meja belajar di sudut ruangan—kertas berisikan Surat Perjanjian Rahasia yang pernah mereka tandatangani bersama di ruang OSIS beberapa bulan lalu.
Arka yang baru selesai mandi melangkah masuk dengan kaus oblong hitam dan celana kain santai. Laki-laki itu tidak langsung merebahkan diri atau membuka laptopnya. Ia berdiri di dekat meja belajar, menatap kertas perjanjian itu, lalu beralih menatap Naya yang sedang menundukkan kepala.
Arka menghembuskan napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar teramat lelah. Laki-laki itu mengambil kertas HVS tersebut, lalu berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang Naya.
"Naya," panggil Arka pelan. Suaranya tidak lagi dingin seperti semalam, melainkan mengandung getaran dalam yang sangat serak.
Naya perlahan mendongak, matanya yang bulat bertatapan langsung dengan manik mata hitam Arka yang jernih namun redup.
"Soal semalam..." Arka berdeham kaku, jemarinya meremas pelan pinggiran kertas perjanjian di tangannya. "...saya minta maaf kalau kata-kata saya keterlaluan."
Naya menelan ludah yang terasa pahit. Dinding pertahanan gengsinya yang semalam membumbung tinggi kini perlahan terkikis melihat wajah Arka yang tampak sama lelahnya dengan dirinya.
"Gue juga minta maaf," bisik Naya pelan, matanya menatap sprei biru gelap di bawahnya. "Gue... gue emang suka asal ngomong kalau lagi emosi."
Arka menatap Naya dalam keheningan selama beberapa detik. Ia meratakan kertas HVS berisikan lima poin aturan itu di atas pangkuannya, menunjuk salah satu poin dengan jarinya.
"Kamu ingat poin nomor empat dan lima di perjanjian ini?" tanya Arka datar.
Naya melirik kertas itu.
Poin 4: Dilarang mencampuri urusan pribadi atau lawan jenis masing-masing di sekolah.
Poin 5: DILARANG JATUH CINTA SATU SAMA LAIN.
"Ingat," sahut Naya pelan.
"Perjanjian ini..." Arka mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu mendongak menatap mata Naya lurus-lurus. "...perjanjian ini sepertinya sudah tidak masuk akal lagi, Naya."
Jantung Naya melompat liar tak beraturan. "M—maksud lo apa?"
Arka menyandarkan punggungnya di kursi, menatap plafon kamar sejenak sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada Naya.
"Poin nomor empat bilang kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi atau lawan jenis masing-masing," kata Arka dengan nada yang begitu jujur, menusuk sampai ke ulu hati. "Tapi kenyataannya? Saya marah tiap kali melihat kamu dekat dengan Reno. Saya mengatur-ngatur kamu tidak boleh pulang sama dia. Dan kamu... kamu marah tiap kali melihat Melisa memberi saya minum atau saat saya mengantarnya."
Pipi Naya merona merah hangat gara-gara malu, namun ia tidak lagi bisa membantah. Apa yang dikatakan Arka adalah kenyataan pahit yang mereka alami setiap hari.
"Aturan yang kita buat sendiri untuk membentengi diri..." lanjut Arka pelan, "...pada kenyataannya sudah gagal total sejak awal."
Naya meremas kain piyamanya kuat-kuat. Keberanian yang tak biasa mendadak muncul di dalam dadanya, mendorong Naya untuk mengajukan pertanyaan yang paling menakutkan bagi dirinya sendiri.
Naya menatap mata Arka tanpa berkedip. "Arka... kalau gitu gue mau tanya satu hal. Dan lo harus jawab jujur."
"Apa?"
Naya menelan ludah kasar, dadanya naik turun memburu. "Sampai detik ini... apakah lo masih menganggap pernikahan kita ini cuma sebatas keterpaksaan? Cuma status di atas kertas gara-gara janji orang tua kita?"
Pertanyaan polos nan krusial itu menggantung tebal di dalam keheningan kamar yang temaram.
Arka terpaku di tempat duduknya. Manik mata hitam laki-laki yang terkenal paling pintar menyusun alibi hukum dan kalimat logika ini mendadak kehilangan seluruh kata-katanya. Ia menatap Naya yang sedang menunggu balasan dengan bibir bergetar dan mata yang memancarkan rasa takut yang nyata.
Arka tidak langsung menjawab dengan kalimat 'Iya, ini cuma kewajiban' seperti yang biasa ia ucapkan bulan-bulan lalu.
Laki-laki itu memalingkan pandangannya ke jendela kamar yang gelap, mengurut pangkal hidungnya dengan raut bingung dan gelisah yang teramat sangat.
"Aku... aku tidak tahu, Naya," jawab Arka pelan, suaranya serak dan nyaris berupa bisikan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arka tidak lagi menggunakan kata 'Saya', melainkan kata 'Aku'—sebuah pergeseran bahasa yang begitu intim dan meruntuhkan jarak kaku di antara mereka.
"Aku tidak tahu sejak kapan..." Arka melanjutkan, menatap Naya kembali dengan kedalaman rasa yang tak sanggup lagi ia sembunyikan sepenuhnya. "...tapi memikirkan pernikahan ini berakhir setelah kita lulus sekolah... sekarang terasa sangat tidak menyenangkan buat aku."
Deg.
Dada Naya serasa dihantam gelombang hangat yang luar biasa dahsyat. Kata-kata Arka meluncur tanpa kepastian emosi yang sempurna, namun ucapan 'Aku tidak tahu' itu merupakan pengakuan paling jujur bahwa hati sang Ketua OSIS telah berubah sepenuhnya.
Naya terpaku seribu bahasa. Lidahnya kelu total, tak mampu membalas kalimat Arka.
Arka perlahan berdiri dari kursinya. Ia melipat kertas Surat Perjanjian Rahasia itu menjadi dua bagian, lalu meletakkannya kembali di dalam laci meja belajar dan menguncinya rapat-rapat.
"Sudah malam. Tidurlah," kata Arka pelan, suaranya kembali datar namun menyiratkan kehangatan yang amat dalam.
Arka berjalan ke sisinya di tempat tidur, merebahkan tubuhnya di bawah selimut, memunggungi Naya seperti biasa.
Naya perlahan merebahkan tubuhnya di sisi kasur yang lain. Di dalam kegelapan kamar yang tenang, Naya menatap punggung tegap Arka yang berjarak hanya satu jengkal darinya.
Perjanjian kertas mereka memang masih tersimpan di dalam laci, tetapi malam ini, Naya dan Arka sama-sama menyadari satu hal yang pasti: aturan-aturan kaku itu telah hangus tak berbekas, digantikan oleh jalinan perasaan baru yang makin sulit untuk mereka pungkiri lagi.