NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Hentakan Pertama dan Pengadilan Naga

Makhluk itu melompat.

Bukan anjing biasa. Tubuhnya sebesar sapi, dengan sisik hitam yang memantulkan cahaya bulan samar. Air liur menetes dari rahangnya yang penuh gigi gergaji, mendesis saat menyentuh tanah dan mengikis batu bata.

"Anjing Pelacak Darah," suara Mo Cang terdengar santai di belakang Lin Tian. "Kelas dua. Setara dengan kultivator tahap Pengumpulan Qi tingkat empat. Kau yang hadapi."

Lin Tian menoleh, matanya membelalak. "Aku baru bisa merasakan qi selama lima menit!"

"Kalau begitu kau punya lima menit pengalaman lebih banyak dari anjing itu," balas Mo Cang, duduk bersila di atas tong arak kosong dan meneguk minumannya. "Gunakan tinjumu. Salurkan qi ke tulang kepalan tanganmu. Jangan mati."

Makhluk itu menerjang.

Lin Tian tidak punya waktu untuk marah. Insting yang ia asah selama bertahun-tahun memukul tiang kayu mengambil alih. Ia merendahkan kuda-kuda, menghindari cakaran pertama yang merobek udara tepat di depan wajahnya.

Angin dari cakaran itu mengiris pipinya, memunculkan garis darah tipis.

Salurkan qi.

Lin Tian menarik napas, membayangkan energi hangat yang baru saja ia rasakan mengalir dari pusar, naik ke dada, lalu memadat di lengan kanannya. Rasanya seperti mencoba mendorong air sungai dengan tangan kosong. Energi itu liar, tidak mau diatur, menyengat urat-uratnya seperti dialiri ribuan semut api.

Anjing itu berputar dan menyerang lagi, kali ini dengan rahang terbuka lebar. Bau busuk dari mulutnya membuat Lin Tian nyaris muntah, tetapi ia menahan diri, memfokuskan seluruh kesadarannya pada satu titik di antara kedua mata makhluk itu.

Lin Tian memukul.

Tinjunya menghantam moncong makhluk itu. Tanpa qi, pukulan ini hanya akan mematahkan tulang tangannya. Tetapi saat kepalan tangannya bersentuhan dengan sisik keras, qi yang liar itu meledak.

Krak.

Sisik hitam retak. Makhluk itu mencicit, terpental ke belakang dan menabrak dinding gang.

Lin Tian menatap tinjunya. Kulitnya memerah, tulang-tulangnya ngilu, tetapi tidak ada yang patah. Kekuatan ini nyata.

"Jangan kagum pada dirimu sendiri, bodoh!" bentak Mo Cang. "Lehernya! Putar kepalanya sebelum ia bangkit! Qi bukan pedang yang bisa kau ayunkan seenaknya. Ia adalah perpanjangan dari niatmu. Jika kau ragu, qi akan menghancurkan tubuhmu sendiri!"

Anjing Pelacak Darah itu sudah bangkit, matanya menyala merah oleh amarah. Ia membuka rahangnya, mengumpulkan bola energi berwarna merah darah di tenggorokannya.

Lin Tian tidak mundur.

Ia melangkah maju, menginjak genangan air, dan melompat.

Tubuhnya yang selama enam belas tahun dilatih memikul batu dan memukul kayu kini terasa seringan bulu. Ia mendarat di punggung makhluk itu, kedua kakinya menjepit lehernya, dan kedua tangannya mencengkeram rahang atas serta bawahnya.

"Salurkan qi ke lengan!" teriak Mo Cang.

Lin Tian meraung, memaksa seluruh energi di dantiannya mengalir ke kedua lengan. Otot-ototnya menonjol, urat-uratnya menegang hingga nyaris robek. Ia menarik rahang makhluk itu ke arah yang berlawanan dengan sendi alaminya.

Daging terkoyak. Tulang bergeser.

Dengan satu sentakan brutal, Lin Tian mematahkan leher anjing itu.

Makhluk raksasa itu ambruk ke tanah, kejang beberapa kali sebelum akhirnya mati. Darah hitam kental mengalir dari mulutnya, bercampur dengan air hujan.

Lin Tian turun dari bangkainya. Napasnya memburu, dadanya naik turun. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang membanjiri tubuhnya. Ia baru saja membunuh monster dengan tangan kosong.

Rasa panas menjalar di sepanjang lengannya, seperti ada bara api yang mengalir di dalam pembuluh darahnya. Dantiannya terasa nyeri, tanda bahwa wadah energinya yang baru terbuka sedang dipaksa bekerja melampaui batas. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, tidak ingin menunjukkan kelemahan.

"Tidak buruk," komentar Mo Cang, meski nadanya tetap datar. "Tapi kau terlalu lambat. Dan kau membuang terlalu banyak qi untuk satu pukulan."

Lin Tian tidak sempat menjawab.

Suara tepukan tangan terdengar dari mulut gang.

Tiga sosok berjubah hitam melangkah masuk. Wajah mereka tertutup kain, hanya menyisakan mata yang dingin dan tanpa emosi. Di tangan mereka, pedang tipis memancarkan cahaya hijau beracun.

"Mo Cang," suara pemimpin mereka serak, seperti dua batu yang digesekkan. "Puluhan tahun kami mencarimu. Ternyata kau bersembunyi di kota kumuh ini, memungut sampah."

Mo Cang tidak berdiri. Ia tetap duduk di atas tong arak, memutar-mutar labu kayunya. "Anjing-anjing Istana Langit Hitam. Aku kira kalian sudah lupa cara melacak jejak."

"Serahkan bocah itu dan gulungan kuno itu, kami akan memberimu kematian yang cepat," ancam pemimpin itu.

Mo Cang tertawa. Tawa pendek yang membuat suhu di gang itu turun drastis.

"Kalian membantai keluarga anak ini demi gulungan yang bahkan tidak bisa kalian baca," kata Mo Cang, suaranya kini tidak lagi terdengar seperti pemabuk. "Dan sekarang, kalian berani menagih nyawanya di depanku?"

Pemimpin itu mengangkat tangan. "Bunuh si tua. Tangkap bocahnya hidup-hidup."

Ketiga pembunuh itu bergerak serentak. Kecepatan mereka jauh melampaui Anjing Pelacak Darah. Mereka adalah kultivator tahap Pengumpulan Qi tingkat tujuh, elit dari organisasi pembunuh.

Lin Tian mengepalkan tangan, bersiap untuk mencegat.

Namun, Mo Cang hanya menghentakkan kaki kanannya ke tanah.

Satu kali.

Tidak ada ledakan qi. Tidak ada cahaya menyilaukan.

Hanya ada suara tap pelan.

Tetapi dampaknya menghancurkan segalanya.

Gelombang kejut tak kasatmata merambat melalui tanah, langsung menghantam titik vital di telapak kaki ketiga pembunuh itu. Tubuh mereka kaku di udara, seolah tulang-tulang kaki mereka telah dihancurkan menjadi bubuk dalam sepersekian detik.

Mereka jatuh berlutut, pedang beracun mereka terlepas dari genggaman. Wajah di balik topeng mereka memucat, menahan rasa sakit yang luar biasa.

Lin Tian ternganga. Ia tidak melihat Mo Cang menggunakan teknik apa pun. Hanya satu hentakan kaki, dan tiga kultivator elit lumpuh total.

"Siapa... siapa kau sebenarnya?" suara pemimpin itu bergetar, kesombongannya lenyap digantikan teror murni.

Mo Cang turun dari tong arak, berjalan perlahan menuju mereka. "Orang tua yang sedang mabuk."

Ia berhenti di depan pemimpin itu, lalu menepuk bahunya pelan.

Tubuh pembunuh itu langsung runtuh menjadi debu abu-abu, tertiup angin malam. Tidak ada darah, tidak ada jeritan. Hanya ketiadaan.

Dua pembunuh sisanya gemetar hebat, mencoba merangkak mundur.

"Kalian punya dua pilihan," kata Mo Cang, menatap mereka tanpa emosi. "Bunuh diri, atau kubiarkan muridku yang berlatih pada kalian."

Lin Tian menatap Mo Cang, lalu menatap kedua pembunuh yang kini menatapnya seperti melihat iblis. Ia memungut salah satu pedang beracun yang terjatuh. Bilahnya dingin, memantulkan matanya yang kini berkilat perak.

Ia tidak ragu. Ia melangkah maju dan menebaskan pedang itu ke leher mereka.

Dua kepala menggelinding ke selokan.

Mo Cang mengangguk pelan. "Tega, tapi efisien. Itu yang kubutuhkan."

Namun, saat Mo Cang membungkuk untuk memeriksa jubah salah satu mayat, ekspresi santainya tiba-tiba lenyap. Ia merobek kain di dada mayat itu, memperlihatkan sebuah tato berbentuk mata dengan pupil retak.

Tato itu bukan digambar dengan tinta biasa. Garis-garisnya menonjol dari kulit, berdenyut pelan seolah memiliki kehidupan sendiri, memancarkan aura kematian yang membuat udara di sekitar mayat terasa berat.

Tangan Mo Cang, yang tadi begitu stabil saat membunuh, kini gemetar samar.

"Mereka tidak hanya mengirim anjing pelacak," bisik Mo Cang, matanya menatap Lin Tian dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan seorang jenderal yang menyadari bahwa musuh telah mengepung bentengnya. "Mereka membawa Pengadilan Naga Hitam ke kota ini."

Lin Tian tidak tahu apa itu Pengadilan Naga Hitam, tetapi bulu kuduknya berdiri tegak. "Seberapa buruk?"

Mo Cang menghancurkan tato itu dengan qi, lalu menatap langit malam yang tertutup awan hitam. "Cukup buruk untuk membuat seluruh kota ini menjadi kuburan massal sebelum fajar tiba."

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!