Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB: 21 Puncak Intrik di Kediaman Utama
Selamat membaca...
_____________
Malam kian pekat menutupi kediaman utama keluarga Adijaya. Suasana rumah megah itu terasa luar biasa senyap, seolah menyimpan bahaya yang siap meledak sewaktu-waktu. Di lantai dua, tepatnya di kamar peristirahatan Kakek Surya, pencahayaan yang dibuat remang-remang demi kenyamanan sang kepala keluarga yang sedang terlelap usai meminum obat rutinnya.
Di sudut lorong yang gelap, Siska Adijaya berdiri mengawasi situasi. Jemarinya yang gemetaran meremas sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening sebuah zat kimia berbahaya yang sengaja ia dapatkan dari jalur gelap untuk memicu kegagalan organ secara perlahan.
"Raka, kau sudah pastikan semua pengawal luar sibuk di gerbang depan?" bisik Siska tajam pada putranya yang berdiri panik di sampingnya.
Raka menyapu keringat dingin di pelipisnya. "S-sudah, Ibu. Aku sengaja menyuruh pelayan memanggil pengawal untuk memeriksa kebocoran pipa gas di halaman depan. Kita cuma punya waktu sepuluh menit sebelum mereka kembali."
"Bagus," desis Siska dengan mata berkilat penuh dendam. "Jika Kakek Surya mendadak kritis malam ini, seluruh surat wasiat yang menunjuk Evan sebagai ahli waris tunggal bisa dibatalkan atas dugaan kelalaian. Kita akan tuduh Aura yang salah memberikan dosis obat."
Tanpa membuang waktu, Siska melangkah tanpa suara memasuki kamar Kakek Surya. Ia melangkah perlahan mendekati meja nakas tempat cangkir air minum dan botol obat Kakek Surya diletakkan. Tangannya terulur, membuka tutup botol kaca kecil itu untuk meneteskan cairan beracun ke dalam cangkir porselen Kakek.
Cklek.
Lampu utama kamar seketika menyala terang benderang, menyilaukan mata Siska dan Raka.
"Kaukah yang sedang mencarikan 'obat baru' untuk Kakek, Nyonya Siska?"
Sebuah suara dingin yang amat dikenal bergema di seluruh penjuru ruangan. Siska tersentak kaget, botol kaca di tangannya hampir saja terjatuh jika ia tidak segera menggenggamnya erat.
Dari balik tirai balkon yang lebar, Evan Adijaya melangkah keluar dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di sampingnya, Aura berdiri dengan pandangan tajam, memegang sebuah perekam suara dan ponsel yang sedang melakukan siaran langsung (live recording) ke server keamanan Adijaya Group.
"E-Evan?! Aura?!" pekik Raka yang kepalanya seketika pucat pasi. "Kenapa... kenapa kalian ada di sini?!"
Evan melangkah mendekat dengan santai namun memancarkan aura intimidasi yang melumpuhkan. "Kalian mengira setelah Aris ditangkap, aku tidak akan mengawasi gerak-gerik kalian di rumah ini?"
Siska berusaha menguasai dirinya, menyembunyikan botol kecil itu di balik lipatan gaun malamnya seraya mengumbar senyum palsu. "Evan, kau salah paham! Ibu hanya... Ibu hanya ingin memastikan Kakekmu sudah meminum obatnya malam ini!"
"Obat?" Aura melangkah maju, mengangkat sebuah map transparan berisi hasil tes laboratorium. "Cairan bening yang ada di dalam kantong gaunmu itu adalah racun ber dosis tinggi, Siska. Kami sudah mengganti air minum Kakek sejak sore tadi dan mengawasi ruangan ini melalui kamera tersembunyi."
Siska membelalak tak percaya. Tangannya seketika lemas.
Di saat yang sama, sosok Kakek Surya yang tadinya terbaring lelap di atas ranjang, perlahan-lahan mendudukkan tubuhnya. Pria tua itu menatap Siska dan Raka dengan pandangan kecewa yang amat dalam, air mata kesedihan tampak menggenang di sudut matanya yang telah keriput.
"Siska... Raka..." suara Kakek Surya terdengar parau dan gemetaran. "Selama puluhan tahun aku merawat kalian dan menganggap kalian sebagai keluargaku sendiri... Begini caramu membalas kebaikanku?"
"Ayah... ini tidak seperti yang Ayah bayangkan! Evan dan Aura menjebak kami!" teriak Siska panik, berlutut di samping tempat tidur Kakek Surya.
"Cukup, Siska!" bentak Kakek Surya dengan nada tegas yang membungkam seluruh kebohongan wanita itu. "Aku mendengar sendiri bagaimana kau dan Aris merencanakan kehancuran Evan dan Aura. Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri kau mencoba meracuniku!"
Pintu kamar terbuka lebar. Pak Bimo masuk bersama empat petugas kepolisian dan dua pengacara senior Adijaya Group.
"Tuan Presdir, seluruh bukti rekaman audio dan visual penyerangan serta percobaan pembunuhan berencana sudah dikirim ke pihak kepolisian," Bimo melaporkan dengan nada formal.
Evan menatap ibu tiri dan saudara tirinya yang kini terduduk lemas di lantai marmer tanpa daya sedikit pun.
"Siska Adijaya dan Raka Adijaya," ujar Evan dengan suara serak namun dingin bak es. "Hak waris kalian resmi dicabut detik ini juga. Seluruh aset, fasilitas, dan nama besar Adijaya yang selama ini kalian nikmati... ditarik kembali oleh perusahaan."
Dua petugas polisi melangkah maju, memasang borgol di pergelangan tangan Siska dan Raka. Siska meronta-ronta histeris, menangis memohon ampun pada Kakek Surya, namun sang Kakek hanya bisa memalingkan wajahnya penuh penyesalan.
Saat kedua pengkhianat itu diseret keluar dari kediaman Adijaya, keheningan yang damai akhirnya kembali menyelimuti rumah megah tersebut.
Kakek Surya menghela napas panjang, menatap Evan dan Aura yang berdiri berdampingan di samping tempat tidurnya. Pria tua itu merentangkan tangannya, mengisyaratkan cucu dan cucu menantunya untuk mendekat.
Aura dan Evan berlutut di samping ranjang. Kakek Surya menggenggam tangan mereka berdua, menyatukan telapak tangan Evan dan Aura dalam satu genggaman yang hangat.
"Terima kasih, Aura... Terima kasih sudah melindungi keluarga ini dan membawa Evan kembali pada kedamaian," bisik Kakek Surya tulus, meremas lembut jemari Aura. "Aku tahu pernikahan kalian berawal dari sebuah perjanjian... tapi mata tua Kakek ini tidak bisa dibohongi. Cinta di antara kalian berdua adalah hal paling nyata yang pernah Kakek lihat."
Aura menatap Evan dengan mata berbinar haru. Evan membalas tatapan itu, lalu menggenggam jemari Aura lebih erat dari sebelumnya.
"Kakek tidak perlu khawatir lagi," ujar Evan tulus. "Semua badai sudah berlalu. Mulai hari ini, aku akan memastikan rumah ini dan Aura selalu dalam keadaan aman dan bahagia."
Kakek Surya tersenyum lega, memejamkan matanya untuk beristirahat dengan tenang.
Evan berdiri, merengkuh pinggang Aura lalu membimbing wanitanya melangkah keluar menuju balkon kamar utama. Angin malam yang sejuk menyapa wajah mereka. Di bawah benderangnya cahaya bintang, Evan menatap iris mata Aura yang jernih.
"Aura," panggil Evan dengan suara begitu lembut.
"Iya, Evan?"
Evan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil. Saat ia membukanya, sebuah cincin berlian berdesain mewah dan elegan berkilau tertimpa cahaya bulan.
Aura menahan napas, matanya membelalak tak percaya.
"Kertas perjanjian dua miliar rupiah itu sudah kubakar habis sore tadi," bisik Evan seraya menarik jemari manis Aura. "Aku tidak ingin kau menjadi istri kontrakku lagi. Mau kah kau menjadi istriku yang sesungguhnya... selamanya?"
Air mata bahagia menetes membasahi pipi Aura. Tanpa keraguan sedikit pun, Aura mengangguk mantap. "Ya, Evan... Aku mau."
Evan menyematkan cincin cantik itu di jari manis Aura, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan mendaratkan ciuman yang paling manis dan dalam di bawah naungan malam yang kini sepenuhnya milik mereka.
________
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...