NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMPAT

"Baru pulang?"

Suara berat yang dingin itu langsung menyambut Amara tepat saat pintu depan tertutup pelan. Suasana rumah mewah yang hening seketika terasa semakin mencekam, dihuni oleh aura dominasi yang tebal dan menekan.

Wajah Amara memancarkan rasa lesu, letih, dan lelah yang luar biasa. Sepanjang hari bergulat dengan materi perkuliahan yang menguras otak, ditambah latihan paduan suara karena seminggu lagi acara perpisahan dan penerimaan mahasiswa baru , kini tubuhnya seolah berteriak menagih hak untuk segera merebahkan diri di atas ranjang yang empuk. Namun, sosok pria yang berdiri tegak di tengah remang ruang tengah itu dengan sukses memupus asa Amara untuk beristirahat tenang.

"Iya," jawab Amara singkat, menundukkan kepala sembari melangkah hendak melewati sosok itu.

"Apa pantas, seorang istri pulang jam setengah dua belas malam?" tanya Zain tanpa mengubah posisinya sedikit pun. Matanya mengawasi gerak-gerik Amara bak seorang hakim yang siap mengadili pesakitan.

Amara menghentikan langkahnya, menarik napas panjang yang terasa sangat menyiksa di dadanya yang sesak. "Aku sedang tidak ingin berdebat."

"Amara."

Panggilan yang menyebut namanya dengan nada rendah namun penuh penekanan itu menghentikan sisa kesabaran Amara. Gadis itu memutar tubuhnya, menatap lurus pada pria tinggi berwajah rupawan yang selama bertahun-tahun berbagi atap bersamanya.

"Apa lagi, Kak Zain?" bentak Amara halus, air mata yang tersimpan di pelupuk matanya berkilat menahan kepedihan. "Kamu seminggu pergi tanpa kabar. Bahkan Bu Silvia dan Bu Manda tahu lebih dahulu kalau kamu ada dinas luar kota. Padahal aku siapa? Aku istrimu, Kak, meskipun tidak pernah kamu anggap!"

Zain tidak menyela. Rahangnya mengencang keras saat mendengar tuduhan itu meluncur dari bibir Amara.

"Kamu punya nomor WhatsApp-ku!" lanjut Amara dengan suara yang mulai bergetar hebat, menunjuk layar ponsel di tangannya. "Tidak bisakah jempolmu berkirim satu pesan saja padaku? Sekadar memberi tahu kalau kamu masih hidup?"

Zain membuang pandangannya sejenak sebelum menatap Amara kembali dengan tatapan datar yang menyebalkan. "Mereka teman sepekerjaan. Aku hanya izin tidak masuk ke bagian administrasi."

Amara tertawa sumbang, sebuah tawa lirih yang menyuarakan kehancuran hatinya. "Ya, tentu saja. Teman sepekerjaan jauh lebih penting. Anggap saja aku di rumah ini hanya debu yang menempel di dinding."

"Amara, pantas kamu berbicara seperti itu pada suamimu?" tegur Zain dengan suara yang lebih dalam, melangkah satu pijakan mendekati Amara.

"Aku tidak peduli!" seru Amara tidak mau kalah, membiarkan lelehan air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya yang pucat. "Aku tidak peduli lagi, sama seperti Kak Zain yang tidak pernah mau tahu hal apa pun tentangku. Aku ini hanya seorang wanita yang kebetulan akibat kesialan harus menjadi istri seorang Kaellan Zain Alfatih! Pria yang sempurna, jenius, idaman semua gadis, dan tampan!"

"Amara!"

Mendengar nama lengkapnya diucap dengan nada sinis seperti itu, raut tenang di wajah Zain hancur seketika. Suara bentakannya menggelegar memecah keheningan malam, menyisakan gema yang menakutkan di dalam rumah besar tersebut.

Namun, Amara tidak lagi gemetar. Rasa lelah yang teramat sangat telah mematikan rasa takutnya.

"Aku capek, Kak. Aku tidak ingin bertengkar lagi," ucap Amara dengan nada suara yang perlahan merendah, terdengar begitu putus asa. "Jika keberadaanku memang memuakkan untukmu, lepaskan saja aku. Aku tidak peduli lagi jika kita harus bercerai."

Tanpa menunggu balasan dari pria di hadapannya, Amara memutar tubuhnya dan berlari kencang memanjat anak tangga menuju lantai dua. Suara langkah kakinya yang terburu-buru menghilang di balik pintu kamar atas yang dibanting keras.

Zain terdiam mematung di tengah ruangan yang sunyi. Tangannya menggenggam erat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Terlalu banyak hal yang berkecamuk dan berputar hebat di dalam kepala pria jenius itu. Namun, yang paling menyiksanya adalah dadanya sendiri. Ada sesuatu yang berdenyut asing di sana, sebuah rasa perih yang teramat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

...****************...

Matahari siang menyengat kampus Universitas Candrakirana dengan terik yang membakar. Profesor Zain baru saja selesai mengajar di kelas tingkat tiga Fakultas Kedokteran. Langkah kakinya yang tegap menyusuri koridor lantai dua menuju ruang kerjanya, berniat untuk beristirahat sejenak di antara tumpukan jurnal medis yang menyita pikirannya.

Tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa di balik statusnya sebagai profesor muda dan anggota senat akademis, Zain adalah pemilik sebenarnya dari seluruh yayasan Universitas Candrakirana. Sebuah rahasia besar yang bahkan tidak diketahui oleh Amara. Zain hanya ingin menjalani peran akademisnya secara normal tanpa perlu dibayangi oleh atribut kekayaan keluarga besarnya.

"Profesor Zain, tunggu!"

Sebuah suara wanita yang dibuat seramah dan selembut mungkin terdengar memanggil dari arah belakang. Langkah Zain terhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan, menemukan seorang dosen wanita berparas cantik dengan pakaian formal yang agak ketat melangkah mendekatinya.

"Ibu Manda," panggil Zain dingin. "Ada apa?"

Manda tersenyum manis, membetulkan letak rambut panjangnya yang terurai. "Profesor Zain, tolong jangan memanggil saya ibu. Panggil saja Manda. Apalagi umur saya hanya lebih tua tiga tahun dari Anda."

Zain menatap Manda tanpa ekspresi, mengoreksi posisi kacamata tipisnya. "Tidak boleh. Di sini adalah lingkungan akademisi. Tidak pantas jika kita hanya memanggil nama tanpa tenggat formalitas."

"Tapi kan di koridor ini hanya ada kita berdua, Prof," bujuk Manda dengan nada manja yang menyengat, melangkah satu tapak lebih dekat.

"Tetap tidak mau," potong Zain lugas, tidak memberi ruang untuk negosiasi. "Ada apa, Bu Manda? Saya tidak bisa membuang banyak waktu di sini."

Manda menghela napas pelan, namun buru-buru mengangkat sebuah kotak bekal transparan bernuansa merah muda dari balik tasnya. "Ini, Prof. Kebetulan pagi ini saya memasak agak banyak di rumah. Silakan dicicipi untuk makan siang."

Zain melirik kotak bekal itu sekilas, lalu kembali menatap mata Manda dengan raut datar. "Maaf, saya sedang puasa."

Raut wajah Manda mendadak berubah agak canggung, namun ia dengan cepat memaksakan senyum kembali. "Ta-tapi ini bisa disimpan untuk berbuka puasa nanti, Prof. Makanan ini dijamin tidak akan basi kok sampai sore."

"Maaf, Bu Manda," pungkas Zain pendek, suaranya terdengar begitu final. "Saya tidak bisa menerimanya."

"Tapi, Prof..."

Tanpa memedulikan rengekan Manda yang tersisa di udara, Zain memutar tubuhnya dan melangkah pergi menyusuri koridor, membiarkan dosen muda itu berdiri terpaku.

Namun, Manda tidak mudah menyerah. Didorong oleh rasa penasaran dan gengsi yang tinggi, ia setengah berlari mengejar Zain, lalu nekat mengulurkan tangannya dan menarik kuat lengan kemeja Zain dari samping.

Langkah Zain terhenti seketika. Tubuhnya menegang keras.

"Bu Manda, tidak pantas dilihat oleh mahasiswa," ujar Zain dengan nada suara yang amat sangat dingin dan tajam. Dengan satu gerakan sentakan yang kasar dan tegas, Zain melepaskan cengkeraman tangan Manda dari lengannya, lalu mundur dua langkah menjauh seolah-olah baru saja menyentuh benda berbahaya.

Manda terperanjat, wajahnya memerah karena rasa malu yang membakar puncaknya. "M-maaf, Profesor Zain... Saya tidak bermaksud..."

"Ada urusan lain yang penting?" tanya Zain sinis, merapikan lengan kemejanya yang sempat kusut.

Manda menelan ludah, berusaha menyusun kembali sisa-sisa keberaniannya. "Apakah... apakah akhir pekan ini Anda ada waktu luang? Saya sangat ingin mengajak Profesor Zain berkunjung ke pameran buku internasional di pusat kota."

"Saya hanya ingin beristirahat di rumah," balas Zain tegas tanpa keraguan sedikit pun.

"Tapi kan pameran bukunya bagus sekali, Prof," Manda mulai merengek kembali, menggerakkan kedua tangannya memohon. "Hanya dua jam saja. Saya bisa jemput Anda atau kita bertemu di lokasi. Bukankah Profesor sangat suka membaca literatur medis terbaru?"

"Saya katakan tidak, Bu Manda," pangkas Zain tanpa belas kasihan. "Terima kasih atas tawarannya, tapi saya sama sekali tidak berminat."

Tanpa menunggu balasan atau sepatah kata pun dari wanita itu, Zain berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju pintu ruang kerjanya, meninggalkan Manda yang berdiri sendirian di koridor sepi dengan gigitan bibir menahan amarah dan keputusasaan.

Sementara itu di lantai dasar, kantin kampus sedang berada dalam puncak keramaian siang. Bau aroma makanan beradu dengan gemuruh suara ratusan mahasiswa yang menikmati waktu istirahat mereka.

Di sebuah meja sudut di bawah rindangnya pohon mangga, Amara duduk memangku dagunya. Wajahnya masih nampak pucat, matanya sedikit sembap akibat tangisan semalam yang menyiksa jiwa. Di hadapannya, Erin dan Adinda, dua sahabat karibnya sedang sibuk menikmati mi ayam sambil mengunyah gosip hangat yang sedang beredar panas di fakultas mereka.

"Kamu tahu tidak, Ra?" Erin membuka suara dengan nada berbisik yang sarat akan sensasi heboh. Ia memajukan tubuhnya ke tengah meja.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!