NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir x Permulaan

‎   Gedung Dekanat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya perlahan mulai sepi setelah sidang pemecatan yang dramatis itu usai. Di koridor, Kevin berjalan dengan langkah ringan seolah gravitasi bumi baru saja memberinya diskon lima puluh persen. Ia tak bisa menahan senyumnya. Senyum itu merekah sangat lebar, hingga memperlihatkan gigi-giginya yang di- veneer rapi.

‎

‎Bagi Kevin, ini adalah kemenangan jackpot. Si gembel pembuat mi instan itu sudah ditendang dari kampus, dan Dini, sang primadona yang sombong itu, kini berada dalam kondisi paling rapuh. Sebentar lagi, Kevin tinggal masuk membawakan tisu dan pundak, lalu boom, Dini akan menjadi miliknya.

‎

‎Namun, Kevin lupa bahwa ia tidak sedang syuting sinetron di mana tidak ada yang menyadari mimik wajah sang tokoh jahat. Aldo, teman satu genk-nya yang sejak tadi mengekor di belakang, mulai merasa mual.

‎

‎"Kev, lu bisa tahan dikit nggak komuk lu?" bisik Aldo sambil celingak-celuk panik. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya.

‎

‎"Komuk gue kenapa, Al? Gue lagi bahagia nih. Udara Depok mendadak seger banget rasanya," sahut Kevin santai, merogoh kunci Honda Jazz-nya.

‎

‎"Lu senyum lebar banget anjir! Kayak Joker habis dapet THR! Tadi aja Pak Yanto sempat ngelirik lu aneh pas kita keluar ruangan," desis Aldo ketakutan. "Lu bayangin, Dini lagi shock berat di dalam, temen-temennya pada nangis, terus lu jalan keluar sambil senyum-senyum girang. Orang bego juga bakal curiga kalau lu dalang di balik semua ini!"

‎

‎Kevin langsung merapatkan bibirnya, sadar akan kecerobohannya. Ia mendehem, mengatur kembali ekspresinya menjadi mode 'prihatin'. "Sori, sori. Kebawa suasana. Intinya rencana kita sukses besar. Sekarang kita tinggal fokus ke step selanjutnya."

‎

‎Di sisi lain kampus, Poltak masih menatap Reza dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara takjub, bingung, dan ingin membawa temannya itu ke Ruqyah massal.

‎

‎Bagaimana tidak? Setelah divonis Drop Out dengan tuduhan keji yang bisa membuat masa depan pemuda mana pun hancur lebur, Reza tidak menangis. Ia tidak marah, tidak mengamuk, dan tidak berteriak merencanakan balas dendam seperti tokoh utama film action.

‎

‎Reza malah berjalan santai menuju halte bikun (bis kuning kampus), sambil menghitung sisa koin di sakunya.

‎

‎"Za, kau jujurlah padaku. Otakmu ada yang geser pas ditampar Pak Yanto tadi?" tanya Poltak saat mereka duduk di dalam angkot menuju kosan pada malam harinya.

‎

‎Angkot itu sepi, hanya ada mereka berdua dan sopir yang sedang mendengarkan lagu dangdut koplo. Reza menoleh menatap Poltak, wajahnya yang lebam masih terlihat menyedihkan di bawah remang lampu angkot.

‎

‎"Otak gue sehat, Tak. Emangnya kenapa?"

‎

‎"Ya kau pikir aja sendiri!" Poltak mengacak-acak rambut ikalnya yang sudah berantakan. "Kau baru aja diusir dari UI, Kawan! Difitnah memperkosa! Kalau aku jadi kau, udah kubakar itu gedung dekanat, atau minimal kucari si Kevin itu terus kugigit ban mobilnya sampai kempes! Ini kau malah tenang-tenang aja macam orang habis lulusan!"

‎

‎Reza menghela napas panjang, bersandar pada kaca angkot yang bergetar. "Terus kalau gue marah, gue nangis guling-guling di aspal, gelar mahasiswa gue bakal balik? Mbak Dini bakal tiba-tiba sembuh dan bisa bersaksi? Enggak kan, Tak?"

‎

‎Poltak terdiam, bibirnya mengerucut maju.

‎

‎"Gue emang sakit hati, Tak. Banget," lanjut Reza, suaranya kini sedikit merendah, menatap jalanan Margonda yang padat. "Difitnah ngelakuin hal sekeji itu ke orang yang selalu baik sama gue... rasanya kayak dada gue ditimpa batu gilingan. Tapi gue sadar, marah nggak akan bawa gue ke mana-mana. Dendam nggak akan bawa gue ke Guangzhou. Kalau gue fokus mikirin si Kevin atau dosen-dosen buta itu, berarti gue membiarkan mereka ngerampas mimpi gue. Dan gue nggak akan sudi ngasih mimpi gue ke mereka."

‎

‎Poltak menelan ludah. Kata-kata Reza begitu filosofis namun keluar dari mulut seorang pemuda yang kaos oblongnya masih berbau keringat campur kuah soto. "Jadi... kau beneran mau ke Disnaker besok? Daftar TKI?"

‎

‎"Iya," jawab Reza mantap, matanya memancarkan tekad sekeras baja. "Besok pagi jam tujuh lo temenin gue ya. Gue butuh boncengan motor lo biar irit ongkos."

‎

‎Poltak hanya bisa menepuk jidatnya. Ampun Mak, kawan aku ini memang spesies langka, batinnya. Di saat orang lain mungkin butuh psikiater setelah di-DO, Reza hanya butuh formulir pendaftaran kerja luar negeri.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!