Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — Pertemuan di Kafe
.
NAUFAL BASKARA?
Arsen sedikit tersentak mendengar nama itu. Siapa yang tidak mengenalnya? Seorang pengacara kondang yang kiprahnya selalu menjadi perbincangan dalam dunia bisnis. Dan hari ini, Arsen akhirnya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang itu. Sesaat Arsen merasa senang, sampai kemudian tiba-tiba saja dadanya berdetak dengan kencang saat mengingat bahwa orang ini datang atas nama Keira Anindita, istrinya yang sudah tiga hari tidak pulang.
Pengacara Naufal Baskara mengambil map hitam dari tas yang dibawanya lalu menyerahkannya kepada Arsen.
Arsen pun mengulurkan tangannya untuk menerima map tersebut dengan perasaan aneh. Dan begitu membuka bagian depannya, lalu membaca halaman pertama. Wajahnya seketika berubah. Mata pria itu melotot tak percaya.
DOKUMEN PERMOHONAN PERCERAIAN.
Arsen menelan ludahnya dengan susah payah saat membaca nama yang tercantum di bawahnya sekali lagi. Pria itu bahkan mengucek matanya berkali-kali berharap apa yang dilihatnya salah. Ada nama KEIRA ANINDITA. Dan di atasnya, wanita itu sudah membubuhkan tanda tangan.
Tanpa sadar, Arsen mencengkeram kertas itu hingga lecek.
“Apa ini?” tanyanya dengan suara tertahan. Matanya menatap tajam ke arah pengacara Naufal. Nafas pria itu tampak turun naik seolah baru saja berlari dalam jarak jauh. Bahkan mesin pendingin ruangan pun seakan kehilangan fungsinya.
“Dokumen perceraian dari pihak Ibu Keira,” jawab pengacara Naufal dengan tenang. “Saya diminta memastikan dokumen tersebut sampai ke tangan Anda. Silakan Anda tandatangani, karena Bu Keira sudah menandatangani lebih dulu.”
Di samping Arsen, asisten Mario ikut membelalakkan matanya. Pria berusia tiga puluh tahun itu sama sekali tidak percaya bahwa Bu Keira, istri yang selama empat tahun ini begitu penurut dan setia mendampingi Arsen, kini menggugat cerai.
Arsen mengangkat wajahnya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap pengacara itu dengan tidak percaya. “Keira minta cerai?”
Pengacara Naufal “Benar, Pak.”
Arsen tertawa pendek, tetapi tidak ada sedikit pun rasa geli di wajahnya. Ia menggeleng seolah sedang mendengar sesuatu yang mustahil.
Arsen kembali menatap dokumen di tangannya. “Tidak mungkin!” tanpa sadar pria itu menggebrak meja dengan keras.
Beberapa hari lalu ia masih mengira Keira hanya sedang marah. Ia bahkan yakin perempuan itu akan kembali setelah emosinya mereda.
Namun sekarang, ketika perusahaan sedang berada di ambang masalah dan dirinya membutuhkan ketenangan yang dulu selalu diberikan Keira, perempuan itu justru mengirimkan dokumen perceraian.
“Dia tidak mungkin serius!” suara Arsen terdengar lebih rendah.
Pengacara itu mengangguk. “Beliau sangat serius, Pak. Karena itu saya diminta memastikan Anda menerima dokumen ini secara langsung. Jadi, silakan tandatangani supaya surat cerai segera bisa diproses.
“Tidak!” sentak Arsen. Matanya menatap tajam ke arah pengacara Naufal.
“Aku tidak akan menandatangani surat ini,” tolaknya sambil membanting map itu di atas meja. “Dia itu hanya sedang marah. Katakan padanya, merajuk juga ada batasannya. Jangan membuat aku hilang kesabaran. Suruh dia pulang sekarang juga dan aku akan memberikan apa yang dia minta. Suruh dia tetap menjadi istri yang patuh. Itu juga baik untuk hidupnya!”
Pengacara Naufal tertawa kecil mendengar kata-kata Arsen yang terdengar begitu percaya diri. Matanya memandang ke arah Arsen dengan tatapan meremehkan.
“Tuan Arsen Wijaya,” panggilnya datar. “Saya datang membawa amanat dari Bu Keira. Tugas saya sudah selesai. Sedangkan Anda bersedia tanda tangan atau tidak, keputusan ada di tangan Anda. Tapi ada satu lagi pesan dari Bu Keira. Jika Anda tidak bersedia tanda tangan, maka Bu Keira akan membawa gugatan ini ke pengadilan.”
Pengacara Naufal menjeda ucapannya dan menatap wajah Arsen yang tampak terkejut. “Dan Anda pasti tahu apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga Wijaya jika kasus ini naik ke meja hijau. Itu saja yang ingin saya katakan. Jika Anda berubah pikiran, hubungi nomor saya dalam tiga hari.”
Pengacara Naufal meletakkan selembar kartu nama di atas meja tepat di hadapan Arsen. “Permisi!” Dan pria berbadan gempal itu pun segera membalikkan badan lalu melangkah keluar.
Arsen terhenyak di atas kursi kebesarannya. Jadi, Keira tidak sedang bermain-main? Keira pergi bukan karena merajuk?
*
Sore yang sama, setelah menyelesaikan beberapa urusan di kantornya, Keira mampir ke sebuah kafe yang letaknya tidak jauh dari gedung perusahaannya. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya setelah menandatangani dokumen perceraian pagi tadi. Keputusan itu sudah bulat, tetapi bukan berarti hatinya sama sekali tidak terluka. Orang yang demi dia Keira telah membuang masa muda selama empat tahun, kini malah mengkhianati nya.
Keira baru saja keluar dari kafe setelah menghabiskan secangkir Panama Geisha, biji kopi langka yang selalu dipilihnya saat ingin menenangkan diri. Tanpa Keira sadari saat dirinya sedang berjalan seorang pria berjalan dari arah berlawanan hingga tanpa sengaja mereka berdua pun bertabrakan..
Elvano Mahardika.
Pria itu secara refleks menahan pinggang Keira agar perempuan itu tidak terhuyung. Di saat yang sama, Keira tanpa sadar mencengkram pundak pria itu untuk menjaga keseimbangannya.
Waktu seakan berhenti. Wajah mereka begitu dekat. Napas mereka tertahan di udara yang sama. Tatapan mata mereka bertemu, mengunci satu sama lain seolah tak ada apa pun di sekitar mereka.
Elvano menatapnya lekat, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di matanya terpancar kerinduan yang begitu tulus pada wajah yang tak pernah ia lihat selama empat tahun terakhir. Sementara Keira, wanita itu tiba-tiba merasa dadanya berdegup kencang, mengaburkan sejenak rasa perih yang tadi memenuhi dadanya.
Elvano perlahan menyadari tangannya yang masih berada di pinggang Keira, namun ia tak buru-buru menariknya.
"Kau..." suaranya terdengar lembut dan rendah. "Kau baik-baik saja?"
Keira mengangguk pelan, jemarinya yang menempel di pundak pria itu perlahan melemah, namun tak beranjak.
"Ya..." jawabnya lirih, matanya masih belum sanggup berpaling. "Terima kasih."
Mereka berdiri begitu tepat di ambang pintu, seolah semesta sengaja menghentikan langkah mereka berdua di detik ini.
Ketika kesadaran Keira perlahan kembali, wanita itu buru-buru menarik tangannya dari pundak pria itu, wajahnya memerah seketika. Elvano pun melepaskan sentuhannya di pinggang perempuan itu, meski matanya tak sekalipun beralih.
"Maaf..." gumam Keira pelan, menunduk sejenak sebelum melangkah melewati pria itu.
Ia berjalan keluar menuju halaman depan cafe dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Wajahnya masih terasa panas, dan jantungnya belum mau berdetak tenang kembali. Tanpa menoleh ke belakang, ia berjalan lurus menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Begitu duduk di balik kemudi, sebelah tangan Keira menyentuh pipinya yang masih merah merona, sementara sebelah tangannya lagi memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang. Detak yang terasa asing, detak yang belum pernah ia rasakan bahkan saat dirinya bersama dengan Arsen.
Elvano masih berdiri di tempatnya dengan mata menatap hingga bayangan wanita itu menghilang. “Kamu melupakanku, Key?”
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏