romansa islami story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Dua minggu. Empat belas hari yang terasa bagai putaran roda siksaan tanpa henti bagi Nadiva.
Hujan rintik membasahi kaca jendela perpustakaan SMA Nusa Bakti, menciptakan jejak air yang buram, seburam perasaan Nadiva siang itu. Di depannya, setumpuk buku latihan soal Ujian Akhir Semester (UAS) terbuka lebar. Senin depan adalah hari penentuan. Ujian terakhir yang akan menjadi garis finis perjuangannya di sekolah ini. Setelah itu, ia akan lulus, mengemas mimpinya, dan terbang jauh ke Maroko—membawa serta kepingan hatinya yang sengaja ia hancurkan sendiri.
Perhatian Nadiva sama sekali tidak tertuju pada rumus trigonometri di hadapannya. Tangannya yang bersembunyi di bawah meja sedari tadi menggenggam ponsel erat-erat, menatap layar ruang obrolannya dengan Mex.
Nadiva:
Kak Mex, hari ini Kak Dereen masuk sekolah? Lukanya gimana?
Tiga titik berkedip di layar, tanda Mex sedang mengetik balasan. Tak lama, pesan itu masuk.
Kak Mex:
Masuk, Div. Gips di lengannya udah dilepas, sisa luka di pelipisnya aja. Tapi auranya gelap banget. Lo yakin nggak mau ngomong langsung sama dia? Seenggaknya tanya kabar, Div.
Nadiva menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa kebas. Jemarinya bergetar saat mengetik balasan.
Nadiva:
Alhamdulillah kalau udah mendingan. Nggak usah, Kak. Tolong tetap rahasiain semuanya. Makasih ya, Kak.
Nadiva mengunci layar ponselnya dan menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangan. Dadanya sesak bukan main. Menjaga jarak dari Dereen ternyata jauh lebih menguras kewarasan daripada menjadi babu cowok itu.
Demi mempertahankan beasiswanya, demi memenuhi ultimatum Nyonya Maya Hilton, Nadiva harus memakai topeng gadis tak berperasaan. Ia menghindar di koridor, membuang muka di kantin, dan tak pernah sekali pun membalas tatapan Dereen. Ia membiarkan cowok itu tenggelam dalam kebingungan, berharap Dereen akan membencinya dan perlahan pergi.
Namun, skenario itu tak berjalan semudah yang ia bayangkan.
Suara decit kursi yang ditarik kasar tepat di depan mejanya membuat Nadiva tersentak. Ia mendongak, dan napasnya seketika tercekat di tenggorokan.
Dereen Hilton duduk di sana.
Cowok itu terlihat berbeda. Rahangnya ditumbuhi bayangan bulu halus yang belum dicukur, rambutnya berantakan, dan masih ada sisa memar keunguan di pelipis kirinya. Namun, yang paling menyayat hati Nadiva adalah sorot mata cowok itu. Mata elang yang biasanya memancarkan arogansi dan kilat jahil itu kini meredup, menyisakan kekecewaan dan amarah dingin yang menusuk tulang.
Mereka dipisahkan oleh meja kayu yang tak seberapa lebar, namun rasanya ada samudra tak kasatmata yang membentang di antara mereka.
"Dua minggu," suara Dereen mengalun rendah, serak, dan berat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam netra cokelat terang Nadiva. "Gue nyaris mati di aspal, dirawat dua minggu, dan lo bahkan nggak repot-repot nengok ke kelas gue buat sekadar basa-basi."
Nadiva menelan ludah. Jantungnya berdegup gila-gilaan, meronta ingin meneriakkan kebenaran bahwa ia datang ke rumah sakit, bahwa ia menangis semalaman di samping ranjangnya. Namun, bayangan wajah dingin asisten ibunda Dereen kembali berputar di kepalanya, menjadi gembok yang mengunci rapat bibirnya.
Nadiva mengalihkan pandangannya ke arah buku tulisnya, memasang wajah sedatar mungkin. "Saya sibuk mempersiapkan UAS, Kak. Senin depan ujian sudah dimulai. Fokus saya hanya untuk lulus dengan nilai terbaik."
Dereen mendengus pelan, sebuah tawa sarkas yang sumbang dan hampa. Tangannya yang bebas dari gips terangkat, mengetuk meja Nadiva dengan gerakan pelan yang mengintimidasi.
"Sesibuk itu sampai lo kehilangan rasa kemanusiaan lo, Div?" sindir Dereen tajam. Kilat terluka di matanya semakin kentara. "Gue pikir, setelah semua hal konyol yang kita lewatin, setelah balapan malam itu... seenggaknya lo punya sedikit simpati buat gue. Ternyata gue salah. Di mata lo, gue beneran cuma pengganggu, kan?"
Setiap kata yang keluar dari mulut Dereen terasa seperti ribuan jarum yang ditusukkan serentak ke dada Nadiva. Gadis itu mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia harus mengakhiri ini. Ia harus membuat Dereen benar-benar membencinya, agar beasiswa dan masa depannya aman.
Dengan sisa-sisa tenaga dan ego yang ia miliki, Nadiva mendongak. Ia memasang wajah barbar-nya yang paling keras kepala, menatap mata Dereen dengan kilat permusuhan yang ia paksakan.
"Kalau Kakak sudah tahu jawabannya, kenapa masih tanya?" balas Nadiva dingin, suaranya tak bergetar sedikit pun. "Kecelakaan itu murni karena kecerobohan Kakak sendiri. Bukan urusan saya. Saya punya mimpi besar yang harus dikejar, dan meladeni drama cowok arogan seperti Kakak sama sekali tidak ada di jadwal saya."
Hening.
Bahkan suara hujan di luar rasanya kalah oleh dentum keheningan yang menyergap meja itu.
Dereen terpaku. Kata-kata Nadiva baru saja menampar egonya hingga hancur berkeping-keping. Tembok es yang dibangun gadis itu tak hanya tinggi, tapi juga berduri. Perlahan, sorot terluka di mata Dereen berubah menjadi kekosongan yang membekukan. Rahangnya mengeras.
"Oke," bisik Dereen pelan, matanya tak lepas dari wajah Nadiva. "Gue paham sekarang."
Cowok itu berdiri perlahan. Ia merapikan letak jaketnya tanpa memutus kontak mata dengan Nadiva. "Selamat mengejar mimpi lo, Nadiva. Gue pastiin, mulai detik ini, hidup lo bakal setenang kuburan. Gue nggak akan pernah muncul lagi di depan lo."
Setelah menjatuhkan kalimat perpisahan yang terasa final itu, Dereen berbalik dan melangkah pergi dengan langkah lebar. Punggung tegapnya perlahan menjauh, menghilang di balik pintu perpustakaan, membawa serta kesalahpahaman yang mengakar teramat dalam.
Dari balik rak buku tak jauh dari sana, Mex berdiri mematung. Tangannya mencengkeram erat buku di genggamannya. Ia menyaksikan semuanya. Ia melihat bagaimana hancurnya Dereen, dan ia melihat setetes air mata yang akhirnya lolos membasahi pipi Nadiva tepat setelah punggung Dereen menghilang dari pandangan.
"Ya Allah, Kak..." bisik Nadiva parau di tengah isaknya yang tertahan, meremas dadanya yang terasa mau pecah. "Maafin aku..."
Tiga anak manusia itu terjebak dalam labirin kesalahpahaman. Tak ada komunikasi, tak ada penjelasan. Hanya ada ego yang terluka, janji yang mengikat, dan sebuah batas takdir bernama perbedaan keyakinan yang terlalu angkuh untuk mereka runtuhkan. Dan seiring dengan semakin dekatnya hari kelulusan, jarak di antara Nadiva dan Dereen tampaknya telah mencapai titik yang tak bisa lagi disatukan.