NovelToon NovelToon
DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

DI,BELAI SAHABAT SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG BAYANG DIATAS SERTIFIKAT

"Kosongkan tempat ini dalam tiga hari? Anda bercanda, Nyonya Helena!"

Suara Sora melengking, bergetar di antara dinding-dinding galeri yang dipenuhi hasil karyanya sendiri. Punggungnya menempel rapat pada meja kayu marmer, mencari tumpuan agar lututnya yang lemas tidak membuat tubuhnya rubuh ke lantai.

Helena tidak bergeming. Wanita paruh baya itu hanya menyunggingkan senyum tipis—senyuman dingin penuh perhitungan yang sangat mirip dengan milik mendiang Aris. Dengan gerakan tenang dan anggun, ia merapikan selendang sutranya, menatap Sora dengan tatapan kasihan yang merendahkan.

"Aku tidak pernah bercanda soal bisnis, Sora," sahut Helena datar, nada suaranya mengalun bagai bisikan dari es yang membeku. "Tiga hari. Itu batas toleransi terakhir yang bisa kuberikan untuk menghormati rasa dukaku atas kematian Aris."

Dada Sora naik-turun menahan pasokan udara yang mendadak terasa begitu tipis. Air mata amarah membakar pelupuk matanya. Selama bertahun-tahun ia mengira penderitaannya bersumber dari kekejaman Rian dan obsesi gila Aris. Namun kini, di balik runtuhnya dua pria itu, muncul sosok dalang sebenarnya—Helena Kusuma, wanita yang memegang semua tali kelam dari masa lalu ayahnya.

"Ayahku sudah meninggal lima tahun lalu!" tegas Sora dengan sisa keberanian yang dimilikinya. "Semua hutang dan masalah bisnisnya sudah diselesaikan oleh tim hukum dan dinetralisir pengadilan! Anda tidak punya hak moral untuk terus memeras hidupku!"

Helena melangkah satu tapak lebih dekat. Aroma parfum bunga bakung yang tajam bercampur bau kimia mahal menguar dari gaun hitamnya, menginvasi indra penciuman Sora.

"Moral?" Helena tertawa kecil—sebuah tawa lirih tanpa emosi yang membuat bulu kuduk Sora berdiri. "Di dunia bisnis kelas atas, moral hanyalah dongeng untuk orang-orang lemah seperti ayahmu, Sora. Dokumen tanggungan ini adalah dokumen resmi yang ditandatangani di luar negeri. Pengadilan lokal tidak pernah menyentuhnya karena aku sengaja menyimpannya... untuk momen seperti ini."

Helena mengetukkan jari jemarinya yang berhias cincin berlian besar ke atas map abu-abu di meja.

"Tiga hari, Sora. Kalau dalam tiga hari kamu tidak menyerahkan kunci galeri ini dan menandatangani surat pengalihan hak cipta seluruh lukisanmu untuk galeri utamaku di Zurich, berkas rahasia manipulasi pajak dan judi saham almarhum ayahmu akan tersebar di seluruh media nasional. Nama baik ayahmu yang mati-matian kamu jaga akan berubah jadi sampah dalam hitungan detik."

Tanpa menunggu balasan lagi dari Sora, Helena membalikkan badan. Langkah kakinya yang beralas sepatu hak tinggi berdenting tegas di atas lantai marmer, bergaung di dalam galeri yang mendadak terasa bagaikan sangkar baru.

Pintu kaca galeri berdenting saat Helena keluar, meninggalkan Sora yang akhirnya luluh dan terduduk di atas lantai dingin, memeluk kedua lututnya sendiri dalam tangis tanpa suara.

Malam harinya, pukul sembilan.

Sora duduk sendirian di meja kerjanya. Lampu ruangan dimatikan, hanya menyisakan pendar cahaya dari layar laptop yang menyinari wajah pucatnya. Di samping laptop, map abu-abu pemberian Helena tergeletak terbuka.

Setiap lembaran dokumen rahasia itu telah Sora periksa. Tanda tangan ayahnya yang tertera di sana sangat autentik. Tanda tangan dari seorang pria yang terdesak lima tahun lalu, sebelum tragedi kebakaran gudang pecah.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kaca galeri mengejutkan Sora.

Sora tersentak, refleks meraih gunting pemotong kertas di meja kerjanya. Dengan napas tertahan dan jantung yang berdebar kencang, ia berjalan perlahan mendekati pintu utama.

Melalui kaca bening yang tersiram lampu jalanan, berdiri seorang pria berjaket kulit cokelat tua dengan topi pet yang menutupi sebagian wajahnya. Pria itu memegang sebuah amplop cokelat tebal.

"Siapa di luar?" panggil Sora dengan suara bergetar dari balik pintu yang terkunci.

Pria itu mendongak. Di balik kegelapan topi, matanya memancarkan sorot yang amat dikenal oleh Sora—sorot mata lelah dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.

Pria itu perlahan melepaskan topinya.

Sora membelalakkan mata, napasnya tertahan di tenggorokan.

"Rian?!" cicit Sora tak percaya.

Pria di luar pintu adalah Rian. Mantan suaminya. Pria yang seharusnya masih menjalani hukuman penjara atas kasus konspirasi kejahatan finansial bersama Aris dan Danu.

Namun Rian yang berdiri di balik kaca ini sama sekali berbeda dari sosok suami klimis berjas mahal yang dulu dikenalnya. Wajahnya penuh dengan bekas luka gores, badannya kurus kering, dan matanya merah menyala oleh keputusasaan dan dendam.

"Sora... buka pintunya, tolong," bisik Rian dari luar, suaranya parau dan terputus-putus. "Aku mohon, Ra... cuma kamu satu-satunya harapanku."

Dengan jari-jari yang gemetar hebat, Sora memutar kunci pintu kaca, membuka celah kecil namun tetap menahan gagang pintu dengan ketat.

"Kenapa kamu bisa ada di luar, Rian?!" cecar Sora panik sambil melirik ke sekeliling jalanan sepi. "Kamu kabur dari penjara?!"

"Aku dapat pembebasan bersyarat karena mengajukan diri jadi justice collaborator, Ra!" jawab Rian cepat, napasnya memburu. "Aku serahkan seluruh bukti transaksi kotor Aris dan ibunya ke Kejaksaan Agung!"

Sora menahan napasnya. "Ibu Aris? Helena?"

"Iya! Helena Kusuma!" Rian mendekatkan wajahnya ke celah pintu, matanya membelalak penuh teror. "Sora, dengarkan aku baik-baik! Jangan pernah percaya sama wanita itu! Helena itu jauh lebih berbahaya dari Aris! Kematian Aris di bunker Bogor enam bulan lalu... itu bukan murni tertembak polisi!"

Sora merasa seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku. "Maksudmu apa, Rian?!"

Rian menyodorkan amplop cokelat tebal yang dibawanya ke tangan Sora melalui celah pintu.

"Helena yang merancang penyerbuan polisi ke bunker malam itu!" bisik Rian histeris. "Helena sengaja mengumpankan posisi Aris ke polisi karena Aris mulai tidak bisa dikendalikan dan mengancam akan membongkar aset rahasia keluarganya demi kamu! Helena sengaja membiarkan putranya sendiri mati malam itu agar seluruh kekayaan keluarga Kusuma jatuh penuh ke tangannya!"

Sora memegang amplop itu dengan tangan yang kaku. Kenyataan mengerikan yang baru saja diucapkan Rian terasa bagai petir yang menghantam kepalanya hingga hancur. Helena... ibu kandung Aris... tega mengorbankan darah dagingnya sendiri demi menjaga kekuasaan dan kekayaannya.

"Kenapa... kenapa kamu kasih tahu ini semua ke aku, Rian?" tanyanya dengan suara nyaris tenggelam.

Rian menatap Sora dengan pendar air mata yang membasahi pipinya yang kusam.

"Karena aku mau menebus dosaku padamu, Ra..." cicit Rian pilu. "Aku yang membawa Aris ke hidupmu lima tahun lalu. Aku yang membiarkan dia merusak rumah tangga kita. Dan sekarang... Helena mau menghancurkanmu sepenuhnya untuk menghapus semua jejak Aris."

Rian melangkah mundur dua tapak, mengenakan topinya kembali saat suara sirine mobil patroli polisi terdengar samar-samar dari kejauhan.

"Buka isi amplop itu, Sora," bisik Rian sebelum berbalik pergi. "Di dalamnya ada kunci brankas deposit milik almarhum ayahmu di Bank Swiss... brankas yang selama ini dicari-cari oleh Helena."

Pukul sebelas malam.

Sora mengunci pintu galeri rapat-rapt, menarik semua gorden tebal, lalu duduk di bawah selimut ruang kerjanya. Dengan gemetar, ia membuka amplop cokelat pemberian Rian.

Di dalamnya, selain kunci tembaga kuno berukir rumit, terdapat sebuah rekaman suara di dalam pemutar audio USB kecil.

Sora menekan tombol play pada pemutar audio tersebut.

Suara rekaman percakapan lima tahun lalu antara Ayah Sora dan Helena Kusuma berputar dengan jernih di dalam ruangan yang hening.

Suara Ayah Sora: "Helena, tolong... jangan seret putriku ke dalam transaksi ini! Aku akan serahkan seluruh saham logistikku, tapi biarkan Sora bebas!"

Suara Helena (terdengar dingin dan tanpa ampun): "Kamu tidak punya posisi untuk menawar, Hendra. Putri tunggalmu yang cantik itu... dia adalah jaminan terbaik agar kamu tidak pernah berani membocorkan rahasia konsorsium kita sampai kamu mati."

Sora menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah menggelegar di dalam ruangan. Selama ini, ayahnya tidak pernah menjual dirinya demi uang atau judi—ayahnya dipaksa dan diancam oleh Helena demi melindunginya!

Tiba-tiba, suara rem mobil yang berdecit keras terdengar berhenti di depan galeri.

Sora tersentak kaget. Ia mematikan pemutar audio, menyembunyikan kunci tembaga di saku gaunnya, lalu mengintip dari balik celah gorden jendela.

Dua mobil SUV hitam ber kaca gelap terparkir memotong halaman galeri. Empat pria berstelan jas gelap dengan perawakan tegap turun dari mobil, mengepung pintu depan dan pintu belakang galeri.

Bip... Bip... Bip...

Suara ketukan tombol sistem keamanan elektronik di pintu depan galeri mendadak berbunyi dari luar—seseorang sedang mencoba meretas kode akses pintu galerinya secara paksa!

Jantung Sora berdegup kencang bagaikan dihantam palu. Ia menggenggam kunci tembaga di sakunya erat-erat, melangkah mundur menuju pintu rahasia di balik rak buku ruang kerjanya.

Ponselnya yang berada di meja tiba-tiba bergetar nyaring. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

"Sora, anak buah Helena sudah membobol pintu depan galerimu. Lari lewat lorong bawah tanah galeri sekarang! Aku menunggu di ujung gang bersama tim Kejaksaan!"

Sora menahan napasnya, matanya membelalak menatap pintu ruang kerjanya yang mulai bergetar dihantam dari luar.

Ia menatap layar ponselnya dengan kepanikan dan keraguan yang membakar dada.

Siapa yang mengirimkan pesan ini? Apakah ini jebakan baru dari Helena, ataukah Rian... ataukah seseorang yang jauh lebih berbahaya?

"Buka pintunya sekarang, Sora... atau kami bakar galeri ini bersama kamu di dalamnya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!