“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
•••
Sore itu Giselle pergi ke sebuah dance studio yang cukup populer dikalangan dancer untuk menemui Yasmeen. Tak lupa Giselle membawakan sekantung makanan ringan juga minuman kaleng untuk Adik dari Jio tersebut.
"Hai Adik Ipar..."
"Dasar gadis gila, aku punya nama!"
"Aku juga punya nama kalau kau lupa."
"Cepat katakan aku tidak punya banyak waktu."
"Kau sangat mirip dengan Kakakmu itu."
"Jadi?"
Giselle terkekeh geli melihat wajah Yasmeen yang merah padam sebab kesal terhadapnya.
"Maafkan aku, aku hanya bercanda kemarin. Kau akan mengerti humorku jika sudah dewasa nanti."
"Justru itu, kau terlihat kekanak-kanakan dengan mengatakan humor bodohmu itu.”
Giselle tersenyum mendengarnya.
"Kenapa tersenyum? Sadar jika yang aku katakan itu benar?" Lanjut Yasmeen.
"Kau menyebalkan tapi juga menggemaskan, itu sebabnya aku tersenyum."
Yasmeen berdecak, "Tck, aku tahu kalau aku menggemaskan.”
“Kenapa kau berpacaran dengan kak Jio?”
“Maksudku, kenapa harus Kakakku?"
"Kami tidak berpacaran."
"Jadi kau mengada-ada?"
"Tidak juga. Aku menyukai Kakakmu jadi aku menganggapnya sebagai calon kekasihku, lagipula kami akan segera berpacaran tenang saja."
"Gila… kau bisa menyukai pria lain jangan Kakakku, dan jika kau hanya bermain-main lebih baik hentikan permainan sampahmu itu sekarang sebelum kau menyesal."
"Aku serius dengan ucapanku bahwa aku menyukai Kakakmu."
"Kau tahu, sudah cukup banyak tanggung jawab Kakak selama ini. Sejak kehadiranmu dalam kehidupan Kak Jio, membuatnya makin tak punya waktu untuk dirinya sendiri, untukku, dan juga Ibu."
"Kau cemburu karena Jio jadi lebih sering bersamaku?"
"Kau tak mengerti, dengan adanya dirimu orang yang harus Kakak lindungi juga bertambah. Itu sebabnya aku bertanya kenapa harus Kakakku?"
"Bukankah manusia tidak bisa mengatur kemana hatinya berlabuh?”
“Aku pun begitu. Aku berjanji padamu bahwa aku akan mencintainya sepenuh hati, aku tidak akan pernah menyakitinya jika itu yang kau takutkan. Sungguh."
Mendengus kasar, setidaknya Yasmeen sedikit merasa lega mendengar pernyataan Giselle walau tak sepenuhnya percaya pada apa yang diungkapkan gadis itu.
"Tetap saja.”
Menghela nafas, "Jadilah gadis yang baik, Kakak tidak suka gadis nakal dan urakan seperti dirimu."
"Akan aku buat dia menyukainya mulai sekarang."
"Jika saja di sini bukan tempat umum aku sudah mencakar habis wajahmu itu."
Giselle mengangguk, "Aku bisa mengadukanmu pada Jio."
"Dia tidak akan percaya padamu, sudahlah bicara denganmu membuat suasana hatiku memburuk."
Yasmeen beranjak pergi namun ditahan oleh Giselle yang menyodorkan kantung plastik yang nampak berisi itu padanya.
“Bawa ini bersamamu, jangan dibuang."
Yasmeen mengambil bungkusan itu dan melihat ke dalamnya, ada beberapa minuman serta makanan ringan.
"Kau mau menggagalkan program dietku?"
"Itu hanya camilan sehat, kau juga masih kecil tidak boleh diet seperti itu."
"Terserah apa katamu, pergilah!"
"Tidak sopan, beraninya kau mengusir Kakak Iparmu."
"Kau bukan kekasih Kakakku, jadi pergilah!"
"Aku akan segera jadi kekasihnya, ya sudah aku pergi. Sampai jumpa Adik Ipar..."
Giselle melambaikan tangannya pada Yasmeen kemudian berjalan menjauh.
Yasmeen tersenyum tipis.
Ia tak benar-benar membenci Giselle meskipun sikap kasarnya pada gadis yang lebih tua dari dirinya tersebut tidaklah sopan.
Yasmeen hanya menghawatirkan Jio.
"Dasar, sudah berapa kali kukatakan aku bukan Adik Iparnya. Dia benar-benar tidak waras." Gumamnya.
•••
"Hah... Satu masalah selesai.”
Giselle merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Sekarang tinggal Jio… apa yang harus aku lakukan pada pria itu?"
Giselle tersenyum lalu tertawa sendiri bak orang sakit jiwa, berguling kesana-kemari di atas ranjangnya kala mengingat kejadian di mana Jio menciumnya kemarin.
Karena terlalu terkejut atas tindakan Jio kemarin, Giselle sampai lupa memastikan apa pria itu sudah memaafkannya atau belum.
Giselle yang merasa tidak enak berusaha menghubungi Jio dengan meneleponnya, berharap supaya pria itu mau mengangkat panggilannya.
Dering ketiga panggilan itu sudah terhubung membuat Giselle bernafas lega.
“Syukurlah kau mau mengangkat panggilanku."
["Besok ikutlah denganku."]
"Kemana?"
["Jangan banyak tanya dan ikut saja."]
"Baiklah, Jio apa kau sud–“
Panggilannya sudah diakhiri begitu saja oleh Jio tanpa aba-aba setelah mengutarakan apa yang ingin pria itu katakan, menyisakan Giselle yang terheran sekaligus kesal.
"Dasar Jio menyebalkan Pratama... Awas saja jika bertemu."
Setelahnya Giselle kembali pada kegiatan berguling tak jelasny, tidak lupa dengan senyum ditambah pekikan-pekikan yang membuatnya terlihat lebih parah dari orang gila.
•••
Hari ini Giselle berangkat ke kampus bersama Jio, biasanya pria itu akan memberi banyak alasan saat Giselle memintanya untuk menjemput tapi kali ini pria itu datang dengan inisiatifnya sendiri.
Hal itu membuat Giselle merasa senang, mungkin saja Jio telah memaafkannya.
"Terima kasih sudah mengemudi."
Jio mengangguk kemudian berjalan menjauh dari area parkir menuju kelasnya berada bersama Yoshi yang terlihat menunggu dipinggir koridor.
"Nanti aku hubungi!" Teriak Giselle seraya berlari ke arah Karina dan Yesha yang berada di samping mobilnya.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu? Kau menang lotre atau bagaimana?"
"Ini jauh lebih baik dari lotre."
"Kau membuatku penasaran, cepat ceritakan!"
"Aku... Jio... Eumm sudahlah hahaha..."
Giselle beranjak pergi meninggalkan Karina dan Yesha yang menatap heran kepadanya.
"Aku? Jio? Apa maksudnya?"
Yesha mengangkat bahu, "Ya mana aku tahu."
"Sebagai temannya aku rasa kita harus membawanya ke Psikiater, otaknya perlu diperbaiki."
Yesha mengangguk setuju, "Kalau begitu aku juga harus mendaftarkanmu sebagai pasien, kalian berdua sama-sama tidak waras."
Karina melotot, "Kau juga..."
•••
"Kau membolos kemarin? Kau tidak bisa dihubungi aku bahkan tidak menemukanmu di kelas, Giselle juga bingung mencari mu."
"Aku di rooftop."
"Tapi Giselle bilang kau tidak ada di sana."
"Dia saja yang tidak melihatku."
Yoshi mengernyitkan dahi, "Bagai-? Sudahlah…”
“Kak Bagas mengatakan padaku bahwa pertandingannya ditunda menjadi akhir bulan depan, tapi kau harus tetap berlatih. Ingat lawanmu di final nanti adalah si Hito itu, aku dengar dia menyiapkan banyak untuk menang melawanmu."
"Kau pikir apa yang aku lakukan selama ini?"
"Sibuk berkencan dengan Giselle? Kurasa."
Jio menyeringai, "Dan kau sibuk bersenang-senang dengan Kirana."
"Karina, Jio... Namanya Karina, Karina Yudhistira."
"Ya itu dia, kau bahkan hafal marganya."
Yoshi membola, bagaimana bisa Jio salah menyebut nama Karina yang begitu singkat dan umum digunakan orang-orang pada umumnya.
•••
Sore ini setelah dari kampus Jio membawa Giselle menuju dance studio tempat Yasmeen berlatih.
'Ini tempat latihan Yasmeen, kenapa membawaku kemari?'
"Sejak kapan kau beralih dari petarung menjadi dancer?"
Jio tidak menjawab melainkan berjalan lurus menuju suatu ruangan kemudian berhenti di samping pintu masuk ruangan tersebut seraya menelepon seseorang, beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Yasmeen di depan sana memandang bergantian pada Jio juga Giselle.
"Apa yang Kakak lakukan di sini?"
Jio menoleh ke arah Giselle, "Jelaskan padanya tentang ucapanmu waktu itu."
"Dia sudah menjelaskannya padaku kemarin." Sahut Yasmeen.
Jio mengernyit heran, "Tapi bagaimana–"
"Sebenarnya aku mengambil nomor Yasmeen dari ponselmu waktu itu, karena itu aku bisa menghubungi Yasmeen dan mengajaknya bertemu..." Sahut Giselle.
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku kalau kau sudah menemui Yasmeen?"
"Kalau aku tahu kau akan membawaku menemuinya, aku pasti sudah memberitahumu tadi."
"Sudahlah… kalian pergi saja, aku mau lanjut latihan."
Yasmeen beranjak pergi.
"Kakak... jangan pulang terlambat nanti, hari ini Ayah ada di rumah."
"Baiklah."
•••Vienbluu (annavienbluu)