Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berantem Soal Saham Atas Nama Alya
Hari ke-27. Kantor Pusat Virel Group, lantai 45.
Ruang meeting direksi panas. Bukan karena AC mati, tapi karena ada perdebatan sengit antara Rafael Virel dan Papa Virel.
Di atas meja ada dokumen. Surat pengalihan 30% saham pribadi Rafael Virel kepada istrinya, Alya Virel.
Papa Virel membanting dokumen itu ke meja. Brak.
"Kamu gila, Rafael? 30%? Kamu tau 30% itu berapa triliun? Kamu mau kasih ke anak umur 21 tahun yang masih skripsian?"
Rafael duduk dengan tenang, tapi rahangnya mengeras. Jasnya terbuka, dasinya dilonggarkan.
"Saya tidak gila, Pa. Saya sadar. Alya istri saya. Harta saya harta dia. Itu saja," jawab Rafael dingin.
"Ini bukan soal harta suami istri! Ini soal perusahaan! Saham ini bukan uang jajan! Kalau dia jual? Kalau kalian berantem? Kalau dia ditipu orang? Kamu pikir Kevin kemarin itu tidak akan muncul lagi kalau tau istri kamu punya saham 30%?"
Papa Virel benar. Sebagai pebisnis tua, ia berpikir logis.
Mama Olivia yang ada di ruangan itu mencoba menengahi. "Pa, pelan-pelan..."
"Tidak bisa pelan! Rafael sejak nikah sama Alya jadi tidak profesional! Izin terus, meeting dibatalin gara-gara istri demam, sekarang mau kasih saham!"
Rafael berdiri. Emosinya naik.
"Pa, saya tidak profesional? Saya yang bangun Virel dari hampir bangkrut 5 tahun lalu! Saya yang kerja 18 jam sehari! Sekarang saya cuma minta izinin saya kasih hak istri saya, Papa bilang saya tidak profesional?"
"Karena kamu bucin! Kamu cinta mati sampai otak kamu tidak jalan!"
"Ya saya bucin! Saya bucin sama Alya! Kenapa? Salah?" teriak Rafael, pertama kalinya ia berteriak pada Papanya di depan direksi lain.
Semua direksi diam menunduk, tidak berani ikut campur.
Rafael melanjutkan dengan suara bergetar, bukan marah, tapi kecewa.
"Pa, waktu saya kecelakaan 2 tahun lalu, siapa yang tungguin Papa di rumah sakit? Bukan teman bisnis Papa. Waktu Mama sakit lambung, siapa yang begadang? Bukan pemegang saham. Saya, Pa. Saya sendiri. Saya kerja keras bukan buat saham, tapi biar keluarga saya tidak kesepian lagi."
"Dan sekarang saya punya istri. Satu-satunya orang yang bikin saya mau pulang jam 6 sore, bukan jam 12 malam. Satu-satunya orang yang bikin saya tau rasa takut kehilangan. Kalau 30% saham itu bisa bikin dia aman seumur hidup, kalau saya kenapa-napa, kenapa tidak?"
Papa Virel terdiam. Kata-kata Rafael menusuk.
Rafael mengambil dokumen itu kembali.
"Saya tidak minta persetujuan Papa sebagai pemilik perusahaan. Saya minta restu Papa sebagai Ayah saya. Kalau Papa tidak restui pun, saham pribadi saya, hak saya mau kasih ke siapa. Tapi saya mau Papa tau, Alya itu bukan anak 21 tahun biasa. Dia yang jagain Ayahnya yang stroke sendirian sambil kuliah. Dia lebih dewasa dari saya umur 29."
Setelah berkata itu, Rafael keluar dari ruang meeting, membanting pintu.
Di parkiran basement, Rafael duduk di dalam mobilnya, memegang kepalanya. Ia baru saja berantem hebat dengan Papanya sendiri demi Alya.
HP-nya bergetar. Alya.
_Rafael, kamu dimana? Aku sudah masak sop ayam. Pulang yuk?_
Rafael langsung menghela napas. Sop ayam. Rumah.
Ia membalas: _Pulang sekarang._
Sementara itu di penthouse, Alya tidak tau apa-apa soal saham. Ia sedang masak sop ayam di dapur dengan duster, rambut dicepol.
Pintu terbuka. Rafael masuk dengan wajah capek sekali.
Alya langsung lari memeluknya. "Capek ya? Sini, sop ayamnya sudah jadi."
Rafael memeluk Alya lama sekali, menyembunyikan wajahnya di leher Alya.
"Maaf ya kalau saya jadi suami yang bikin kamu dimarahin keluarga saya," bisik Rafael.
Alya bingung. "Maksudnya?"
Rafael akhirnya cerita soal saham 30% itu.
Alya kaget dan langsung melepas pelukan.
"Apa? 30%? Rafael kamu gila! Gak usah! Aku gak mau!" tolak Alya keras.
"Kenapa?"
"Aku nikah sama kamu bukan karena saham! Aku nikah karena... karena kamu beliin aku mie waktu aku ngambek! Karena kamu jagain aku waktu demam! Bukan karena saham triliun!"
Alya mengambil dokumen itu dari tas Rafael dan merobeknya di depan Rafael.
Krek.
Rafael kaget. "Alya!"
"Aku gak mau saham kamu. Aku maunya kamu. Kalau kamu mau kasih aku rasa aman, gak usah pakai saham. Peluk aku tiap malam aja, itu lebih dari 30%," kata Alya dengan mata berkaca-kaca.
Rafael terdiam, lalu tertawa kecil dan memeluk Alya sangat erat sampai Alya terangkat dari lantai.
"Kamu robek dokumen triliunan kayak robek kertas gorengan," katanya.
"Biarin! Bikin lagi aja sop ayamnya, itu lebih mahal buat aku," jawab Alya manja.
Malam itu, Papa Virel menelepon. Rafael mengangkat dengan ragu.
"Rafael..."
"Iya Pa."
"Tadi Papa kelewatan. Maaf. Saham itu... kamu kasih aja ke Alya. Tapi jangan 30%. Kasih 10% dulu. Pelan-pelan. Papa cuma takut dia kaget."
Rafael tersenyum dan melirik Alya yang sedang merobek dokumen dan sekarang lagi suapin sop ayam.
"Gak jadi Pa. Istri saya barusan robek dokumennya. Katanya dia maunya saya, bukan saham saya."
Di seberang, Papa Virel tertawa keras. "Hah! Itu baru istri kamu! Yaudah, kalau gitu Papa restuin 100%. Jaga dia."
Telepon ditutup.
Rafael menatap Alya yang sedang makan sop ayam dengan lahap.
"Sayang, Papa akhirnya restuin."
Alya mengangguk dengan mulut penuh ayam. "Restuin apa?"
"Restuin kita pelukan tiap malam."
Alya tersipu. "Idih gombal lagi!"
Malam itu mereka makan sop ayam berdua di lantai dapur, tanpa saham, tanpa triliun, cuma dengan cinta yang baru saja memenangkan perang melawan logika bisnis.
Bersambung...