Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Perhatian yang Tak Bisa Dijelaskan
Setelah Pak Darto pergi, Alisha berjalan menuju lemari pakaian. Ia membuka pintu paling ujung. Beberapa pakaian pria tersusun rapi di dalamnya.
Alisha menarik satu kemeja putih dan menempelkannya ke bahu. Kebesaran. Ia buru-buru menggantungnya kembali.
Pintu kedua juga berisi pakaian pria. Namun ketika membuka pintu ketiga, Alisha justru terdiam.
Pakaian wanita. Bukan hanya gaun dan pakaian sehari-hari, tetapi juga pakaian dalam yang masih terbungkus rapi. Ia segera menutupnya kembali.
Pintu keempat pun berisi pakaian wanita. Alisha mengembuskan napas panjang.
“Aku gak mungkin pakai semua ini.” Ia tidak ingin ada banyak pertanyaan dari orang-orang yang mengenalnya jika tiba-tiba ia memakai pakaian pakai bermerek.
Pandangan Alisha kemudian jatuh pada beberapa pakaian tidur yang lebih sederhana.
"Mungkin yang ini masih bisa." Jauh lebih pantas daripada kaus lusuh yang ia bawa dari rumah.
Kemudian matanya beralih ke meja rias. Berbagai produk perawatan kulit tersusun lengkap dalam satu rangkaian. Alisha mengambil salah satunya dan membaca mereknya.
Matanya membesar. Ia pernah melihat produk itu di internet. Satu paketnya saja mungkin tak bisa ia beli dengan gajinya selama sebulan.
“Dia benar-benar nyiapin semuanya?”
Alisha menyentuh pipinya sendiri. Kalau suatu hari Ares menyentuhnya... Ia buru-buru menggeleng.
“Sayang kalo udah dikasih tapi gak dipakai.” Ia mengambil satu botol. “Oke. Aku pakai.”
Beberapa menit kemudian, Alisha keluar dari kamar dengan pakaian sederhana yang ia bawa dari rumah.
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Pak Darto menghampirinya.
“Nyonya, sarapan sudah siap.”
Alisha sedikit terkejut. “Terima kasih, Pak.”
Pak Darto mengarahkannya menuju ruang makan. Begitu masuk, beberapa pelayan pria yang sedang berdiri di sana langsung menundukkan kepala.
Alisha mengernyit. "Kenapa mereka kayak gitu?"
Pak Darto menarikkan kursi untuknya. “Silakan, Nyonya.”
Alisha duduk. Ia memandangi beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Wanita itu memilih sendok paling luar, seperti yang pernah ia pelajari, lalu mulai makan.
Saat Pak Darto hendak menuangkan minuman, Alisha menoleh.
“Pak, di rumah ini gak ada pelayan wanita ya?”
“Nggak ada, Nyonya," jawab Pak Darto.
“Kenapa?” Alis Alisha berkerut.
Pak Darto tersenyum tipis. “Sejak dulu Tuan Ares memang tidak mempekerjakan pelayan wanita.”
"Oh." Alisha mengangguk. Rasanya aneh, tapi ia memilih tidak bertanya lebih jauh.
Ia tidak menyadari beberapa pelayan tampak penasaran dengan perempuan yang baru saja menjadi istri majikan mereka.
Begitu langkah Alisha menjauh dari ruang makan, Pak Darto menatap para pelayan yang tadi mencuri pandang. “Tuan Ares sudah memberi peringatan.”
Beberapa pria itu langsung menunduk.
“Jangan menatap Nyonya tanpa alasan. Jangan mengganggunya apalagi bersikap kurang ajar. Kalau ada yang berani melanggar, hari itu juga jadi hari terakhir kalian kerja di sini.”
“Baik, Pak," jawab para pelayan itu hampir bersamaan.
Pak Darto memastikan tidak ada yang membantah sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Begitu tiba di rumah sakit, Alisha langsung menuju ruang rawat Raka. Namun, begitu pintu dibuka, langkahnya terhenti. Ranjang Raka kosong.
"Eh, ke mana dia?"
Alisha melihat ke sekeliling, memastikan dirinya tidak salah masuk ruangan. Tidak ada Raka, tidak ada barang-barang miliknya.
Seorang perawat yang melintas di depan pintu membuat Alisha segera keluar.
“Permisi, Sus," panggil Alisha.
Perawat itu berhenti. "Ya. Ada yang bisa saya bantu, Kak?"
“Itu, Sus. Adik saya Raka yang dirawat di kamar ini ke mana ya?”
“Ohh... Raka. Sudah dipindahkan, Kak," jawab perawat ramah.
Alisha mengerutkan kening. “Dipindahkan?”
“Iya, Kak," perawat itu mengangguk. "Ke ruangan sebelah timur, lantai yang sama. Barang-barangnya juga sudah dibawa ke sana.”
“Kenapa dipindah, Sus?” tanya Alisha.
“Katanya ada penyesuaian ruangan.”
Jawaban itu justru membuat Alisha semakin bingung. "Oh, gitu. Ya udah, makasih, Sus."
"Sama-sama, Kak."
Alisha segera berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Begitu pintu terbuka, langkahnya terhenti. Beberapa perawat sedang merapikan barang-barang milik Raka. Kardus kecil dan beberapa pakaian yang kemarin pagi masih berada di ruangan lama kini sudah tersusun di dekat lemari.
Alisha mengedarkan pandangan. Ruangan itu sebenarnya tidak jauh berbeda. Tetap sederhana, dengan satu ranjang pasien, meja kecil, dan peralatan medis yang diperlukan. Hanya saja, dindingnya terlihat baru dicat. Warnanya lebih cerah, membuat ruangan terasa jauh lebih bersih.
Ranjang Raka pun masih sama sederhananya. Hanya ketika Alisha menyentuh kasurnya, ia langsung merasakan perbedaannya. Lebih empuk.
Raka yang sedang duduk di ranjang tersenyum lebar. “Kakak akhirnya datang.”
Alisha mendekat dan mengusap rambut adiknya. “Kamu dipindah kok gak bilang sama Kakak sih? Kakak nyariin tau.”
“Maaf, Kak. Aku juga baru tau.” Raka terkekeh kecil. “Tapi aku suka di sini.”
Alisha belum sempat menjawab ketika pandangannya jatuh pada sebuah sofa sederhana di sudut ruangan.
Ia mendekat, lalu duduk sebentar. Tubuhnya langsung tenggelam di bantalan yang empuk. Selama ini setiap menunggu Raka ia hanya duduk di kursi keras atau menggelar tikar di lantai.
Raka menunjuk sofa itu. “Kenapa ada sofa, Sus?”
Perawat yang sedang merapikan barang menjawab santai, “Itu ditinggalkan pasien sebelumnya, Dek. Katanya biar bisa dipakai keluarga pasien lain.”
“Oh.” Alisha mengangguk pelan.
Alasannya terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal. Ia menatap sofa itu lagi.
“Kan udah dibilang jangan...” gumamnya lirih nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. Tapi sudut bibirnya terangkat tanpa ia sadari.
"Apa, Kak?" tanya Raka yang mendengar kakaknya bergumam.
"Nggak," sahut Alisha sambil tersenyum tipis. "Sofanya bagus."
“Kalo begitu, kami keluar dulu, ya,” ujar salah seorang perawat setelah semua rapi.
Alisha bergeser sedikit supaya bisa membaca gerak bibirnya.
"Kalau ada yang dibutuhkan, tekan bel di samping ranjang," tambah perawat sambil berjalan ke arah pintu.
Alisha mengangguk. “Terima kasih banyak, Sus."
Setelah para perawat keluar dan pintu tertutup, Raka memerhatikan kakaknya yang masih berdiri di dekat sofa. “Kak.”
Alisha menoleh. “Hm?”
“Kakak kelihatan lebih seger hari ini.” Mata Raka tak beralih dari wajah kakaknya.
Alisha refleks menyentuh pipinya. “Seger?”
“Iya.” Raka tersenyum. “Kemarin kelihatan capek banget. Sekarang wajah Kakak lebih enak dilihat.”
Alisha segera mengalihkan pandangan. “Mungkin karena tadi pagi sempat tidur.”
“Di rumah?”
“Iya," dusta Alisha.
Raka mengangguk puas. “Bagus. Berarti Kakak harus sering-sering tidur di rumah. Nggak perlu nungguin aku terus.”
Alisha merapikan selimut Raka, menghindari tatapannya. Untuk pertama kalinya adiknya menyuruhnya pulang, dan ia tahu persis di mana ia tidur nyenyak semalam.
Alisha tersenyum, lalu menepuk kepala adiknya pelan. “Oke. Bakal, Kakak coba.”
Raka kembali bersandar di ranjang dengan wajah puas.
Tok. Tok. Tok.
Pintu kamar diketuk dari luar.
“Permisi, saya—”
Seorang pria muncul di ambang pintu dengan senyum ramah. Namun, begitu pandangannya jatuh pada Alisha, senyum itu perlahan menghilang. Kalimatnya terhenti. Ia terdiam.
...✨“Hubungan yang dimulai tanpa perasaan pun bisa berubah ketika kepedulian tumbuh diam-diam, lewat hal-hal kecil yang tidak pernah diminta.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔