“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celin Amara Kusuma...
Mentari pagi itu bersinar malu-malu di balik awan kelabu, seolah enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di gerbang SMA Pradipta Adhiwarma. Celin Amara Kusuma menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Udara pagi yang seharusnya segar terasa sesak di rongga dadanya, bercampur dengan aroma aspal basah dan keputusasaan yang sudah lama ia kenal.
Seragam putih abu-abunya terasa sangat berat hari ini, seperti kain yang menyerap semua beban hidupnya dan menjadikannya semakin sulit untuk bernapas.
Di pergelangan tangan kirinya, ia melilitkan jam tangan berdiameter lebar dan beberapa gelang kain untuk menutupi perban tipis yang membungkus luka barunya semalam.
Ia adalah Celin, si "Gadis Beasiswa" yang dikenal sebagai robot pekerja keras di kelas XII-IPA 1. Ia harus tetap terlihat sempurna. Satu saja nilainya turun, beasiswa yang menjadi tiket satu-satunya untuk keluar dari neraka ini akan hangus.
"Celin! Tadi lo dicariin anak-anak OSIS. Katanya ada berkas beasiswa yang kurang," teriak Devina, teman sekelasnya, saat Celin baru saja duduk.
Celin hanya mengangguk singkat. "Nanti gue urus."
Pikirannya tidak di sana. Pikirannya tertinggal di kelas XII-IPA 2, kelas di ujung koridor yang berisi anak-anak pemilik dunia. Di sana ada Reja.
Pria yang merutuknya sebagai budak, kini adalah orang yang sama yang harus ia anggap sebagai orang asing di depan publik.
Dua jam pelajaran pertama berlalu seperti siksaan yang lambat. Sepanjang penjelasan guru di depan kelas, Celin hanya menatap papan tulis, mencatat apa pun yang perlu dicatat, sementara fokusnya terpecah oleh rasa perih yang sesekali berdenyut di pergelangan tangannya.
Ia terus memutar jam tangan dan merapikan gelang kain itu, memastikan perban di baliknya masih tertutup rapat dan tidak menonjolkan warna merah darah.
Begitu bel istirahat berbunyi, riuh sorak murid-murid langsung memenuhi ruangan. Namun, alih-alih pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong, Celin harus menyimpan tabung reaksi ke laboratorium Fisika atas perintah ketua kelas.
Satu-satunya jalan pintas menuju laboratorium adalah melewati koridor kelas XII-IPA 2. Celin terpaksa melangkah ke sana dengan perasaan waswas.
Langkahnya benar-benar terhenti saat ia melihat kerumunan murid yang berkerumun di depan mading sekolah. Di tengah kerumunan itu, berdiri Reja dengan seragam yang tidak rapi, dikelilingi oleh teman-temannya yang tertawa keras.
Reja adalah matahari di sekolah ini. Anak donatur terbesar yang wajahnya terpampang di plakat emas lobi sekolah. Semua orang memujanya, sementara Celin hanya dianggap sebagai angka yang menguntungkan statistik sekolah.
Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Tatapan Reja tetap dingin, merendahkan, dan penuh peringatan.
Celin segera membuang muka, teringat ancaman semalam, "Sampai satu sekolah tahu lo punya hubungan sama gue, kaki lo atau hidup lo yang gue patahin."
Tiba-tiba, salah satu teman Reja memanggilnya. "Woi, anak beasiswa! Sini lo!"
Celin berhenti, tubuhnya menegang. Ia berbalik perlahan dengan wajah datar andalannya. "Ada apa?"
"Katanya catatan Kimia lo paling lengkap se-jurusan? Sini, serahin ke Reja. Itung-itung bayaran lo karena udah numpang sekolah di sini," ucap teman itu sambil menyeringai.
Celin menatap Reja yang kini bersandar di dinding sambil bersedekap, menatapnya dengan senyum miring yang menghina.
Reja ingin bermain-main. Pria itu ingin menunjukkan di mana posisi Celin di depan umum.
"Maaf, catatan gue nggak dipinjamkan. Kalau mau pintar, belajar sendiri," jawab Celin tegas, tanpa rasa takut.
Bisikan kaget terdengar dari murid-murid di koridor. Tidak ada yang berani menolak permintaan yang menyangkut nama Reja.
Reja berjalan mendekat, memangkas jarak hingga hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma parfum maskulin yang sama dengan semalam merayap masuk ke indra penciuman Celin, memicu memori tentang rahangnya yang dicengkeram kuat.
"Berani juga lo, ya?" bisik Reja, cukup rendah agar hanya Celin yang mendengar. "Ingat posisi lo, budak. Lo di sini cuma karena uang bokap gue."
Reja lalu meraih pergelangan tangan kiri Celin, pura-pura memeriksa jam tangan besar gadis itu seolah-olah sedang melihat waktu dengan santai. Padahal, ia mencengkeram pergelangan tangan itu dengan sangat kuat untuk menahan Celin agar tidak kabur.
Cengkeraman kasar itu telak menekan perban di balik jam tangan Celin, membuat gadis itu meringis kecil menahan perih yang mendadak menyengat.
"Balikin buku catatan lo ke gue nanti sore. Jangan telat, atau lo tahu akibatnya di rumah nanti," ancam Reja dengan suara normal yang terdengar santun di telinga orang lain, namun mematikan bagi Celin.
Setelah Reja pergi bersama teman-temannya, Celin mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Ia benci status ini. Ia benci bagaimana ayahnya membuat ia harus tunduk pada monster seperti Reja.
"Gue nggak akan biarin lo menang, Reja," gumamnya pelan.
Sambil mendekap erat tabung reaksi yang untungnya tidak pecah akibat ketegangan tadi, Celin mempercepat langkah menuju laboratorium Fisika.
Begitu sampai, ia meletakkan barang-barang itu di meja laboratorium dengan tangan gemetar, mengabaikan sapaan guru penjaga lab, lalu segera keluar lagi. Ia tidak bisa kembali ke kelas dengan kondisi sekacau ini.
Celin berbalik dan melangkah setengah berlari menuju atap sekolah—satu-satunya tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berpura-pura kuat.
Begitu pintu besi atap tertutup di belakangnya, barulah pertahanan Celin runtuh. Ia bersandar pada dinding beton di balik tangki air besar, lalu merosot duduk di lantai yang berdebu.
Napasnya memburu, tercekat di tenggorokan bersama amarah yang tak bisa ia teriakkan. Dengan tangan yang gemetar, Celin melepas jam tangan lebarnya dengan kasar.
Di bawah terik matahari, ia menatap perban putih yang kini mulai ternoda titik-titik merah segar akibat cengkeraman Reja tadi.
Perlahan, ia menyentuh pinggiran luka di balik perban itu. Rasa perih yang menyengat langsung menjalar ke kepalanya, namun anehnya, rasa sakit itu justru membuatnya merasa tenang.
Rasa perih ini membuktikan bahwa ia masih hidup. Dan yang paling penting, rasa sakit ini adalah miliknya sendiri—sesuatu yang ia ciptakan di bawah kendalinya, bukan luka yang diberikan oleh Reja atau ayahnya.
Di tempat sepi ini, di antara desau angin dan tangki air, Celin membiarkan dirinya memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kembali serpihan harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.
Setelah dadanya terasa lapang dan detak jantungnya kembali normal, Celin bangkit berdiri.
Ia memakai kembali jam tangannya, mengikat gelang kainnya dengan lebih erat, lalu mengusap sisa air mata yang hampir jatuh di sudut matanya. Ia tidak boleh lama-lama di sini.
Celin melangkah turun menuju kantin belakang. Ia butuh oksigen, butuh keramaian yang normal untuk melupakan atmosfer mencekam dari Reja.
Namun, baru saja kakinya menginjak area kantin, sebuah pelukan hangat tiba-tiba mendarat di bahunya.
"Celin! Lo nggak apa-apa? Gue dengar tadi Reja nyari masalah sama lo pas lo mau ke lab?" Kirei menatap Celin dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Celin memaksakan senyum tipis—satu-satunya senyum tulus yang hanya ia berikan untuk Kirei. "Gue oke, Rei. Cuma masalah buku catatan."
Kirei menghela napas panjang, lalu menarik Celin untuk duduk. Sejak kelas satu SMA, Kirei adalah satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia hidup Celin.
Ia tahu tentang ibu Celin yang sudah tiada, tentang ayahnya yang berubah menjadi monster judi, dan tentang luka-luka yang Celin sembunyikan di balik jam tangannya.
"Reja itu emang nggak punya hati. Mentang-mentang bokapnya donatur, dia pikir bisa injak-injak semua orang," gerutu Kirei sambil menyodorkan kotak susunya pada Celin.
"Lo udah capek kerja di kafe nyokap gue tiap sore, pulang malam, harus urus bokap lo lagi... eh, di sekolah malah diganggu cowok sinting itu."
Celin meminum susu itu dalam diam. Ingatannya kembali ke awal kelas satu, saat ia pertama kali melamar kerja di kafe milik ibu Kirei dengan mata yang sembab namun dagu yang tegak.
Saat itu, Kirei melihat Celin mencuci piring dengan begitu cekatan meski tangannya gemetar karena kelelahan.
Itulah momen yang membuat Kirei kagum. Ia melihat seorang gadis yang menolak untuk mati meskipun dunia mencoba membunuhnya.
"Gue nggak peduli dia donatur atau apa, Rei," ucap Celin pelan, matanya menatap lurus ke depan. "Gue cuma perlu lulus, dapat beasiswa kuliah, dan pergi jauh dari sini."
Bersambung....