"Menikahlah denganku dan jadilah istri juga ibu untuk kedua anakku!"
Apa jadinya jika pertemuan mu dengan seorang duda beranak dua bisa mengubah hidupmu dalam waktu singkat?
Itu yang dirasakan oleh Azkia Anandita Ayunindya. Gadis berusia dua puluh satu tahun. Seorang mahasiswa dari Universitas New Student Spirit, dari jurusan PG/SD.
Pertemuannya yang tidak disengaja dengan dua gadis kecil berhasil merubah hidupnya dalam waktu singkat. Sebab, ayah dari kedua gadis kecil itu memintanya untuk menikah dengannya.
Arkanza Abbiyya Bassam.
Seorang pengacara muda yang berusia dua puluh delapan tahun. Arkanza terkenal sebagai pengacara yang selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan kliennya berkat ketelitiannya.
Karena desakan dari ibu nya, yang selalu memintanya untuk menikah dalam waktu cepat, membuat Arkanza pusing. Padahal banyak wanita yang selalu mengantri untuk menjadi istrinya, meskipun mereka tau bahwa Arkanza adalah seorang duda beranak dua.
Namun sayangnya Arkanza tidak bisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Happy reading
❄️❄️❄️
"Ini benar alamatnya Ailsie?" Tanya Naila menatap alamat didalam ponselnya.
"Iyaa bener ini alamatnya." Jawab Ailsie menatap bangsalan itu yang menunjukkan kalau rumah itulah yang mereka cari.
"Apa jangan-jangan Azkia tinggal di situ?" Tebak Naila membuat Ailsie mengangkat bahunya tidak tahu.
"Mungkin Azkia tinggal di sana, karena tadi kita cek rumahnya nggak ada orang." Jawab Ailsie dengan yakin. Karena sebelum keduanya menelpon Azkia setengah jam yang lalu mereka sudah duluan mengecek kediaman Azkia, tapi ternyata rumah itu kosong.
"Ayo kita coba cek." Ucap Naila kemudian turun dari mobilnya yang disusul oleh Ailsie.
Tok...Tok...Tok...
Naila mengetuk pintu itu dengan tidak sabaran, karena dia benar-benar penasaran apakah itu benar rumah Azkia atau bukan.
Cklek
Pintu terbuka dan menampilkan wajah yang beberapa hari ini tidak mereka Temui. Tidak hanya itu, mereka juga melihat wajah lain yang terlihat menggemaskan dengan mata bulatnya.
"Azkia!" Seru Keduanya membuat Azkia tersenyum canggung."kamu benar pindah?"
"Nanti aku ceritain… ayo masuk…" ajak Azkia tidak membuat keduanya melangkah masuk, melainkan menatap ke arah gadis kecil yang kini telah bersembunyi di belakang Azkia dan dengan malu-malu memunculkan kepalanya.
"Ini anak siapa Az?" Tanya Naila menatap Azkia penuh selidik. Sementara Azkia hanya tersenyum kikuk tanpa berniat menjawab.
"Mana mungkin adikmu kan, Az. Soalnya dia panggil kamu bunda." Ucap Ailsie menatap penuh curiga sahabatnya itu.
"Nanti aku ceritain, mending kalian masuk dulu daripada menerka-nerka."
"Betul itu Ailsie, ayo kita masuk." Sahut Naila sambil melangkah masuk kedalam rumah sederhana milik Azkia.
"Unda, itu siapa?" Tanya Khilva menunjuk ke arah Ailsie dan Naila dengan tatapan polosnya.
"Itu teman-temannya bunda."
"Tuhkan, kamu memanggil dirimu bunda!" Seru Keduanya memotong perkataan Azkia. Dan hal itu berhasil membuat Khilva terkejut dan semakin merapatkan tubuhnya ke belakang Azkia.
"Ailsie Naila, jangan teriak-teriak kalian membuat putri ku terkejut." Ucapan Azkia berhasil membuat mereka menganga sangking terkejutnya.
"Oke, kami tidak akan teriak-teriak tapi kamu harus menjelaskannya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi dari kami." Ucap Ailsie dengan serius membuat Naila mengangguk mengiyakan.
"Sebaiknya kalian duduk dulu." Keduanya menurut, melangkah masuk kedalam dan duduk di karpet yang sudah terpasang.
Azkia menarik lembut Khilva keluar dari belakangnya lalu mendudukkan tubuh gadis kecil itu di pangkuannya.
"Perkenalkan ini putri sambung ku, Khilva. Aku sudah menikah kemarin dengan pria bernama Arkanza Abbiyya Bassam anak dari pemilik kampus Universitas New Student Spirit." Jelas Azkia membuat mereka tercengang mendengarnya.
"Apa!" Pekik keduanya membuat Azkia mengusap dada Khilva karena gadis kecil itu kembali terkejut dengan pekikan keduanya.
"Kalian membuat putri ku terkejut,."
"Maaf, maaf, karena kami sangat terkejut dengan penjelasan mu." Jawab Ailsie. Jujur mereka sangat terkejut dengan ungkapan Azkia yang sudah menikah, bagaimana tidak sahabatnya itu tidak memiliki kekasih tapi tiba-tiba mengaku telah menikah." Bagaimana bisa kalian menikah."
Mereka memang mendengar kalau putra pemilik kampus telah menikah dan memiliki anak tapi mereka tidak tau kalau anak pemilik kampus telah berpisah, karena mereka tidak mendengar itu.
Azkia menghela nafasnya lalu menceritakan mengenai pertemuan pertama mereka, serta di mana papa nya kecelakaan lalu ia diminta untuk menikah.
"Ya Tuhan Azkia. Sekarang kondisi paman Zayn gimana?" Wajah cantik itu berubah terduduk, air matanya perlahan-lahan menetes. Tapi dengan cepat Azkia menghapusnya.
"Papa dinyatakan koma Ailsie, Naila… aku nggak tau kapan papa akan sadar… dan berapa lama dia bertahan…."
"Memang brengsek tuh laki, bisa-bisanya memanfaatkan keadaan dengan cara menikahi mu." Ucap Ailsie berhasil mendapatkan tatapan tajam dari keduanya.
"Ailsie, ada anak kecil disini." Tegur keduanya
"Sorry sorry, aku sampai lupa." Jawab Ailsie menyingir."Jadi biaya perawatan paman Zayn ditanggung sama tuh laki." Sambung Naila penasaran.
"Ya seperti itu, sesuai perjanjian. Aku harus menikah dengannya dan ya menuruti semua kemauannya." Jelas Azkia lagi membuat mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Btw, gimana sih rasanya nikah sama duda. Pasti hot banget di ranjang." Tanya Ailsie berbisik penasaran. Bukannya mendapatkan wajah malu-malu dari Azkia, gadis itu malah memasang wajah masam tak bersahabat.
"Nggak ada gitu-gituan, yang ada pria itu sangat menyebalkan." Jawab Azkia kesal jika mengingat di mana malam pertama mereka dia menyuruhnya untuk mengurut pria itu.
"Koh bisa gitu, bukannya dia mau menikah karena mau gituan ya?" Sambung Naila ikut penasaran.
"Nggak, dia mau menikah karena mau balas dendam. Kalian masih ingat kan cerita ku tadi." Keduanya mengangguk mengiyakan."Itulah penyebab kenapa dia mau menikahi ku agar dia bisa menyiksaku."
"Apa, jadi tuh laki mau nyiksa kamu?!"
"Jangan bilang dia memukul az?!" Sambung keduanya sama-sama terkejut dengan pengakuan Azkia.
"Cih, itu tidak akan terjadi. Kalau saja dia sampai memukulku aku tidak akan segan-segan membalas nya."
"Kamu benar Az, jangan mau ditindas." Ucap Naila dan Ailsie menyemangati."Kalau perlu rebut hatinya terus tendang jauh-jauh."
"Betul betul. Setuju aku." Ucap ketiganya malah tertawa jika Azkia menjalankan rencananya itu."Kita terlalu asyik mengobrol sampai nggak sadar, kalau putrimu sudah tidur az." Ucap Ailsie melirik kearah Khilva.
Karena terlalu asyik mengobrol ketiganya sampai tidak ingat kalau ada gadis kecil di tengah-tengah ketiganya yang sekarang sudah tertidur.
"Dia manis banget ya, nggak nyangka saja kalau ayahnya nggak suka sama dia dan kakaknya."
"Aku setuju, kalau kamu mau ambil mereka dari ayah sialannya itu. Anak selucu dan semanis ini malah dapat ortu yang nggak waras."
Azkia membenarkan perkataan kedua sahabatnya, karena bagaimanapun Vatha maupun Khilva hanya dua gadis polos yang nggak tau apa-apa.
"Semoga dengan pernikahan ini, mereka bisa dapat peran ibu. Aku tau, kamu gadis yang bisa jadi ibu untuk mereka. Nggak salah ibu mertuamu memilihmu untuk bertahan."
"Thanks ya, kalian sudah mendukungku. Maaf telah menyembunyikan ini semua dari kalian berdua." Ucap Azkia terharu dengan kedua sahabatnya itu yang tidak menghakiminya dan malah mendukungnya.
"Ngapain berterima kasih. Kita kan sahabat, iya nggak Nai."
"Benar yang dikatakan Ailsie. Kita kan sahabat.”
💧💧💧
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like, vote dan subscribe biar author makin semangat buat update lagi.
Salam manis dari author😉