Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"O, how are you doing, sir?" Tanya Arsen sebari membalas jabat tangan Tuan Darren.
“O ya, saya sangat baik. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan Arsenio” Arsen pun seketika langsung terkejut, hal itu bahkan membuat Bianca dan Renzo saling menatap dan setelahnya langsung tertawa kecil di belakang Arsen, seperti tengah mengejek pria itu. Pasalnya, saat menelepon tadi, pria itu tak sekali pun menggunakan bahasa Indonesia, dia terus menggunakan bahasa Inggris.
“Aku rasa, Pak Arsen sedang di prank oleh kliennya sendiri,” ucap Bianca berbisik pada Renzo.
Renzo yang mendengar ucapan Bianca tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Pria itu akhirnya tertawa. Arsen berada di depan mereka seketika langsung menoleh dan menatap Renzo tajam. Renzo yang di mendapatkan tatapan itu seketika langsung terdiam.
“Eh, Renzo. Kau kenapa?" Tanya Bianca yang melihat Renzo hanya diam dan memalingkan wajah darinya.
Renzo dengan sengaja menyenggol bahu Bianca, gadis itu seketika tersedar bahwa tengah di tatap tajam oleh bosnya. Bianca yang melihat tatapan itu seketika langsung mengikuti jejak Renzo untuk memalingkan wajahnya dan berpura-pura menangkap nyamuk.
PLAK!
"Nyamuk..."
Tatapan Arsen seketika berubah, tak lagi menjadi tajam namun menjadi tatapan datar.
“Tolong jangan bingung, saya memang bisa berbahasa Indonesia karena Ibu saya adalah orang dari Jawa,” mendengar hal itu pun membuat mereka kini mengangguk paham setelah di jelaskan oleh Tuan Darren. Pasalnya wajah pria itu sangat mirip sekali dengan orang Amerika dan bahkan gaya bicaranya yang masih terdengar aksen Inggris Amerika dan juga bahasa indonesianya masih terdengar belepotan.
Tuan Darren kini mengajak mereka untuk pergi ke ruang tengah Villa itu.
“Ayo, ayo silahkan duduk Tuan Nathan, ayo Nona, dan juga Anda Tuan...?”
“Renzo, Mr. Darren” Ucap Renzo.
“O, ya baiklah. Tuan Renzo."
Mereka pun kini duduk, mengobrol dan membahas investasi proyek terbaru dari perusahaan Wiratama. Namun di tengah obrolan itu, Bianca terus menatap ke arah luar jendela, ia melihat dari kejauhan, di pinggiran hutan seberang sana. Seseorang seperti tengah mengintai mereka, pria itu menggunakan pakaian setelan jas hitam serta kacamata hitam. Pria itu tengah mengawasi mereka, dan Bianca tahu siapa orang itu.
Tidak mungkin jika orang itu adalah orang random, jika ia orang biasa atau warga dekat villa. Maka gerak-geriknya tidak akan semencurigakan ini.
Darren sadar akan hal itu, ia melihat Bianca yang tak fokus dan terus menatap ke arah luar. Tuan Darren pun menatap ke arah yang sama dengan Bianca. Namun tak ada apa pun di sana. “Nona Bianca, ada apa?” tanya Tuan Darren, yang melihat Bianca tampak seperti sedang melamun.
“O maaf tidak apa-apa Tuan Darren” Bianca seketika langsung kembali fokus. Ia sebisa mungkin ingin mengabaikan orang di luar sana.
Arsen rupanya sedari tadi turut memperhatikan sikap Bianca yang tengah tampak cemas, ia kemudian menatap ke arah luar jendela. Namun saat Arsen menatap ke arah sana, orang yang Bianca lihat tadi pun telah menghilang.
Menjalin hubungan selama bertahun-tahun membuat Arsen paham tentang semua kebiasaan dari mantannya. Bianca akan tampak kikuk dan latah, saat ia tengah gugup.
“Padahal tak ada siapa pun di sana, tapi mengapa Bianca tampak ketakutan?” ujar Arsen dalam hati.
"Bagaimana ini, mereka benar-benar mengawasiku" ujar Bianca dalam hati. Gadis itu terus menatap ke arah sana. Sesekali kembali menoleh ke sana, dan pria itu masih terus mengawasinya.
***
Malam harinya, Bianca akhirnya sudah selesai bekerja. Ia bahkan sudah pulang dari Bandung bersama dengan Arsen dan juga Renzo.
Dengan ojek online, gadis itu akhirnya sampai di rumahnya. "Terima kasih ya mas." Bianca memberikan uang kepada ojol itu. Dengan mata yang ngantuk, gadis itu kini membuka gerbang mencoba masuk. Namun ojol itu belum pergi, ia malah menahan Bianca yang hendak masuk ke dalam rumah.
"Mba, tunggu sebentar!" Ucap Ojol itu. Bianca yang di panggil seketika langsung heran, pasalnya ia sudah memberikan uang. Namun pria itu belum juga pergi.
"Ada apa ya mas? Kan saya sudah kasih uangnya."
"Itu mba helmnya, belum di lepas." Pria itu terkekeh, dan Bianca pun langsung meraba kepalanya, dan benar saja. Helm itu masih bersinggah di kepalanya.
"Hehe, saya lupa mas. Maaf ya." Bianca memberikan helm itu.
"Kalem saja mba, saya pergi dulu ya. Jangan lupa bintangnya." Ucap Ojol itu, dan Bianca pun langsung memberikan jempolan tangan.
"Tenang mas, saya kasih 10 bintang sekaligus."
"Sip mba." Ucap Ojol itu, dengan nada setengah medok jawa.
Ojol itu kini pergi, Bianca pun kini membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah. Bianca kini kembali membuka pintu, bukan lagi pintu gerbang, melainkan pintu rumah.
“Bianca pulang,” ucap Bianca yang baru sampai di ambang pintu.
“O hai, kau sudah pulang,” ujar Nando yang melambaikan tangannya sebari menonton televisi. Pria itu terlihat sangat santai, memakan camilan, tertawa menonton acara televisi itu sambil tiduran.
Bianca yang baru pulang benar-benar geram melihatnya, ia seharian harus terjebak bersama Arsen, namun kakaknya malah santai si sana seolah tiada beban hidup.
Bianca menghembuskan napasnya kasar, ia sedang tak mau ribut saat ini.
“Kak Luna sini makan kak!” titah Lucia yang tengah makan bersama sang ibu. Sedangkan Bianca, tubuhnya mulai tak terkontrol, badannya mulai sempoyongan, gadis itu pun langsung ambruk saat itu juga. Perasaan kesal, bercampur dengan amarah, bercampur dengan ngantuk. Semua tercampur menjadi satu membuatnya langsung tergeletak di lantai.
“Bianca, Bianca,” Ujar Bu Mayang yang sudah tahu sikap Bianca. Ia hanya bergedek, dan kembali melanjutkan makannya.
“Kakak,” ucap Lucia, gadis itu kini langsung menghampiri Bianca, lantaran cemas dengan gadis itu.
Namun rupanya ia tak benar-benar pingsan, ia kini bahkan berbalik badan menatap mereka semua sebari rebahan di atas lantai.
"Kan, sesuai dugaan ibu." Ucap Bu Mayang santai, sambil memakan kue lapis.
“Sialan, aku bahkan benar-benar malu sekarang.” Bianca menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis terlihat sangat malu, dan hal itu membuat Lucia sangat ingin memukul wajahnya.
“Sialan kakak ini, aku kira kau benar-benar pingsan tadi,” ujar Lucia yang sangat kesal melihat drama dari kakaknya.
“Kau itu kenapa sih kak sebenarnya?” sambung Lucia dan hanya di jawab gelengan kepala oleh Bianca.
“Ini gila, benar-benar menyebalkan. Bagaimana ini bisa terjadi, tahukah kalian. Bos ku yang baru itu adalah mantanku sendiri, dan dia adalah Arsen, jadi sekarang aku harus bagaimana, aku juga ingin move on darinya. AAARRRRGGGHHHHH SIALAN." Teriak Bianca di akhir kalimatnya.
“APA.” Teriak ketiga orang itu syok, mendengar ucapan Bianca. Bagaimana tidak syok, ia bekerja di tempat yang sama dengan Arsen tak hanya sama. Bahkan Arsen kini bosnya.
“Maksudmu Arsen? mantanmu yang itu kan. Yang kemarin selalu numpang makan di sini?” ujar Nando secara terang-terangan, dan hal itu membuat Bu Mayang yang mendengarnya tak suka.
"Kau bilang apa hah?" Bu Mayang berkacak pinggang, wanita itu terlihat sangat murka kepada Nando.
Nando yang sedari tadi tengah menonton televisi dengan tenang, kini sudah tidak dapat tenang lagi. Pria itu mendapat pukulan dari ibunya sendiri.
“Bugh....”
“Jangan bicara seperti itu, kau pikir yang membantu membayar hutang siapa lagi selain anak baik itu hah. Dia juga sering memberikan ibu uang saat adikmu masih kuliah”
“Apa,” Bianca yang mendengar itu pun langsung terbangun, ia langsung berdiri menghadap sang ibu.
Bu Mayang kini tampaknya tengah keceplosan, ia membuka kartu as yang selama ini ia sembunyikan dari Bianca dan yang lain.
“Maksud ibu apa?”
BERSAMBUNG