Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: DMAM
Di dalam kamar yang temaram, Aisyah membaringkan tubuhnya. Meskipun kelopak matanya sudah amat berat akibat kelelahan fisik dan mental sepanjang hari, hatinya tetap dirayapi rasa tidak tenang.
Bayangan Bu Rosma yang tertidur di dalam mobil mewah di mulut gang terus berputar di benaknya.
Bagaimana kalau Bu Rosma terbangun dan makin murka? Bagaimana kalau beliau merasa dilecehkan karena dibiarkan menunggu di luar?
Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari di kepala Aisyah. Namun, kepalanya yang masih menyisakan pening dan rasa lelah yang teramat sangat akhirnya menang.
Dibelai hembusan angin malam yang menerobos celah jendela kayu, Aisyah perlahan terlelap dalam tidur yang amat nyenyak.
Satu jam pun telah berlalu dalam keheningan malam yang pekat.
Dinding kayu rumah itu tak mampu sepenuhnya menahan tusukan hawa dingin malam perbukitan desa. Di ruang tengah, Dimas bergerak gelisah di atas sofa kain.
Selimut tebal yang dibentangkan Aisyah memang menutupi tubuhnya, namun sofa yang sempit membuat kakinya yang panjang terasa pegal dan kaku.
Hawa dingin menyusup lewat selah jemari kakinya, hingga membangunkannya secara tiba-tiba.
"Eungh..." Dimas bergumam pelan, lalu meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.
Ia membuka matanya perlahan, dan mengedipkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan yang disinari lampu yang remang.
Dimas mengusap wajahnya yang masih ngantuk, lalu menatap sekeliling dengan dahi yang berkerut bingung.
"Ini... di mana?" gumamnya serak, suara khas bangun tidurnya terdengar sangat kekanak-kanakan.
Lalu, pandangannya menangkap atap kayu, meja makan sederhana, dan koper tua di sudut ruangan.
Sesaat kemudian kesadarannya pun perlahan pulih, lalu mengumpulkan potongan ingatan hari itu, pesta megah di hotel, seruan 'SAH' dari para saksi, janji pernikahan, dan perjalanan malam menuju rumah Aisyah.
"Oh... aku kan udah nikah sama Aisyah," bisik Dimas pada dirinya sendiri.
Senyum tipis yang polos pun mendadak muncul di bibirnya. Sebagai seorang pria muda yang tumbuh dalam kemanjaan tanpa beban, logika Dimas sangatlah sederhana:
Aisyah adalah istrinya yang sah. Berada di rumah ini, di malam hari, artinya ia tak perlu lagi tidur meringkuk sendirian di sofa yang keras dan dingin.
Dimas lalu bangkit dari sofa, dan membiarkan selimutnya terkulai. Dengan langkah berjinjit agar tidak menimbulkan suara gemertak di lantai kayu, ia berjalan mendekati pintu kamar Aisyah yang sedikit renggang.
Ia kemudian mendorong pintu itu dengan perlahan. Di atas kasur busa sederhana yang tergelar di lantai, tampak Aisyah tertidur lelap membelakangi pintu.
Tanpa rahu sedikit pun dan tanpa ada niat buruk di kepalanya selain mencari kehangatan dan tempat tidur yang empuk, Dimas langsung merayap masuk. Ia menaiki kasur busa itu dengan sangat pelan, hingga hawa hangat dari balik selimut Aisyah langsung menyapa kulitnya.
Kini Dimas berbaring tepat di samping Aisyah. Karena kasur yang sempit dan terdorong oleh insting mencari kehangatan, Dimas secara alami menyusupkan tangannya melingkari pinggang Aisyah dari belakang, menenggelamkan wajahnya di celah tengkuk istrinya yang tertutup kain hijab tipis, lalu memeluknya erat-erat bagaikan memeluk guling kesayangannya di rumah.
Aisyah yang tertidur begitu pulas akibat kelelahan luar yang biasa hanya bergumam halus tanpa terbangun sedikit pun, lalu menyandarkan punggungnya pada dada hangat sang suami.
Sementara itu, di mulut gang yang sepi, sunyinya malam mendadak pecah oleh sebuah pekikan nyaring dari dalam sedan mewah.
"YA AMPUN! JAM BERAPA INI?!"
Bu Rosma langsung tersentak dari tidurnya di kursi depan. Matanya melotot menatap jam digital di dasbor mobil yang menunjukkan angka hampir mendekati pukul tiga pagi. Cahaya memar di wajahnya akibat terlelap dengan posisi miring membuat dahinya berkerut-kerut kesal.
Sopir pribadi yang tertidur bersandar pada lingkar kemudi pun ikut meloncat kaget, dan hampir saja menyenggol klakson.
"A-ada apa, Bu?! Ada apa?!" gagap sang sopir dengan mata yang merah panik.
"Kamu ini gimana sih?! Kenapa tidak membangunkan saya?!" bentak Bu Rosma histeris sambil merapikan tatanan rambut mewahnya yang kini agak berantakan. "Apa-apaan ini! Kenapa mereka lama sekali di dalam?! Cuma ambil koper saja sampai memakan waktu berjam-jam?! Saya sampai tertidur di dalam mobil seperti orang terlantar!"
Rosma kemudian mengambil tas mewahnya, dan menyemprotkan parfum ke lehernya dengan penuh emosi, lalu memutar gagang pintu mobil.
"Awas kamu kalau ikut-ikutan tidur lagi!" ancam Rosma pada sopirnya.
Dengan langkah menghentak dan raut wajah penuh amarah yang menyala-nyala, Rosma berjalan cepat menyusuri gang sempit, dengan sepatu hak tingginya yang berdetak keras di atas tanah yang basah.
"Bener-bener gak tau diri itu si Aisyah! Sudah ditungguin dari tadi, malah leletnya setengah mati!" umpat Rosma sepanjang jalan.
Tak lama, ia pun tiba di depan pekarangan rumah kayu Aisyah. Tanpa basa-basi atau permisi, Rosma menggembleng pintu kayu rumah itu dengan kepalan tangannya yang sarat cincin permata.
BAM! BAM! BAM!
"Aisyah! Dimas! Buka pintunya! Kamu pikir Mami ini sopir kalian yang bisa disuruh nunggu semalaman di mobil, hah?!" teriak Rosma nyaring, hingga suaranya menggelegar menembus dinding-dinding kayu.
Ketukan keras yang bagaikan godam itu langsung mengejutkan Bu Rahmi yang berada di dalam kamar. Wanita tua itu pun langsung membuka mata dengan hati yang berdebar kencang saat mengenali suara pekikan Bu Rosma di luar.
"Astagfirullah..." gumam Bu Rahmi panik.
Ia bergegas bangun dari kasur, merapikan sarung dan kerudungnya dengan tangan gemetar, lalu keluar kamar menuju pintu depan.
BAM! BAM! BAM!
"Buka tidak pintunya?! Aisyah!"
Dengan cepat, Bu Rahmi menarik selak pintu kayu. Begitu pintu terbuka, sosok Bu Rosma berdiri anggun namun terpancar amarah yang begitu menakutkan dari matanya.
"Bu Rosma... ma-maaf..." tutur Bu Rahmi terbata-bata.
Tanpa menunggu Bu Rahmi selesai bicara, Bu Rosma langsung merangsek masuk ke dalam ruang tengah, dan mendorong pelan bahu Bu Rahmi dengan kibasan tangannya.
"Mana Aisyah?! Benar-benar keterlaluan anak kamu ya!" umpat Rosma. "Mami tidur di mobil sampai leher Mami pegal begini, dia malah enak-enakan di dalam! Mana kopernya?! Biar Mami sendiri yang bawa keluar!"
Rosma mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Ia berniat menyambar koper Aisyah dan menyeret anaknya keluar. Namun, matanya langsung tertuju pada sofa kain yang kini kosong melompong dan hanya tersisa selimut tebal yang tergeletak berantakan di lantai.
"Lho... Mana Dimas?" tanya Rosma heran.
Bu Rahmi yang baru saja menyadari bahwa Dimas tidak ada lagi di sofa langsung teringat akan posisi kamar Aisyah.
Langkah kaki Bu Rosma yang terburu-buru pun sudah mengarah langsung ke kamar Aisyah, jemari berpermata wanita kaya itu sudah terulur hendak membuka pintu kayu kamar tersebut, namun...
"Bu Rosma, tunggu! Jangan!" seru Bu Rahmi panik, lalu cepat-cepat melangkah untuk memotong jalan dan menghentikan gerakan tangan Bu Rosma di depan pintu.
"Ada apa sih?!" bentak Rosma kesal, seraya membelalakkan matanya pada besannya. "Kenapa dihalang-halangi?! Saya mau panggil anak saya!"
"Bu Rosma... sepertinya mereka sudah istirahat..." tutur Bu Rahmi dengan nada memohon dan wajah yang sangat canggung.
"Apa! Mana mungkin!" balas Rosma dengan nada meremehkan. "Saya suruh mereka bersiap dari tadi, bukan tidur! Minggir!"
Dengan gerakan tegas, Bu Rosma mendorong lengan Bu Rahmi dan memutar engsel pintu kamar Aisyah hingga terbuka lebar.
Klek.
"Dimas, ayo pul—"
Kalimat Bu Rosma langsung terhenti dan tidak di lanjutkan.
Di bawah remang cahaya lampu minyak dari sudut kamar, pemandangan di atas kasur busa itu membekukan lidah Bu Rosma seketika.
Di atas kasur yang bersahaja itu, Dimas, putra semata wayangnya yang selalu ia banggakan, tertidur dengan sangat nyenyak.
Wajahnya menempel hangat di tengkuk Aisyah. Kedua lengan Dimas melingkar erat di pinggang istrinya, memeluk Aisyah dari belakang bagaikan tak ingin melepaskannya. Aisyah sendiri tampak terlelap dalam posisi terbungkus selimut, terlindungi sepenuhnya dalam dekapan Dimas.
Pemandangan dua insan yang sudah sah secara hukum dan agama sedang terlelap dalam kehangatan pernikahan mereka.
Mata Bu Rosma melotot. Wajahnya yang semula merah padam oleh amarah berganti menjadi rona merah karena canggung.
"Ya ampun..." bisik Rosma.
Refleks Rosma langsung berpaling dan membalikkan badannya membelakangi kamar, lalu menarik gagang pintu dan menutupnya kembali dengan rapat.
KLIk.
Rosma berdiri mematung di depan pintu kamar yang tertutup kembali. Tangannya yang memegang tas mewah gemetar kecil. Wajahnya yang penuh riasan tebal kini tampak begitu serba salah di hadapan Bu Rahmi yang berdiri di sampingnya.
"Keterlaluan si Dimas..." gumam Rosma. "Apa gak bisa sabar dulu... dasar anak nakal!"
"Ekhm!." Ia berdeham keras dan mencoba menguasai kembali wibawa dan harga dirinya yang runtuh akibat kepergok melihat adegan mesra anaknya sendiri.
Rosma kemudian berbalik dan menoleh ke arah besannya yang masih menatapnya dengan raut wajah yang serba salah.
"Tidak mungkin juga aku membangunkan mereka," ujar Rosma dengan nada suara yang sengaja ditinggikan untuk menutupi rasa canggungnya, meski matanya enggan menatap langsung mata Bu Rahmi. "Bilang saja nanti kalau mereka sudah bangun, suruh Dimas langsung bawa Aisyah pulang ke rumah Mami. Pagi ini juga!"
Bu Rahmi pun mengangguk pelan dengan penuh kesopanan. "Iya, Bu Rosma... Nanti kalau mereka sudah bangun, pasti langsung saya sampaikan."
Melihat Bu Rosma yang tampak lelah dan canggung, Bu Rahmi pun memberanikan diri menawarkan kebaikan.
"Apa tidak sebaiknya Bu Rosma juga beristirahat dulu di sini? Di luar masih sangat dingin dan hari belum subuh..."
Rosma langsung mendongakkan kepalanya, dan mengibaskan selendangnya dengan cepat seolah-olah rumah kayu itu bisa mengotori gaun mahalnya.
"Tidak perlu!" tolak Rosma. "Saya pulang duluan! Ingat pesan saya, jangan sampai mereka terlambat pulang!"
Bersambung...