Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Miska baru saja hendak berbalik untuk melangkah keluar, hatinya masih terasa perih mendengar kata-kata suaminya sendiri. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya menabrak seseorang yang berdiri tegak tepat di belakangnya.
"Aduh—!" Miska terhuyung sedikit, LALU segera membungkuk dengan wajah pucat pasi.
"Maaf! Saya sungguh minta maaf, Pak! Saya tidak sengaja, saya tidak melihat ke depan..."
Tangannya bahkan gemetar, ia siap menerima omelan atau tatapan jijik seperti yang selalu ia dapatkan di rumah. Namun alih-alih bentakan, sebuah tangan kokoh menahan bahunya dengan lembut, mencegahnya membungkuk terlalu dalam.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf seperti itu " terdengar suara berat dan tenang, tanpa nada sedikit pun kesal.
Miska mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan penampilan sangat rapi, wajahnya tegas namun sorot matanya lembut, seolah ia bisa melihat kesedihan yang sedang berusaha Miska sembunyikan.
"Saya tadi berdiri di sini, memang saya yang kurang memberi jarak," ucap pria itu lagi. "mbak... sedang apa sendirian di lobi kantor ini?"
Pertanyaan itu sederhana, namun lidah Miska terasa kaku. Awalnya ia hendak menjawab dengan jujur — saya mengantar berkas suami saya — namun kalimat Askar tadi tiba-tiba bergema di telinganya: malu dilihat orang, lihat penampilanmu itu. Rasa rendah diri langsung menyergap. Ia menelan ludah, memaksakan senyum tipis.
"Saya... saya hanya kebetulan lewat di depan, Pak. Hanya mampir sebentar untuk bertanya arah, sekarang saya mau pergi," jawabnya pelan, berusaha secepat mungkin berpamitan. "Maaf sekali lagi, Pak. Permisi."
Tanpa menunggu jawaban, Miska bergegas melangkah keluar menuju pintu utama, meninggalkan aroma kesederhanaan yang menyentuh hati. Arfan hanya berdiri diam, menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh hingga hilang di balik pintu kaca. Ada sesuatu di mata wanita itu — kesabaran yang penuh luka — yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Namun ia segera mengatur ekspresi, melangkah masuk ke dalam kantor.
Begitu Arfan melangkah masuk, seluruh ruangan langsung hening seketika. Para staf yang sibuk tadi kini berdiri berjejer di lorong, menyambut kedatangannya dengan hormat. Askar dan Rara bergegas keluar dari ruangan Askar, berjalan mendekat dengan senyum yang dipersiapkan sebaik mungkin.
"Selamat datang, pak Arfan! Terima kasih atas kunjungan Anda ke kantor cabang kami!" ucap Askar dengan nada penuh semangat dan hormat, tangannya terulur untuk bersalaman.
"Selamat datang, Tuan Arfan. Semoga perjalanan Anda lancar," tambah Rara, berdiri tepat di samping Askar, senyumnya manis dan penampilannya sangat rapi, seolah ia adalah nyonya rumah di tempat itu.
Arfan menyambut salaman Askar dengan singkat, lalu melirik sekilas ke arah Rara sebelum kembali menatap Askar. "Mari kita masuk ke ruang rapat. Waktu saya tidak banyak, saya ingin melihat laporan kinerja dan keuangan secara langsung."
"Baik, pak! Silakan lewat di sini!" Askar memberi isyarat, hatinya berdebar — bukan karena takut rapatnya gagal, melainkan karena ia berharap tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di ruangannya sebelum Miska datang.
Rapat berlangsung cukup lama. Arfan bertanya dengan tajam dan teliti, Askar menjawab dengan lancar dibantu oleh Rara yang sesekali menyisipkan penjelasan, membuat mereka tampak sangat kompak. Para karyawan lain hanya diam memperhatikan, mengagumi betapa hebatnya kerjasama Kepala Bagian dan Sekretaris itu. Tak ada yang menyadari bahwa keakraban itu sudah melampaui batas profesionalisme.
Sementara di kantor rapat berjalan serius, di rumah suasana tidak kalah menekan. Begitu Miska melangkah masuk, suara melengking ibu mertuanya langsung menyambut.
"Dari mana saja kamu?! Lama sekali! Aku dari tadi menunggu di kursi, leherku sakit menunggumu! Cepat buatkan aku susu hangat, gula dua sendok! Jangan terlalu encer, jangan terlalu kental!" bentak Bu Ratih tanpa menoleh, matanya tetap terpaku pada layar televisi.
Miska menutup pintu pelan, menghela napas panjang yang tidak sampai ke dada. "Iya, Bu. Sebentar lagi saya buatkan."
Ia bergegas ke dapur, menyiapkan susu dengan hati-hati, takut salah takaran. Saat menyodorkan gelas, Bu Ratih langsung menyambar, lalu mencemooh. "Hah, begini saja susunya! Kamu memang tidak pernah bisa diandalkan. Kalau bukan karena aku yang merawat anakku, pasti rumah ini sudah berantakan karena istrinya cuma tahu diam saja. Dasar istri tidak berguna!"
Miska hanya menunduk, menerima setiap kata hinaan itu tanpa membalas. "Maaf, Bu. Kalau kurang pas, biar saya buatkan ulang."
"nggak usah! Pergi sana, jangan merusak suasana!" Bu Ratih melambaikan tangan dengan jijik, seolah Miska adalah sampah di hadapannya.
Miska berbalik perlahan menuju kamar. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, baru kemudian membiarkan air matanya jatuh sebentar sebelum dihapus dengan cepat. Ia mengambil ponsel jadulnya yang layarnya sudah agak kusam.
Saat membuka aplikasi toko daring, matanya langsung membelalak. Notifikasi pesanan masuk bertubi-tubi. Ia mulai menghitung pelan-pelan, senyum tipis perlahan tumbuh di bibirnya. Sudah sebulan sejak tetangga sebelah membantunya membuka toko. Keuntungan bersih yang terkumpul — ia menghitung lagi — satu juta seratus ribu rupiah. Hatinya menghangat. Belum ada yang tahu, belum ada rekening atas namanya jadi uang itu masih tersimpan di saldo aplikasi. Ia belum berani mencairkannya, ini rahasia kecil yang membuatnya merasa berharga.
Seminggu lagi, batinnya. Besok saya pergi ke kantor BRI Link di ujung jalan, daftar rekening atau tarik lewat DANA, untuk tabungan sendiri.
Seminggu berlalu dengan cepat. Sore itu langit mulai menggelap, angin berhembus kencang membawa awan kelabu. Miska berjalan menuju BRI Link, hatinya sedikit lebih ringan dari biasanya. Namun saat berjalan melewati jalan utama, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Di tepi jalan, sebuah mobil berhenti. Pintu terbuka — Askar keluar, tampak rapi dan wangi. Di belakangnya, turun seorang wanita yang tersenyum lebar sambil merangkul lengan Askar erat-erat. Itu Rara.
Mata Miska terpaku. Mereka berjalan berdampingan, menuju pintu putar sebuah bangunan megah. Di atas pintu utama, tulisan itu terlihat jelas meski agak jauh — HOTEL GRAND PALACE.
Jantung Miska berdegup kencang seakan mau melompat keluar dari dada. Kakinya terasa berat, napasnya tercekat. Ia melihat Askar tersenyum lebar pada Rara, lalu keduanya masuk bersama ke dalam gedung itu, menghilang di balik pintu kaca yang berkilauan.
Miska berdiri terpaku di pinggir jalan, di bawah langit yang mulai turun hujan gerimis. Di tangannya masih tergenggam ponsel jadulnya, tempat di mana harapan kecilnya tersimpan — namun di depannya, kenyataan pahit sedang menamparnya tanpa ampun.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪