CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Bersama — Kebiasaan Baru
Malam itu, untuk pertama kalinya, Yicheng diundang makan malam bersama di rumah Su Wan. Sebelumnya ia selalu berpamitan pulang sebelum makan, memberi ruang, menghormati batasan yang sudah disepakati. Tapi hari ini, saat Xiaoqi memegang ujung bajunya dan memohon dengan mata berbinar — "Ayah, makanlah bersama kami sekali saja. Aku ingin kita makan bertiga, seperti keluarga lain" — Yicheng menatap Su Wan, meminta izin dengan tatapannya, dan Su Wan mengangguk pelan, memberi izin dengan senyum lembut.
Su Wan menyiapkan makan malam sederhana namun lengkap — nasi hangat, ikan kukus kecap kesukaan Xiaoqi, tumis sayuran, dan sup ayam bening yang harumnya memenuhi seluruh ruangan. Meja makan kecil itu kini terisi tiga piring, tiga mangkuk sup, dan tiga gelas air — pemandangan yang selama lima tahun tidak pernah ada di rumah ini. Meja yang dulu selalu hanya untuk dua orang, kini terisi satu lagi. Tidak terlalu sempit, tidak terlalu luas — pas, untuk keluarga yang sedang belajar menjadi utuh kembali.
Mereka duduk — Xiaoqi di kursi kecil di tengah, Su Wan di sebelah kanan, Yicheng di sebelah kiri. Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu pelan, tidak ada yang berbicara. Ada keheningan yang canggung — asing, namun tidak menyakitkan. Yicheng duduk dengan punggung sedikit tegak, berusaha tidak berbuat salah, berusaha menyesuaikan diri dengan kebiasaan makan mereka. Ia tidak langsung mengambil makanan, menunggu Su Wan memulai dulu, menunggu isyarat yang boleh ia ikuti.
Xiaoqi melihat ke kiri lalu ke kanan, menyadari keheningan itu, lalu tersenyum dan memecahnya dengan suara ceria. "Aku mau bilang sesuatu! Mulai sekarang, kalau Ayah tidak sibuk, Ayah makan bersama kami setiap hari, boleh? Makan bertiga rasanya lebih enak daripada makan berdua saja."
Su Wan tersenyum pada anaknya, lalu melirik Yicheng yang menatapnya dengan harap namun tetap menunggu keputusannya. "Kita bisa mencobanya, Xiaoqi. Kalau Ayah tidak lelah dan tidak ada pekerjaan mendesak, Ayah boleh makan bersama kita. Tapi Ayah juga butuh istirahat di rumahnya sendiri, jadi kita tidak bisa memaksanya setiap hari."
Yicheng langsung mengangguk, secepat mungkin agar tidak terlihat ragu. "Aku tidak lelah. Dan aku bisa mengatur pekerjaanku agar selesai sebelum waktu makan malam. Kalau kalian mengizinkan, aku ingin makan bersama kalian setiap hari. Bukan karena kewajiban — tapi karena aku ingin. Makan bersama keluarga… itu hal yang paling aku rindukan."
Su Wan menatapnya, melihat ketulusan di matanya, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau kau mau, makanlah bersama kami setiap hari. Tapi bantu aku — kadang Xiaoqi susah makan sayur. Kau bisa membantuku membujuknya, tanpa memaksanya."
"Tentu saja," janji Yicheng, lalu menoleh ke Xiaoqi, mengambil sedikit sayuran dari piringnya dan menunjukkannya dengan ekspresi serius namun lucu. "Xiaoqi, tahu tidak? Sayuran ini memberi kekuatan super. Kalau kau makannya, kau bisa tumbuh setinggi Ayah, bahkan lebih tinggi. Dan kau bisa membangun gedung lebih tinggi dari yang Ayah punya. Mau coba?"
Xiaoqi memandang sayuran itu ragu-ragu, lalu melirik Yicheng. "Benarkah? Bisa jadi sekuat Ayah?"
"Benar. Ayah juga suka makan sayur sejak kecil. Itulah sebabnya Ayah kuat mengangkatmu tinggi-tinggi," kata Yicheng, lalu memakan sepotong sayur dengan wajah menikmati, seakan itu makanan paling lezat di dunia.
Xiaoqi tertawa, lalu mengambil sayuran itu dan memakannya dengan lahap. "Enak! Aku mau jadi kuat seperti Ayah!"
Su Wan menonton mereka, tersenyum sambil menyuapi mulutnya sendiri. Cara Yicheng membujuk Xiaoqi makan sayur begitu lembut dan cerdas — tidak memaksa, tidak memerintah, tapi memberi alasan yang anak itu paham dan sukai. Ia tidak menyangka Yicheng akan begitu mengerti cara berkomunikasi dengan anak. Ada kehangatan yang mulai tumbuh di hatinya — bukan cinta yang meledak-ledak, tapi rasa nyaman, rasa aman, rasa bahwa ia tidak lagi sendirian menangani hal-hal kecil seperti membujuk anak makan sayur.
Selama makan, mereka berbagi cerita — Xiaoqi bercerita tentang sekolah, tentang teman-temannya, tentang gambar yang ia buat. Yicheng bercerita tentang hal-hal sederhana yang ia lihat hari ini — bunga yang mekar di jalan, kucing kecil yang tidur di taman, hal-hal yang biasanya tidak ia perhatikan, tapi kini terlihat menarik karena ia tahu Xiaoqi akan suka mendengarnya. Su Wan bercerita tentang hal-hal di rumah, tentang tanaman yang tumbuh di halaman, tentang rencana akhir pekan. Tidak ada topik yang berat, tidak ada pembicaraan tentang masa lalu — hanya hal-hal ringan, hal-hal sekarang, hal-hal yang membuat mereka merasa berada di tempat yang sama, di waktu yang sama.
Yicheng memperhatikan kebiasaan makan mereka — bagaimana Xiaoqi suka memisahkan makanan di piringnya, bagaimana Su Wan selalu memotong daging atau ikan menjadi potongan kecil untuk Xiaoqi, bagaimana mereka berdua saling menawarkan makanan tanpa diminta. Ia mencatat semuanya dalam hatinya, ingin belajar, ingin menyesuaikan diri, ingin menjadi bagian dari kebiasaan ini tanpa merusaknya.
Setelah makan, Xiaoqi membantu menata piring ke wastafel — tugas kecil yang sudah biasa ia lakukan. Yicheng ingin membantu mencuci piring, tapi Su Wan menahannya. "Kau duduklah bersama Xiaoqi. Biarkan aku yang membereskan. Ini bukan kewajibanmu."
"Kita sudah sepakat berbagi tugas, ingat?" kata Yicheng lembut namun tegas, mengambil kain lap dan berdiri di samping wastafel. "Aku bisa mencuci piring. Atau mengeringkannya. Kita lakukan bersama. Seperti keluarga lain."
Su Wan menatapnya, lalu tersenyum dan tidak menolak lagi. Mereka berdiri berdampingan di dapur — Su Wan mencuci, Yicheng mengeringkan dan menata piring ke rak. Di ruang tamu, Xiaoqi menonton televisi dengan suara kecil, tertawa sesekali, sementara di dapur, di antara suara air mengalir dan denting piring pelan, mereka berbicara dengan suara rendah, santai, tanpa tekanan.
"Terima kasih," bisik Su Wan tiba-tiba, saat mereka sedang mengeringkan gelas terakhir. "Terima kasih sudah makan bersama kami. Dan terima kasih sudah mau membantu. Selama ini aku selalu membereskan semuanya sendirian. Rasanya… aneh tapi enak, ada yang membantu."
Yicheng menata gelas ke rak, lalu menatapnya dengan senyum lembut. "Terima kasih sudah mengizinkanku masuk. Makan bersama kalian malam ini… itu momen paling berharga bagiku. Sederhana, biasa saja, tapi rasanya seperti rumah. Seperti hal yang selama ini aku cari tapi tidak pernah kutemukan di mana pun — di kantor, di rumahku yang besar tapi sepi, di mana saja. Rasanya di sini, bersama kalian, di meja makan kecil ini, dengan makanan sederhana — di sinilah rumahku."
Su Wan menunduk, menyembunyikan senyum yang mulai terlihat di bibirnya. Ia merasakan ketulusan itu, merasakan kehangatan yang perlahan menyelimuti hatinya. Makan malam ini bukan sekadar mengisi perut — ini adalah awal dari kebiasaan baru, cara baru hidup bersama, cara baru menjadi keluarga. Tidak sempurna, masih canggung, masih butuh waktu — tapi itu nyata. Itu milik mereka.
Malam itu, setelah membacakan dongeng dan memastikan Xiaoqi tertidur, Yicheng berpamitan di depan pintu seperti biasa. Sebelum pergi, ia berhenti sejenak dan menatap Su Wan. "Besok malam boleh aku datang lagi? Makan bersama kalian lagi? Aku akan membawa buah atau roti, apa pun yang kalian suka."
Su Wan tersenyum, mengangguk lembut. "Boleh. Besok aku akan memasak sayur lebih banyak. Dan… terima kasih, Yicheng. Malam ini menyenangkan."
Yicheng tersenyum bahagia, melangkah pergi namun berhenti lagi dan menoleh. "Selamat malam, Su Wan. Dan selamat malam untuk Xiaoqi — walau dia sudah tidur. Sampai jumpa besok."
"Sampai jumpa besok," jawab Su Wan pelan, menutup pintu perlahan, lalu berdiri di belakangnya, merasakan kehangatan malam yang masih tersisa di udara. Kebiasaan baru dimulai — makan bersama, berbagi tugas, berbagi ruang. Pelan, tapi pasti. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak sendirian lagi.