Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Jojo melangkah maju dengan kaki yang gemetar hebat seolah tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.
Piring di tangannya bergetar hingga membuat saus kecapnya sedikit tumpah mengotori pinggiran piring yang berwarna putih.
"Letakkan piringmu di meja sekarang Jojo, jangan membuat kami menunggu lebih lama," perintah Chef Arya dengan suara datar.
"I-iya Chef, ini bandeng kecap manis buatan saya," jawab Jojo terbata bata dengan keringat dingin bercucuran.
Chef Bram langsung mengambil garpu baja dan menekan daging bandeng yang sudah hancur berantakan di atas piring itu.
Baru satu tekanan kecil, garpu baja itu langsung berbunyi pelan membentur sesuatu yang keras di balik daging.
Trak.
Chef Bram menarik sebuah duri panjang dari dalam tumpukan daging tersebut dan mengangkatnya tinggi tinggi ke udara.
"Ini baru detik pertama aku menyentuh makananmu Jojo, dan aku sudah menemukan ranjau mematikan ini," ucap Chef Bram dingin.
"M-maafkan saya Chef, duri ikan itu sangat transparan dan mataku perih mencarinya," isak Jojo memelas meminta belas kasihan.
"Tidak ada alasan untuk kelalaian yang bisa merobek tenggorokan dan membunuh pelangganmu di restoran."
"Ambil celemek hitammu sekarang juga dan bergabunglah dengan barisan Pressure Test!" usir Chef Renata tanpa ampun sama sekali.
Jojo menangis tersedu sedu dan mengambil celemek hitam di ujung meja penjurian dengan tangan lemas.
"Panggilan selanjutnya, Leo, bawa ikan gosongmu itu kemari," panggil Chef Arya memecah suara tangisan Jojo.
Leo menelan ludah dengan susah payah dan menatap Kevin sejenak untuk meminta dukungan moral dari bosnya.
"Maju saja Leo, kau pasti aman karena kau sudah mencabut durinya," bisik Kevin menenangkan temannya itu.
Leo meletakkan piringnya yang berisi bandeng bakar bumbu kuning yang bagian kulit luarnya sudah hangus menghitam seperti arang.
"Ini bandeng bakar bumbu kuning Chef," ucap Leo mencoba terdengar yakin meski suaranya sedikit bergetar.
Chef Renata membelah daging ikan itu menggunakan pisau dan garpu dengan sangat perlahan.
Krek.
Pisau Chef Renata langsung tersangkut pada sekumpulan duri halus yang menumpuk di bagian perut ikan yang penuh lemak.
"Kau bahkan tidak membersihkan bagian perutnya sama sekali Leo, kau membiarkan sarang durinya utuh," kritik Chef Renata kecewa.
"Bagian perutnya terlalu lembek Chef, kalau saya cabut durinya dagingnya akan hancur semua dan jelek bentuknya," alasan Leo membela diri.
"Lebih baik dagingnya hancur berantakan daripada tenggorokanku yang robek karena duri duri sialan ini!" bentak Chef Arya tiba tiba memotong alasan Leo.
"Pakai celemek hitammu dan berdiri di sebelah Jojo sekarang juga tanpa banyak bicara."
Leo menundukkan kepalanya dalam dalam dan berjalan lemas mengambil celemek hitamnya menyusul Jojo.
"Sekarang mari kita lihat hasil karya dari lulusan sekolah kuliner kebanggaan kita semua hari ini."
"Kevin Wijaya, bawa piringmu ke depan," panggil Chef Bram dengan nada suara yang sedikit menyindir kesombongan pemuda itu.
Kevin membusungkan dadanya dan mengangkat piringnya dengan sangat percaya diri seolah tidak ada beban.
Dia meletakkan piring berisi tumpukan daging bandeng bersaus putih itu di depan ketiga juri dengan senyum menantang.
"Ini adalah Pan Seared Bandeng dengan saus Beurre Blanc dan puree kentang truffle, Chef," ucap Kevin lantang penuh gaya.
Chef Arya memicingkan matanya melihat presentasi yang sangat berantakan dan tertutup saus tebal berwarna pucat tersebut.
"Tampilan piringmu ini sangat menyedihkan Kevin, seperti makanan sisa yang kau kumpulkan jadi satu lalu kau siram kuah."
"Bentuk dagingnya memang sedikit hancur Chef, tapi saya jamin saus Eropa buatan saya akan menutupi semua kekurangannya."
"Saya tidak meminta jaminan rasa dari sausmu Kevin, saya meminta jaminan bahwa ikan ini aman untuk dimakan," potong Chef Bram tajam.
Chef Arya tidak banyak bicara lagi dan langsung mengambil garpu untuk mengaduk aduk tumpukan daging ikan di balik saus putih itu.
Srek srek.
Tiba tiba gerakan garpu Chef Arya terhenti di tengah piring dan dia sedikit memajukan wajahnya.
Dia menjepit sesuatu menggunakan ujung garpunya dan menariknya perlahan keluar dari lumuran saus mentega putih tersebut.
Sebuah duri berbentuk Y yang patah menjadi setengah kini terpampang nyata di depan mata Kevin dan seluruh peserta lainnya.
Wajah Kevin seketika berubah pucat pasi melihat duri tajam yang meneteskan saus tersebut ditarik dari piringnya.
"Kau bilang kau bisa menaklukkan ikan sampah ini lebih baik dari siapapun di sini Kevin?" tanya Chef Arya dengan suara pelan namun sangat mematikan.
"I-itu pasti hanya satu duri yang kebetulan terlewat Chef, sisanya pasti bersih seratus persen," bantah Kevin dengan suara bergetar mencoba mengelak.
Chef Arya tidak menjawab dan kembali mengaduk piring Kevin dengan gerakan garpu yang sedikit kasar.
Dia menemukan tiga patahan duri lainnya yang tersembunyi di dalam daging hancur itu dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Prang.
Chef Arya melempar garpunya kembali ke atas piring dengan keras hingga saus putihnya memercik ke meja kayu.
"Kau menarik duri ini dengan paksa secara berlawanan arah hingga semuanya patah tertinggal di dalam daging!"
"Ini bukan sekadar kelalaian Kevin, ini adalah bukti nyata dari kesombonganmu yang tidak mau belajar teknik dasar kuliner!" bentak Chef Arya murka.
"T-tapi Chef, rasa saus saya jauh lebih baik dan mahal dari bumbu murahan peserta lain di sini!"
"Aku tidak peduli seenak atau semahal apa sausmu jika makanan ini bisa membuatku masuk ruang gawat darurat rumah sakit!" potong Chef Renata dengan wajah sangat marah.
"Kau gagal total memahami karakteristik bahan utamamu hari ini Kevin, dan kau tertipu oleh egomu sendiri."
"Ambil celemek hitam itu dan persiapkan dirimu untuk mempertaruhkan nyawamu di Pressure Test malam ini," vonis mutlak Chef Bram bergema di galeri.
Kevin mematung kaku di tempatnya dengan kedua tangan yang mengepal sangat kuat menahan rasa malu yang meledak ledak.
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, pemuda kaya raya itu harus mencicipi pahitnya memakai celemek hitam di depan publik.
Dia mengambil celemek kotor itu dengan kasar dan berjalan menuju barisan eliminasi tanpa berani menatap mata Aldo sama sekali.
"Kena kau sekarang Tuan Muda sombong, rasakan racun dari ikan pinggiran yang kau remehkan," batin Aldo tersenyum sangat tipis melihat kejatuhan musuhnya.
Suasana galeri masih terasa sangat panas dan mencekam setelah kemarahan beruntun dari para dewan juri.
Lebih dari separuh peserta kini sudah memakai celemek hitam karena gagal mencabut duri dengan bersih dan rapi.
"Panggilan terakhir untuk babak ini, sang dalang di balik semua kekacauan pembantaian hari ini."
"Aldo Raditya, bawa mangkokmu ke depan sekarang juga," panggil Chef Arya dengan nada yang perlahan kembali tenang.
Aldo mengangkat mangkok keramik putihnya yang berisi Pindang Serani dan berjalan perlahan namun pasti menuju meja podium.
Asap panas masih mengepul tipis dari mangkok tersebut membawa aroma asam segar yang sangat menggugah selera siapapun yang menciumnya.
makasi crazy up nya