sebuah kisah yang sangat menyentuh namun juga menyakitkan tapi tetap dijalani dengan cara yang kadang sulit untuk di terima. Akankah antara Aira dan Ridwan sanggup menjalani? dan bagaimana dengan Zaki. Apakah yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Zarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21 pertemuan antara sahabat
Malam ini merupakan dimana pak Hanafi akan kedatangan tamu yaitu sahabat dekatnya Kiai Abdullah. Karena sebelumnya kiai Abdullah telah berjanji ingin berkunjung kerumah pak Hanafi.
Kiai Abdullah juga mengajak anak gadisnya yaitu Azzahra Khairunnisa. Dia adalah anak gadis kiai Abdullah satu - satunya.
Selama ini anak gadis kiai Abdullah bersekolah di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya. Namun kini Zahra telah kembali . Selama ini anak Kiai Abdullah tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.
Namun saat ini kiai Abdullah ingin menjodohkan Zahra dengan Ridwan. Kiai Abdullah belum mengetahui tentang kehidupan Ridwan. Kiai Abdullah tidak tahu bahwa saat ini Ridwan sedang menyimpan kenangan bersama seorang wanita yang hampir menjadi istrinya.
Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Kiai Abdullah pun telah tiba dirumah pak Hanafi. Pak Hanafi pun dan kiai Abdullah saling bercerita tentang anak-anak mereka.
Ridwan yang sedang duduk di sebelah ayahnya itu pun sedang memperhatikan anak Kiai Abdullah. Zahra yang peka terhadap dirinya itu ia pun menundukkan kepalanya. Dengan wajah yang terasa panas.
Sementara itu kiai Abdullah pun semakin asyik bercerita.
Melihat tingkah anak Kiai Abdullah Ridwan hanya tersenyum samar tak terlihat.
"Masyaallah, ini orang kenapa bisa setampan ini ?" Bathin Zahra. Saat ini Zahra mengenakan cadar. Jadi tidak terlihat wajahnya yang merona karena dari tadi Ridwan terus saja memandangi gadis itu .
Diam - diam kiai Abdullah pun melihat interaksi Ridwan dengan anak gadisnya itu.
Kiai Abdullah pun menggoda Ridwan.
Nak Ridwan, kalau memang suka jangan di pandangi aja .
Ridwan pun terkejut ketika kiai Abdullah menegurnya.
M--m--maaf kiai,
Pak Hanafi pun tertawa terbahak-bahak.
hahaha... Ridwan kamu kenapa bisa gugup begitu.
"Gak kok Abi" , Ridwan pun memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara itu Zahra tersenyum di balik cadarnya.
Istri kiai Abdullah pun ikut tersenyum Ridwan yang di goda oleh suaminya itu.
Istri kiai Abdullah pun menegur suaminya.
"Abi, Ridwan itu bukan lawan becanda Abi lihat tu dia sampai gugup begitu" , ucap istri kiai Abdullah.
Yaudah maaf ya nak Ridwan. Gak apa-apa kok Kiai.
Oh ya han ini Lo Zahra anak gadisku satu -satunya.
Masyaallah, udah besar kamu sekarang ya nak ? Ucap ibu Aisyah.
Iya Tante. Jangan panggil Tante panggil saja Ummi Aisyah.
Oh baiklah ummi Aisyah. Sepertinya Zahra panggil ummi aja gak enak kalau harus dibawa namanya seperti agak kurang sopan Zahra manggilnya, ucap Zahra.
Masyaallah, perkataan kamu lembut bangat nak ?
Gak kok ummi, emang lebih enak ummi aja dari pada harus bawa namanya.
Yaudah bagaimana baiknya aja Zahra manggil ummi.
" Oh ya Ridwan kamu ajak Zahra buat ngobrol ringan sebentar di luar dekat taman . Lagian tamannya terang kok . Awas ya kalau macam-macam !" , ucap pak hanafi.
Ya gak lah Abi aku tahu batasannya kok, ucap Ridwan.
Kiai Abdullah pun tertawa melihat pak Hanafi menegur anak lelakinya itu.
Ridwan pun mengajak Zahra keluar dari rumah menuju taman yang ada di depan rumah.
Ayo duduk disini, ucap Ridwan.
Oh iya, keduanya pun merasa canggung.
Zahra merupakan gadis yang pendiam . Ridwan pun bingung mau mulai dari mana.
Keduanya pun sama-sama diam .
Lima menit berlalu Ridwan pun berkenalan dengan Zahra.
" Maaf, kenalin aku Ridwan".
Zahra pun menangkup tangan di dadanya.
" Maaf mas. Aku Zahra. Oh Zahra ya".
Zahra pun mengernyitkan keningnya. Perkataan Ridwan seakan mencemooh namanya.
Keduanya pun kembali diam.
"Zahra, kamu sudah punya teman yang spesial dihatimu ? "
" Selama ini aku tidak pernah dekat dengan laki - laki manapun. Abi melarangku untuk menaruh perasaan pada lawan jenis" .
"Berarti kamu anak yang patuh pada orang tua" .
"Ya bisa di bilang begitulah" .
"Lagian menurutku menaruh perasaan pada seseorang yang belum tentu akan menjadi pasangan hidup kita akan terasa rugi. Rugi dari segi waktu yang terbuang dan rugi bagi diri kita yang telah di kecewakan".
" Nemu dari mana kata - katamu itu ?"
Bukan Nemu mas, tapi kenyataan. Keduanya pun kembali diam .
"mas sepertinya ini sudah larut malam. Aku mau pulang", ucap Zahra.
" Oh iya kalau begitu ayo masuk kedalam rumah",ucap Ridwan .
Zahra pun kembali pada orang tuanya.
Tak terasa waktu pun semakin larut kiai Abdullah pun berpamitan untuk pulang begitu juga dengan Zahra.
salam DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS 🙏🏻🤭