NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Tuduhan Palsu dan Harga Diri yang Diinjak

   ​Pagi itu, ketegangan di dalam rumah megah Ziko mendadak memuncak sebelum jam menunjukkan pukul delapan. Suara melengking Bu Rani terdengar panik dari arah kamar utamanya di lantai atas, meruntuhkan keheningan pagi yang biasanya diisi oleh aroma kopi buatan Mahira.

   ​"Ziko! Clarissa! Astaga, tolong Ibu!" pekik Bu Rani seraya berlari menuruni anak tangga dengan wajah yang sengaja dibuat pucat pasi dan cemas luar biasa.

   ​Ziko yang sedang merapikan jam tangannya di ruang tengah seketika menoleh, dahinya berkerut tajam. Di sampingnya, Clarissa yang sudah rapi dengan setelan kerja elegan langsung ikut memasang raut wajah penuh perhatian.

   ​"Ada apa, Bu? Kenapa berteriak-teriak begitu?" tanya Ziko cepat, menghampiri ibunya yang tampak gemetaran.

   ​"Cincin berlian Ibu, Ziko! Cincin mewah yang bermata zamrud pemberian almarhum ayahmu... hilang!" adu Bu Rani dengan suara yang sengaja dikeraskan, matanya melirik tajam ke arah dapur tempat Mahira baru saja keluar membawa nampan berisi teh hangat. "Ibu ingat betul semalam menyimpannya di atas meja rias setelah pulang makan malam. Tapi pagi ini, kotaknya sudah kosong!"

   ​Clarissa menutup mulutnya dengan telapak tangan, berpura-pura terkejut. "Ya ampun, Tante... Cincin itu kan sangat mahal dan punya nilai sejarah yang tinggi. Kok bisa hilang? Apakah semalam ada orang asing yang masuk ke dalam rumah?"

   ​"Tidak ada orang asing yang masuk, Clarissa!" sahut Bu Rani sengit. Pandangan matanya kini mengunci sepenuhnya pada sosok Mahira yang berjalan tenang meletakkan nampan di atas meja kaca dengan gerakan yang sangat tenang dan hati-hati. "Satu-satunya orang yang memegang kunci cadangan kamar Ibu dan bertugas membersihkan kamar itu setiap pagi... cuma Mahira!"

   ​Suasana di ruang tamu seketika membeku. Ziko menatap Mahira dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menuduh. Rasa tidak percaya dan kejengkelan yang menumpuk selama beberapa hari ini membuat pria itu langsung menaruh curiga tanpa bukti dasar.

   ​"Hira," panggil Ziko dengan suara baritonnya yang menekan. "Kamu masuk ke kamar Ibu subuh tadi?"

   ​Mahira berdiri tegak di samping meja. Wajahnya yang polos tampak teramat tenang, tidak ada guratan panik atau gestur tubuh yang ketakutan. "Iya, Mas. Subuh tadi saya masuk hanya untuk mengambil keranjang pakaian kotor seperti biasa. Tapi saya tidak menyentuh meja rias, apalagi mengambil cincin Ibu."

   ​"Halah! Maling mana ada yang mau mengaku!" bentak Bu Rani kasar, melangkah mendekati Mahira dengan wajah penuh kebencian. "Kamu pasti sengaja mengambilnya karena sakit hati soal kejadian bensin kemarin, kan? Atau jangan-jangan kamu butuh uang untuk dikirim ke desamu? Ziko, lihat istrimu ini! Penampilan luarnya saja yang kelihatan alim dan penurut, tapi mentalnya mental pencuri!"

   ​"Ibu, jaga ucapan Ibu. Saya tidak pernah dididik oleh orang tua saya untuk mengambil barang yang bukan milik saya," sahut Mahira dengan suara datar namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan.

   ​Clarissa menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat tipis di balik punggung Ziko, lalu buru-buru menimpali dengan nada memprovokasi. "Mbak Hira, kalau memang Mbak tidak mengambilnya, kenapa tidak dibuktikan saja? Biar semuanya jelas dan tidak ada salah paham di antara kita. Ziko, bagaimana kalau kita periksa barang-barangnya?"

   ​Ziko mengangguk setuju tanpa keraguan sedikit pun di otaknya. "Ibu benar, Clarissa benar. Hira, di mana tas kain yang sering kamu bawa pergi itu? Bawa ke sini sekarang!"

   ​"Tas saya ada di kamar belakang, Mas," jawab Mahira tenang.

   ​"Biar saya sendiri yang ambil dan buktikan kebusukanmu!" pekik Bu Rani yang langsung bergegas menuju kamar belakang tempat Mahira tidur. Hanya butuh waktu dua menit bagi wanita tua itu untuk kembali ke ruang tamu sambil menjinjing kasar sebuah tas kain sederhana berwarna krem milik Mahira.

   ​Brak!

   ​Bu Rani mencampakkan tas kain itu ke atas meja kaca dengan kasar. Dengan gerakan penuh dendam, ia merenggut ritsleting tas tersebut hingga terbuka lebar, lalu menumpahkan seluruh isinya ke atas meja.

   Beberapa potong make-up murah, dompet usang, ikat rambut, dan sebuah kotak kecil berbahan kulit warna merah menggelinding di atas meja kaca.

   ​"Lihat ini! Apa Ibu bilang!" teriak Bu Rani penuh kemenangan seraya menyambar kotak perhiasan merah tersebut.

   ​Jantung Ziko berdegup kencang saat melihat ibunya membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah cincin emas putih dengan mata berlian zamrud hijau yang berkilau mewah tergeletak dengan sempurna. Itu adalah cincin mertuanya yang hilang.

   ​"Ziko! Lihat istrimu ini! Cincin Ibu benar-benar ada di dalam tasnya!" pekik Bu Rani histeris, menyodorkan cincin itu ke depan wajah Ziko. "Dia benar-benar mencuri, Ziko! Kurang ajar sekali kamu, Hira. Sudah menumpang di rumah ini, diberi makan, sekarang malah berani merampok harta mertua sendiri."

   ​Clarissa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah kecewa yang dibuat-buat. "Mbak Hira... ya ampun. Saya tidak menyangka Mbak senekat ini. Uang bulanan dari Ziko apa masih kurang sampai Mbak harus mengambil perhiasan Tante Rani?"

   ​Ziko menatap perhiasan itu, lalu mengalihkan pandangannya pada Mahira dengan mata yang berkilat murka. Seluruh harga dirinya sebagai pemimpin perusahaan seolah diinjak-injak karena memiliki seorang istri yang tertangkap basah mencuri di rumahnya sendiri.

   ​"Hira! Mau mengelak apa lagi kamu?" bentak Ziko keras, suaranya menggema hebat di seluruh penjuru ruangan. Pria itu melangkah maju, mencengkeram bahu Mahira dengan kasar. "Buktinya sudah ada di depan mataku sendiri. Kamu benar-benar memalukan. Aku tidak pernah menyangka kalau wanita yang kunikahi ternyata bermental serendah ini."

   ​Mahira menatap cengkeraman tangan Ziko di bahunya, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Di dalam matanya yang jernih, tidak ada setitik pun air mata atau rasa gentar. Yang ada hanyalah rasa kecewa yang kini telah berubah menjadi dingin yang beku.

   ​Ia tahu betul siapa yang menaruh cincin itu di dalam tasnya. Tuduhan palsu ini terlalu rapi dan kekanak-kanakan, sebuah jebakan murahan yang sengaja dirancang oleh Bu Rani dan Clarissa untuk menyingkirkannya.

   Namun, yang paling memicu rasa mati rasanya adalah sikap Ziko, suaminya sendiri yang langsung menghakiminya tanpa ada niat untuk mendengarkan atau menyelidiki lebih lanjut.

   ​"Mas Ziko," ucap Mahira dengan suara yang sangat tenang, dan datar namun penuh getaran dingin yang mematikan. "Jika Mas lebih memilih mempercayai apa yang sengaja diletakkan di depan mata Mas tanpa mau melihat siapa yang menaruhnya di sana... maka silakan hukum saya atas kesalahan yang tidak pernah saya lakukan."

   ​"Kamu masih berani mengelak, Hira?" geram Ziko, matanya memerah menahan amarah karena sikap Mahira yang sama sekali tidak memohon ampun atau menangis di kakinya seperti yang ia bayangkan.

   ​Bu Rani berdecak kesal seraya memakai kembali cincinnya. "Ziko! Jangan beri dia ampun. Wanita seperti ini harus diberi pelajaran agar tahu diri."

   ​Mahira melepaskan cengkeraman tangan Ziko dari bahunya dengan gerakan yang sangat halus namun tegas. Ia merapikan pakaian sederhananya, lalu menatap tiga orang di hadapannya satu per satu dengan senyuman paling tipis yang terukir di bibirnya yang pucat.

   ​Hari ini, di ruang tamu ini, di depan suaminya yang buta oleh gengsi, harga diri Mahira sebagai seorang istri telah resmi dihancurkan hingga ke titik nadir. Namun, di balik kehancuran itu, Mahira tahu bahwa benteng pertahanannya yang sebenarnya baru saja selesai dibangun.

   ​'Nikmatilah kemenangan palsu kalian pagi ini,' batin Mahira, menatap Clarissa yang tersenyum puas di sudut ruangan. 'Karena setiap hinaan yang kuterima hari ini, akan menjadi surat tuntutan paling mengerikan yang akan meruntuhkan seluruh hidup kalian besok pagi.'

Jangan lupa dukungannya ya... Dan follow akun saya. 🙏🙏

1
Sri Widiyarti
lanjut kak ga sabaran liat ziko jatuh...
Sri Rahayu
akan kah kel Clarisa.menolong.Ziko.sprt janji.Clarisa....ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Ma Em
Mahira sdh bertindak dan tdk lama lagi Ziko dan Bu Rani akan jadi gelandangan .
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Widiyarti
semoga lekas bangkrut ziko ...
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!