NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Kemurkaan Klan Pil Emas

Hutan Pinus Roh yang sunyi kini hanya menyisakan bau anyir darah dan rintihan putus asa.

Tuan Muda Yan Qi, pewaris kebanggaan dari Klan Pil Emas, tergeletak di atas lumpur yang bercampur dengan darah para tetua pelindungnya. Dantiannya telah hancur menjadi debu ketiadaan. Kultivasinya yang dibangun dari ribuan pil surgawi lenyap dalam satu jentikan jari. Ia menatap ke arah langit malam yang diterangi rona ungu dari Kota Awan Ungu, air matanya mengalir membasahi wajahnya yang berdebu.

Tidak jauh dari sana, Zeng Niu dan Zhao Ying telah lama melangkah pergi, seolah membuang sampah yang tak lagi bernilai.

"Kau membiarkannya hidup," ucap Zhao Ying dengan nada datar saat mereka berjalan menembus lebatnya hutan, menuju titik di mana mereka menyembunyikan Perahu Giok Naga. "Di Langit Selatan, Klan Pil Emas memiliki koneksi dengan banyak monster tua tingkat Ascendant dan bahkan beberapa ahli Nirvana. Mereka pasti akan memburumu sampai ke ujung dunia."

Zeng Niu menguap pelan, merentangkan kedua tangannya di belakang kepala.

"Ying'er, jika aku membunuhnya sekarang, Klan Pil Emas mungkin butuh waktu lama untuk menyadari siapa pelakunya. Tapi dengan membiarkannya hidup sebagai saksi mata yang cacat... dia akan langsung menangis pada kakek dan ayahnya," senyum Zeng Niu mengembang di bawah bayang-bayang pohon pinus. "Dengan begitu, mereka akan datang mengantarkan harta dan cincin penyimpanan mereka langsung ke hadapanku. Bukankah itu sangat efisien?"

Zhao Ying menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun terukir di bibirnya. Pola pikir pemuda ini benar-benar melanggar nalar kultivator ortodoks. Bagi Zeng Niu, musuh bukanlah ancaman, melainkan perbendaharaan berjalan.

Mereka menaiki Perahu Giok Naga, mengaktifkan formasi penyembunyi aura tingkat tinggi, dan melesat membelah awan menuju perbatasan timur Langit Selatan, mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Lempengan Tembaga Kunci Istana Naga Primal.

Tiga Jam Kemudian — Aula Utama Klan Pil Emas

PRANG!

Sebuah meja giok putih abadi yang bernilai jutaan batu roh hancur berkeping-keping akibat hantaman sebuah telapak tangan.

Di atas singgasana yang dihiasi oleh ukiran sembilan naga api, duduk Patriark Yan Zun, penguasa tertinggi Klan Pil Emas. Kultivasinya berada di ranah Ascendant Tahap Akhir, sebuah eksistensi yang cukup untuk membuat gunung-gunung di Langit Selatan bergetar hanya dengan helaan napasnya.

Di bawah singgasana, Yan Qi terbaring di atas tandu es spiritual. Wajahnya sepucat mayat, dan fluktuasi Qi di tubuhnya telah benar-benar kosong. Beberapa alkemis tingkat tinggi klan sedang berkeringat dingin mencoba menstabilkan meridiannya yang hancur, namun Dantian yang dihancurkan oleh Niat Ketiadaan tidak bisa disembuhkan oleh pil mana pun.

"Anakku... pewarisku..." suara Patriark Yan Zun bergetar, Niat Membunuhnya yang pekat mengubah suhu di dalam aula raksasa itu menjadi seperti tungku peleburan baja.

"Siapa yang berani melakukan ini?! Apakah itu orang-orang dari Lembah Racun Barat?! Atau monster tua dari Laut Abadi Utara?!" raung Sang Patriark.

"P-Patriark..." seorang tetua intelijen melangkah maju dengan tubuh gemetar, berlutut hingga dahinya menyentuh lantai. "Berdasarkan laporan dari mata-mata kita di Paviliun Harta Semesta, pelakunya adalah seorang pemuda berjubah hitam dan seorang wanita bergaun putih. Mereka... mereka tidak memiliki latar belakang klan di Langit Selatan. Logat mereka berasal dari Benua Utara."

"Benua Utara?!" Yan Zun melotot, matanya memancarkan api sungguhan. "Wilayah tandus buangan itu?! Seekor semut dari Utara berani menghancurkan akar klan kita?!"

"M-Mereka bukan kultivator biasa, Patriark," tetua itu menelan ludah. "Pemuda itu memiliki Plakat Tamu Kehormatan Emas dari Istana Pusat, dan di pelelangan, dia mengeluarkan Jantung Naga Bumi tingkat Ascendant dan sebuah Gulungan Teknik Surga Puncak! Kekayaannya melampaui separuh dari perbendaharaan kita!"

Mendengar laporan itu, kemurkaan di wajah Yan Zun perlahan bercampur dengan ketamakan yang dalam.

Seorang pemuda tanpa latar belakang klan lokal, namun membawa kekayaan yang menentang surga? Ini bukan sekadar ajang balas dendam lagi; ini adalah peluang untuk merampas harta yang bisa mendorong Klan Pil Emas ke puncak kejayaan!

"Kirim Tiga Puluh Enam Bayangan Pil Berdarah," titah Yan Zun dingin. Suaranya tidak lagi menggelegar, melainkan tajam bagai pisau jagal. "Lacak jejak Qi mereka. Jangan biarkan klan lain mencium bau kekayaan ini. Aku ingin pemuda itu dibawa ke hadapanku dalam keadaan hidup. Aku akan menjadikannya bahan utama di Tungku Pemurnian Jiwa Seribu Hari!"

Mesin pembunuh dari klan alkemis terbesar itu pun mulai bergerak ke dalam bayang-bayang.

Dua Minggu Kemudian — Perbatasan Timur Langit Selatan

Perjalanan menuju titik koordinat Istana Naga Primal memakan waktu yang tidak sebentar. Semakin jauh Perahu Giok Naga melesat ke arah timur, Hukum Dunia di sekeliling mereka terasa semakin kacau.

Awan putih yang biasanya damai kini berubah menjadi pusaran badai kosmik berwarna ungu gelap. Sesekali, retakan dimensi sebesar gunung terbuka di udara, mengeluarkan kilat hitam yang bisa membakar kultivator Nascent Soul menjadi abu dalam sekejap.

Di dalam kabin perahu, Zeng Niu sedang memegang Lempengan Tembaga berkarat itu. Setiap kali ia menyalurkan Qi dari Tulang Perak Asura-nya ke dalam lempengan tersebut, ukiran rasi bintang di atasnya akan bersinar keemasan, merespons hawa fisik murni yang melampaui batas fana.

"Istana Naga Primal adalah makam para penguasa fisik," suara Lei Ling bergema di Lautan Kesadarannya. "Naga-naga kuno tidak mengandalkan sihir atau hukum elemen; daging mereka sendiri adalah hukum. Dantianmu mungkin telah memiliki Benih Dunia, Niu, tetapi wadahmu tubuh fana ini harus ditingkatkan agar tidak meledak saat alam semestamu mulai terbentuk. Sumsum Naga Primal adalah kunci untuk menempa Tulang Emas Asura!"

Zeng Niu mengangguk pelan. Ia melangkah keluar dari kabin, berdiri di samping Zhao Ying yang sedang mengemudikan perahu.

Di depan mereka, pemandangan yang luar biasa menakjubkan dan mengerikan membentang luas.

Ruang hampa di ujung cakrawala tampak seperti cermin yang pecah. Di tengah retakan raksasa itu, melayang sebuah kota sementara yang dibangun dari tulang-belulang binatang raksasa sebesar benua. Tengkorak-tengkorak monster purba dirantai satu sama lain menggunakan baja astral, membentuk pelataran, paviliun, dan jembatan gantung di atas lautan kehampaan.

Ini adalah Kota Puing Naga, titik kumpul bagi para petualang, bandit, dan jenius dari berbagai penjuru alam semesta yang ingin mengadu nasib setiap kali retakan dimensi Istana Naga menampakkan dirinya.

"Tempat yang benar-benar tidak memiliki hukum," gumam Zhao Ying, merasakan fluktuasi ribuan kultivator dari berbagai benua yang berkumpul di sana. "Di sini, Plakat Kehormatan Emasmu tidak akan ada gunanya. Daging yang lemah adalah mangsa yang kuat."

"Justru di situlah letak kesenangannya," Zeng Niu menyeringai. Ia menyentuh cincinnya, dan Nisan Petir Asura beresonansi pelan, haus akan pertarungan.

Mereka menyembunyikan Perahu Giok Naga di pinggiran retakan dimensi, lalu melangkah di udara menuju gerbang masuk Kota Puing Naga. Pintu gerbang itu terbuat dari sepasang taring naga raksasa yang saling menyilang.

Begitu mereka melangkah masuk, aroma arak spiritual yang keras, bau keringat kultivator, dan Niat Membunuh dari segala penjuru menyambut mereka. Jalanan yang terbuat dari tulang rusuk monster purba itu dipenuhi oleh para penjaja informasi, penjual artefak pertahanan bekas, dan kultivator berwajah kejam yang memamerkan senjata mereka.

Zeng Niu menahan auranya hingga terlihat seperti Soul Transformation Awal, sementara Zhao Ying, menggunakan kerudung sutra es, menyembunyikan wajah dan fluktuasi Ascendant-nya. Mereka tampak seperti dua kultivator pengembara biasa.

Mereka memasuki sebuah kedai berlantai tiga yang dibangun di dalam rongga tengkorak naga laut. Papan namanya berbunyi: Kedai Angin Berdarah.

Suasana di dalam kedai sangat bising. Puluhan meja kayu dipenuhi oleh kultivator yang sedang menenggak arak dan bertukar kabar mengenai retakan dimensi.

Zeng Niu dan Zhao Ying mengambil meja kosong di sudut ruangan. Zeng Niu melemparkan sekeping batu roh tingkat menengah kepada pelayan tingkat Foundation Establishment yang mendekat dengan gemetar.

"Arak terkuatmu, sepiring daging paha serigala astral, dan informasi. Kapan retakan dimensi Istana Naga benar-benar terbuka?" tanya Zeng Niu tanpa basa-basi.

Pelayan itu menangkap batu roh tersebut dengan cepat, matanya melirik ke kiri dan ke kanan sebelum menjawab pelan. "Tuan, Anda datang di saat yang tepat. Berdasarkan ramalan para tetua formasi dari Klan Naga Banjir yang tiba kemarin, retakan itu akan stabil dalam tiga hari... tepat saat fenomena Bulan Kembar Berdarah sejajar."

Zeng Niu mengangguk, melempar satu batu roh lagi untuk menyuruh pelayan itu pergi.

Tiga hari. Waktu yang cukup untuk beristirahat.

Namun, di dunia kultivasi, ketenangan selalu menjadi barang mewah yang jarang bisa dinikmati.

BRAAAK!

Pintu masuk kedai ditendang hingga hancur berkeping-keping. Suara bising di dalam ruangan seketika hening.

Sepuluh kultivator berjubah sisik biru laut melangkah masuk dengan angkuh. Mereka memancarkan aura elemen air yang luar biasa mendominasi, dipenuhi oleh Niat Tirani yang merendahkan siapa pun di ruangan itu. Di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pemuda dengan tanduk naga biru kecil menonjol dari dahinya. Wajahnya tampan namun memancarkan kebuasan binatang buas.

Ia adalah Ao Kuang, Tuan Muda dari Klan Naga Banjir, salah satu klan penguasa Laut Abadi Utara yang sengaja datang ke perbatasan Langit Selatan demi warisan leluhurnya.

Kultivasi Ao Kuang berada di puncak Soul Transformation, namun darah naga banjir di dalam nadinya membuatnya mampu bertarung melawan Ascendant Awal.

Ao Kuang menyapukan pandangannya yang angkuh ke seluruh ruangan kedai. Ia mengerutkan hidungnya seolah mencium bau kotoran.

"Tempat ini bau lumpur," dengus Ao Kuang. Ia menunjuk ke arah sudut kedai yang memiliki pencahayaan paling baik dan letaknya paling strategis di dekat jendela tengkorak.

Secara kebetulan, itu adalah meja tempat Zeng Niu dan Zhao Ying sedang duduk.

"Kalian berdua. Berdiri dan menyingkir dari meja itu. Klan Naga Banjir akan menyewa seluruh lantai ini," perintah salah satu pengawal Ao Kuang dengan suara menggelegar, melepaskan tekanan Soul Transformation Tahap Akhir ke arah meja Zeng Niu.

Sebagian besar kultivator di dalam kedai langsung menunduk, buru-buru meletakkan batu roh di atas meja dan menyelinap keluar. Tidak ada yang ingin mencari masalah dengan Klan Naga Banjir, makhluk yang mengklaim diri sebagai keturunan langsung dari Naga Primal.

Namun, di sudut ruangan, Zeng Niu bahkan tidak mengangkat kepalanya. Ia dengan tenang menuangkan arak ke dalam cawannya, menyesapnya perlahan, lalu menggigit sepotong daging serigala astral yang baru saja disajikan.

"Arak ini lumayan," komentar Zeng Niu pada Zhao Ying, sepenuhnya mengabaikan sepuluh pria bersisik biru di depannya. "Tapi dagingnya agak keras. Mungkin aku harus mencari daging naga kadal untuk camilan nanti."

Mendengar hinaan "naga kadal", mata Ao Kuang langsung menyala dengan api biru. Di dunia fana, menyebut keturunan naga banjir sebagai kadal adalah tabu tertinggi yang dibayar dengan pemusnahan sembilan keturunan!

"Kau punya nyali besar, Serangga Manusia," geram Ao Kuang, melangkah maju. Lantai tulang di bawah kakinya retak akibat tekanan fisik naga miliknya. "Biar kulihat, apakah dagingmu lebih keras dari mulutmu!"

Pengawal Ao Kuang yang berada di Soul Transformation Tahap Akhir tidak menunggu tuannya turun tangan. Ia melesat seperti kilat, tangan kanannya berubah menjadi cakar naga bersisik tajam yang membelah udara, mengarah tepat ke leher Zeng Niu.

Zhao Ying tidak bergerak, ia hanya memegang cangkir tehnya. Ia tahu betul, mengganggu Sang Algojo saat sedang makan adalah ide terburuk di alam semesta.

Zeng Niu tidak mencabut pedangnya. Ia bahkan tidak berdiri.

Ia hanya meletakkan cawan araknya ke atas meja kayu dengan satu bantingan pelan.

TAAAAK!

Seiring dengan bunyi ketukan cawan itu, Tulang Perak Asura Zeng Niu beresonansi dengan Benih Dunia di Dantiannya. Ia tidak mengeluarkan Qi elemen, melainkan memadatkan Kekuatan Fisik Murni dari ruang di sekitarnya dan membebankannya ke udara!

BOOOOOOOOOOOOOOOOOOM!

Sebuah tekanan gravitasi yang beratnya setara dengan sepuluh ribu gunung kosmik meledak secara lokal dalam radius lima tombak dari meja Zeng Niu.

Pengawal bersisik naga yang sedang melesat di udara itu tiba-tiba membeku. Matanya melotot ngeri. Tulang-tulangnya berderak serentak seolah dihantam oleh palu raksasa dari langit.

"U-UAAAAAAK!"

Dengan bunyi tulang patah yang memuakkan, pengawal tingkat Soul Transformation Akhir itu dipaksa jatuh ke lantai! Hantaman itu begitu keras hingga lantai tulang rusuk kedai hancur berantakan. Ia tertelungkup, darah segar memancar dari pori-pori sisiknya, tubuhnya menempel di tanah tak mampu menggerakkan satu jari pun di bawah tekanan gravitasi Zeng Niu.

Seluruh kedai menjadi sunyi senyap. Kengerian yang mematikan mencekik tenggorokan setiap orang.

Zeng Niu perlahan mengangkat wajahnya, menatap Ao Kuang yang kini membeku di tempat, kaki naga pemuda itu sedikit gemetar secara instingtif.

"Kau mengganggu waktu makanku, Tuan Muda Kadal Air," ucap Zeng Niu pelan, Niat Asuranya membuat udara di dalam kedai beriak seperti lautan darah. "Sekarang... merangkaklah keluar dari sini sebelum aku memutuskan untuk merebus tandukmu."

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!