NovelToon NovelToon
PARIS NOIR

PARIS NOIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan alternatif / Komedi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Yossi anugrah

Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.

Entahlah.

Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.

Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.

Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.

Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...

Bienvenue à Paris.

Aku akan menjadi pemandu kalian.

Oh, dan satu lagi...

Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Le Roi des Ombres

Raja dari Bayangan

Lorong bawah tanah itu mendadak terasa lebih sempit.

Lebih dingin.

Lebih sunyi.

Lucien Vallois berdiri beberapa meter di depanku.

Tidak ada senjata di tangannya.

Hanya sebuah tongkat kayu hitam dengan kepala berbentuk rubah.

Namun...

Entah kenapa.

Tongkat itu terasa lebih mengancam daripada pistol Henri.

Tak seorang pun bergerak.

Tak seorang pun berbicara.

Yang terdengar hanya tetesan air dari langit-langit batu.

Tuk...

Tuk...

Tuk...

Lucien tersenyum tipis.

"Aku membayangkan pertemuan pertama kita akan lebih menyenangkan."

Aku menatapnya datar.

"Kalau aku sih..."

"...membayangkan tidak pernah bertemu denganmu."

Léo yang berdiri di belakangku berbisik pelan.

"Masih sempat bercanda?"

Aku mengangkat bahu.

"Kalau berhenti bercanda..."

"...berarti aku benar-benar takut."

── Maël kepada kalian ──

Kalian pernah bertemu seseorang...

Yang bahkan sebelum berbicara...

Sudah membuat ruangan terasa lebih dingin?

Aku baru pertama kali.

Dan aku tidak suka.

Sama sekali.

── Kembali ke cerita ──

Lucien memperhatikanku cukup lama.

Tatapannya aneh.

Bukan seperti seorang pemburu melihat mangsa.

Melainkan...

Seorang kolektor yang akhirnya menemukan benda yang telah lama hilang.

"Kau mirip ibumu."

katanya pelan.

Aku mengepalkan tangan.

"Jangan sebut dia."

Lucien mengangguk kecil.

"Temperamenmu..."

"...justru mirip ayahmu."

Aku langsung mengangkat kepala.

"Jangan."

kataku pelan.

"Main teka-teki lagi."

Lucien tersenyum.

"Bagus."

"Kau tidak mudah dipancing."

Henri melangkah maju.

"Cukup."

Lucien melirik Henri sekilas.

"Masih hidup rupanya."

"Sayangnya."

"Kurasa kau juga berpikir begitu tentangku."

Henri tidak menjawab.

Jari telunjuknya tetap berada di pelatuk revolver.

Lucien mulai berjalan perlahan.

Tongkatnya mengetuk lantai batu.

Tok...

Tok...

Tok...

Ia berhenti tepat di depan sebuah dinding tua.

Tangannya mengusap batu kapur yang lembap.

"Paris..."

katanya.

"...dibangun di atas jutaan tulang."

"Orang-orang berjalan di atas sejarah."

"Tanpa pernah melihatnya."

Ia menoleh kepadaku.

"Persis sepertimu."

Aku mengernyit.

"Apa maksudmu?"

"Kau hidup..."

"...di atas kebenaran."

"Tapi tidak pernah melihatnya."

Aku mendengus.

"Kalau memang tahu semuanya..."

"...kenapa tidak sekalian cerita?"

Lucien tertawa pelan.

"Tidak."

"Kebenaran..."

"...harus dicari."

Pierre mulai kehilangan kesabaran.

"Aku bosan."

gumamnya.

"Boleh kupukul?"

Henri langsung menggeleng.

"Jangan."

Lucien malah tertawa.

"Pierre."

"Masih saja menyelesaikan masalah dengan tinju."

Pierre menyeringai.

"Karena itu selalu berhasil."

Tiba-tiba...

Lucien mengeluarkan sesuatu dari dalam mantelnya.

Sebuah jam saku tua.

Rantai emasnya sudah kusam.

Ia melemparkannya ke arahku.

Aku menangkapnya secara refleks.

Jam itu terasa berat.

Di bagian belakangnya terdapat ukiran kecil.

M.D.

Aku membaliknya beberapa kali.

Lalu...

Klik.

Jam itu terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah foto kecil.

Seorang perempuan.

Ibuku.

Ia sedang tertawa.

Senyum yang sama seperti di foto toko buku.

Namun kali ini...

Di sampingnya berdiri seorang pria yang wajahnya sengaja disobek dari foto.

Yang tersisa hanya bahunya.

Dan tangan yang sedang menggenggam tangan ibuku.

Aku mengangkat kepala.

"Ini..."

"...dari mana kau mendapatkannya?"

Lucien menjawab tenang.

"Foto itu..."

"...milik ibumu."

Henri langsung berteriak.

"JANGAN DENGARKAN DIA!"

Lucien tersenyum tipis.

"Lucu."

"Kau lebih takut pada kebenaran..."

"...daripada aku."

── Maël kepada kalian ──

Semakin banyak orang melarangku mendengar sesuatu...

Semakin besar rasa penasaranku.

Mungkin itu sebabnya...

Aku sering mendapat masalah.

Tapi kalau tidak penasaran...

Aku bukan Maël.

── Kembali ke cerita ──

Lucien menghela napas panjang.

"Aku tidak datang untuk membunuhmu."

Aku langsung tertawa.

"Bagus."

"Karena aku juga belum ingin mati."

"Tidak."

"Kau salah paham."

Lucien menatapku lurus.

"Kalau aku ingin membunuhmu..."

"...kau sudah tidak bernapas sejak lima belas tahun lalu."

Kalimat itu membuat lorong kembali sunyi.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

"Apa maksudmu?"

Lucien menatap jam saku di tanganku.

"Orang yang membawamu keluar dari kebakaran..."

"...bukan hanya Marcel."

Marcel membeku.

Henri ikut menegang.

Étienne memejamkan mata.

Aku menoleh kepada mereka satu per satu.

"Kalian..."

"...tahu?"

Tak ada jawaban.

Lucien melanjutkan.

"Marcel membawamu pergi."

"Tapi..."

"...akulah yang membuka jalan agar dia bisa lolos."

Aku langsung menggeleng.

"Itu bohong."

"Benarkah?"

Lucien menatap Marcel.

"Tanyakan padanya."

Semua mata kini tertuju pada Marcel.

Pria tua itu menundukkan kepala.

Tangannya gemetar.

Lama sekali ia tidak berbicara.

Sampai akhirnya...

Ia berbisik.

"...dia benar."

Jantungku seperti berhenti.

"Apa?"

"Lucien..."

"...menyelamatkan kita malam itu."

Aku mundur selangkah.

Duniaku kembali runtuh.

Bagaimana mungkin?

Orang yang selama ini disebut sebagai dalang semua kekacauan...

Pernah menyelamatkanku?

Lucien tersenyum tipis.

"Melihat wajahmu sekarang..."

"...persis seperti ibumu dulu."

Aku mengepalkan tangan.

"Kenapa?"

teriakku.

"KENAPA MENYELAMATKANKU KALAU SEKARANG KAU MENGEJARKU?"

Suara teriakanku menggema di lorong-lorong batu.

Lucien tidak langsung menjawab.

Ia memejamkan mata sejenak.

Lalu berkata dengan suara yang sangat tenang.

"Karena..."

"...aku membuat sebuah janji."

"Janji kepada siapa?"

Ia menatapku.

"Tidak."

"Bukan kepadaku."

"Bukan kepada ibumu."

"Lalu?"

Lucien tersenyum tipis.

"Kepada ayahmu."

Lorong itu kembali sunyi.

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Aku menatap Lucien tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya...

Nama ayahku benar-benar muncul.

Bukan sekadar bayangan.

Bukan sekadar teka-teki.

Melainkan seseorang...

Yang tampaknya masih menjadi pusat dari semua rahasia ini.

Namun sebelum aku sempat bertanya lebih jauh...

Terdengar suara ledakan dari lorong belakang.

BOOOM!

Debu dan batu berjatuhan dari langit-langit.

Henri langsung berteriak,

"Semua tiarap!"

Lorong bergetar hebat.

Dan di tengah kepulan debu...

Lucien menghilang.

Yang tertinggal hanya tongkat kayunya.

Dan sebuah kalimat yang masih menggema di telingaku.

"Kalau ingin menemukan ayahmu... berhentilah mencari musuh."

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku 🤍 di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka 💙
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!