NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pancingan

"Apa!"

Cakra meremas ponselnya erat-erat, rahangnya mengeras. "Clarisa, kamu serius?"

"Iya, Dad! Lyn balik lagi ke sekolahku!" suara Clarisa terdengar kesal di ujung telepon. "Dad, aku nggak mau dia jadi masalah buat aku lagi. Lenyapkan dia, Dad!"

Cakra terdiam sejenak, menatap keluar jendela mansionnya yang megah, matanya menyipit penuh perhitungan. "Tenang, Sayang."

"Tenang gimana, Dad?! Hidupku udah nyaman tanpa dia!" Clarisa membalas cepat, suaranya semakin meninggi. "Dan... aku nggak mau ketahuan lagi soal... soal kejadian itu!"

"Sst, jangan bicara terlalu keras," Cakra memperingatkan, meski nada suaranya tetap tenang. "Kamu di sekolah, kan? Nanti ada yang dengar."

Clarisa menghela napas, mencoba menahan diri, meski amarahnya masih jelas terdengar. "Iya, Dad. Tapi Daddy harus lakukan sesuatu. Sekarang!"

"Daddy sudah punya rencana," ucap Cakra pelan, senyum tipis nan dingin mulai terukir di bibirnya yang masih menyisakan bekas luka. "Kamu tenang saja. Mereka pikir bisa lolos begitu saja setelah apa yang mereka lakukan pada Daddy."

"Beneran, Dad?" nada Clarisa mulai sedikit tenang, meski masih menyisakan kekhawatiran.

"Percaya sama Daddy," lanjut Cakra tegas. "Ibu dan anak itu akan merasakan akibatnya telah bermain dengan Cakra Narendra."

Clarisa terdiam sejenak di ujung telepon, sebelum akhirnya bertanya. "Apa yang Daddy rencanakan?"

Cakra tersenyum miring. "Belum saatnya kamu tahu, Sayang. Yang penting, fokus dulu di sekolah. Biar Daddy yang urus sisanya dari sini."

"Baik, Dad," Clarisa akhirnya mengalah, meski nada suaranya masih menyimpan kegelisahan. "Tapi, jangan lama-lama, ya."

"Nggak akan lama," Cakra menjawab dingin, matanya menerawang jauh keluar jendela. "Daddy janji, mereka akan menyesal telah berani mempermainkan keluarga kita."

Panggilan terputus. Cakra menatap ponselnya sejenak, sebelum akhirnya meletakkannya di meja dengan tenang.

"Bimo," panggilnya, suaranya kembali dingin dan penuh perhitungan.

Bimo yang berdiri tak jauh dari sana segera mendekat. "Ya, Tuan?"

"Kamu sudah mengumpulkan apa yang aku perintahkan?" tanya Cakra, suaranya penuh perhitungan.

Bimo mengangguk mantap. "Sudah, Tuan. Semuanya sesuai perintah Anda. Tinggal menunggu aba-aba dari Anda saja."

Cakra tersenyum puas, matanya berkilat licik. "Bagus. Lakukan malam ini."

Bimo mengangguk hormat.

"Baik, Tuan."

••••

"Al, gue ada info baru untuk lo."

Dimas menghampiri Alaric yang sibuk main ponsel.

Alaric hanya menatap sekilas. "Apa?"

"Lyn kembali ke sekolah!" seru Dimas, nadanya penuh semangat.

Ponsel di tangan Alaric seketika terlupakan. "Serius lo?"

"Serius! Gue lihat sendiri tadi dia masuk kelasnya!" jawab Dimas mantap.

Tanpa pikir panjang, Alaric langsung bangkit, melangkah cepat menuju kelas Lyn. Namun baru beberapa langkah melewati taman sekolah, matanya menangkap sosok yang selama ini ia cari-cari, Lyn duduk sendirian di bangku taman, sibuk membaca buku dengan tenang.

Jantung Alaric berdegup kencang. Tanpa ragu, ia langsung menghampiri.

"Lyn?"

Gadis itu mendongak, menatap Alaric dengan ekspresi tenang.

"Alaric," ucap Lyn, menutup bukunya perlahan.

"Lo ke mana aja, Lyn?" Alaric duduk di sebelahnya.

"Gue baik-baik aja," jawab Lyn singkat.

Alaric tertegun. Nggak biasanya Lyn pakai "lo-gue". Dia selalu bicara dengan sopan dan lembut.

"Terus, kenapa lo baru masuk sekolah hari ini?"

"Panjang ceritanya, Al. Gue nggak bisa jelasin."

Alaric mengangguk, meski rasa penasaran menggantung di kepalanya. Keheningan pun menyambut mereka, hanya suara angin yang menyapu dedaunan di taman sekolah.

"Lyn... Clarisa nggak ngapa-ngapain lo, kan?" Alaric akhirnya bersuara, memecah kesunyian.

"Kenapa lo nanya gitu?" Alis Lyn terangkat sebelah, menatap Alaric penuh selidik.

"Clarisa sering bully lo. Bisa aja lo nggak masuk sekolah gara-gara dia."

Lyn tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar getir dan jauh dari kesan bahagia. Ia menatap lurus ke depan, ke arah kolam kecil di tengah taman, tanpa menjawab.

Alaric menatapnya lekat, mencoba membaca ekspresi yang begitu sulit ditebak itu. Ada sesuatu yang berbeda dari Lyn, bukan gadis yang dulu ia kenal.

"Lyn, waktu malam itu gue pernah kirim lo pesan. Lo ingat?" tanya Alaric, suaranya melembut.

"Hmm," Lyn hanya menjawab dengan deheman singkat.

Dan malam itu, kehancuran gue dimulai, batinnya pahit, meski wajahnya tetap terlihat datar.

"Lyn, sebenarnya gue nggak pernah kirim pesan itu ke lo," lanjut Alaric, nadanya lebih serius. "Ponsel gue dirampas, terus dipakai buat ngirim pesan ke lo."

Lyn bersandar pada kursi taman, lalu menoleh. "Iya, gue tahu."

Alaric sedikit terkejut. "Lo tahu?"

Lyn mengangguk pelan. "Iya."

"Terus siapa pelakunya, Lyn? Bisa-bisanya dia ngirim pesan ke lo pakai akun gue."

Alaric menghela napas berat, rasa bersalah jelas terpancar di wajahnya. "Jujur, malam itu gue nggak berdaya ngadepin beberapa preman. Maaf ya, Lyn. Waktu itu gue mau minta maaf ke lo, tapi lo nggak pernah datang lagi ke sekolah. Gue sampai panik nyariin lo ke mana-mana."

Lyn tak langsung menjawab. Matanya tanpa sengaja menangkap sosok Clarisa yang berdiri tak jauh dari sana, menatap mereka berdua dengan wajah penuh amarah yang tak bisa disembunyikan.

Sudut bibir Lyn terangkat, membentuk senyum tipis nan miring.

Ia menepuk bahu Alaric pelan, lalu berbicara dengan nada yang tiba-tiba berubah lembut. "Gue maafin lo," ucapnya manis. "Masalah itu nggak usah dibahas lagi."

Deg!

Alaric tertegun. Bukan kata-kata yang membuat ia terkejut, tapi nada bicara Lyn yang begitu berbede, lembut, manis, sampai terasa asing. Ia ingin membalas, tapi lidahnya terasa kaku, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

Lyn beranjak dari bangku, tangannya terulur mengambil sehelai daun yang menempel di rambut Alaric. "Ada daun di kepala lo," ucapnya santai, sambil melirik ke arah Clarisa yang masih menatap mereka dari kejauhan, dengan senyum meremehkan yang jelas ditunjukkan untuk gadis itu.

"Gue duluan, Al."

Tanpa menunggu jawaban, Lyn melangkah pergi, meninggalkan taman dan Alaric masih terpaku di tempatnya, bingung dengan perubahan Lyn yang begitu tiba-tiba.

Sementara itu, di posisi Clarisa, tangannya mengepal erat menyaksikan interaksi itu, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah.

"Sialan," desisnya pelan, matanya menyala penuh kebencian. "Dia semakin berani."

1
Anne Rukpaida
smgat lyn, balas perbuatan mreka satu persatu 🔥
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!