Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Dia melihat tembok gudang yang hancur berlubang.
Dia melihat tubuh monster Kevin yang terkapar penuh darah hitam di tumpukan seng berkarat.
Dan dia melihat seorang pria tua mengerikan memuntahkan darah setelah dihantam oleh Bayu.
Di tengah semua kehancuran dan kekerasan brutal itu, Bayu berdiri tegak tanpa luka sedikit pun, memancarkan aura dewa perang yang kejam dan tak tertandingi.
"Ba-bayu..." panggil Natasha dengan suara sangat lirih, nyaris seperti bisikan putus asa.
Gadis itu terlalu takut untuk melarikan diri, kakinya benar-benar lumpuh oleh teror dan pesona kelam yang dipancarkan Bayu saat ini.
Melihat kehadiran Natasha, hawa membunuh di mata Bayu perlahan memudar.
Cahaya hijau di telapak tangannya ditarik kembali ke dalam giok, mengembalikan suhu udara di sekitar mereka menjadi normal.
Bayu mengabaikan Ki Darmo yang sudah sekarat di tanah, lalu membalikkan badannya dan berjalan perlahan mendekati gadis yang sedang ketakutan itu.
Tap. Tap. Tap.
Setiap langkah Bayu membuat jantung Natasha berdegup jutaan kali lebih cepat.
Gadis itu menyandarkan punggungnya ke dinding sekolah yang dingin, tidak ada lagi jalan untuk mundur.
Bayu akhirnya berhenti tepat di depan Natasha, mengurung tubuh gadis itu dengan menempelkan telapak tangannya ke dinding di samping kepala Natasha.
Aroma maskulin Bayu yang kini bercampur dengan bau keringat dan sisa energi panas langsung merangsek masuk ke rongga pernapasan Natasha.
Aura pemikat giok merespons gejolak emosi di sekitar mereka, meledak sepuluh kali lebih kuat dan menghantam kewarasan Natasha tanpa ampun.
Rasa takut yang tadi menguasai pikiran gadis itu mendadak menguap, digantikan oleh rasa aman yang aneh dan gairah yang membakar.
"Kenapa kau mengikutiku ke tempat kotor ini, Natasha?" bisik Bayu dengan suara rendah dan serak, napas hangatnya menerpa wajah gadis tersebut.
Natasha menelan ludah, matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam mata Bayu yang dalam dan menghipnotis.
"Aku... aku mencarimu," jawab Natasha terbata-bata, suaranya bergetar menahan tangis.
"Aku takut Kevin melakukan sesuatu yang buruk padamu... aku mengkhawatirkanmu, Bayu."
Pengakuan jujur itu meluncur begitu saja dari bibir Natasha, menghancurkan seluruh dinding gengsi dan kesombongan yang selama ini dia bangun tinggi-tinggi.
Bayu tersenyum lembut, senyum yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun sejak dia mendapatkan kekuatan ajaib ini.
Tangan kiri Bayu terulur, ibu jarinya mengusap lembut air mata yang menetes di pipi mulus gadis primadona tersebut.
Sentuhan hangat dari kulit Bayu membuat tubuh Natasha langsung meleleh.
Lutut gadis itu kehilangan tenaga, memaksanya untuk menjatuhkan diri ke pelukan Bayu agar tidak ambruk ke tanah.
Grep.
Natasha melingkarkan kedua lengannya erat-erat di pinggang Bayu, membenamkan wajah cantiknya ke dada bidang pemuda itu.
Gadis itu menangis sesenggukan, meluapkan seluruh emosi, rasa takut, dan rasa cinta yang selama ini dia sangkal mati-matian.
Bayu membalas pelukan itu dengan dominan, tangan besarnya membelai rambut panjang Natasha dengan gerakan menenangkan.
"Kau melihat hal yang tidak seharusnya kau lihat hari ini, Tuan Putri," ucap Bayu pelan.
"Tapi sekarang kau tahu, tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menyakitiku, dan aku bisa menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh milikku."
Natasha mendongak, menatap rahang tegas Bayu dari jarak yang sangat dekat.
"Milikmu?" ulang Natasha dengan napas memburu, jantungnya berdebar gila mendengar kata-kata posesif tersebut.
Bayu menundukkan wajahnya, menatap bibir merah Natasha yang bergetar mengundang.
"Mulai detik ini, kau adalah milikku, Natasha. Seluruh jiwa dan tubuhmu, gengsimu, semuanya berada di bawah kendaliku."
Tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk berpikir, Bayu langsung meraup bibir Natasha dalam sebuah ciuman yang sangat dalam dan posesif.
Mmmhhh!
Mata Natasha terbelalak sesaat sebelum akhirnya terpejam rapat.
Ciuman itu terasa sangat panas dan menuntut, seolah Bayu sedang menandai kepemilikannya atas diri gadis tersebut.
Natasha membalas ciuman itu dengan rakus, lidahnya melilit lidah Bayu dengan keputusasaan yang memabukkan.
Dinding gengsi anak orang kaya itu telah hancur sepenuhnya, berubah menjadi kepasrahan mutlak kepada pria yang baru saja dia lihat menghancurkan dua monster.
Tangan Bayu turun menyusuri punggung Natasha, meremas pelan pinggul gadis itu dan menariknya agar semakin menempel erat ke tubuhnya.
Sensasi panas yang luar biasa meledak di perut bawah Natasha.
Sesuatu yang sangat basah dan hangat merembes deras membasahi pakaian dalamnya, reaksi alami tubuhnya yang tidak bisa menahan gairah dominan dari Bayu.
Natasha mengerang tertahan di sela-sela ciuman mereka, kakinya tanpa sadar menggesek paha Bayu untuk mencari kelegaan dari rasa kosong yang menyiksa.
"Bayu... aku sudah tidak tahan... tubuhku panas sekali," racau Natasha tanpa sadar, tidak peduli lagi bahwa mereka sedang berpelukan di dekat lokasi pertarungan berdarah.
Bayu melepaskan ciumannya secara perlahan, menatap wajah Natasha yang kini sudah sepenuhnya memerah dan dibanjiri keringat gairah.
Dia mengusap bibir gadis itu yang membengkak akibat lumatannya.
"Tahan dirimu, Tuan Putri. Tempat ini terlalu kotor untuk menuntaskan hasratmu," bisik Bayu sambil tersenyum menyeringai.
Natasha menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di dada Bayu, menyadari betapa murahannya tubuhnya merespons pemuda ini.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Bayu dengan nada memerintah yang lembut namun mutlak.
"Lupakan semua yang kau lihat di halaman ini hari ini."
"Pulanglah dengan sopirmu, persiapkan dirimu untuk acara kelulusan minggu depan, dan jangan ceritakan hal ini kepada kakekmu."
Natasha mengangguk patuh di dada Bayu, tidak ada niat sedikit pun di hatinya untuk membantah kata-kata pemuda itu.
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Natasha pelan, melirik takut-takut ke arah tubuh Kevin dan Ki Darmo.
"Aku yang akan membersihkan sampah-sampah ini, kau tidak perlu memikirkan hal-hal kotor," jawab Bayu menenangkan.
Bayu mengecup kening Natasha cukup lama, menyalurkan sedikit energi dingin untuk menenangkan detak jantung gadis itu agar kembali normal.
"Sekarang pergilah."
Natasha melepaskan pelukannya dengan enggan, tubuhnya masih terasa sedikit lemas karena sisa-sisa gairah yang menggantung.
Dia memungut buku-bukunya yang berserakan, lalu menatap Bayu untuk terakhir kalinya dengan sorot mata penuh cinta dan kepatuhan.
"Aku akan menunggumu menghubungiku, Bayu," ucap Natasha lembut, lalu berlari kecil meninggalkan area belakang sekolah tersebut.
Bayu menatap kepergian gadis primadona itu dengan senyum puas yang terukir di bibirnya.
Satu lagi pion penting telah jatuh sepenuhnya ke dalam genggamannya, menjadikan posisi Bayu di sekolah dan di hadapan Ketua Yayasan semakin tidak tergoyahkan.
Kini, Bayu membalikkan badannya, kembali menatap Ki Darmo yang masih merintih di dekat dinding, bersiap menyelesaikan sisa urusannya dengan dunia bawah.