NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: ULAR DI DALAM KUIL

Angin malam di luar Desa Wuxi bertiup liar, memindahkan gulungan awan kelabu dan membiarkan cahaya bulan purnama menyiram hutan tua di kaki Gunung Wuyin. Sinar perak yang dingin itu menembus sela-sela rimbunnya pepohonan kuno, menciptakan bayang-bayang panjang yang tampak menari di atas tanah beku.

Shen Rui melesat cepat menembus rimbunan semak, jejak langkahnya tak bersuara namun amat cepat. Sebagai murid unggulan Paviliun Tianjian, inderanya telah ditempa untuk melacak gelombang qi dari jarak jauh. Namun malam ini, jejak energi yang ditinggalkan oleh perempuan misterius itu terasa ganjil. Itu bukanlah aroma racun iblis yang pekat dan berbau busuk, melainkan pancaran qi murni yang menentramkan sekaligus begitu dominan hingga membuat binatang-binatang malam di sekitar hutan membisu.

Jejak ghaib itu mengarahkannya makin jauh ke dalam rimba terlarang, menuju sebuah situs kuno yang telah lama ditinggalkan warga desa: Kuil Seribu Bayang.

Kuil tua berbahan batu hitam itu berdiri setengah runtuh di balik tebing cadas. Atap gentingnya telah lama hancur dihantam zaman, sementara pilar-pilar batu raksasa di pelatarannya diselimuti oleh lumut beku dan sulur-sulur liar.

Ketika Shen Rui menginjakkan kaki di tangga batu pertama kuil tersebut, bulu kuduknya mendadak berdiri.

Suara desisan berbisik memenuhi udara malam—bukan hanya dari satu atau dua ekor, melainkan puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan ular.

Shen Rui menghentikan langkahnya di ambang pintu Kuil Seribu Bayang. Matanya membesar menyaksikan pemandangan di hadapannya.

Seluruh lantai kuil tua yang terbuat dari ubin batu retak itu dipenuhi oleh hamparan ular dari berbagai ukuran dan jenis. Ular hijau pohon, ular tanah hitam, hingga viper berbisa raksasa melata rapat di atas tanah. Namun, reptil-reptil yang biasanya agresif dan mematikan itu sama sekali tidak bertarung satu sama lain. Mereka tidak menunjukkan taring atau menyemburkan racun.

Sebaliknya, ratusan ular tersebut menundukkan kepala mereka ke permukaan tanah yang dingin. Tubuh-tubuh mereka yang meliuk perlahan tampak membentuk pola melingkar, seolah-olah tengah bersujud menyembah sesosok penguasa tertinggi di tengah ruangan.

Di pusat lingkaran ratusan ular itu, berdiri sang perempuan.

Ia berdiri tepat di bawah celah atap kuil yang runtuh, membiarkan tubuhnya disiram sepenuhnya oleh pancaran cahaya bulan purnama. Gaun sutra putihnya berkibar lembut ditiup angin malam. Rambut hitam pekatnya yang panjang terurai melayang di udara, menentang gravitasi.

Pendar cahaya perak yang sangat menyilaukan melingkupi seluruh tubuh perempuan itu. Di pergelangan tangan, leher, hingga melingkar halus di pelipisnya, puluhan sisik kristal perak muncul memantulkan sinar rembulan—sangat anggun, indah, namun juga memancarkan aura keagungan mistis yang begitu kuat.

Kedua matanya yang berwarna perak bening terbuka lebar, menatap lurus ke arah bulan purnama tanpa berkedip. Tidak ada tanda-tanda monster haus darah seperti yang diperingatkan oleh nenek tua desa; yang ada hanyalah sesosok entah manusia atau siluman yang tampak sedang menyerap kembali esensi jiwanya yang sempat terlelap selama seribu tahun.

Srrr...

Sesosok ular hijau raksasa bersisik mengilap keluar dari balik bayang-bayang pilar batu. Ular itu mendekati sang perempuan, lalu dengan sangat patuh melilitkan tubuhnya di sekitar kaki hingga bahu perempuan tersebut, menyandarkan kepalanya yang besar di samping pipi sang perempuan seraya mendesis pelan.

Perempuan itu mengangkat tangannya yang bersisik halus, mengusap kepala ular hijau tersebut dengan tatapan lembut—namun matanya masih terasa kosong dari ingatan masa lalu.

"Siapa... aku?" bisik perempuan itu pelan ke arah malam. Suaranya bergema ganda di dalam Kuil Seribu Bayang, seolah-olah resonansi suara jiwa manusia dan gaung siluman agung menyatu di dalam dadanya.

Cring!

Langkah kaki Shen Rui yang tak sengaja menyenggol pecahan ubin batu membuat ratusan ular di lantai kuil mendadak menegang.

Dalam sekejap mata, ratusan kepala reptil itu berputar bersamaan, menatap lurus ke arah pintu kuil di mana Shen Rui berdiri. Desisan peringatan membahana memenuhi Kuil Seribu Bayang. Ular hijau raksasa di bahu sang perempuan menegakkan lehernya, membuka rahangnya lebar-lehar memperlihatkan sepasang taring berbisa yang siap merobek mangsa.

Tangan Shen Rui bergerak cepat, mencabut penuh Pedang Zhaoyang dari sarungnya. Bilah baja perunggu itu memancarkan kilatan refleks, memotong kegelapan kuil.

Namun, bukannya menyerang, Shen Rui justru terpana saat menatap mata perak perempuan itu. Di bawah terpaan bulan purnama dan di tengah ribuan ular yang menyembahnya, perempuan itu tampak begitu rapuh dan asing dengan kekuatannya sendiri.

"Jangan mendekat..." suara perempuan itu bergetar, menatap Shen Rui dengan ketakutan yang mendalam sewaktu melihat bilah pedang di tangan sang pemburu. "Aku... aku tidak ingin melukai siapa pun..."

Shen Rui memegang erat gagang pedangnya, berdiri kokoh di tengah sarang ular yang siap menerkamnya sewaktu-waktu. "Siapa kau sebenarnya?"

!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!