Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: HUKUM JALAN DEMONIC
BAB 2: HUKUM RIMBA JALAN DEMONIC
Angin malam menusuk hingga ke tulang saat pedang terbang raksasa milik Utusan Sekte Jurang Jiwa membelah lautan awan. Di belakang sang tetua, Xuan Chen berdiri tegak. Ujung jubah abu-abunya berkibar keras, namun tubuhnya tetap diam tak bergeming, membiarkan pemandangan Kota Hanyou mengecil dan menghilang di balik kegelapan.
Di bawah sana, daratan luas Benua Merah perlahan berubah menjadi pegunungan terjal berkabut hitam. Suasana malam semakin sunyi, hanya menyisakan deru angin dan tebasan aura pedang yang menembus keheningan.
Tetua berpakaian hitam itu melirik ke belakang melalui sudut matanya. Ada sedikit binar kepuasan melihat seorang pemuda belia yang baru pertama kali terbang di angkasa tidak memperlihatkan sedikit pun rasa takut. Sebagian besar murid baru biasanya sudah berlutut memegang tepi pedang karena ketakutan melihat ketinggian ribuan meter.
"Kau bisa memanggilku Tetua Mo," ucap pria itu tanpa menoleh, suaranya menggelegar menembus deru angin. "Karena kau telah memilih Sekte Jurang Jiwa, ada beberapa hal yang wajib kau pahami sebelum melangkah lebih jauh."
Xuan Chen menajamkan pendengarannya. Matanya memandang lurus ke punggung Tetua Mo tanpa mengedip.
"Perjalanan ini memakan waktu satu hari satu malam," lanjut Tetua Mo, tangannya terlipat di balik punggung. "Begitu sampai di sekte, hal pertama yang harus kau lakukan adalah membuka Dantianmu secara mandiri dan beralih dari Ranah Penempaan Tubuh ke Ranah Pengumpulan Qi. Namun, Qi yang akan kau serap bukanlah Qi biasa, melainkan Qi Demonic."
Xuan Chen mengangguk pelan, menyerap setiap kata itu dengan cermat. "Qi Demonic?"
"Benar," Tetua Mo memutar tubuhnya sedikit, memperlihatkan separuh wajahnya yang dipenuhi garis tegas dan aura dingin. "Qi Demonic memiliki sifat korosif dan liar. Tanpa fondasi jiwa yang kuat, Qi Demonic akan melahap kesadaran penyerapnya, mengubahnya menjadi mesin pembunuh tanpa perasaan yang gila akan darah."
Ekspresi Tetua Mo berubah makin serius saat menekankan kalimat berikutnya. "Namun, jika seseorang memiliki jiwa yang cukup tangguh untuk menaklukkannya, Qi Demonic justru memberikan daya hancur dua kali lipat lebih kuat daripada praktisi biasa yang menyerap Qi langit dan bumi."
Tetua Mo berhenti bicara, sengaja memberi jeda untuk melihat apakah raut ketakutan akan muncul di wajah pemuda di depannya.
Namun, bukannya gentar, Xuan Chen justru mengerutkan dahi sejenak, menimbang informasi tersebut di dalam kepalanya sebelum akhirnya mengangguk paham.
"Jadi, Qi Demonic bukanlah sesuatu yang jahat dengan sendirinya," ujar Xuan Chen datar.
"Benar," ucap Tetua Mo.
Tetua Mo melanjutkan dengan tenang, tatapannya menyapu hamparan awan hitam di bawah mereka. "Qi Demonic dapat melahap jiwa seseorang jika jiwa penggunanya lemah. Namun, Qi murni pun dapat membawa kehancuran jika berada di tangan orang yang serakah."
Xuan Chen tidak menyela. Dia hanya mengangguk memahami, menyilangkan tangan di dada sambil mengamati pemandangan yang terhampar di depannya dengan minat yang makin dalam.
Tatapan Xuan Chen mendadak menjadi tajam. Aura dingin menguar tipis dari tubuhnya. "Pada akhirnya, bukan Qi yang menentukan siapa yang akan jatuh ke dalam kegelapan. Yang menentukan adalah penggunanya."
Sebuah senyum tipis yang sulit diartikan terukir di bibir Tetua Mo saat mendengarnya, namun Xuan Chen tetap melanjutkan argumennya tanpa ragu.
"Jadi... Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawa seseorang bergantung pada seberapa bijak dia mengendalikannya," tegas Xuan Chen. "Jika seseorang tidak mampu mengendalikan kekuatannya sendiri, bahkan Qi paling suci sekalipun dapat berubah menjadi bencana mematikan."
Gelak tawa nyaring meledak dari tenggorokan Tetua Mo. Tawa yang membawa getaran Qi hingga membuat pedang terbang di bawah kaki mereka bergetar pelan.
"Hahaha! Kau cukup bijak, bocah! Sangat jarang ada pemuda dari kota kecil yang memiliki pemahaman seperti mu!" Tetua Mo menepuk bahu Xuan Chen cukup keras, menguji kekokohan kuda-kudanya.
Xuan Chen hanya bergeming, menerima tepukan keras itu dengan wajah tanpa ekspresi, menunggu sang tetua menyelesaikan sisa ucapannya.
Matahari perlahan terbit dari ufuk timur, memancarkan sinar kemerahan yang menembus kabut hitam di sekeliling mereka. Setelah menembus lautan pegunungan terjal selama berjam-jam, suhu udara mendadak merosot tajam. Aura kematian yang pekat mulai terasa menyelimuti atmosfer sekitar.
Tetua Mo menatap Xuan Chen cukup lama, matanya menyempit seraya mengikis tawa dari wajahnya. Suasananya mendadak berubah menjadi sangat berat.
"Namun ingat satu hal," suara Tetua Mo merendah, berubah menjadi bisikan berbahaya yang merindingkan bulu kuduk. "Setelah kau melangkahkan kaki ke sekte kami, jangan berharap ada seseorang yang akan melindungimu."
Xuan Chen menyipitkan mata, merasakan ancaman tersirat dalam nada suara tersebut.
"Di sana, nyawamu berada sepenuhnya di tanganmu sendiri," lanjut Tetua Mo dengan suara datar tanpa emosi. "Di sekte kami hanya ada satu aturan: Yang kuat memangsa yang lemah."
Xuan Chen tidak memotong. Dia mendengarkan sambil mencerna setiap implikasi dari hukum rimba yang baru saja dibeberkan.
"Tidak ada belas kasihan. Tidak ada perlindungan bagi mereka yang tidak mampu mempertahankan diri," Tetua Mo melangkah mendekat, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan mata Xuan Chen. "Jika seseorang menginginkan sumber daya milikmu, rebutlah kembali. Jika seseorang menginginkan nyawamu, pastikan dialah yang mati terlebih dahulu."
Xuan Chen memotong tenang, menatap lurus sang tetua. "Aku paham. Intinya yang lemah hanya akan jadi batu pijakan bagi yang lebih kuat."
Tatapan sang tetua menjadi sedingin es, seolah-olah dia sedang menyampaikan kitab kematian. "Ya."
"Jalan Demonic tidak mengenal aturan sebanyak jalan kultivasi biasa. Tidak ada aturan yang melarangmu menjadi kejam. Tidak ada aturan yang melarangmu menipu. Tidak ada aturan yang melarangmu membunuh."
Tetua Mo berhenti sejenak, mengamati reaksi fisik Xuan Chen. Dia ingin melihat apakah bahu pemuda ini akan gemetar atau matanya akan goyah.
"Selama kau memiliki kekuatan untuk mempertahankan apa yang menjadi milikmu, tidak seorang pun akan mempertanyakannya," Tetua Mo kemudian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan dan realitas kejam dunia kultivasi. "Karena di jalan Demonic... kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar. Kebenaran ditentukan oleh siapa yang masih hidup."
Udara di sekeliling mereka seolah membeku setelah kalimat terakhir itu diucapkan. Tetua Mo menantikan respons panik atau keterkejutan dari calon muridnya.
Namun, di luar perkiraan sang tetua, bibir Xuan Chen perlahan tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. Senyuman dingin yang memancarkan kebebasan murni. Tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan.
“Dunia di mana tidak ada kebohongan moral... Tempat yang sempurna bagiku.”
Xuan Chen menatap langsung ke dalam mata Tetua Mo, lalu mengangguk secara perlahan.
"Aturan yang sangat adil," bisik Xuan Chen pendek.
Tetua Mo terpana sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan. Dia berbalik kembali ke depan pedang, menatap kabut tebal Array Pelindung Sekte Jurang Jiwa dari kejauhan. Di balik segel formasi petir dan aura hitam yang mengular itu, benteng serta istana megah Sekte Jurang Jiwa mulai terlihat menampakkan keagungan yang menyeramkan di atas puncak-puncak gunung purba.
"Kita sampai, bocah. Selamat datang di neraka."
tapi so cerita nya menarik.