Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.
This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.
Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.
Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Kos Baru, Ancaman Lama
Dua minggu setelah urusan di parkiran minimarket selesai, Bima sengaja meminjam Toyota Avanza tua milik Pak Harto untuk mengantar Ratna pindah kos.
Alasannya sederhana: ia ingin tetap terlihat biasa.
Di garasi bawah Graha Bintang, Rolls-Royce Spectre hitamnya masih tertutup kain abu-abu, bersih seperti senjata mahal yang belum waktunya keluar sarung. Tapi pagi itu Bima hanya memakai kaus polos, jaket tipis, celana jins, dan sandal. Ia tidak mau hari pertama Ratna di lingkungan baru berubah menjadi tontonan.
Ratna duduk di kursi belakang dengan dua kardus di sampingnya. Koko dan Zahra, dua teman seangkatannya di UH Naga Kota, menunggu di depan kos untuk membantu angkat barang.
"Mas, nanti jangan pasang wajah seperti mau interogasi orang, ya," kata Ratna sambil melihat kaca spion tengah. "Ini cuma pindah kos."
Bima meliriknya dari spion. "Kalau cuma pindah kos, kenapa semalam kamu tiga kali cek kunci pintu di rumah?"
Ratna terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Gangnya sempit. Kata senior, kadang ada anak-anak nongkrong dekat warung. Tapi Bu Tuti bilang aman."
"Kata pemilik kos memang selalu aman."
"Mas."
"Aku tidak bilang tidak percaya. Aku cuma bilang aku akan lihat sendiri."
Pak Harto yang duduk di samping Bima menghela napas pelan. Beliau ikut karena ingin memastikan kamar Ratna layak, sementara Bu Sri tinggal di rumah menyiapkan makanan untuk nanti sore.
"Bim," ujar Pak Harto, nada suaranya rendah, "Ratna sudah besar. Jangan bikin dia merasa dikurung."
"Paham, Pa."
Jawaban Bima pendek, tapi matanya tetap mencatat jalan.
Dari rumah keluarga Liem ke area kampus UH Naga Kota, perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Setelah keluar dari jalan besar, Avanza masuk ke kawasan padat yang dipenuhi kos mahasiswa, fotokopian, warung nasi, laundry kiloan, dan bengkel kecil. Di kiri kanan jalan, spanduk kamar kosong menggantung miring. Kabel listrik berjejalan di atas, membuat cahaya pagi terasa seperti disaring jaring kusut.
Kos Bu Tuti terletak di ujung gang yang hanya cukup untuk satu mobil. Cat pagarnya hijau pudar. Di depan pagar, ada tiga motor tanpa pelat depan terparkir serong, sengaja memakan separuh jalan.
Bima memperlambat mobil.
Di warung seberang gang, tiga pria muda duduk sambil merokok. Usia mereka sekitar awal dua puluhan. Wajah dan gerak mereka tidak seperti mahasiswa yang sedang menunggu kelas. Kaos mereka lusuh, tapi jam tangan salah satunya terlalu mencolok. Satu orang berambut cepak dengan tato di leher. Satu lagi bertubuh besar, duduk membuka kaki lebar-lebar. Yang ketiga kurus, mata kecilnya sibuk menilai setiap orang yang lewat.
Ketika Ratna turun dari mobil, si kurus bersiul.
"Anak baru, ya? Kos di sini bayar salam dulu, Nona."
Ratna menegang.
Koko dan Zahra yang baru keluar dari pagar kos langsung berhenti. Koko memegang ujung kerudungnya dengan gugup, sementara Zahra menatap pria itu dengan mata tajam tapi tidak berani membalas.
Bima turun dari kursi pengemudi. Ia tidak menghampiri warung. Ia hanya berdiri di samping pintu mobil dan menatap si kurus cukup lama sampai senyum orang itu memudar sedikit.
"Masuk," kata Bima kepada Ratna.
"Tapi barang-"
"Aku angkat."
Pak Harto ikut turun, namun Bima mengangkat dua kardus sekaligus sebelum ayahnya sempat bergerak. Ia berjalan melewati pagar kos tanpa menoleh ke warung. Dari sudut mata, ia melihat pria bertubuh besar menyikut temannya.
"Abangnya galak juga," gumam pria bertato.
Bima tidak menjawab. Tidak semua anjing perlu dilempar batu saat pertama menggonggong. Kadang cukup tandai kandangnya.
Bu Tuti, perempuan lima puluhan dengan rambut disanggul dan kacamata tebal, menyambut mereka di ruang depan kos. Rumah kos itu bersih, lantai disapu, sepatu tertata, papan aturan ditempel dekat tangga. Tapi jendela samping menghadap gang belakang yang gelap dan tidak terlihat dari jalan utama.
"Kamar Ratna di lantai dua, Mas Bima," kata Bu Tuti. "Dekat kamar Koko dan Zahra. Anak-anak sini baik-baik semua."
"Yang di warung depan?" tanya Bima sambil menurunkan kardus.
Senyum Bu Tuti kaku.
"Itu... anak sekitar sini. Kadang nongkrong. Selama tidak diganggu, biasanya tidak apa-apa."
"Biasanya?"
Bu Tuti meremas ujung celemeknya. "Beberapa bulan terakhir ada yang minta uang keamanan ke kos-kos kecil. Lima puluh ribu, seratus ribu. Katanya untuk jaga parkiran. Saya sudah bilang ke anak-anak, kalau ada apa-apa langsung masuk rumah."
Pak Harto menatap Bima. Dalam pandangan itu ada kecemasan seorang ayah yang pernah terlalu sering kalah oleh keadaan.
Ratna mencoba tertawa ringan. "Mas, jangan langsung pasang mode perang. Aku kan cuma kuliah, bukan masuk sarang mafia."
Bima meletakkan kardus terakhir di dekat meja belajar. Kamar Ratna kecil tapi rapi. Ada kasur single, lemari plastik, meja kayu, dan jendela dengan teralis tipis. Ia mengecek engsel pintu, kunci tambahan, jarak jendela ke atap rumah sebelah, lalu posisi tangga darurat.
"Zahra," panggil Bima.
Zahra tersentak. "Iya, Mas?"
"Kalau dari kampus ke sini, biasanya lewat mana?"
Zahra menunjuk ke arah jendela. "Kalau siang lewat gang depan. Kalau malam kami muter lewat jalan fotokopian, lebih ramai. Tapi agak jauh."
"Koko?"
Koko menelan ludah. "Saya pernah dimintai uang parkir dua kali, Mas. Saya kasih saja. Takut ribut."
Ratna langsung menoleh. "Kok kamu belum pernah cerita?"
"Karena kamu baru pindah. Aku tidak mau bikin kamu takut."
Bima membuka ponsel, memotret pintu, jendela, pagar, serta sudut gang dari dalam kamar. Gerakannya terlihat seperti abang cerewet yang mengurus keamanan adiknya. Padahal di layar lain, aplikasi SBE sudah terbuka.
Misi belum muncul.
Tapi modul Drone Bayangan merespons ketika Bima mengaktifkan mode pantau rendah. Titik kecil tak terlihat mata melayang dari sela atap, menembus cahaya siang, lalu berhenti di atas warung depan.
Di layar Bima, wajah tiga pria itu masuk frame dengan jelas.
Yang kurus sedang memainkan korek. Yang besar mengunyah gorengan. Yang bertato menatap pagar kos seperti orang menimbang harga barang.
Bima memperbesar rekaman.
"Mas?" Ratna mendekat.
Bima mengunci layar sebelum Ratna melihat terlalu banyak. "Nomor Bu Tuti sudah kamu simpan?"
"Sudah."
"Nomor Koko dan Zahra aku minta juga. Buat grup darurat. Tidak perlu ramai-ramai. Cukup lokasi, satu kata, atau panggilan kosong."
Ratna mengerutkan dahi. "Mas, ini berlebihan."
"Berlebihan itu kalau aku suruh kamu pulang dan berhenti kuliah."
Ratna terdiam.
Bima menatap adiknya, kali ini suaranya melembut. "Aku tidak akan mengatur hidupmu. Kamu tetap kuliah, tetap punya teman, tetap tinggal di sini kalau kamu mau. Tapi kalau ada orang mengira kamu sendirian, biar dia salah hitung."
Koko dan Zahra saling pandang. Di wajah mereka muncul lega bercampur iri kecil. Tidak semua orang punya kakak yang datang untuk berdiri di depan pintu.
Pak Harto membantu memasang kunci tambahan yang dibeli Bima dari toko bangunan di jalan masuk. Bu Tuti memberi izin tanpa banyak bertanya. Setelah semuanya selesai, mereka turun ke halaman.
Di warung, pria kurus itu kembali bersiul, kali ini lebih pelan.
"Bang, titip salam buat adiknya."
Pak Harto spontan maju setengah langkah, tapi Bima menahan lengannya.
"Pa, masuk mobil."
"Kamu dengar dia?"
"Dengar."
"Lalu?"
Bima menatap warung itu. Senyumnya tipis, hampir tidak terlihat. "Orang seperti itu suka panggung. Kalau kita kasih sekarang, dia merasa menang."
Pak Harto masih marah, tetapi akhirnya masuk mobil.
Sebelum pergi, Bima berdiri di depan pagar kos. Ia memandang Ratna, Koko, Zahra, dan Bu Tuti satu per satu.
"Mulai hari ini, kalau mereka minta uang, jangan bayar. Kalau mereka menyentuh siapa pun, jangan lawan sendirian. Rekam, mundur ke tempat terang, hubungi aku."
Bu Tuti tampak takut. "Mas, kalau mereka marah bagaimana?"
"Kalau mereka marah, berarti mereka bergerak."
Ratna menatap kakaknya. "Dan kalau mereka bergerak?"
Bima membuka pintu mobil. Dari layar ponselnya, Drone Bayangan masih merekam tiga wajah di warung itu.
"Berarti tinggal cari siapa yang harus jatuh duluan."