NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Semifinal yang Tidak Punya Napas

Semifinal mempertemukan Arya dengan Dewa Mahendra, juara klub Jakarta yang menyiapkan diri selama tiga hari hanya untuk satu lawan.

Dewa tidak menyembunyikan persiapannya. Sebelum pertandingan, ia membawa map tebal berisi cetakan posisi Arya dari semua ronde. Ia bahkan memberi wawancara singkat kepada Aditya. "Arya kuat karena lawan membiarkan ritmenya terbentuk. Saya akan memutus ritme itu sejak awal."

Rizky menonton wawancara dari layar ruang tunggu. "Orang yang membawa map tebal selalu terlihat meyakinkan."

Putri melihat Arya yang sedang minum air. "Kamu membaca mapnya?"

"Dari jarak sini hanya sampul. Tapi cukup."

"Cukup untuk apa?"

"Dia menyiapkan jawaban untuk Arya kemarin. Hari ini saya bisa menjadi Arya yang lain."

Kalimat itu membuat Putri diam. Lawan mempelajari jejaknya, dan Arya memperlakukan jejak itu seperti pakaian lama yang bisa dilepas.

Semifinal disiarkan langsung. Kamera atas menyorot papan. Hendra duduk di kursi komentator tamu bersama Suroso, pilihan panitia yang jelas ingin menaikkan rating. Hendra tersenyum kepada kamera, tetapi Putri melihat tangannya mengetuk lutut.

Arya memegang hitam. Langkah pertama di tengah. Dewa menjawab dengan variasi anti-pusat yang memang sering dipakai untuk mengganggu pembangun jaringan. Suroso mengangguk. "Persiapan bagus."

Hendra berkata, "Sekarang kita lihat apakah anak itu bisa bermain tanpa jalur favorit."

Langkah ketiga Arya jatuh di titik yang tidak ada dalam semua partai sebelumnya.

Dewa berhenti.

Tidak lama, hanya lima detik. Namun lima detik pertama itu cukup untuk menunjukkan bahwa map tebalnya tidak memuat posisi ini. Ia memilih respons aman. Arya menaruh batu berikutnya di sisi jauh. Dewa menutup pusat. Arya membuka tepi. Posisi yang muncul tidak tajam, tidak indah, dan tidak mirip gaya Arya kemarin.

Aditya bertanya, "Pak Hendra, apakah Arya keluar dari persiapan lawan?"

Hendra menjawab, "Masih terlalu awal."

Suroso berkata, "Tidak. Sudah keluar."

Hendra menatapnya. Suroso tidak menoleh. Matanya terkunci pada papan.

Pada langkah ketujuh, Dewa mencoba mengembalikan permainan ke variasi yang ia kenal. Arya membiarkannya seolah setuju. Dua langkah kemudian, satu batu hitam di tepi mengubah urutan. Variasi lama menjadi posisi baru, dan posisi baru itu lebih buruk untuk putih karena satu titik penutup sudah ditempati terlalu awal.

Dewa mulai berkeringat.

Di ruang komentar, Hendra berhenti mengetuk lutut. Ia melihatnya sekarang. Arya bukan menghindari persiapan. Ia memakai persiapan Dewa sebagai jalur masuk. Setiap jawaban yang sudah dilatih Dewa menjadi kewajiban yang bisa diprediksi. Map tebal itu bukan senjata. Di tangan Arya, map itu menjadi peta kelemahan.

Langkah kesebelas, Arya menciptakan ancaman terbuka.

Dewa menutup benar.

Langkah kedua belas, Arya mengorbankan bentuk pusat.

Dewa terkejut, lalu mengambil kesempatan. Penonton bersorak karena putih tampak mendapat momentum. Rizky hampir berdiri. Putri memegang meja, tetapi tidak bicara. Ia melihat wajah Arya. Tenang.

Langkah ketiga belas, Arya menaruh batu di titik yang membuat seluruh sorak berhenti.

Tiga ancaman muncul sekaligus: satu langsung, satu tertunda, satu bergantung pada reaksi Dewa. Jika Dewa menutup ancaman langsung, ancaman tertunda menjadi kemenangan. Jika ia menutup ancaman tertunda, ancaman langsung memaksa. Jika ia mencoba menyerang balik, hitam menang dua langkah lebih cepat.

Dewa menghitung lama. Sangat lama. Jamnya turun dari tujuh menit menjadi tiga menit. Ia mengusap wajah, melihat map di samping papan, lalu menutup map itu.

Gerakan kecil itu menjadi pengakuan.

Pada langkah keenam belas, ia menyerah.

Studio turnamen hening dulu, lalu pecah. Semifinal yang disiapkan sebagai perang strategi panjang selesai bahkan sebelum penonton biasa memahami ancaman. Aditya hampir berteriak, "Arya Wijaya masuk final!"

Rizky melompat. Pak Surya menahan bahunya agar tidak menerobos pagar. Putri menghela napas yang sejak tadi tertahan. Rafi langsung mengirim pesan ke tim keamanan: subjek masuk final, aktifkan protokol kerumunan.

Dewa berdiri dan menyalami Arya. "Saya menyiapkan semua partaimu."

"Saya tahu."

"Itu sebabnya kamu mengubah gaya?"

"Itu sebabnya saya memberi kamu gaya yang ingin kamu lihat, lalu melepasnya ketika kamu sudah percaya."

Dewa tertawa tanpa suara. "Kejam."

"Efisien."

Di meja komentator, kamera menyorot Hendra. Presenter meminta komentarnya tentang calon lawan final. Hendra tersenyum, tetapi kali ini senyum itu tidak mencapai mata.

"Arya bermain sangat baik. Final akan menarik."

Suroso menambahkan, "Menarik bagi penonton. Berat bagi pemain."

Hendra tidak menanggapi.

Setelah siaran semifinal selesai, Hendra berdiri di depan papan kosong cukup lama. Ia meletakkan satu batu hitam di tengah, meniru langkah Arya, lalu menaruh batu putih anti-pusat seperti Dewa. Tangannya berhenti di langkah ketiga. Tidak ada satu jawaban nyaman pun. Ia bisa memainkan teori lamanya, tetapi Arya sudah menunjukkan bahwa teori itu bisa dipakai melawannya. Ia bisa mengubah gaya, tetapi perubahan mendadak akan membuatnya kehilangan bagian terbaik dari dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Hendra merasa final bukan tentang mempertahankan takhta.

Setelah Dewa menyerah, map tebalnya menjadi bahan pembicaraan. Beberapa peserta meminta melihat isi map itu. Dewa mengizinkan dengan wajah pasrah. Di dalamnya ada analisis rapi, panah warna, dan prediksi langkah Arya dari semua partai sebelumnya. Tidak ada yang bodoh di sana. Justru karena rapi, kekalahannya terasa lebih menakutkan.

Raka, yang menonton siaran dari sekolah, mengirim pesan ke grup: jadi Arya mengalahkan orang yang mengerjakan PR paling rajin?

Rizky membalas: iya, dengan mengganti soal saat ujian dimulai.

Putri melihat pesan itu dan menyimpannya. Lelucon Rizky sering bodoh, tetapi kali ini tepat. Dewa kalah bukan karena tidak siap. Ia kalah karena siap terhadap versi Arya yang sudah lewat. Melawan Arya berarti mengejar bayangan yang terus mengganti arah.

Di sisi lain aula, Hendra meminta asistennya mengumpulkan semua posisi final kemungkinan. Asisten itu bertanya apakah perlu fokus pada pembukaan klasik. Hendra menjawab, "Fokus pada saat dia tidak mengikuti klasik. Di situlah dia paling berbahaya."

Kalimat itu menunjukkan sesuatu yang tidak ingin ia akui di depan kamera: Hendra sudah berhenti memikirkan cara mengajar anak muda. Ia mulai memikirkan cara bertahan.

Malam sebelum final, Dewa mengirim satu foto papan semifinal kepada Arya dengan pesan singkat: kalau kau mengalahkan Hendra, jangan bilang aku kalah dari juara biasa. Arya membalas: kalau saya menang, semua orang sebelum final otomatis kalah dari juara nasional. Dewa mengirim tiga titik, lalu satu kata: menyebalkan. Untuk pertama kalinya sejak kalah, ia bisa tertawa.

Pesan pendek itu menyebarkan efek lain: lawan yang dikalahkan Arya tidak selalu hancur. Beberapa justru mulai belajar dengan lebih jujur.

Final adalah ujian apakah takhta itu memang pernah sekuat yang dikatakan orang.

Di kamar hotel, Hendra menutup papan analisis pukul dua pagi. Ia menyadari hal yang mengganggu: semakin banyak variasi ia siapkan, semakin jelas Arya punya kebiasaan memilih jalan yang membuat persiapan lawan terasa tua. Hendra tetap percaya diri, tetapi rasa percaya itu kini harus bekerja lebih keras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!