Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Panggilan Baru dan Bisikan di Tengah Kemacetan
Atmosfer di dalam mobil Rolls-Royce hitam yang membelah kemacetan sore kota Jakarta terasa sangat pekat. Suara deru mesin yang halus tak mampu menutupi ketegangan canggung yang menyelimuti dua insan di kursi belakang.
Alexa duduk bersandar kaku di dekat pintu kanan, tangannya meremas tali tas sekolah abu-abunya. Wajah mungilnya masih menyisa rona merah padam—perpaduan antara sisa emosi cemburu pada Office Girl tadi dan rasa malu yang membuncah akibat ledekan Achmad. Di sebelahnya, Exel duduk tegap. Jas navy-nya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku.
Exel menyandarkan kepalanya di jok kulit empuk, matanya menatap lurus ke depan. Namun, sudut matanya beberapa kali melirik ke arah istri mungilnya yang membuang muka ke arah jendela.
"Kamu mau langsung pulang ke apartemen atau makan dulu?" buka Exel dengan suara berat dan datar, memecah keheningan panjang.
Alexa mendengus pelan tanpa menoleh. "Terserah Om Es Batu aja. Aku ikut."
Exel mengetatkan rahangnya. Pria itu menghela napas pendek, lalu menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat ke arah Alexa. "Alexa."
"Apa sih?" sahut Alexa heboh, akhirnya menoleh dengan mata bulatnya yang melotot tipis. "Masih marah ya gara-gara aku ngamuk di kantor tadi? Lagian salah sendiri punya pegawai centil begitu!"
"Aku tidak membahas masalah di kantor," pangkas Exel kaku. Tatapan mata cokelat gelapnya mendadak berubah sangat serius dan pekat, mengunci pandangan Alexa. "Aku mau membahas hal lain yang lebih penting."
Alexa berkedip bingung, pertahanannya sedikit goyah oleh intensitas tatapan suaminya. "Hah? Bahas apa?"
Exel berdeham kaku, memalingkan wajahnya sejuta detik untuk menetralkan rasa canggung yang mendadak menyerang tenggorokannya, sebelum kembali menatap Alexa.
"Mulai hari ini," kata Exel tegas, "hentikan panggilan 'Om Es Batu' atau sebutan konyol lainnya."
"Lho! Kenapa?!" protes Alexa seketika dengan suara cemprengnya. "Kan dari awal aku udah panggil gitu! Lagian kamu memang kaku kaya es batu!"
"Karena kita sudah menikah," potong Exel kaku tanpa ragu. "Status kita di mata hukum dan agama adalah suami istri. Tidak pantas seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan 'Om' atau julukan mengejek."
Alexa memayunkan bibirnya hingga beberapa sentimeter, bersedekap dada. "Trus aku harus panggil apa? Paman? Pak CEO? Atau Bapak Exel yang terhormat?"
"Panggil aku 'Mas'," ucap Exel dengan nada rendah yang sangat dalam.
Deg!
Kata tunggal itu meluncur dari bibir Exel dengan begitu mantap, membuat jantung Alexa seketika berdesir hebat. Pipi tembamnya yang baru saja agak mendingin mendadak kembali hangat.
"M-Mas?!" cicit Alexa dengan nada suara yang melunak drastis, matanya membelalak kaget. "Gak mau ah! Kedengarannya aneh banget di lidah aku! Alay!"
"Tidak ada yang alay," tegas Exel kaku, walau di balik wajah datarnya, ujung telinga sang CEO mulai memerah tipis mendengar bisikan cicitan nama itu dari bibir Alexa. "Itu panggilan yang sopan dan wajar. Dan satu lagi... ubah caramu berbicara dariku. Gunakan 'Aku-Kamu'. Jangan lagi pakai kata 'Gua-Lu' atau sebutan kasar lainnya saat kita bicara berdua."
"Ih! Kenapa jadi banyak aturan sih!" seru Alexa heboh lagi, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa. "Kita kan udah janji ini pernikahan formalitas enam bulan! Kenapa harus repot-repot ubah panggilan segala?!"
Exel menundukkan tubuhnya sedikit, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Aroma parfum woody-masculine milik Exel mendadak menyeruak memenuhi indra penciuman Alexa, menghentikan seluruh pasokan kosa kata di otak gadis mungil itu.
"Formalitas atau bukan," bisik Exel dengan suara rendah yang menggetarkan dada, "selama enam bulan ini, kamu adalah istriku. Di dalam rumah maupun di luar rumah saat kita berdua, kamu harus menghormatiku sebagai suamimu. Paham, Alexa?"
Alexa menelan ludahnya kaku. Tatapan mata Exel yang begitu dominan dan dalam membuat seluruh keberanian anak SMA-nya menguap. "T-tapi... kalau aku panggil 'Mas', kamu panggil aku apa?"
Exel berkedip pelan. "Alexa."
"Gak adil!" sahut Alexa tak terima, gengsinya kembali muncul. "Masa aku panggil 'Mas', kamu panggil nama doang! Harus ada panggilan khusus dong! Kalau kamu panggil aku... 'Sayang' gimana?"
Ejekan polos dari bibir Alexa itu sukses membuat Exel membeku seketika. Sang CEO berdarah dingin itu tersentak kaku, rona merah di telinganya makin menyebar tajam. Exel menatap Alexa tidak percaya.
"A-apa?" gumam Exel kaku, suaranya sedikit serak.
Melihat Exel yang mendadak salah tingkah gara-gara kata 'Sayang', Alexa justru tertawa cempreng penuh kemenangan. Rasa percaya dirinya kembali. "Tuh kan! Om Es Batu langsung kaku! Ya udah kalau gak mau 'Sayang', panggil aku 'Dek' atau 'Aca' aja! Teman-temanku aja panggil gitu!"
Exel berdeham kancang, menegakkan kembali tubuhnya dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat. "Terserah. Yang jelas, panggil aku 'Mas'."
"Iya, iya! Mas Es Batu!" goda Alexa seraya menjulurkan lidahnya tipis.
Exel menghela napas panjang, mencoba menguasai kembali kontrol dirinya. Namun, teringat kembali kejadian di depan gerbang sekolah tadi sore saat Alexa dikerumuni tiga siswa laki-laki, raut wajah Exel seketika kembali mengeras kaku. Aura dingin kembali menyelimuti ruang belakang mobil.
"Satu hal lagi yang paling penting," kata Exel dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat protektif dan penuh penekanan.
Alexa mengerutkan dahinya. "Apa lagi sih?"
Exel menoleh lambat-lambat, menatap lurus ke mata bulat istrinya. "Jangan pernah dekat-dekat lagi dengan siswa laki-laki di sekolahmu. Termasuk siswa yang memberimu minuman tadi sore."
Perdebatan baru seketika menyala. Alexa melotot tidak terima. "Lho?! Kenapa gak boleh?! Itu Kak Dimas, Ketua OSIS aku! Dia cuma nawarin minum karena habis latihan!"
"Aku tidak peduli dia Ketua OSIS atau siapa pun," pangkas Exel kaku dan dingin. "Kamu sudah punya suami. Tidak pantas menerima minuman atau tersenyum-tersenyum begitu pada pria lain di depan umum."
"Tapi kan mereka gak tahu kalau aku udah nikah, Mas—eh!" Alexa tertutup mulutnya sendiri saat refleks menyebut kata 'Mas', membuat dadanya makin berdebar. Tapi ia cepat-cepat melanjutkan protesnya, "Lagian mereka cuma teman sekolah! Kenapa Mas Exel jadi mengekang aku banget sih?! Aku kan masih butuh bersosialisasi!"
"Bersosialisasi tidak harus dengan menerima pemberian pria lain," tegas Exel, suaranya makin menekan, memancarkan rasa cemburu yang teramat sangat walau gengsinya enggan mengakui. "Aku bisa membilikanmu seribu botol minuman yang lebih mahal dari itu. Jangan dekat-dekat dengan mereka lagi."
"Ngeselin banget!" seru Alexa heboh, tangannya bertengger di pinggang. "Mas Exel itu posesif banget tahu gak! Tadi siang ada cewek centil nyenggol-nyenggol meja Mas Exel aja aku—"
"Kamu cemburu pada Siska," potong Exel datar, sudut bibirnya terangkat tipis secara tak sadar. "Dan sekarang aku melarangmu dekat dengan siswa itu. Adil, kan?"
"Beda lah!" jerit Alexa cempreng, matanya menyipit marah. "Siska itu jelas-jelas mau godain suami orang! Kalau Kak Dimas itu cuma teman baik! Mas Exel tuh yang kebiasaan suudzon sama—"
Kruuuuukkkkk...
Suara nyaring yang berasal dari dalam perut Alexa mendadak memotong kalimat protesnya yang sedang meledak-ledak.
Suara keroncongan yang sangat kencang dan mendramatisir itu bergema di seluruh kabin mobil yang kedap suara.
Seketika itu juga, perdebatan sengit yang baru saja memanas berhenti total.
Alexa membeku di tempatnya. Matanya melotot sempurna, tangannya refleks menutupi perut mungilnya yang baru saja mengkhianatinya secara tak sopan. Wajah Alexa yang tadinya merah karena marah kini mendadak berubah menjadi merah padam seratus persen karena malu yang luar biasa!
Di sebelahnya, Exel berkedip dua kali. Tatapan kaku dan dingin sang CEO seketika luntur, digantikan oleh rasa terkejut yang berujung pada sudut bibirnya yang tak mampu menahan tawa.
Pfft.
Sebuah kekehan halus—suara tawa yang sangat langka dan renyah—lolos dari tenggorokan Exel. Pria itu menutupi mulutnya dengan kepalan tangan, namun bahunya yang tegap tampak terguncang pelan menahan tawa.
"Mas Exel! Jangan ketawa!" jerit Alexa histeris, menyembunyikan wajah panasnya di balik kedua telapak tangan mungilnya. "Aaaaa! Malu banget ya Allah! Perut nakal!"
Exel akhirnya menurunkan tangannya, menatap istri mungilnya dengan binar mata yang jauh lebih hangat dari biasanya. "Kamu belum makan siang?"
"Belum..." cicit Alexa dari balik tangannya, suaranya pelan dan memelas bagaikan anak kucing yang kelaparan. "Tadi di sekolah cuma makan cireng dua biji..."
Exel menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Rasa kesal dan cemburunya pada siswa SMA tadi seketika menguap begitu saja digantikan oleh rasa gemas yang tak tertahankan.
Exel mengetuk kaca pembatas sopir, memberi perintah singkat. "Pak, ubah rute. Kita ke restoran Steak & Grill terdekat sekarang."
"Baik, Pak Exel," sahut sopir di depan seraya memutar kemudi.
Alexa perlahan mengintip dari balik celah jemarinya, menatap Exel dengan bibir yang dipayunkan. "Beneran mau makan steak?"
Exel meliriknya datar, namun matanya memancarkan kelembutan yang tak bisa disembunyikan. "Iya. Supaya perutmu tidak membuat konser gratis lagi di mobilku."
"Ih! Mas Exel ngeselin!" pangkas Alexa heboh, walau ada senyuman tipis yang akhirnya terbit di wajah mungilnya.
Sore itu, di dalam mobil yang perlahan lepas dari kemacetan, sebuah perdebatan cemburu dan gengsi tinggi berhasil diluluhkan oleh suara keroncongan perut yang polos. Panggilan 'Mas' yang canggung dan larangan posesif sang CEO menjadi fondasi baru yang manis di antara ikatan rahasia mereka.