NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlantar di Pusat Perbelanjaan

Hujan lebat mengguyur kota sejak pukul tiga sore, mengubah jalanan aspal yang biasanya padat menjadi hamparan genangan air berwarna kelabu. Langit tampak begitu rendah, menumpahkan air tanpa henti diiringi gemuruh guntur yang sesekali membelah angkasa. Di dalam sebuah pusat perbelanjaan mewah di pusat kota, ribuan orang berlalu-lalang mencari perlindungan, berdiri berdesakan di dekat pintu masuk atau lobi utama sambil menunggu hujan reda.

Namun, di sudut terluar lobi area penurunan penumpang (*drop-off*), Kirana berdiri seorang diri.

Gadis itu mengenakan mantel musim dingin berbahan wol tipis berwarna merah muda lembut—salah satu pakaian kesukaannya yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Tas tangan bermerek tersampir di bahunya, sementara jari-jemarinya yang dingin mencengkeram erat gagang ponsel pintar miliknya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan riwayat panggilan keluar yang sudah ditekan berkali-kali ke satu nama yang sama: *Mas Arka*.

Sudah setengah jam Kirana berdiri di sana, berharap suaminya akan datang menjemput.

Tadi siang, Kirana terpaksa keluar rumah untuk membeli beberapa keperluan pribadi dan bahan dapur atas permintaan Bi Inah. Saat ia hendak pulang, badai mendadak datang menerjang tanpa peringatan. Tanpa membawa payung dan mengenakan sepatu hak tinggi yang tidak cocok untuk berjalan di tengah genangan air, Kirana merasa tidak berdaya. Kebiasaan lamanya—sifat manjanya yang selalu bergantung pada orang lain saat menghadapi situasi sulit—membuatnya secara refleks menghubungi Arka.

Bagi Kirana, memanggil suaminya di kala kesulitan adalah hal yang wajar. Di masa lalu, ayah atau sopirnya akan langsung datang dalam waktu sepuluh menit begitu ia menelepon sambil merengek manja. Karena itulah, ketika ia menelepon Arka tadi, terselip secercah harapan kekanak-kanakan bahwa pria itu akan melunak, datang dengan mobil mewahnya, dan melindunginya dari dinginnya terpaan hujan.

Panggilan pertama diangkat. Suara berat Arka terdengar di ujung sana, terdengar kaku dan dipenuhi suara bising kertas serta ketukan keyboard dari ruang kerjanya.

*"Ada apa, Kirana? Saya sedang sibuk rapat,"* suara Arka terdengar tanpa basa-basi.

*"Mas... di luar hujan deras banget. Aku terjebak di mal lantai bawah. Aku nggak bawa payung, kakiku juga sakit karena pakai heels... Kamu bisa jemput aku sebentar, ya? Please..."* suara Kirana memohon, nada manjanya terdengar jelas, terselip rasa cemas.

Di ujung sambungan sana, terdengar hela napas berat yang sarat akan kekesalan yang mendalam. Arka memijat pelipisnya. Bagi seorang CEO yang sedang memimpin negosiasi proyek bernilai miliaran rupiah, panggilan istrinya yang merengek minta dijemput karena hujan terasa seperti puncak dari kekonyolan dan ketidakdewasaan.

*"Kirana, dengar baik-baik,"* ucap Arka dingin, setiap kata diucapkannya dengan penekanan tajam. *"Saya bukan sopir pribadi kamu, dan mal itu bukan tempat antah berantah yang tidak punya fasilitas umum. Gunakan akal sehatmu. Cari taksi atau minta tolong layanan taksi daring. Jangan ganggu jam kerja saya hanya untuk urusan sepele seperti ini."*

*"Tapi Mas—"l*

*Tut... tut... tut...*

Sambungan telepon diputus begitu saja secara sepihak. Kirana tertegun. Ia mencoba menelepon kembali, menekan tombol panggil berulang-ulang dengan jari yang gemetar. Namun, yang ia dengar bukanlah nada sambung, melainkan suara operator wanita yang kaku: *“Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan.”*

Arka telah mematikan ponselnya.

Kesadaran itu menghantam dada Kirana bagaikan hantaman palu besi. Harapan terakhirnya musnah seketika. Ia berdiri terpaku di tengah kerumunan orang yang sibuk, merasa begitu terasing, kerdil, dan bodoh.

Hujan di luar semakin lebat, angin kencang menerpa cipratan air hingga membasahi ujung mantel wol merah muda Kirana. Suhu udara di sekitar lobi mal yang ber-AC bercampur udara dingin malam membuat tubuhnya mulai meremang. Giginya bergemeletuk kecil. Rasa perih dan sesak kembali membuncah di tenggorokannya, namun kali ini tidak ada air mata yang keluar. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa hambar yang menusuk tulang.

"Dasar wanita manja..." bisik Kirana pada dirinya sendiri, mengulangi kalimat hinaan yang sering dilontarkan Arka kepadanya.

Kini, Kirana akhirnya mengerti. Sifat manjanya yang dulu dianggap wajar dan disayangi oleh keluarganya, di mata Arka adalah sebuah dosa besar—sebuah kelemahan memalukan yang tidak layak mendapatkan toleransi sedikit pun.

Menyadarkan dirinya bahwa berdiri di sana tidak akan mengubah apa pun, Kirana menegakkan dagunya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia tidak boleh terus berdiam diri menjadi pengemis kasih sayang di tempat umum seperti ini.

Dengan langkah kaku dan tertatih-tatih akibat rasa nyeri di tumit kakinya yang lelah, Kirana melangkah keluar dari teras lobi, menerobos gerimis angin dingin menuju area tunggu taksi konvensional di pinggir jalan raya.

Antrean taksi tampak mengular panjang, dipenuhi oleh orang-orang yang juga ingin segera pulang menghindari badai. Kirana ikut berdiri di dalam barisan antrean itu. Tanpa payung melindunginya, gerimis kasar dengan cepat membasahi rambut panjangnya yang tertata rapi. Helai-helai rambut itu menempel di pipinya yang pucat. Mantel wol merah mudanya yang indah kini basah kuyup di bagian bahu, menyerap air hujan dan membuatnya terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Tubuhnya mulai menggigil hebat. Rasa dingin menjalar dari ujung jari kaki hingga ke tulang belakangnya. Di sekelilingnya, beberapa orang melirik ke arahnya dengan pandangan heran—melihat seorang wanita berpenampilan rapi dengan mantel mahal berdiri kedinginan tanpa pelindung di tengah antrean basah.

Setengah jam berlalu dalam penantian yang menyiksa sebelum akhirnya sebuah taksi berlogo perusahaan lama berhenti di hadapannya.

Kirana segera membuka pintu taksi dan masuk ke dalam kursi penumpang belakang yang beraroma khas jok kulit sintetis dan minyak kayu putih. Ia menyebutkan alamat rumah mewahnya kepada sang sopir dengan suara yang sedikit tercekat karena dingin.

Di dalam kabin taksi yang remang-remang, diiringi suara deru mesin mobil yang tua dan sapuan *wiper* kaca depan yang berderit konstan, Kirana memeluk tubuhnya sendiri. Ia meringkuk di sudut jok mobil, mencoba meredam getaran hebat di seluruh tubuhnya.

Sepanjang perjalanan malam itu, pemandangan di luar jendela kaca yang basah oleh air hujan tampak buram oleh bias lampu-lampu jalanan kota. Namun, bayangan wajah Arka yang dingin, tatapan mata yang memuakkan, serta bentakan lewat telepon berputar terus-menerus di kepala Kirana.

Setibanya di depan gerbang rumah besar keluarga Pratama, Kirana membayar tarif taksi dengan lembaran uang kertas dari dompetnya yang sedikit lembap. Ia turun dari mobil, melangkah gontai melewati halaman rumah yang basah kuyup oleh hujan lebat, lalu menekan bel pintu utama.

Bi Inah membukakan pintu dengan wajah terkejut bukan kepalang melihat kondisi nyonya mudanya yang basah kuyup, pucat pasi, dan menggigil hebat.

"Ya Allah, Nyonya! Kenapa basah kuyup begini? Di mana Tuan Arka? Kenapa tidak dijemput?" seru Bi Inah panik sambil segera mengambil handuk kering tebal dari lemari dekat pintu dan membungkus tubuh Kirana yang bergetar.

Kirana menggeleng pelan. Senyum tipis yang amat rapuh tersungging di bibirnya yang membiru. Suaranya terdengar sangat tenang, begitu kontras dengan kondisi fisiknya yang sekarat karena dingin.

"Tidak apa-apa, Bi... Tuan besar sedang sibuk rapat. Aku pulang naik taksi," bisik Kirana lirih.

Ia menolak bantuan Bi Inah untuk memapahnya terlalu lama. Dengan langkah berat yang terseret, Kirana menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai bawah. Sesampainya di dalam kamar, ia langsung melepas mantel wol merah mudanya yang basah kuyup, menjatuhkannya begitu saja di atas lantai kamar mandi, lalu membiarkan air hangat dari *shower* mengguyur tubuhnya yang membeku selama berjam-jam lamanya.

Di saat yang bersamaan, di ruang kerja pribadinya di lantai atas, Arka Pratama baru saja menyelesaikan rentetan rapat panjangnya yang melelahkan. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya, memijat batang hidungnya yang tegang. Ponselnya yang tergeletak di atas meja kini kembali dinyalakan.

Deretan notifikasi panggilan tak terjawab dari nama *Kirana* langsung berderet memenuhi layar ponsel.

Arka mendengus pelan, merasa terganggu. Ia bergumam dalam hati, *“Pasti anak itu merengek lagi karena hujan.”*

Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Arka meletakkan kembali ponselnya di atas meja, sama sekali tidak berniat mengirim pesan atau mengecek apakah istrinya sudah sampai rumah dengan selamat. Baginya, ketidaknyamanan kecil seperti kehujanan adalah pelajaran yang bagus agar Kirana belajar mandiri dan berhenti mengandalkannya.

Namun, Arka tidak pernah tahu—dan malam itu ia sama sekali tidak peduli—bahwa di dalam kamar di lantai bawah, tangis Kirana telah berhenti sepenuhnya, digantikan oleh demam tinggi yang membakar tubuhnya dan tekad dingin yang kian mengakar kuat di dalam jiwanya. Malam itu, di bawah selimut tebal yang gagal menghangatkan tubuhnya yang menggigil, nona manja itu resmi mati, meninggalkan cangkang kosong yang siap berubah menjadi wanita paling tangguh di masa depan.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!