Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama yang tidak sengaja di sebut
Husnan kembali masuk ke kelas dengan pikiran yang masih kacau.
Ia duduk di bangkunya tanpa banyak bicara.
Fajar yang melihat wajah Husnan langsung menoleh.
“Hus, kenapa?”
“Gak apa-apa.”
“Bohong.”
Husnan menghela napas.
“Aku tadi ketemu Arman lagi.”
Fajar langsung terkejut.
“Arman? Yang kemarin?”
“Iya.”
“Dia ngapain?”
Husnan terdiam sebentar.
“Dia ngomong sesuatu tentang ayahmu.”
Fajar langsung serius.
“Bilang apa?”
“Katanya aku harus bertanya kepada Om Hendra kenapa ayahmu dulu mengenal dia.”
Fajar mengerutkan dahinya.
“Ayahku kenal Om Hendra?”
“Itu yang aku juga gak tahu.”
Fajar menunduk.
“Setahuku ayah gak pernah cerita soal itu.”
Husnan memperhatikan wajah Fajar.
“Kalau nanti ayahmu sudah bisa diajak bicara, coba tanyakan.”
“Iya.”
Bel masuk berbunyi.
Bu guru masuk ke kelas dan pelajaran pun dimulai.
Namun selama pelajaran berlangsung, Husnan tidak benar-benar bisa berkonsentrasi.
Nama Arman terus terbayang di pikirannya.
Begitu juga dengan perkataan Pak Bambang.
Husnan merasa semua orang di sekitarnya seperti mengetahui sesuatu yang tidak ia ketahui.
Sementara itu, di rumah Fajar, ayahnya akhirnya terbangun.
Ibunya yang sedang duduk di samping tempat tidur langsung berdiri.
“Sudah bangun?”
Pria itu mengangguk pelan.
“Aku di mana?”
“Di rumah.”
Ia mencoba mengingat kejadian malam sebelumnya.
Wajahnya langsung berubah.
“Jangan tanya aku soal tadi malam.”
Ibunya terdiam.
“Tapi aku perlu tahu siapa yang membuat kamu pulang seperti itu.”
Pria itu menatap istrinya.
“Aku bertemu seseorang.”
“Siapa?”
Ia tidak menjawab.
“Namanya siapa?”
Pria itu kembali terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan.
“Hendra.”
Istrinya langsung terkejut.
“Hendra?”
Pria itu menutup matanya.
“Iya.”
Sementara itu, di sekolah, Husnan masih mengikuti pelajaran.
Bu guru sedang menjelaskan materi di depan kelas.
“Coba kalian buka halaman seratus dua puluh.”
Para murid langsung membuka buku masing-masing.
Ferdi yang duduk di belakang Husnan malah sibuk menggambar sesuatu di bukunya.
Fajar melihat gambar tersebut.
“Fer, itu gambar apa?”
“Rahasia.”
“Kayaknya gambar ayam.”
“Bukan.”
“Terus?”
“Gambar masa depan.”
Fajar tertawa kecil.
“Kalau itu masa depan, suram banget.”
Ferdi langsung menutup bukunya.
“Sudah, jangan lihat-lihat.”
Husnan yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum.
Namun beberapa detik kemudian pikirannya kembali tertuju pada Arman.
Naura yang duduk di depan Husnan menoleh.
“Hus.”
“Iya?”
“Kamu dari tadi diam terus.”
“Lagi mikir.”
“Mikirin apa?”
“Banyak.”
Naura memperhatikan wajah Husnan.
“Kalau ada masalah cerita saja.”
Husnan tersenyum kecil.
“Gak apa-apa, Ra.”
Naura mengangguk lalu kembali melihat bukunya.
Bel istirahat akhirnya berbunyi.
Para murid langsung berdiri dan mulai keluar kelas.
Ferdi langsung menghampiri Husnan.
“Yuk kantin.”
“Iya.”
Fajar masih duduk di bangkunya.
“Hus, kalian duluan.”
“Kamu gak ikut?”
“Aku mau pulang.”
Husnan terdiam.
“Pulang?”
“Iya. Aku mau lihat keadaan ayah.”
“Oh iya. Hati-hati.”
Fajar mengangguk lalu mengambil tasnya.
Sebelum pergi, ia menatap Husnan.
“Kalau nanti aku tahu sesuatu, aku kasih tahu kamu.”
“Iya.”
Fajar kemudian keluar dari kelas.
Husnan memperhatikannya sampai menghilang.
Ferdi menepuk pundaknya.
“Udah, jangan dipikirin terus.”
Husnan mengangguk.
Mereka kemudian berjalan menuju kantin bersama Naura.
Di rumah Fajar, suasananya masih terasa tegang.
Ayah Fajar duduk di ruang tamu.
Ibunya memberikan segelas air.
“Minum dulu.”
Ia mengambil gelas tersebut.
“Fajar sudah pulang?”
“Belum. Dia masih sekolah.”
Pria itu terdiam.
“Jangan ceritakan soal Hendra kepada Fajar.”
Istrinya langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena dia tidak perlu tahu.”
“Tapi sampai kapan kamu mau menyembunyikannya?”
Pria itu tidak menjawab.
“Sudah bertahun-tahun, masalah itu masih belum selesai.”
“Aku tahu.”
“Siapa sebenarnya Hendra?”
Pria itu menatap istrinya.
“Dulu dia bukan orang seperti sekarang.”
“Maksudmu?”
“Dulu kami bekerja bersama.”
Istrinya terkejut.
“Bekerja bersama dalam bisnis?”
“Iya.”
“Terus kenapa berpisah?”
Pria itu menunduk.
“Karena satu kejadian.”
“Kejadian apa?”
Ia terdiam cukup lama.
“Ada sesuatu yang hilang.”
Istrinya mengerutkan dahi.
“Apa?”
“Dokumen.”
“Dokumen apa?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia hanya memandang ke arah pintu.
“Tapi setelah itu Hendra pergi begitu saja.”
“Dan kamu masih mencarinya?”
“Bukan aku yang mencari.”
“Lalu siapa?”
Pria itu menggeleng.
“Orang yang sama yang membuatku keluar malam itu.”
Istrinya langsung terdiam.
“Arman?”
Pria itu mengangguk pelan.
“Iya.”
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu dibuka.
Fajar pulang.
“Ayah?”
Pria itu langsung menoleh.
“Kamu sudah pulang?”
“Iya.”
Fajar meletakkan tasnya.
“Keadaan Ayah gimana?”
“Sudah lebih baik.”
Fajar duduk di samping ayahnya.
“Ayah.”
“Iya?”
“Aku mau tanya sesuatu.”
Pria itu langsung memperhatikan wajah anaknya.
“Apa?”
“Nama Hendra itu siapa?”
Tangannya langsung berhenti bergerak.
Ibunya Fajar ikut terdiam.
“Kamu tahu nama itu dari mana?”
“Jawab dulu, Yah.”
Pria itu menarik napas panjang.
“Kenapa kamu bertanya tentang dia?”
“Karena aku dengar nama itu.”
“Dari siapa?”
Fajar terdiam.
“Ada teman.”
Pria itu langsung terlihat khawatir.
“Temanmu siapa?”
“Namanya Husnan.”
Mendengar nama tersebut, wajah ayah Fajar berubah.
“Husnan?”
“Iya.”
Pria itu menatap istrinya.
Mereka saling berpandangan.
“Ada apa, Yah?”
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Jangan berteman terlalu dekat dengan anak itu.”
Fajar langsung bingung.
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
“Tapi Husnan teman baikku.”
“Ayah bilang jangan!”
Suasana ruang tamu langsung hening.
Fajar terdiam.
Ia belum pernah melihat ayahnya berbicara seperti itu.
“Kenapa Ayah melarangku berteman sama Husnan?”
Pria itu menundukkan kepala.
“Karena keluarganya mungkin akan membawa masalah.”
“Keluarga Husnan?”
“Iya.”
Fajar semakin bingung.
“Tapi Husnan tinggal sama Om Hendra.”
Pria itu langsung menatap Fajar.
“Dia tinggal dengan Hendra?”
“Iya.”
Wajah pria itu semakin pucat.
“Sejak kapan?”
“Baru-baru ini.”
Pria itu langsung berdiri.
“Aku harus bicara dengan Hendra.”
Ibunya Fajar mencoba menahannya.
“Jangan sekarang. Kondisimu belum baik.”
“Aku harus bertemu dengannya.”
“Untuk apa?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia hanya mengambil ponselnya.
Tangannya sedikit gemetar ketika membuka daftar kontak.
Namun sebelum ia menelepon, sebuah pesan masuk.
Ting.
Ia melihat layar.
Pesan tersebut hanya berisi satu kalimat.
“Jangan hubungi Hendra. Dia sudah tahu kamu mengingat semuanya.”
Pria itu langsung membeku.
Istrinya melihat wajahnya.
“Siapa?”
Ia tidak menjawab.
“Siapa yang mengirim pesan?”
Pria itu perlahan mematikan layar.
“Arman.”
Sementara itu, di kantin sekolah, Husnan sedang makan bersama Ferdi dan Naura.
Ferdi sedang bercerita dengan gaya berlebihan.
“Terus gue bilang ke guru, Bu saya bukan malas. Saya cuma sedang menghemat tenaga.”
Naura tertawa.
“Terus gurunya jawab apa?”
“Katanya, tenaga kamu memang dari dulu gak pernah dipakai.”
Husnan langsung tertawa.
“Makanya jangan banyak alasan.”
“Lah, kalian malah membela guru.”
Mereka tertawa bersama.
Namun tiba-tiba Husnan melihat seseorang berdiri di luar kantin.
Seorang pria sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Husnan langsung berhenti tertawa.
“Kenapa, Hus?” tanya Naura.
Husnan menunjuk ke arah luar.
“Itu siapa?”
Ferdi menoleh.
“Mana?”
Pria itu sudah tidak terlihat.
“Barusan ada orang di sana.”
Naura melihat ke arah yang ditunjuk Husnan.
“Gak ada siapa-siapa.”
Husnan terdiam.
Mungkin hanya perasaannya.
Namun beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.
Ia melihat layar.
Nomor tidak dikenal mengirim pesan.
“Jangan percaya semua yang dikatakan Hendra.”
Husnan langsung terdiam.
Ferdi melihat wajahnya.
“Ada apa?”
“Gak ada.”
Husnan buru-buru memasukkan ponselnya ke saku.
Namun tidak lama kemudian pesan kedua masuk.
“Kalau ingin tahu kebenarannya, tanyakan kepada ayah Fajar tentang malam itu.”
Husnan membeku.
“Kenapa orang ini tahu aku berteman dengan Fajar?”
Ia menatap layar beberapa saat.
Kemudian ia membuka pesan tersebut lagi.
Nomor itu tidak memiliki nama.
Husnan mencoba membalas.
“Siapa kamu?”
Pesan terkirim.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada jawaban.
Husnan kembali memasukkan ponselnya.
Di sisi lain, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari sekolah.
Seseorang yang berada di dalam mobil melihat ke arah gedung sekolah.
Ponselnya berada di tangannya.
Ia membaca pesan dari Husnan.
“Siapa kamu?”
Orang tersebut tersenyum tipis.
“Belum saatnya kamu tahu.”
Ia kemudian menyimpan ponselnya.
Sementara di kelas, bel masuk berbunyi.
Husnan kembali bersama teman-temannya.
Namun sepanjang pelajaran, pikirannya tidak tenang.
Ia sekarang memiliki dua pilihan.
Bertanya langsung kepada Om Hendra.
Atau mencari tahu dari keluarga Fajar.
Dan Husnan merasa, kalau ia memilih salah satu jalan tersebut, mungkin tidak akan ada jalan untuk kembali.
Sore harinya, Fajar pulang ke rumah.
Ia kembali melihat ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu.
“Ayah.”
“Iya?”
“Aku mau tanya sekali lagi.”
Pria itu menatapnya.
“Kenapa?”
“Siapa sebenarnya Om Hendra?”
Pria itu terdiam.
Fajar menunggu jawaban.
Beberapa detik kemudian, ayahnya berkata pelan,
“Hendra adalah orang yang pernah dipercaya ayah.”
Fajar mengerutkan dahi.
“Terus?”
“Dan orang yang membuat ayah kehilangan sesuatu yang sangat penting.”
“Apa?”
Pria itu menatap Fajar.
“Belum waktunya kamu tahu.”
Fajar menghela napas.
“Semua orang selalu bilang begitu.”
Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Namun sebelum masuk, ia berhenti.
“Ayah.”
“Iya?”
“Apakah masalah itu ada hubungannya dengan Husnan?”
Ayah Fajar tidak menjawab.
Diamnya justru membuat Fajar semakin yakin.
Ia kemudian masuk ke kamar.
Sementara ayahnya masih duduk sendirian di ruang tamu.
Ia mengambil ponselnya.
Menatap nama Hendra di layar.
Namun ia tidak jadi menelepon.
“Kalau Husnan sudah tinggal bersamanya...” gumamnya.
Ia menutup mata.
“Berarti anak itu mungkin tidak tahu siapa dirinya sendiri.”
Di tempat lain, Hendra sedang duduk di dalam mobil bersama Pak Bambang.
Mereka menuju suatu tempat yang belum diketahui Husnan.
Pak Bambang melihat ke arah Hendra.
“Pak.”
“Iya?”
“Kalau ayah Fajar mulai bicara, semuanya bisa terbongkar.”
Hendra menatap jalan di depan.
“Aku tahu.”
“Terus bagaimana?”
Hendra diam beberapa saat.
“Kita harus sampai lebih dulu.”
“Ke mana?”
Hendra menatap jam tangannya.
“Ke rumah Fajar.”
Pak Bambang langsung terkejut.
“Sekarang?”
“Iya.”
Mobil terus melaju.
Dan tanpa diketahui Hendra maupun Bambang, sebuah mobil lain mengikuti mereka dari kejauhan.
Di dalam mobil itu, Arman sedang memperhatikan kendaraan Hendra.
Ia tersenyum tipis.
“Pergilah, Hendra.”
Tangannya menggenggam ponsel.
“Karena malam ini, semua rahasia mulai terbuka.”