Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang Terlalu Nyata
Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai.
Aku mengerang pelan.
Kepalaku terasa berat, seolah-olah aku baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.
Untuk beberapa saat, aku hanya berbaring tanpa bergerak. Langit-langit putih apartemenku terlihat begitu familiar.
Suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar dari luar jendela.
Suara klakson.
Suara orang-orang berjalan tergesa-gesa.
Bahkan suara mesin kopi dari apartemen sebelah terdengar seperti biasanya.
Aku mengerjapkan mata. Kemudian perlahan duduk.
“...Pagi?”
Suaraku terdengar serak.
Aku menatap sekeliling.
Semuanya sama.
Sofa.
Meja kecil.
Rak buku.
Televisi.
Cangkir yang kutinggalkan di meja semalam.
Tidak ada gedung opera.
Tidak ada gaun panjang.
Tidak ada lampu lilin.
Tidak ada Meg.
Aku terdiam.
Tanganku perlahan menyentuh dada.
Jantungku masih berdegup sedikit lebih cepat.
Aku menutup mata, menghela napasku berat.
Aku membuka mata. “...Mimpi.”
Aku mengusap wajah. “Cuma mimpi.”
Tentu saja.
Apa lagi?
Aku bekerja di Paris pada abad modern.
Aku bukan Christine Daaé.
Aku tidak pernah menjadi penyanyi di gedung opera. Tidak pernah bertemu Phantom. Dan tidak mungkin seorang pria bertopeng muncul dari kegelapan hanya untuk menatapku.
Aku tertawa kecil.
“Mimpi macam apa itu?”
Aku berdiri dari sofa.
Baru saja hendak berjalan ke kamar mandi ketika sesuatu menarik perhatianku.
Aku berhenti.
Buku itu.
Buku tua yang kubeli dari perpustakaan kemarin masih tergeletak di sana.
Aku menatapnya cukup lama.
Ingatan tentang malam tadi kembali berkelebat.
Aku bahkan dapat mengingat perasaan takut yang kurasakan ketika pria bertopeng itu menatapku.
Tanganku bergerak tanpa sadar.
Aku mengambil buku tersebut.
Kubuka halaman yang terakhir kubaca.
The Phantom of the Opera.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu menutup buku dengan cepat.
“Sudah.”
Aku menghela napas.
“Aku tidak boleh memikirkannya lagi.”
Aku meletakkan buku tersebut di rak.
Kemudian bergegas ke kamar mandi.
Aku memiliki pekerjaan.
Dan aku tidak ingin terlambat hanya karena sebuah mimpi aneh.
Beberapa jam kemudian, aku duduk di meja kerja seperti biasa.
Komputer menyala.
Email masuk bertubi-tubi.
Telepon kantor berdering sesekali.
Orang-orang berjalan melewati meja sambil membawa dokumen.
Semua terasa normal.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Aku tidak seceria biasanya.
Aku sendiri tidak tahu mengapa.
Tubuhku terasa lelah.
Bukan sekadar mengantuk.
Lebih seperti seseorang yang baru saja menghabiskan berhari-hari melakukan perjalanan panjang.
Aku bahkan sempat memijat pelipis beberapa kali.
“Kenapa aku merasa seperti habis kerja lembur tiga hari?”
Aku bergumam.
Aku melirik jam.
Belum pukul sepuluh.
Hari masih panjang.
Aku menarik napas.
Tidak ada waktu untuk memikirkan mimpi.
...----------------...
Aku kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi muncul di layar.
Meeting — 10.00 AM
Aku langsung berdiri.
“Ah... meeting.”
Aku mengambil buku catatan dan berjalan menuju ruang rapat.
Ruang meeting sudah hampir penuh.
Aku duduk di salah satu kursi di dekat jendela.
Di hadapanku terdapat layar besar yang menampilkan presentasi.
Beberapa rekan kerja sedang berbicara satu sama lain.
Aku membuka laptop dan menyiapkan catatan.
Tak lama kemudian, manajer departemen kami masuk.
“Selamat pagi semuanya.”
“Selamat pagi.”
Ia duduk di ujung meja.
“Hari ini kita akan membahas evaluasi proyek kuartal sebelumnya dan rencana kampanye untuk tiga bulan ke depan.”
Salah seorang anggota tim menampilkan laporan penjualan.
Grafik muncul di layar.
“Seperti yang dapat kalian lihat, performa kampanye bulan lalu mengalami peningkatan sekitar delapan persen.”
Beberapa orang mengangguk.
Manajer menunjuk grafik.
“Namun peningkatan tersebut belum cukup untuk mencapai target.”
Ia menatap kami satu per satu.
“Kita perlu mencari tahu apa yang membuat angka konversi masih rendah.”
Salah seorang rekan mengangkat tangan.
“Mungkin karena target audiens kita terlalu luas.”
“Jelaskan.”
“Konten kita menjangkau banyak orang, tetapi tidak semuanya merupakan calon pelanggan. Jadi engagement tinggi, tapi conversion rate tidak mengikuti.”
Manajer mengangguk.
“Itu masuk akal.”
Kemudian ia menatap ke arahku.
“Sofia, bagaimana menurutmu?”
Aku tersentak.
“Hm?”
Beberapa orang menoleh.
Aku segera duduk lebih tegak.
“Maaf.”
Manajer tersenyum.
“Aku bertanya tentang target audiens.”
Aku melihat grafik di layar.
“Menurut saya...”
Aku berhenti sejenak.
Pikiranku akhirnya kembali ke ruangan.
“Kalau kita hanya mempersempit audiens berdasarkan usia dan lokasi, hasilnya mungkin tidak terlalu berbeda. Saya pikir kita perlu melihat perilaku mereka.”
Aku mulai menjelaskan.
“Misalnya, orang yang berinteraksi dengan konten kita belum tentu orang yang siap membeli. Kita bisa membagi mereka berdasarkan tingkat ketertarikan, bukan hanya demografi.”
Manajer mengangguk.
“Lanjutkan.”
“Jadi kampanye berikutnya mungkin lebih baik kalau dibuat dalam beberapa tahap. Konten pertama untuk awareness, kemudian edukasi, lalu baru penawaran.”
Seseorang di seberang meja menyahut.
“Itu berarti kita membutuhkan lebih banyak konten.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Tapi menurutku lebih baik memiliki beberapa konten yang memiliki tujuan berbeda daripada mengulang satu jenis konten berkali-kali.”
Ruangan kembali dipenuhi diskusi.
Satu orang memberikan pendapat.
Yang lain menyanggah.
Manajer mencatat beberapa poin.
Perlahan, aku mulai tenggelam dalam pekerjaan.
Angka.
Strategi.
Deadline.
Target.
Presentasi.
Semua hal yang selama ini memenuhi hidupku.
Dan anehnya...
itu membuatku merasa tenang.
Untuk hampir dua jam, aku benar-benar melupakan mimpi tadi malam.
Ketika meeting berakhir, aku kembali ke meja kerja dengan kepala yang jauh lebih ringan.
Aku membuka beberapa dokumen.
Menyelesaikan email.
Memeriksa laporan.
Hingga akhirnya rasa penasaran itu kembali.
Tanpa sadar, tanganku membuka browser.
Aku mengetik:
The Phantom of the Opera original story
Aku menekan enter.
Berbagai hasil pencarian muncul.
Aku membaca beberapa artikel.
Tentang Gaston Leroux, penulis novel dari kisah ini.
Tentang Christine Daaé.
Tentang Erik.
Tentang gedung opera.
Tentang sejarah kisah tersebut.
Aku mengerutkan kening.
Nama-nama itu terasa begitu familiar.
Terlalu familiar.
Aku menggulir layar.
Kemudian membuka salah satu artikel.
Aku membaca tentang adegan-adegan dalam cerita.
Tentang Christine.
Tentang Malaikat Musik.
Tentang Phantom.
Aku berhenti.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
“Malaikat Musik...”
Aku bergumam.
Aku membaca lebih jauh.
Semakin banyak yang kubaca, semakin kuat perasaan aneh itu.
Beberapa bagian yang kuingat dari mimpiku ternyata memang ada dalam cerita.
Carlotta.
Gedung opera.
Phantom.
Mawar merah.
Namun ada sesuatu yang membuatku bingung.
Aku merasa seperti pernah mengalami semuanya.
Bukan sekadar membacanya.
Melainkan...
mengalaminya.
Aku membuka tab baru.
Phantom of the Opera Paris opera house hanging Joseph Buquet
Aku menekan enter.
Beberapa hasil pencarian muncul.
Aku mulai membaca.
“Joseph Buquet...”
Aku menatap layar.
Nama itu membuat tengkukku merinding.
Aku menggulir lebih jauh.
Lalu tiba-tiba—
“Boo!”
“AH!”
Aku hampir melompat dari kursiku.
Tanganku refleks menutup laptop.
Seseorang tertawa.
“Ya ampun, Sofia!”
Aku menoleh.
Zea berdiri di samping mejaku sambil tertawa.
“Wajahmu!”
Aku menatapnya kesal.
“Zea!”
“Aku cuma menyapa.”
“Kau hampir membuat jantungku copot.”
Zea tertawa lagi.
“Maaf.”
Ia kemudian melirik jam.
“Sudah waktunya makan siang.”
Aku menghela napas.
“Serius sudah siang?”
“Serius.”
Ia menunjuk jam di dinding.
“Kau terlalu fokus bekerja.”
Aku melirik layar komputer.
Benar.
Sudah lewat tengah hari.
Zea kemudian menatap layarku.
“Tunggu.”
Ia menyipitkan mata.
“Tadi aku sempat melihat tulisan Phantom of the Opera.”
Aku terdiam.
“Oh.”
Zea menarik kursi di sebelahku.
“Kau sedang membaca tentang itu?”
Aku mengangguk kecil.
“Cuma penasaran.”
“Penasaran?”
“Ya.”
Ia menatapku penuh curiga.
“Sejak kapan kau tertarik dengan cerita hantu?”
Aku tertawa kecil.
“Aku memang suka cerita klasik.”
“Seingatku, kau biasanya lebih suka cerita romantis.”
“Ini juga romantis.”
“Romantis?”
Zea mengangkat alis.
“Bukankah itu tentang pria bertopeng yang menculik penyanyi opera?”
Aku tertawa.
“Kurang lebih.”
Zea berdiri.
“Kalau begitu, ceritakan nanti sambil makan.”
Ia menarik tanganku.
“Ayo.”
“Sebentar, aku masih harus—”
“Tidak.”
Ia langsung memotong.
“Kau sudah bekerja sejak pagi.”
Aku menghela napas.
“Baiklah.”
Aku mematikan layar komputer.
Kami berjalan menuju lift.
Namun ketika pintu lift menutup, pikiranku kembali kepada buku tua di apartemen.
Aku tidak tahu mengapa.
Mimpi itu terasa terlalu nyata.
Aku bahkan masih bisa mengingat suara pria bertopeng itu.
Cara ia berdiri.
Cara ia menatapku.
Dan mawar merah di dadanya.
Aku menggeleng.
Tidak.
Itu hanya mimpi.
Aku tidak boleh terbawa suasana.
Kami makan siang di sebuah restoran kecil tidak jauh dari kantor.
Zea duduk di depanku sambil menikmati makanannya.
“Jadi?”
“Apa?”
“Phantom.”
Aku tertawa.
“Kau benar-benar penasaran.”
“Tentu saja.”
Zea menopang dagunya.
“Apa yang membuatmu tiba-tiba tertarik pada cerita itu?”
Aku memainkan sendok di tanganku.
“Entahlah.”
Aku berpikir sejenak.
“Mungkin karena aku menemukan buku lama kemarin.”
“Buku?”
“Ya.”
“Di mana?”
“Perpustakaan.”
Zea tersenyum.
“Dan buku itu tentang Phantom?”
“Tidak sepenuhnya.”
Aku menggeleng.
“Isinya kumpulan kisah klasik Paris.”
“Menarik.”
“Memang.”
Aku berhenti sejenak.
“Aku cuma merasa kisah Phantom sangat menarik.”
Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Bahwa aku bermimpi menjadi Christine.
Bahwa aku berdiri di gedung opera.
Bahwa aku berbicara dengan Malaikat Musik.
Bahwa aku melihat Phantom.
Dan bahwa semua itu terasa jauh lebih nyata daripada mimpi biasa.
Zea memandangku.
“Kalau begitu, nanti aku mau lihat bukunya.”
Aku tersenyum kecil.
“Boleh.”
Namun dalam hati, aku merasa ragu.
Aku sendiri bahkan belum tahu apakah aku berani membuka buku itu lagi.
Setelah makan siang selesai, kami kembali ke kantor.
Sore berlalu seperti biasa.
Pekerjaan menumpuk.
Email masuk.
Meeting kecil kembali dilakukan.
Hari ini berjalan normal.
Terlalu normal.
Aku hampir berhasil meyakinkan diriku bahwa semua yang terjadi semalam memang hanya mimpi.
Hampir.