Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pedang Bumi Pijar
Awan menatap lekat-lekat pedang besi berkarat di dalam kotak sutra hitam itu.
Pedang itu tidak memancarkan hawa spiritual yang menekan, tidak ada pendar cahaya Qi yang menyilaukan mata seperti Pedang Salju Jatuh milik Wu Jian. Bentuknya kasar, bilahnya setebal tiga jari orang dewasa, dan tidak memiliki mata tajam yang jelas. Jika pedang ini dijajakan di pasar fana, mungkin harganya tidak lebih dari beberapa keping tembaga sebagai besi loak.
Namun, intuisi Awan sebagai seorang petarung fisik menjeritkan hal yang berbeda.
Awan mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram gagang pedang yang dililit oleh kulit binatang usang tersebut. Ia bermaksud mengangkatnya dengan satu tangan layaknya ia mengangkat Kayu Besi Hitam.
Ugh!
Otot lengan Awan seketika menegang keras, namun pedang itu sama sekali tidak bergeser dari kotaknya. Awan tertegun. Ia mengerutkan dahi, lalu menggunakan kedua tangannya, memutar pinggulnya, dan menarik napas panjang.
KRAAAK!
Lantai batu tempat pilar itu berdiri retak saat Awan akhirnya berhasil mengangkat pedang tersebut. Wajah pemuda fana itu memerah. Urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Berat sekali..." desis Awan dengan gigi terkatup.
Jika pedang Kayu Besi Hitamnya berbobot sekitar lima puluh kilogram, maka pedang berkarat bernama Bumi Pijar ini beratnya setidaknya menembus tiga ratus kilogram! Ini bukan terbuat dari besi biasa, melainkan mungkin ditempa dari inti meteorit murni atau besi bintang yang dipadatkan ribuan kali tanpa memedulikan estetika magisnya.
Pedang ini seratus persen murni senjata fana, ditujukan hanya untuk satu hal: menghancurkan apa pun yang berada di jalurnya melalui massa absolut.
Awan harus mengaktifkan Seni Langkah Besi Jatuh secara pasif hanya untuk mendistribusikan berat pedang itu ke kakinya agar ia tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Ia menoleh ke arah Kayu Besi Hitamnya yang telah setia menemaninya sejak dari Dapur Selatan. Permukaannya kini dipenuhi serpihan dan retakan dalam akibat benturan demi benturan dengan Qi spiritual. Kayu itu telah mencapai batasnya. Jika ia menggunakannya lagi melawan ahli Tingkat Sembilan atau makhluk Alam Fondasi Roh, pedang kayu itu pasti akan hancur.
Awan melepaskan ikatan Kayu Besi Hitam dari punggungnya dan menyandarkannya di sisi pilar dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih telah membantuku bertahan hidup sejauh ini."
Sebagai gantinya, ia mengambil tali pengikat berbahan kulit siluman dari Kantong Penyimpanannya, lalu mengikatkan pedang Bumi Pijar ke punggungnya.
Begitu pedang itu menempel, Awan merasa seolah ada sebongkah batu asahan raksasa yang menekan pundaknya. Napasnya langsung memberat. Untuk berjalan normal saja, ia harus memeras tenaga betisnya.
"Bagus. Latihan beban gratis," Awan menyeringai pahit, keringat dingin menetes dari pelipisnya. Kepalanya masih berdenyut sakit akibat penggunaan Niat Pedang Semu sebelumnya, namun ia tidak punya waktu untuk tidur. Ia berjalan dengan langkah berat menuju tangga spiral yang mengarah ke Lantai Tiga.
Sementara itu, di luar Menara Warisan Pusat.
Pelataran batu yang luas itu kini dipenuhi lebih banyak murid yang baru saja tiba dari berbagai penjuru reruntuhan. Zhao Meng, yang baru saja meminum pil penyembuh untuk meredakan luka akibat Badai Pemotong Tulang, duduk bersila dengan wajah pucat pasi.
Tiba-tiba, suara dengungan pelan terdengar dari menara hitam tersebut. Ukiran raksasa berbentuk angka "II" di dinding luar lantai dua menara memancarkan cahaya redup. Tak lama kemudian, cahaya itu naik dan menyalakan angka "III".
Seketika, keributan meledak di antara ratusan kultivator.
"Lantai Tiga! Ada yang berhasil masuk ke Lantai Tiga!"
"Siapa di dalam sana? Kakak Senior Wu Kang belum tiba di sini, kan?"
"Mungkinkah ada murid jenius tersembunyi dari sekte lain yang menyusup ke reruntuhan kita?!"
Zhao Meng membuka matanya, menatap angka yang menyala itu dengan rasa iri dan amarah yang mendidih. Ia teringat pada sosok pelayan berpakaian abu-abu yang berjalan santai menembus badai di depan matanya sendiri.
"Tidak mungkin... Apakah manusia fana itu yang sedang mendaki menara?" gumam Zhao Meng, tangannya mengepal erat. "Mustahil! Tanpa Qi, dia tidak akan bisa bertahan dari racun ilusi atau jebakan formasi di dalam!"
Namun, Zhao Meng adalah orang yang licik. Ia tidak akan mengambil risiko. Ia berdiri dan berteriak kepada para pengikutnya serta murid-murid dari faksi lain.
"Semuanya, dengarkan! Siapa pun yang berada di dalam sana akan mendapatkan warisan sekte kuno. Jika dia keluar nanti, dia pasti akan kelelahan! Mari kita bentuk formasi pengepungan di sekitar badai ini. Siapa pun yang keluar, kita tangkap dan kita paksa dia menyerahkan harta karunnya! Harta reruntuhan ini adalah milik bersama Sekte Daun Angin!"
Hasutan Zhao Meng yang dibalut keserakahan itu langsung disetujui oleh mayoritas kultivator. Mereka mulai mengatur posisi, memasang jebakan jaring spiritual, dan menyiapkan sihir pengekang di sekeliling Menara Warisan Pusat.
Seekor naga yang baru terbangun di dalam menara, kini sedang ditunggu oleh kawanan serigala kelaparan di luar.
Di dalam menara, Awan baru saja melangkah melewati pintu Lantai Tiga.
Ruangan ini tidak memiliki hantu kabut maupun patung perunggu. Alih-alih, ruangan ini benar-benar kosong. Lantainya terbuat dari pelat besi datar, dan langit-langitnya sangat rendah, hanya berjarak beberapa jengkal di atas kepala Awan.
Begitu kedua kaki Awan memijak pelat besi tersebut, pintu di belakangnya tertutup rapat.
Suara mekanis kuno kembali menggema, kali ini terdengar lebih berat.
"Ujian Lantai Ketiga. Ruang Penekan Jiwa. Bertahanlah tanpa berlutut selama satu batang dupa."
Sebuah dupa merah menyala di sudut ruangan.
Sebelum Awan sempat menganalisis instruksi tersebut, hukum gravitasi di dalam ruangan itu mendadak berubah. Bukannya ditarik oleh bumi, Awan merasa seolah-olah langit itu sendiri yang runtuh menimpa pundaknya.
BRUUUK!
Tulang-tulang di sekujur tubuh Awan berderak keras. Tekanan di ruangan ini melonjak menjadi sepuluh kali lipat gravitasi normal secara instan!
Ditambah dengan beban pedang Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram di punggungnya, tubuh Awan seketika merosot. Ia nyaris jatuh berlutut, namun di detik terakhir, ia menancapkan tangannya ke lantai besi, menahan tubuhnya dalam posisi setengah merangkak.
"Arrrgh!" Awan mengerang keras. Darah merembes keluar dari hidung dan gusi-gusinya. Pembuluh darah di matanya pecah, membuat pandangannya memerah.
Ini bukan sekadar beban fisik. Tekanan ini mengandung Aura Spiritual yang menyerang langsung ke pikiran. Kepalanya, yang sudah sakit karena penggunaan Niat Pedang, kini seolah dihimpit oleh dua balok es raksasa.
Ruangan ini dirancang untuk menghancurkan Dantian dan kehendak kultivator jika mereka tidak memiliki kapasitas Qi yang mumpuni untuk membentuk pilar penyangga.
Bagi Awan yang tidak memiliki Dantian, tekanan spiritual ini langsung menghantam kesadarannya.
"Bertahan... tanpa berlutut..." Awan memuntahkan seteguk darah ke lantai besi. Napasnya terdengar seperti puputan pandai besi yang rusak.
Ia berusaha menggunakan kekuatan ototnya untuk berdiri. Namun, setiap kali ia mencoba meluruskan kakinya, tekanan itu seolah mengetahui perlawanannya dan semakin memberat. Semakin ia melawan dengan tenaga kasar, semakin kuat tekanan itu mencekiknya.
Waktu berjalan sangat lambat. Awan melirik ke arah dupa di sudut ruangan. Dupa itu baru terbakar sepersepuluhnya, namun Awan merasa sudah berada di sana berhari-hari.
Ototku tidak cukup. Tenaga kasarku tidak cukup. Jika aku memaksakan diri, tulang belakangku akan patah, Awan menyadari realitasnya. Ia tidak terkalahkan. Batas kefanaannya sedang diuji hingga ke titik nadir.
Awan memejamkan matanya yang berdarah. Ia harus mengubah pendekatannya.
Ia teringat kalimat dari gulungan [Seni Langkah Besi Jatuh]. "Jangan tolak beban, seraplah. Saat kau menjadi gunung, angin hanyalah hembusan napas."
Ia juga teringat kalimat dari gulungan [Pemahaman Niat Pedang]. "Pedang sejati adalah kehendak. Realitas harus tunduk."
Mengapa ia harus mengangkat beban langit dengan ototnya? Langit tidak bisa diangkat. Tapi pilar penyangga langit tidak pernah mencoba melawan langit; pilar itu hanya menembus dari bumi menuju ke atas, lurus, dan tak tergoyahkan.
Awan berhenti meronta. Ia merilekskan otot bahunya yang tegang, membiarkan tekanan itu meresap ke dalam tubuhnya, dan menyalurkannya langsung ke telapak kakinya. Ia tidak menekan ke atas, melainkan membiarkan bumi di bawahnya menahan beban tersebut melaluinya.
Di saat yang sama, ia memusatkan energi mentalnya. Pikiran yang tadinya kacau balau akibat rasa sakit, kini dipaksa diam. Ia membayangkan dirinya bukan sebagai manusia fana yang sedang dihukum, melainkan sebagai sebilah pedang berkarat yang ditancapkan tegak lurus di atas tanah.
Pedang tidak merasa sakit. Pedang tidak merasa berat. Pedang hanya memiliki satu tujuan: Menembus.
Perlahan, namun pasti, tubuh Awan yang gemetar mulai bergerak naik. Inci demi inci. Tulang belakangnya berbunyi berderak-derik, menyesuaikan diri dengan tekanan gila tersebut.
Darah mengalir dari pori-pori kulitnya, menodai lantai besi. Namun wajahnya tidak lagi memancarkan rasa sakit, melainkan sebuah ketenangan yang mati.
Awan melepaskan tangannya dari lantai. Ia berdiri tegak.
Kedua kakinya kokoh memijak bumi, punggungnya lurus menantang langit. Matanya terpejam, dan napasnya mengalir panjang serta sangat tenang. Beban tiga ratus kilogram dari Bumi Pijar di punggungnya dan sepuluh kali lipat gravitasi spiritual kini mengalir melewati tulang-tulangnya layaknya air yang mengalir turun dari atas gunung, terserap habis ke pelat besi di bawahnya.
Awan tidak melawan hukum ruangan itu. Ia memahaminya, dan menjadikannya bagian dari postur tubuhnya.
Di dalam ketidaksadarannya, tanpa ia sadari, pemahaman Niat Pedangnya yang masih semu mulai berevolusi. Dari sekadar "Niat Membunuh" dan kompresi udara, kini kehendaknya mulai menyatu dengan pertahanan batinnya. Niat pedangnya bukan lagi sekadar alat serang, melainkan sebuah tameng jiwa.
Satu menit. Sepuluh menit. Tiga puluh menit berlalu dalam keheningan yang penuh dengan tekanan mematikan.
Di sudut ruangan, serpihan abu terakhir dari dupa merah itu akhirnya jatuh ke lantai. Api dupa itu padam.
Seketika, tekanan gravitasi yang meremukkan tulang itu menghilang tanpa jejak.
Awan langsung jatuh berlutut, terbatuk keras memuntahkan darah hitam dari paru-parunya. Tubuhnya lemas tak bertenaga, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis-habisan. Ia berbaring telentang di lantai besi yang dingin, menatap langit-langit yang kini terasa normal, dadanya naik turun dengan cepat.
"Ujian Lantai Ketiga diselesaikan. Nilai: Sempurna. Ujian Menara Warisan Pusat... Selesai."
Mata Awan sedikit melebar. Selesai? Hanya tiga lantai?
Ruangan di sekeliling Awan tiba-tiba bergetar ringan. Dinding besi di hadapannya perlahan terbelah, membuka sebuah ruang rahasia kecil yang memancarkan cahaya keemasan lembut.
Di tengah ruangan itu, melayang sebuah altar batu. Dan di atas altar itu, mengambang sebuah tetesan cairan berwarna emas terang yang memancarkan energi kehidupan murni, sangat kontras dengan hawa liar Reruntuhan Lembah Angin.
"Warisan Tertinggi diaktifkan. Esensi Darah Fana Purba."
Suara mekanis itu memberikan penjelasannya untuk yang terakhir kalinya.
Awan, meski tubuhnya hancur dan energinya terkuras habis, memaksa dirinya untuk bangkit. Ia berjalan tertatih mendekati altar tersebut. Tetesan darah emas itu tidak memancarkan Qi Spiritual sedikit pun. Energi yang ada di dalamnya murni energi kehidupan—energi Vitalitas murni dari zaman sebelum Qi menguasai dunia, di mana kekuatan fisik adalah satu-satunya hukum alam.
Manusia fana itu mengulurkan tangannya yang bergetar hebat. Ujian hidup dan mati yang ia lalui, semua keringat, darah, dan tulang yang patah, akhirnya mengantarkannya pada hadiah yang sesungguhnya.