NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 027: Dunia Membeku Minus Lima Puluh

Pukul 03.17, hujan berhenti.

Hendra tidak tidur.

Ia duduk di ruang kontrol, satu tangan memegang mug baja berisi sup panas, satu tangan lain berada di kepala Blacky. Di enam layar depan, dunia luar tampak terlalu tenang.

Tiga puluh hari hujan membuat telinga terbiasa pada suara air.

Begitu suara itu hilang, bunker terasa seperti masuk ke ruang mayat.

Blacky mengangkat kepala lebih dulu. Telinganya tegak. Bulu di punggungnya sedikit berdiri.

Hendra menatap panel suhu luar.

12°C.

Lima menit kemudian, 9°C.

Sepuluh menit kemudian, 5°C.

Angka itu turun tanpa memberi jeda bagi tubuh manusia untuk mengerti.

Di Indonesia lama, 5°C sudah menjadi kabar aneh. Di Bandung pun orang akan memotret embun di kaca, menulis status lucu, lalu mencari jaket tipis.

Sekarang 5°C hanyalah pintu pertama menuju sesuatu yang tidak berniat bercanda.

Hendra menekan tombol arsip cuaca. Semua sensor luar mulai merekam per menit. Kamera depan masih melihat pagar, jalan lama, dan tubuh pengungsi yang tersengat kemarin malam.

Lumpur di sekeliling tubuh itu tidak lagi bergerak.

Air di permukaan tanah menegang seperti kulit tipis.

Pukul 03.46, angin datang dari selatan.

Bukan angin kencang biasa. Ia menyapu tanah rendah dengan suara panjang, menekan pohon, mengangkat sisa air, lalu menghantam pagar. Kamera depan bergetar. Gambar memutih, kembali, memutih lagi.

Suhu luar: 0°C.

Hendra berdiri.

"Mulai," gumamnya.

Blacky menggonggong pendek, lalu mundur mendekati pemanas lantai.

Hendra membuka panel bunker utama. Pintu anti-ledakan terkunci. Lapisan insulasi stabil. Ventilasi memakai mode resirkulasi. Pemanas inti menyala di level dua. Genset cadangan tetap mati, menunggu perintah otomatis jika baterai turun di bawah batas.

Semua berjalan sesuai desain.

Semua uang yang ia hamburkan, semua hinaan yang ia telan, semua barang yang orang sebut kegilaan, kini berdiri sebagai angka hijau di depan matanya.

Suhu dalam: 22°C.

Kadar oksigen: normal.

Daya: stabil.

Persediaan makanan: lebih dari cukup.

Air bersih: aman.

Bahan bakar: aman.

Di luar, dunia mulai kehilangan warna.

Pukul 04.12, radio wideband menyala sendiri oleh alarm frekuensi darurat. Suara yang keluar pecah dan berlapis derau.

"...semua pos... suhu turun... ulangi, suhu turun tidak wajar..."

Hendra menaikkan volume.

"...air di jalan membeku... kendaraan berhenti... jangan keluar rumah... jangan menyentuh logam luar..."

Suara lain masuk, menabrak saluran yang sama.

"Pos pesisir selatan hilang kontak. Angin membawa kristal es. Kami tidak bisa..."

Derau.

Lalu satu teriakan pendek.

Hendra tidak mengubah ekspresi.

Ia pernah mendengar teriakan seperti itu.

Di kehidupan lalu, badai beku pertama datang ketika manusia masih percaya hujan hanyalah bencana air. Mereka bersembunyi di lantai dua, di masjid, di sekolah, di mal, di gudang. Mereka mengira asal tidak tenggelam, mereka masih bisa bertahan.

Lalu angin dingin datang.

Pakaian basah menjadi kulit kedua yang membunuh. Lantai basah berubah menjadi es. Gagang pintu, pagar, sepeda motor, antena, semuanya menjadi jebakan yang menggigit daging.

Orang yang kemarin masih berebut air minum pagi itu mati sambil memeluk lutut.

Di kehidupan itu, Hendra juga hampir mati di hari pertama badai beku.

Ia bersembunyi di bawah meja warung yang setengah runtuh, membungkus tubuh dengan plastik bekas beras, menggigit jarinya sendiri agar tidak berteriak. Saat itu ia berjanji, jika langit memberinya kesempatan kedua, ia tidak akan lagi menjadi orang yang menunggu belas kasihan cuaca.

Sekarang ia berdiri di bunker hangat, memakai sandal rumah, dengan sup panas di tangan.

Balas dendam terbaik kepada kiamat ternyata bukan teriakan.

Balas dendam terbaik adalah tetap nyaman saat dunia memohon ampun.

Pukul 04.38, suhu luar turun ke -18°C.

Kamera belakang kehilangan warna normal. Mode termal mengambil alih. Lereng yang kemarin masih cokelat kini menjadi bidang kelabu. Air yang turun dari saluran drainase samping membeku menjadi garis putih keras sebelum mencapai tanah bawah.

Pompa drainase nomor dua berhenti otomatis karena sensor luar mencatat pembekuan di saluran permukaan. Sistem mengalihkan aliran ke jalur bawah tanah yang sudah dilapisi pemanas kabel.

Hendra tersenyum tipis.

Saat Manajer Bonar dulu membaca spesifikasi itu, wajahnya tampak ingin tertawa.

"Pak, pemanas kabel untuk saluran drainase di Bandung? Ini bukan Rusia."

Hendra masih ingat jawabannya.

"Tulis saja di kontrak."

Sekarang kontrak itu membedakan bunker hidup dan kuburan mahal.

Blacky menggoyangkan ekor ketika Hendra membuka laci makanan. Hendra mengeluarkan potongan daging matang dari kulkas kecil ruang kontrol, menghangatkannya sebentar, lalu meletakkannya di mangkuk.

"Makan. Hari ini dunia luar resmi tidak cocok untukmu."

Blacky mencium daging, makan dua gigitan, lalu kembali melihat layar. Ia lebih tenang ketika Hendra tetap di dekatnya.

Pukul 05.05, radio kembali hidup.

"...Bandung utara... banyak warga terjebak... suhu minus dua puluh tujuh... kami butuh..."

Suara itu putus.

Saluran lain masuk.

"...Jakarta tidak menjawab..."

Putus.

"...Surabaya..."

Tidak ada kalimat setelah nama itu.

Hendra menatap radio beberapa detik, lalu mencatat di jurnal digital:

Fase badai beku pertama dimulai.

Perkiraan penyintas setelah fase stabil: kurang dari lima persen.

Angka itu bukan ramalan kosong.

Ia pernah melihatnya.

Dari seratus orang yang berteriak di awal kiamat, mungkin lima yang masih mampu bergerak setelah dingin pertama. Dari lima itu, sebagian akan mati karena lapar, sebagian karena luka, sebagian karena orang lain. Yang benar-benar bisa membangun tempat aman sendiri lebih sedikit lagi.

Kiamat tidak membunuh manusia sekaligus.

Ia menyaring.

Mula-mula panas membunuh yang lemah.

Air membunuh yang tinggal rendah.

Lalu dingin membunuh yang terlambat mengerti.

Hendra menutup jurnal.

Ia tidak merasa suci karena selamat. Ia hanya merasa tepat.

Semua orang punya waktu mengejeknya ketika ia membeli makanan beku dalam jumlah gila.

Semua orang punya waktu menyebutnya anak kaya stres ketika ia membangun gudang pendingin bawah tanah dengan pintu baja.

Semua orang punya waktu menertawakan genset, baterai, pemanas, jaket termal, obat demam, obat luka, makanan anjing, garam, gula, solar, bahkan papan kayu cadangan.

Sekarang waktu mereka habis.

Pukul 06.20, cahaya pagi tidak datang.

Langit hanya menjadi abu-abu lebih terang. Angin membawa butiran putih yang berputar di depan kamera. Bukan salju indah seperti gambar wisata. Ini serpihan tajam yang lahir dari air laut, hujan, debu, dan udara yang tiba-tiba jatuh ke suhu mustahil.

Suhu luar: -36°C.

Pagar listrik perimeter masih aktif, tetapi sebagian kawat tertutup es. Sistem kompensasi tegangan bekerja. Lampu indikator tetap hijau.

Tubuh pengungsi di luar sudah menjadi bentuk kaku yang hampir menyatu dengan tanah. Hujan kemarin yang membasahinya kini berubah menjadi lapisan bening di bahu dan wajah.

Hendra melihat cukup lama.

Jika orang itu menunggu satu malam saja tanpa memanjat, ia tetap mungkin mati oleh dingin ini.

Pagar hanya mempercepat jawaban.

Hendra mematikan layar kamera depan selama sepuluh detik. Beberapa pemandangan tidak perlu dipakai untuk mengasah hati setiap menit.

Ketika layar dinyalakan lagi, dunia tetap sama.

Lebih putih.

Lebih mati.

Pukul 08.03, sensor suhu luar mencapai -50°C.

Panel berkedip kuning karena angka itu berada di batas bawah akurasi alat. Hendra menyalakan sensor cadangan berpelindung dan melihat hasilnya:

-49,7°C.

Stabil turun.

Angin membuat angka itu terasa jauh lebih buruk bagi kulit manusia. Orang yang keluar tanpa perlindungan benar tidak perlu menunggu lama. Napasnya akan menyakiti paru-paru. Ujung jari kehilangan rasa. Pakaian basah menjadi peti es yang menempel.

Hendra membuka pintu penyimpanan dalam.

Rak-rak makanan berdiri rapi seperti barisan pasukan. Beras vakum. Mi instan. Daging beku. Sayuran kering. Kaleng. Bumbu. Kopi. Cokelat. Obat. Vitamin. Selimut termal. Kompor portabel. Baterai. Filter air.

Di Ruang Penyimpanan, jumlahnya jauh lebih tidak masuk akal lagi.

Kapal tanker. BBM. senjata. Amunisi. Peralatan. Makanan matang. Bahan baku. Kendaraan. Mesin.

Seluruh hidup yang dibutuhkan untuk menonton dunia mati dari balik dinding tebal.

Hendra mengambil satu kaleng daging sapi, satu bungkus sayur kering, dan sebotol kecil bumbu pedas. Ia kembali ke dapur bunker, menyalakan kompor listrik, lalu memasak bubur daging panas.

Aroma makanan memenuhi ruangan.

Blacky duduk lurus seperti prajurit kecil, menunggu bagian miliknya.

Hendra tertawa pelan untuk pertama kali sejak malam.

"Jangan lihat aku begitu. Kau sudah makan."

Blacky mengibaskan ekor.

Hendra tetap memberinya potongan kecil.

Di luar, mungkin ribuan orang sedang mati karena tidak punya api.

Di dalam, seekor anjing kecil memilih-milih potongan daging.

Perbedaan itu kejam.

Tetapi Hendra tidak membangunnya untuk merasa bersalah.

Ia membangunnya untuk menang.

Siang hari, radio terakhir yang masih jelas muncul sebentar.

"Ini siaran darurat... kepada siapa pun yang masih menerima... jangan keluar... jangan berjalan di jalan terbuka... cari ruang tertutup... bakar apa pun yang bisa dibakar... lindungi anak-anak..."

Suara pembaca berhenti cukup lama hingga Hendra mengira ia hilang.

Lalu suara itu kembali, lebih pelan.

"Jika ada bunker, jangan tinggalkan bunker."

Kalimat itu disusul derau panjang.

Hendra menunggu sepuluh menit. Tidak ada suara manusia lagi.

Ia mematikan radio.

Ruang kontrol menjadi hening, hanya diisi dengung lembut mesin, napas Blacky, dan bunyi sendok menyentuh mangkuk.

Pada layar, Bandung tidak lagi terlihat seperti kota tropis.

Jalan menjadi pita putih. Pohon membungkuk oleh es. Pagar, tanah, kendaraan kosong, dan tubuh di luar membeku dalam satu warna yang sama.

Dunia lama selesai bukan dengan ledakan besar.

Ia selesai dengan diam.

Hendra duduk di kursi, menyelimuti kaki dengan kain hangat, dan membuka peta bunker untuk pemeriksaan berikutnya. Ia masih harus menjaga suhu, mengatur ventilasi, memantau celah panas, dan memastikan tidak ada titik bocor yang menarik bahaya baru di masa depan.

Kemenangan bukan berarti ia boleh ceroboh.

Kemenangan berarti ia bisa melakukan semua itu sambil kenyang.

Di luar, suhu bertahan di sekitar -50°C.

Di dalam, bubur daging masih mengepul.

Hendra menyuap satu sendok, merasakan panas turun ke perutnya, lalu menatap layar putih yang menelan seluruh dunia.

Kurang dari lima persen manusia akan melewati hari-hari pertama ini.

Dan dari lima persen itu, siapa pun yang ingin hidup lebih lama kelak harus belajar satu hal:

Di zaman es baru, pintu Hendra Wijaya bukan tempat orang datang untuk meminta.

1
Sisca Raharjo
keren kak, semangat 😍😍😍
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!