NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3 TANGISAN DI TENGAH NIGHT

***

Darian melangkah maju perlahan, setiap pijakan sepatu boots kulitnya menghasilkan gema kaku di lorong batu yang dingin. Posturnya yang tinggi tegap serta wibawa alami seorang Panglima Tertinggi menciptakan tekanan udara yang berat di sekitar mereka. Nyali Intan yang berada di dalam tubuh Iris benar-benar menciut. Logika gadis modern itu mendadak menguap, tergantikan oleh rasa terintimidasi yang begitu nyata dari sosok pria di depannya.

Darian berhenti tepat dua langkah di hadapan Iris. Ia menunduk sedikit, menatap wajah istrinya yang terbingkai rambut perak berkilau.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan di tengah malam begini, Grand Duchess?" tanya Darian kembali, suaranya seperti bilah es yang menggores permukaan danau membeku.

Iris menelan ludah dengan susah payah. Ada sensasi aneh yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya—sebuah dorongan emosional yang amat asing, seolah-olah hormon tubuh Iris yang sedang hamil ini mulai mengambil alih kesadaran Intan.

"S-saya... lapar," sahut Iris, suaranya mencicit pelan.

"Lapar?" Darian mengulang kata itu dengan alis terangkat tipis, menatap Iris dengan raut wajah yang penuh ketidakpercayaan. Pria itu menghela napas pendek, menganggap situasi ini tak lebih dari sekadar kerumitan sepele. "Baiklah. Kalau hanya itu, kau bisa memanggil Lisa dan memerintahkan koki istana untuk memasak untukmu. Kau tidak perlu berkeliaran di lorong seperti ini."

"TIDAK!" sahut Iris lantang secara refleks.

Darian mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kilatan jengkel yang sangat tipis berdesir di mata kelabunya. "Tidak?"

Iris refleks menutup mulutnya sendiri, terkejut dengan nada bicaranya yang mendadak meledak-ledak. Namun, dorongan dari dalam dirinya makin tidak terkendali.

"S-saya... saya cuma ingin makan puding mangga!" sahut Iris lagi, kali ini dengan nada yang hampir mirip gumaman merajuk sambil jemari lentiknya mengelus pelan perutnya yang masih rata. "Puding mangga yang manis, dingin... yang lembut..."

Darian menatap pergerakan tangan Iris di atas perut wanita itu, lalu kembali menatap manik mata violet istrinya yang kini mulai berkaca-kaca. Senyum miring yang kaku dan penuh ironi terukir di bibir sang Grand Duke.

"Ck. Jangan terlalu kekanak-kanakan, Iris," ucap Darian dingin, nadanya lugas tanpa basa-basi. "Ingat posisimu sebagai Grand Duchess dari Ravengard. Jangan membuat keributan konyol hanya karena hal yang tidak masuk akal di jam satu malam."

Kalimat itu sebenarnya hanyalah teguran datar yang biasa Darian ucapkan. Namun, bagi Iris saat ini, kata-kata itu menghantam dadanya seperti pukulan telak. Tiba-tiba saja, gelombang rasa sedih, sebal, lelah, dan rasa tidak dihargai menyeruak hebat dari dalam dadanya.

Darian tidak menunggu jawaban. Pria berdarah dingin itu langsung membalikkan tubuhnya, berniat kembali ke ruang kerjanya dan mengabaikan drama malam ini.

Namun, baru dua langkah Darian menjauh, sebuah suara tangisan pecah di belakangnya.

“Huk... hiks... hh-hawaaa...”

Iris berdiri terpaku di tengah lorong, kedua tangannya menutup wajah, dan air mata deras mengalir membasahi pipi mulusnya. Ia menangis tersedu-sedu bagaikan anak kecil yang tidak dituruti kemauannya saat berada di toko mainan.

Di dalam kepalanya, Intan menangis batin panik setengah mati. 'Gila! Kenapa gue menangis begini?! Woi, Intan! Lu kan cewek independen mantan anak BUMC, kenapa cuma gara-gara dimarahin kanebo kering ini lu malah mewek kayak bocah TK?! Ini hormon ibu hamil jenis apa lagi, Tuhan?!'

Namun, tubuh Iris tidak bisa dikompromi. Isakannya semakin keras dan badannya gemetaran hebat. Rasa pusing yang mencengkram kepalanya secara mendadak membuat pandangannya mulai berbayang-bayang.

Darian terhenti di tempatnya. Ia memejamkan mata sejenak, mengepalkan jemarinya di sisi tubuh. Pria itu merasa sangat jengah. Drama apa lagi yang sedang dimainkan oleh wanita ini? Apakah dia berpura-pura menangis agar aku menaruh simpati? pikir Darian sinis.

Ketika Darian hendak berbalik untuk menegurnya kembali, sebuah jeritan melengking memecah keheningan lorong dari arah belakang Iris.

"Yang Mulia Grand Duchess!"

Lisa, yang rupanya terbangun karena mendengar kegaduhan dan menyusuri lorong, berlari terengah-engah dengan wajah pucat pasi. Gadis pelayan itu melihat nyonyanya menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang sudah oleng dan hampir jatuh menghantam lantai marmer yang keras dan dingin.

"Yang Mulia!" jerit Lisa lagi saat melihat lutut Iris terkulai.

Suara panik pelayan itu membuat Darian berbalik secara instan. Mata kelabunya membelalak saat melihat tubuh rapuh bergaun putih itu mulai kehilangan kesadaran dan ambruk ke belakang.

Srett!

Tanpa berpikir panjang, refleks militer Darian bertindak lebih cepat dari pikirannya. Dalam satu gerak cepat, Darian melangkah lebar dan menangkap tubuh Iris tepat sebelum kepalanya membentur lantai.

Tubuh ringan beraroma harum bunga lavender itu kini berada penuh di dalam dekapan dadanya yang bidang. Wajah Iris pucat pasi, matanya terpejam rapat, dengan sisa-sisa air mata yang masih basah di sudut matanya.

"Iris!" panggil Darian, suaranya yang biasa datar kini menyiratkan ketegangan yang nyata. Ia menepuk pelan pipi dingin istrinya, namun Iris sama sekali tidak bergeming.

Darian menoleh tajam ke arah Lisa yang sudah berlutut gemetaran di sampingnya.

"Cepat panggil tabib sekarang juga!" perintah Darian dengan suara menggelegar yang penuh otoritas militer. "Suruh dia datang ke kamarku detik ini juga!"

"B-baik, Yang Mulia! Baik!" Lisa menyapu air matanya dan segera berlari secepat angin menyusuri tangga.

Darian tidak membuang waktu. Tanpa ragu, ia menyelipkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Iris dan tangan lainnya di punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan bridal carry. Kain gaun tidur sutra putih milik Iris terkibar pelan, dan rambut peraknya yang panjang terurai jatuh menjuntai di atas lengan berotot Darian.

Dengan langkah-langkah lebar dan tergesa-gesa, Darian membawa Iris menuju kamar pribadinya yang terletak paling dekat dari lorong tersebut.

Pintu kamar sang Grand Duke terbuka lebar. Berbeda jauh dengan kamar utama Iris yang sangat luas, megah, dan penuh dengan ukiran emas yang hangat, kamar pribadi Darian jauh lebih sederhana dan terkesan dingin.

Ukuran ruangannya tidak terlalu besar. Di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang kayu berukir tegas tanpa kelambu mewah, sebuah kursi santai dari kulit hitam yang sudah agak aus, serta meja kerja besar yang penuh dengan tumpukan peta taktik perang, dokumen wilayah, dan lilin yang hampir padam. Suasana ruangan itu terasa sangat suram dan minim ornamen—mencerminkan pemiliknya yang hanya menggunakan kamar ini sebagai tempat melepas lelah sejenak dari urusan negara.

Darian melangkah mendekati ranjang tunggalnya. Dengan sangat hati-hati—sebuah gerakan lembut yang bertolak belakang dengan reputasinya sebagai jagal berdarah dingin—ia membaringkan tubuh halus Iris di atas kasurnya.

Ia menarik selimut tebal berwarna abu-abu tua hingga menutupi dada Iris, memastikan udara malam yang dingin tidak menusuk kulit porselen wanita itu.

Darian bergeming di samping ranjang. Ia menunduk, menatap wajah istrinya yang terbaring kaku. Warna di bibir mungil Iris telah memudar, berganti menjadi pucat pasi. Napas wanita itu terdengar halus namun teratur.

Darian perlahan merapatkan jemarinya. Di dalam benaknya, bayangan Iris yang menangis tersedu-sedu hanya karena menginginkan puding mangga kembali berputar. Mengapa wanita yang biasanya penuh dengan kepalsuan dan ambisi ini mendadak menjadi begitu rapuh dan kekanak-kanakan?

Atau... apakah ini adalah dampak dari nyawa kecil yang kini tengah tumbuh di dalam rahim wanita itu?

Darian menghela napas berat, tangannya yang kasar merapikan sehelai rambut perak Iris yang menutupi dahinya. Tatapan matanya yang biasa dingin kini menyimpan keputusasaan dan kebingungan yang tak terucapkan.

"Sebenarnya... apa yang harus aku lakukan padamu, Iris?" bisik Darian pelan, suaranya tenggelam di dalam keheningan kamar suram itu.

Bersambung.....

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!