NovelToon NovelToon
Jangan Mati, Sayang

Jangan Mati, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / Perperangan / Tamat
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Mía Ríos

Vania Maharani pergi ke Levante untuk merekam perang, bukan untuk jatuh cinta. Namun sebuah bom tekanan di jalan hancur Alepo mempertemukannya dengan Satria Heryanto, prajurit pendiam yang menjinakkan kematian dengan tangan tenang dan meninggalkan seutas benang merah di pergelangan Vania.
Bertahun-tahun kemudian, perang mempertemukan mereka lagi di Garun, Hapir, dan Zandi: di ladang ranjau, barak berdebu, tempat penampungan anak, rumah sakit lapangan, dan misi rahasia yang tidak akan tercatat di laporan resmi. Di antara tugas, luka, dan pilihan yang tidak pernah sederhana, Vania harus memutuskan seberapa jauh ia sanggup mengejar kebenaran, dan seberapa banyak hatinya bisa bertahan ketika orang yang ia cintai selalu berjalan menuju bahaya.
Ini adalah kisah cinta yang dibangun dari hal-hal kecil yang bertahan setelah ledakan: tali merah, harmonika, apel, sepatu yang talinya diikatkan, cincin di jari yang salah, dan satu kalimat yang menjadi jangkar saat ingatan runtuh: Sat dan Van sudah menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mía Ríos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Malam Pertama

Kaos Satria terlalu besar untuk Vania.

Panjangnya sampai pertengahan paha, lengannya menutupi siku, dan kerahnya begitu lebar sampai satu bahunya terbuka. Kaos itu hitam, berbahan katun yang sudah aus oleh ratusan kali cuci, dan berbau sabun batang serta Satria, aroma yang tak punya nama, tetapi akan Vania kenali di mana pun di dunia.

Satria duduk di tepi ranjang dengan alat bantu dengar sudah dilepas dan cahaya lampu meja menciptakan bayangan di wajahnya. Vania keluar dari kamar mandi mengenakan kaos itu, rambutnya terurai dan masih basah. Satria menatapnya.

Ia tidak berkata apa-apa. Tidak perlu. Cara ia menatapnya lebih fasih daripada kata apa pun, mata yang menyusuri wajah, leher, bahu yang terbuka, kaki, dengan kelambatan yang bukan penilaian melainkan perenungan. Seolah ia ingin menghafalnya.

Vania duduk di sampingnya. Tempat tidur tunggal itu nyaris tidak cukup untuk mereka berdua, kasur pegas yang berderit setiap kali bergerak dan seprai putih yang beraroma lavender karena Pak Erman menjemurnya di bawah matahari bersama ranting-ranting lavender di antara cucian.

"Kamu gugup?" tanya Satria. Ia mengatakannya ke telinga kanan Vania, agar Vania tahu ia mendengarkan.

"Sedikit. Kamu?"

"Sangat."

Vania tertawa. Kejujuran adalah hal yang paling ia sukai dari Satria, cara lelaki itu mengatakan "sangat" tanpa bersembunyi, tanpa berakting, tanpa perisai maskulinitas yang akan digunakan laki-laki lain sebagai tameng. Ia gugup dan mengakuinya, dan pengakuan itu lebih menarik daripada demonstrasi percaya diri apa pun.

Mereka berciuman perlahan. Ciuman itu dimulai lembut, bibir bertemu bibir, tangan Satria di pipinya, tangan Vania di dadanya. Lalu ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih mendesak, seperti percakapan yang bergerak dari salam menuju hal-hal yang penting. Satria melepas kaos dari tubuh Vania dengan kelembutan yang sama seperti saat ia menjinakkan bahan peledak, pelan, penuh perhatian, seolah setiap sentimeter kain adalah kabel yang harus ditangani hati-hati.

Vania membuka kancing kemejanya. Di baliknya, bekas-bekas luka. Ia mengenalnya karena pernah melihatnya lewat kamera, garis serpihan logam di sisi kiri tubuh, bekas bulat peluru karet di bahu, bekas luka panjang di perut yang ditinggalkan ledakan dua puluh enam September seperti tanda tangan. Vania menyentuhnya dengan jari. Satu per satu. Satria diam, mata terpejam, membiarkannya membaca riwayatnya dalam braille.

"Sakit?" bisik Vania.

"Tidak lagi."

Kali pertama itu canggung dan lembut.

Vania sempat mengira Satria akan setepat biasanya dalam hal ini, tetapi ternyata tidak. Ia canggung. Siku mereka membentur kepala ranjang, kasur berderit seolah sedang protes, kaki tersangkut seprai. Vania tertawa ketika lutut Satria menghantam lututnya. Satria tertawa ketika Vania tanpa sengaja menarik rambutnya. Mereka tertawa bersama, dalam diam, mulut menempel di bahu masing-masing agar tidak membangunkan Pak Erman yang tidur di balik dinding.

Tawa itu berubah. Dari gugup menjadi lembut, dari lembut menjadi hening, dari hening menjadi kesunyian yang lain, kesunyian yang terbuat dari napas, sentuhan, dan dua tubuh yang sedang mempelajari bahasa masing-masing. Satria mencium lehernya, tulang selangkanya, bahu yang tadi dibiarkan terbuka oleh kaos. Vania menelusuri bekas luka di perut Satria dengan ujung jari dan merasakan lelaki itu menahan napas.

Gelang merah, gelang baru yang Vania pasangkan pada malam pernikahan Kopral Rivas, menggesek kulitnya setiap kali Satria menggerakkan pergelangan tangan. Benang merah di kulit Vania. Simbol tertua di dunia: kita terhubung.

Sesudahnya, berbaring di tempat tidur tunggal dengan kaki saling bertautan dan seprai berantakan, Vania menyandarkan kepala di dada Satria dan mendengarkan jantungnya. Detaknya masih cepat, frekuensi seseorang yang baru berlari dan belum kembali ke irama normal.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Vania.

"Lebih dari baik."

"Lebih baik daripada menjinakkan bom?"

"Jauh lebih baik daripada menjinakkan bom."

Vania tersenyum di dada Satria. Bekas luka di perutnya berada di bawah pipi Vania, garis tak rata, timbul, yang naik turun mengikuti napasnya. Vania menciumnya. Satria meletakkan tangan di rambutnya.

"Vania."

"Ya?"

"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menyebut namamu."

Mereka tetap diam. Di luar, Suka Lestari tidur. Sungai mengeluarkan suara yang dikeluarkan sungai ketika tak ada yang mendengarnya, gumaman tetap yang bukan bahasa tetapi mirip bahasa. Jangkrik menyanyikan lagu satu nada. Angin menggerakkan daun-daun pohon jeruk nipis di halaman.

Vania tertidur lebih dulu. Satria tetap terjaga sedikit lebih lama, bukan karena insomnia, bukan karena mimpi buruk, melainkan karena alasan yang berlawanan: karena momen itu terlalu baik untuk ditutup. Karena ia ingin tinggal satu menit lagi di dalam versi dunia ini, tempat tidak ada ledakan, tidak ada permen berbungkus kertas warna-warni, tidak ada denging di telinga. Hanya perempuan ini di dadanya, dengan rambut basah yang berbau sampo murah miliknya, bernapas pelan.

Ia tertidur dengan tangan di rambut Vania dan sudut kiri bibir terangkat.

Vania bangun lebih dulu.

Cahaya Suka Lestari berbeda dari cahaya kota, lebih bersih, lebih langsung, tanpa penyaring kabut polusi dan kaca yang dipasang kota di depan matahari. Cahaya itu masuk lewat jendela kamar dan jatuh di wajah Satria seperti selimut emas.

Vania memandangnya tidur. Ini pertama kalinya ia melihat Satria seperti itu, sepenuhnya rileks, pertahanan turun, dengan wajah yang mungkin akan ia miliki seandainya perang tidak pernah ada. Kerut di dahinya menghilang. Rahangnya kendur. Bibirnya sedikit terbuka. Bekas luka di pelipis tampak lebih jelas dalam cahaya pagi, garis tipis nyaris perak yang menceritakan kisah yang belum pernah Satria ceritakan kepadanya secara utuh.

Ia tampak muda. Ia tampak seperti dirinya yang sebenarnya, laki-laki dua puluh delapan tahun yang seharusnya sedang memulai hidup, bukan menyusunnya kembali.

Vania meletakkan tangan di pipinya. Satria tidak terbangun. Ia mengusap tulang pipi Satria dengan ibu jari, garis rahangnya, sudut kiri bibirnya. Sudut yang terangkat ketika sesuatu membuatnya geli, atau ketika ia menatap Vania, atau ketika ia mengatakan sesuatu yang penting.

Dari halaman tercium aroma kopi dan kayu bakar. Pak Erman sudah bangun. Anjing tetangga menggonggong. Seekor ayam jantan berkokok, terlambat, seolah ia juga ketiduran.

Vania kembali berbaring di samping Satria. Ia memejamkan mata. Tidak tidur. Ia tetap berada di ruang antara tidur dan terjaga, tempat segalanya lembut dan tak ada yang sakit, dengan matahari Suka Lestari di wajahnya, lengan Satria di pinggangnya, dan aroma jeruk nipis serta kopi masuk lewat jendela.

Ia berpikir: seharusnya selalu seperti ini.

Ia berpikir: tidak ada hal sebaik ini yang bertahan selamanya.

Ia tetap tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!