NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Kamar Arina terletak di bagian paling belakang kediaman keluarga Volans. Pagi itu, Julius melangkah menyusuri lorong panjang hingga tiba di depan pintu kamar putri sulungnya itu.

Pencahayaan di dalam kamar selalu redup. Begitu pintu terbuka, aroma lavender yang lembut langsung menyambutnya.

Julius memandang sekeliling ruangan dengan tatapan rumit. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki ke kamar ini.

"Ayah?"

Arina yang baru keluar dari kamar mandi tampak sedikit terkejut melihat kedatangan ayahnya. Ia segera menghampiri Julius.

"Silakan duduk, Ayah."

Julius mengangguk. Keduanya duduk berhadapan di dekat jendela.

"Kemarin malam Arcturus sudah datang. Namun nanti siang, Arcturus akan datang untuk melamar Stella secara resmi."

Arina sudah mengetahui kabar itu dari Stella. Namun, ia tidak mengerti mengapa ayahnya sengaja datang hanya untuk menyampaikan hal tersebut. Apa hubungannya dengan dirinya?

Julius menghembuskan napas panjang, seolah beban berat menekan kedua pundaknya.

"Lalu..." katanya pelan, "Ayah juga sudah mengajukan lamaran kepada Orion. Ayah memintanya menjadi suamimu."

Ia menatap Arina sesaat sebelum melanjutkan. "Ayah harap kau bersedia."

Senyum tipis muncul di bibir Arina, tetapi tak sedikit pun menghangatkan wajahnya. Jika aku tidak memiliki hak untuk menolak, untuk apa Ayah datang meminta persetujuanku?

Namun, pikirannya seketika terhenti.

Orion?

Mata Arina sedikit membulat. Bukankah Orion adalah pria yang dicintai Stella?

Apa Stella akan membencinya jika ia menikah dengan Orion? Mungkin Stella akan mengira Arina menolak permintaannya semalam karena sejak awal memang menginginkan Orion.

"Tapi, Ayah, kenapa bukan Stella saja yang menikah dengan Orion?" tanya Arina pelan. Ada nada pasrah dalam suaranya.

Belum sempat Julius menjawab, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu.

"Apa maksudmu itu?" Teresa masuk tanpa permisi, menatap Arina dengan sorot mata tajam.

"Kenapa kau ingin Stella menikah dengan Orion?" ujarnya sinis. "Jangan-jangan kau sendiri yang bermimpi menjadi istri Arcturus?"

Arina berbalik perlahan. Tatapan birunya yang dingin tertuju pada ibu tirinya, tetapi wajahnya tetap datar.

"Dengarkan baik-baik, Arina. Stella tidak akan menikah dengan pria sekejam Orion." Senyum mengejek terukir di bibir Teresa. "Putriku pantas mendapatkan pria sebaik Arcturus, bukan seorang jenderal yang hidupnya hanya dipenuhi perang."

Ucapan itu seolah menegaskan bahwa Stella adalah permata keluarga Volans, sedangkan Arina hanyalah seseorang yang dapat dikorbankan kapan saja.

Arina mengalihkan pandangannya kepada Julius.

"Baik, Ayah," ucapnya tenang. "Aku akan menikah dengan Orion."

Ia menerima keputusan itu begitu saja, seolah pernikahan tersebut hanyalah urusan kecil yang tidak berarti apa-apa baginya.

Julius mengembuskan napas lega, sementara Teresa tersenyum puas. Tak seorang pun menyadari bahwa ketenangan Arina justru membuatnya menjadi sosok yang paling sulit ditebak.

...\=\=\=...

Siang itu, rombongan Arcturus Bootes, putra Wali Kota Varendel, tiba di kediaman keluarga bangsawan kelas satu, Volans. Ia datang bersama kedua orang tuanya, Stevanus Bootes dan Maurice Bootes.

"Selamat datang di kediaman sederhana kami," sambut Julius dengan ramah.

"Silakan, mari masuk." Teresa mempersilakan mereka menuju ruang tengah yang telah dihias dengan mewah. Berbagai hidangan kelas atas telah tersaji rapi di atas meja.

"Terima kasih, Tuan dan Nyonya Volans," ucap Stevanus setelah duduk.

Maurice mengambil tempat di samping kanannya, sementara Arcturus duduk di sisi kirinya.

"Kamilah yang seharusnya berterima kasih karena Tuan Wali Kota berkenan mengunjungi kediaman kami," balas Julius penuh hormat.

Teresa duduk anggun di sisi kanan Julius, sedangkan Stella duduk di sebelah kiri dengan kepala sedikit tertunduk.

Sementara para orang tua berbincang hangat, Arcturus dan Stella hanya duduk diam.

Arcturus adalah pria tampan berkulit putih dengan mata jingga yang mencolok serta rambut cokelat yang sedikit menutupi dahinya. Di seluruh Varendel, ia dikenal sebagai bangsawan muda yang ramah dan dermawan. Tak sedikit wanita yang mengaguminya.

Di sisi lain, Stella dikenal sebagai gadis yang anggun, pemalu, dan berpendidikan. Menurut Arcturus, Stella adalah pasangan yang sempurna. Karena itulah, saat ayahnya memutuskan untuk melamarnya, ia langsung menyetujuinya tanpa keberatan.

Di sudut ruangan, Arina berdiri membaur bersama para pelayan. Keberadaannya nyaris tak dianggap. Dengan tenang, ia mengamati setiap percakapan dan setiap gerakan Arcturus, terutama cara pria itu memandang Stella.

Entah mengapa, Arina merasa ada sesuatu yang ganjil.

Di permukaan, Arcturus tampak seperti pria yang sempurna. Namun, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Arina merasa tidak nyaman.

"Nona Stella benar-benar serasi dengan Tuan Acrux," bisik salah seorang pelayan. Acrux adalah panggilan akrab Arcturus.

"Tentu saja. Sampah keluarga ini pasti iri melihat keberuntungan Nona Stella," balas pelayan lain sambil melirik Arina.

"Hahaha... memangnya kalau iri kenapa? Dia cuma sampah. Tidak ada bangsawan yang mau menikahinya."

Mereka tertawa pelan, seolah Arina tidak sedang berdiri beberapa langkah dari mereka.

Arina membiarkan semua itu. Ia tidak tertarik meladeni orang-orang yang hanya pandai bergosip tanpa memahami kedudukan mereka sendiri.

Lagi pula, mereka hanya mampu menyakiti dengan kata-kata. Merasa tidak ada lagi yang perlu diperhatikan, Arina kembali ke kamarnya.

Setelah jamuan selesai, Stevanus menatap Stella dengan sorot penuh wibawa.

"Jadi, Stella, apakah kau bersedia menikah dengan Arcturus?"

Suasana ruangan mendadak hening.

Stella menelan ludah dengan susah payah. Di balik meja, Teresa diam-diam mencubit pahanya hingga terasa nyeri. Tak memiliki pilihan lain, Stella mengangguk pelan.

Maurice langsung tersenyum bahagia. Julius dan Teresa pun tampak lega. Hanya Stella yang tidak mampu membalas senyum mereka.

"Kalau begitu, pernikahan akan dilangsungkan satu minggu lagi," putus Stevanus.

Jantung Stella seakan berhenti berdetak.

Satu minggu lagi...? Bukankah kemarin, pernikahan ini akan dilangsungkan bulan depan?

Ini terlalu cepat.

Meski demikian, pembicaraan kembali berlangsung hangat seolah keputusan besar baru saja dibuat dengan sangat mudah.

Tak lama kemudian, Arcturus mengajak Stella berjalan-jalan di halaman samping.

Keduanya duduk di sebuah ayunan kayu di bawah rindangnya pepohonan.

"Kenapa wajahmu muram?" tanya Arcturus lembut. "Kalau kau sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan ini, aku tidak akan memaksamu. Aku bisa berbicara kepada Ayah dan Ibu untuk membatalkannya."

Suaranya terdengar hangat dan menenangkan. Namun entah mengapa, Stella justru tidak merasakan ketenangan sedikit pun.

"Aku baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Kita bisa menikah seperti yang semua orang inginkan."

"Jadi, bukan itu yang kau inginkan?"

Stella kembali terdiam. Andaikan ia benar-benar bebas memilih, tentu Arcturus bukanlah pria yang akan ia jadikan suami.

"Diam berarti dugaanku benar." Arcturus mengembuskan napas pelan. Anehnya, senyumnya tetap ramah tanpa sedikit pun menunjukkan rasa tersinggung.

Stella segera mengalihkan pembicaraan.

"Aku ingin mengenalkanmu pada kakakku. Bagaimana?"

"Boleh."

Mereka berjalan menuju bagian belakang kediaman Volans. Di sepanjang jalan, Stella menjelaskan berbagai tanaman obat yang tumbuh di kebun. Arcturus mendengarkannya dengan penuh perhatian.

"Kamarnya ada di sini," gumam Stella sambil berhenti di depan sebuah pintu tua di bagian paling belakang rumah.

Arcturus mengernyit.

Kenapa kakak Stella tinggal di tempat seperti ini? Bukankah bagian belakang rumah biasanya ditempati para pelayan?

Tok... tok... tok...

Stella mengetuk pintu tiga kali, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali menemui Arina.

"Kak, aku datang bersama Acrux untuk menyapamu."

Aneh... hubungan mereka tidak seperti kakak beradik pada umumnya, pikir Arcturus.

Pintu perlahan terbuka.

Seorang wanita berambut ungu muncul dari balik pintu. Mata birunya yang jernih menatap Arcturus dengan tenang, tetapi menyimpan kesan yang sulit dijelaskan.

"Kak," sapa Stella sopan.

"Salam, Nona Pertama Volans," ucap Arcturus sambil sedikit membungkukkan badan.

Ekspresi Arina tetap datar.

"Mari kita bicara di ruangan sebelah, Stella."

Tanpa menunggu jawaban, Arina berjalan lebih dulu. Stella dan Arcturus mengikuti di belakangnya.

"Dia benar-benar kakakmu?" bisik Arcturus pelan. "Maksudku... kalian sangat berbeda."

"Kami memiliki ayah yang sama, tetapi ibu yang berbeda," jawab Arina tanpa menoleh. Ia membuka pintu sebuah ruangan kecil di samping kamarnya.

"Silakan masuk."

Arcturus tersenyum canggung. Ia tidak menyangka Arina mendengar bisikannya.

Ketiganya duduk mengelilingi sebuah meja bundar.

Dengan gerakan anggun, Arina menuangkan teh ke dalam tiga cangkir, lalu menyodorkannya kepada Stella dan Arcturus.

"Aku Arina Volans."

"Arcturus Bootes," balas Arcturus sambil menerima cangkir teh. Meskipun namanya telah dikenal di seluruh Varendel, ia tetap memperkenalkan diri dengan sopan kepada Arina.

...***...

...like, komen dan vote...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!