NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

"Saya temannya Regina di sekolah, Om."

​Helga melepas pijakan kakinya dari tanah, lalu menaruh standar samping motornya dengan bunyi klang! yang cukup nyaring di keheningan malam. 

Ia menegakkan tubuhnya, melangkah satu pijakan mendekati pintu pagar besi putih yang masih tertutup.

​Hermawan menuruni tiga anak tangga teras perlahan. 

Map tebal di tangan kirinya diturunkan ke samping paha, kacamata berbingkai hitamnya memantulkan cahaya lampu teras yang terang.

​"Teman sekolah?" Hermawan menatap Helga dari ujung kepala sampai ujung sepatu ketsnya yang sedikit kusam.

 "Kamu satu kelas sama Regina?"

Regina menahan napasnya selama dua detik. 

​"Bukan, Om. Saya kelas 12 IPS," jawab Helga tenang, suaranya sopan dan stabil tanpa getaran. 

"Tadi saya kebetulan lewat daerah dekat rel pas mau balik. Terus ngeliat Regina lagi nunggu di pinggir jalan raya sendirian. Karena udah mau jam delapan lewat dan angkutan jarang, jadi saya tumpangi sekalian.”

Hermawan berkedip sekali. Pandangannya beralih ke Regina yang masih berdiri kaku di samping pagar besi.

"Bener begitu, Regina?" tanya Hermawan, nada suaranya melunak separuh.

​"Iya, Pa," sahut Regina cepat, matanya menatap lurus ke arah kemeja batik Hermawan. 

"Tadi Regina emang mau nunggu angkutan, tapi kebetulan Helga lewat."

Hermawan mengangguk-angguk pelan. Ia melangkah mendekati pagar besi, lalu membuka selot kunci atas dengan bunyi kllik.

​"Aduh, ya ampun... makasih banyak ya, Nak," ucap Hermawan dengan senyum tipis yang mulai mengembang di wajah tegasnya. 

"Om tadi sempet khawatir karena Regina belum pulang jam segini. Katanya tadi cuma mau sebentar sama Shinta."

Helga menundukkan kepalanya sedikit, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai gestur hormat. 

"Sama-sama, Om. Lagian emang searah jalan baliknya."

​"Nama kamu siapa tadi?"

​"Helga, Om. Helga Barisma."

​"Oh, Helga," Hermawan menepuk besi pagar pelan. 

"Makasih ya, Helga. Untung ada kamu yang nawarin tumpangan. Kalau gak, anak perempuan ini pasti kemalaman nunggu sendirian di pinggir jalan."

​"Iya, Om. Sudah kewajiban bantu teman," balas Helga lancar tanpa sedikit pun melirik ke arah Regina.

Regina memperhatikan ujung sepatu kets Helga yang terkena sedikit cipratan lumpur di dekat standar motor. 

​"Kamu gak mau mampir dulu? Minum teh hangat di dalam?" tawar Hermawan ramah, memiringkan badannya memberi jalan.

"Makasih banyak offer-nya, Om," kata Helga sambil melangkah mundur kembali ke dekat motornya. 

"Tapi ini udah makin malam. Saya izin langsung pamit pulang aja, takut dicariin orang rumah juga."

​"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Helga. Bawa motornya pelan-pelan."

​"Siap, Om. Regina, gua balik duluan ya," pamit Helga, memberikan anggukan pendek ke arah Regina.

​Regina hanya mengangguk tipis tanpa bersuara. "Iya."

​Helga naik ke atas jok motor matic hitamnya, menaikkan standar samping, lalu menyalakan mesin. 

Suara mesin motor meraung halus di gang rumah yang sepi—Brummm...

​Ia memutar arah motornya perlahan, melaju menyusuri jalan kompleks hingga bayangan jaket jeansnya menghilang di balik belokan tiang listrik.

"Ayo masuk, Gin. Udah dingin di luar," ajak Hermawan sambil menggeser daun pagar besi agar tertutup kembali.

​Klek.

​Regina melangkah mengekor di belakang Hermawan menuju pintu utama rumah. 

​Saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang terang benderang, aroma masakan tumis kangkung dan ayam goreng mentega masih tersisa tipis di udara.

​Ratna sedang berdiri di dekat meja makan, merapikan beberapa tudung saji dan menyeka permukaan kayu meja memakai lap kain setengah basah.

Ratna mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Matanya langsung tertuju pada Regina.

​"Lho, Regina udah pulang?" tanya Ratna, melipat lap kainnya menjadi empat bagian. 

"Tadi Mama dengar ada suara motor di depan. Kamu diantar Shinta?"

​"Bukan, Ma," sahut Hermawan seraya meletakkan map dokumennya di atas meja konsol dekat tangga. 

"Tadi diantar temannya dari sekolah. Katanya ketemu di jalan dekat rel."

​Ratna menghentikan usapan tangannya di meja. Matanya memicing menatap Hermawan, lalu beralih ke Regina. 

"Teman yang mana, Pa? Laki-laki?"

​"Iya, temannya satu sekolah. Namanya Helga," jawab Hermawan santai sambil melepas kacamata hitamnya dan membersihkannya memakai ujung kemeja. 

"Baik budi anak itu. Mau nganterin Regina sampai depan pagar malam-malam begini."

Jari-jari Ratna melonggar dari lipatan lap kainnya. Wajahnya tidak menunjukkan rasa lega seperti Hermawan. Matanya menatap Regina lebih dalam.

​"Helga?" ulang Ratna dengan suara pelan yang tertahan di tenggorokan.

​Regina tidak menghindari tatapan ibunya. Ia memegang tali ranselnya, berdiri tegak di depan meja makan. "Iya, Ma."

​Ratna menarik napas pendek melalui hidung. 

Ia mengingat kembali nama itu—nama cowok yang pernah mengantarkan jaket hujan warna biru tua ke rumah mereka dua minggu lalu, cowok yang sama yang berada di barisan anak-anak IPS.

​"Helga yang waktu itu nganterin kamu pulang hujan hujanan?” tanya Ratna, intonasinya turun setengah nada.

“iya ma, dia.” ucap Regina tenang.

"Ya sudah," kata Ratna akhirnya, suaranya kembali datar. 

"Kamu ganti baju dulu di atas, Regina. Terus turun buat cuci kaki dan minum air hangat."

​"Iya, Ma. Regina ke kamar dulu," pamit Regina pendek.

​Ia membalikkan badan dan melangkah menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua. 

Pukul sembilan malam lewat sepuluh menit, suasana di dalam kamar Regina terasa sangat hening. 

Lampu meja belajar bernuansa putih terang memancarkan cahaya di atas permukaan meja kayu jati yang tertata rapi.

​Regina sudah mengganti pakaiannya memakai kaus tidur katun warna biru muda yang longgar. 

Rambut panjangnya diikat asal-asalan ke belakang memakai karet rambut warna hitam.

​Ia duduk di kursi belajarnya, merogoh tas kecil yang ditaruhnya di atas kasur, lalu mengeluarkan ponselnya.

​Layarnya menyala menunjukkan pukul 21.12 WIB.

Regina menatap layar ponselnya. Ada tiga pesan masuk dari Shinta yang belum sempat ia baca:

'Gin, lu udah nyampe rumah belum?'

'Gue udah dijemput abang gue nih.'

'Nanti kalau libur weekend kita ke sana lagi ya, waffle-nya enak bgt!'

​Regina menggeser jarinya di layar, membalas pesan Shinta singkat:

'Udah nyampe. Oke.'

​Ia kemudian menggeser layar ke bawah. 

Di baris pesan paling dasar, ada nama nomor tanpa kontak yang tersimpan—nomor Helga.

Regina menekan nomor tersebut. Ia hendak mengetik ucapan terima kasih karena Helga tidak membongkar kebohongannya di depan Papanya tadi.

​Namun sebelum jemarinya menyentuh papan ketik layar, sebuah pesan masuk baru mendadak muncul dari nomor Helga terlebih dahulu:

​'Bensin motor gua habis di depan lampu merah rel. Jangan lupa besok gantiin uang bensin yang dua puluh ribu tadi, soalnya udah gua pakaikan buat bayar kopi Varen.'

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!