NovelToon NovelToon
Wanita Malam

Wanita Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”

mas aku bukan orang baik pergih saja:"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

wanita malam: cemburu berlebihan

Langkah kaki Kevin menjauh seketika, suara sepatunya bergema dingin di lorong rumah sakit yang sunyi. Raka hanya bisa menatap punggung kakaknya yang kian menjauh, rasa bersalah menyusup tajam di sela rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh. Mama memeluk bahunya erat, tapi pelukan itu tak mampu menutupi kenyataan—luka lama antara kakak beradik itu kembali terbuka lebar, lebih perih dari sebelumnya.

Sementara itu, di kamarku yang sederhana, jantungku berdegup tak karuan. Pikiran tentang perjanjian itu terus menghantui, seolah ada bayang gelap yang mengintai di balik segala kebaikan Kevin. Aku menghela napas panjang, merapikan baju yang akan kupakai ke acara Raka besok. Setidaknya di sana, sebentar saja, aku bisa melupakan sejenak segala beban yang membebani pundakku.

Keesokan harinya...

Matahari sudah condong ke barat saat aku tiba di kediaman Raka yang megah bak istana. Pagar besi tinggi berukir indah terbuka lebar, menyambut deretan mobil mewah yang berjejer rapi. Jantungku berdesir—aku tak pernah membayangkan akan masuk ke lingkungan yang begitu asing bagiku. Begitu melangkah masuk, aroma bunga mawar melati bercampur wangi masakan mewah langsung menyapa hidung.

"Alya! Kamu datang!" Raka berlari kecil menghampiriku, senyum lebar tak pernah lepas dari wajahnya. Ia tampak gagah dengan setelan jas hitam yang pas di badan. "Aku kira kamu batal datang."

"Ya mana berani aku batal kalau yang ngundang kamu," jawabku sambil tersenyum canggung.

Belum sempat kami berbincang lebih lama, suasana di pintu utama berubah hening. Seorang pria berjalan masuk dengan wibawa yang tak bisa dipungkiri—itu Kevin. Matanya tajam menyapu seisi ruangan, hingga akhirnya terpaku tepat ke arahku dan Raka. Tatapan itu dingin, tajam, dan entah mengapa membuatku ingin menghilang begitu saja.

Raka menyadari kehadirannya, tanganku perlahan dilepaskan. "Kak..." sapanya pelan, ragu-ragu.

Kevin melangkah mendekat, tak menyapa siapa pun selain menatapku lekat-lekat. "Kamu ada di sini?" suaranya rendah namun berat, seolah menahan amarah yang entah dari mana asalnya.

"Kak Kevin... aku..."

"Kamu tahu ini acara siapa? Kamu tahu siapa adikku?" potongnya cepat.

"Alya temanku, Kak. Aku yang mengundangnya," sahut Raka membelaku.

"Teman?" Kevin tertawa sinis pelan. "Kamu tahu siapa dia sebenarnya? Kamu tahu apa yang dia lakukan demi uang?"

Darahku seketika dingin. Bagaimana bisa dia bicara begitu? Di depan semua orang? Air mata mulai menggenang, tapi aku tak ingin jatuh di sini.

"Kevin..." suara Mama terdengar mendekat. "Cukup. Jangan buat keributan di hari adikmu."

Kevin menghela napas kasar, menatapku sekali lagi dengan sorot mata yang tak bisa kuartikan—campuran marah, kecewa, dan entah apa lagi. "Ikut aku," perintahnya singkat lalu berbalik badan.

Kaki terasa berat melangkah, tapi aku tahu aku tak punya pilihan selain mengikutinya keluar ke taman belakang yang sepi...

Langkah kakiku berat seolah diikat beban seribu batu saat mengikuti punggungnya yang tegap menjauh dari keramaian pesta. Sepatu hakku berdentang pelan di atas ubin marmer, menyatu dengan suara napas ku yang tak beraturan. Tak ada satu kata pun terucap di antara kami sampai kami tiba di sudut taman yang rindang, jauh dari jangkauan pandang dan pendengar siapa pun. Angin sore menerpa pelan, mengibarkan ujung gaunku, namun tak mampu mendinginkan suhu yang tiba-tiba terasa panas membara di antara kami.

Kevin berhenti mendadak. Ia berbalik badan, menatapku lekat seakan ingin membaca setiap inci raut wajahku.

"Kamu datang ke sini atas undangan dia?" suaranya rendah, bergetar menahan emosi yang meluap.

Alya mengangguk pelan, menelan ludah susah payah. "Iya... Raka teman baikku. Dia minta aku datang."

"Teman?" Kevin melangkah maju selangkah, membuatku mundur terbentur batang pohon besar. "Kamu tahu siapa Raka bagi aku? Kamu tahu masa lalu yang menghancurkan hubungan keluarga kami karena dia? Dan sekarang kamu dengan santainya berdiri di sampingnya, tersenyum seolah tak ada apa-apa?"

"Dia orang yang baik, Kevin... Apa yang terjadi dulu itu sudah berlalu. Raka sangat menyesal," suaraku mulai bergetar menahan tangis.

"Berlalu?" Kevin tertawa getir, matanya berkaca bukan karena takut, melainkan karena kekecewaan yang dalam. "Coba tanya pada gadis yang ditabraknya lima tahun lalu apakah semudah itu melupakan rasa sakitnya. Tanya pada aku yang harus menanggung semuanya sendirian!"

Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. "Dan kamu... kamu yang aku kira berbeda, ternyata sama saja. Kamu datang ke pesta keluarga musuhku? Atau jangan-jangan kamu sengaja mendekati aku sekadar untuk mendekati dia lebih leluasa?"

Darahku mendidih bercampur perih tak terkira. "Kamu pikir aku sejahat itu? Kamu pikir main-main dengan perasaan orang semudah itu bagiku? Apa semua kebaikan yang aku terima darimu, semua perhatian itu... hanya kamu balas dengan tuduhan seperti ini?"

Air mata yang sejak tadi ku tahan akhirnya tumpah sudah.

"Kalau kamu benci melihatku bersamanya, bilang saja. Tapi jangan menuduhku macam-macam tanpa tahu apa yang ada di hatiku. Aku datang karena dia teman. Dan aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan ibuku, tapi bukan berarti kamu berhak mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh aku temani!"

Kevin terdiam terpaku, seakan baru sadar betapa kejamnya kata-kata yang baru saja meluncur dari bibirnya melihat lelehan air mata di pipiku. Amarahnya perlahan luruh berganti penyesalan yang menggunung, namun harga dirinya masih menahan kata maaf itu keluar.

Di kejauhan, di balik jendela kaca besar, Raka menyaksikan adegan itu dengan dada yang sesak. Mama berdiri di sampingnya, mengusap punggung anak keduanya lembut, namun matanya tak lepas menatap kedua sosok di taman itu dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan—antara harap, cemas, dan sesal yang tak kunjung usai.

Angin berhembus pelan di taman itu, menyisakan hening yang canggung. Kevin masih terpaku menatap air mata yang meluncur di pipi Alya.

"Maksud kamu... kamu benar-benar tak tahu siapa gadis yang ditabrak Raka dulu?" suaranya serak.

Alya menggeleng lemas. "Aku tak tahu apa-apa soal itu. Aku kenal Raka sejak semester pertama. Dia yang memastikan aku tetap bisa kuliah saat hampir putus asa. Dia yang selalu ada saat aku tak punya tempat berpijak. Tapi dia tak pernah bercerita soal masa lalu kelam itu, apalagi soal kamu..."

Belum sempat Kevin menjawab, langkah kaki mendekat. Raka berdiri di sana, napasnya tak beraturan.

"Jangan salahkan dia, Kak. Aku yang tak pernah cerita," suaranya bergetar. "Selama tiga tahun aku temani dia, bantuin dia... berharap suatu saat dia bisa melihat aku lebih dari sekadar teman. Tapi Kakak datang tiba-tiba, memberinya segalanya sekaligus... dan aku sadar, aku tak akan pernah bisa bersaing sama Kakak."

Kevin terdiam. Cemburu yang meledak tadi ternyata tak hanya soal dendam masa lalu, tapi juga menyadari perasaan saudaranya sendiri. Dan Alya hanya bisa diam terpaku—tak menyangka persahabatan tulus yang ia miliki ternyata menyimpan perasaan yang tak pernah ia sadari selama ini.

1
Ikhsan Ramadhan
cerita seru semangat
vegaa
bagus
Didi Mulyadii
bagus banget
nurulmarisa: terimakasih dukunganya🤩
total 1 replies
Didi Mulyadii
kenapa alya harus berkorban kaya gitu ya
nurulmarisa: demi uang pak🤣
total 1 replies
putri_raisa
kesel deh sama orang tua kevin mandang status banget😵‍💫
nurulmarisa: bisa lah orang yang beradaa maunya sama satu kasta🥲
total 1 replies
Naura Azizah
apa gak merinding ya si Alya di deketin om om kaya Kevin kalo ganteng mah hayu aja gemes alurnya Manarik KA update dong aku kepo kelanjutannya 😍🤣🤭
nurulmarisa: awal awal takut dia pas di perhatin om om ganteng🤣
total 1 replies
Naura Azizah
kayanya si Raka suka Alya deh segitu capernya bejir🤭🤣
nurulmarisa: cinta bertepuk sebelah tangan dia😵‍💫🤣
total 1 replies
vegaa
suka banget sama perhatian Kevin,tapi Alya bakal suka gak si soal dia udah om om tuh jadi kepo kelanjutannya di tunggu updatenya ya KK seru nih aku ada gemes gemesnya🤣
nurulmarisa: siap Kaka Kaka ku dak sabar nich💪🤭🤣
total 3 replies
Andira
jadi makin seru ni ceritanya lanjut kk semnggtt🤭
nurulmarisa: terimakasih KK aku makin semangat KK♥️🫶
total 1 replies
Andira
aku kalo jadi Alya baper parah seperhatian itu kevin
Andira: semua cowo gitu love bombing hehe🤣
total 2 replies
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak ceritanya Bagus banget aku suka alur yang terakhir lanjut kak bagaimana nih makin seru kak bisa komen ya kita semangat ya semangat yah kak bikin karyanya oh iya pak aku punya 3 novel kalau kakak suka mampir-mampir ya kak terima kasih
Feni sang penulis novel: terima kasih ya kak semoga kakak suka ya dengan karya aku ada tiga karya aku tolong baca semuanya ya kak semoga kakak suka dan tolong berikan bintang 5 dan tolong berikan komentar untuk ketiga novel aku kak terima kasih
total 2 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
semangat buat author 💛💛
nurulmarisa: makasih komen kk ,kk juga semangat ya 🙏💪
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
sampai segitunya banget yah🤭
nurulmarisa: sebener ke paksa aja kerja begitu karna nominal gede maklum dunia malam🥲🫠
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
lagian cowoknya gragas banget sih/Smug/
nurulmarisa: kaya itu efek mabuk itu sepeleng🤣
total 1 replies
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
kenapa Alya melakukan itu?
nurulmarisa: lagi enak enak kerja,malah di godain om om kk, mana ganteng lgi🤣👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!