NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:12
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 — Akta Cerai di Tangan

Sepekan setelah seluruh hitung mundur persidangan berakhir, sebuah buku kutipan akta cerai akhirnya berada di tangan Raka.

Sampul hijaunya tipis. Beratnya bahkan tidak sebanding dengan satu panel relief yang biasa ia angkat. Namun dokumen itu menutup lima tahun hidup yang selama ini menahan langkahnya.

Pengacara Wisnu memeriksa nomor perkara, tanggal ikrar talak, identitas para pihak, serta cap Pengadilan Agama Jakarta Selatan sekali lagi.

"Putusan sudah berkekuatan hukum tetap, ikrar talak sudah dilaksanakan, dan akta ini telah diterbitkan," katanya. "Secara hukum, perkawinan Bapak Raka dan Ibu Larasati telah putus."

Raka memasukkan akta itu ke map bening tahan air.

Ia tidak tersenyum lebar. Ia hanya mengembuskan napas panjang, seolah sebuah pintu yang berkarat akhirnya terbuka tanpa harus didobrak.

Di belakangnya, bunyi sepatu Larasati berhenti pada lantai batu.

"Mas Raka."

Raka berbalik. Larasati berdiri bersama Ratna. Sulastri menunggu beberapa langkah dari pintu, sedangkan Bambang tidak tampak. Wajah Larasati tetap rapi seperti sebelum naik panggung, tetapi jemarinya meremas tali tas.

"Ada apa, Bu Laras?"

Sapaan itu membuat bahunya kaku.

"Kita masih bisa membicarakan Keisha." Larasati melirik map di tangan Raka. "Dia butuh keluarga utuh. Kamu bisa meminta pembatalan proses ini atau—"

"Prosesnya sudah selesai," potong Pengacara Wisnu. "Buku akta cerai sudah diterbitkan."

"Saya bicara dengan suami saya."

"Mantan suami," kata Raka.

Dua kata itu pendek. Tidak keras, tetapi cukup membuat Ratna menahan napas.

Larasati mendekat. "Keisha terus bertanya kenapa Ayah tidak pulang."

"Saya akan tetap menjadi ayahnya. Nafkah anak akan saya transfer setiap bulan sesuai amar dan kemampuan yang dinilai dalam perkara. Biaya kesehatan atau kebutuhan mendesak Keisha bisa diajukan dengan bukti. Semua melalui rekening dan catatan yang jelas."

"Jadi cuma uang?"

"Bukan. Jadwal komunikasi dan pertemuan juga harus jelas. Tapi Keisha tidak boleh dijadikan alasan untuk menghidupkan kembali pernikahan yang sudah putus."

Sulastri tidak tahan lagi.

"Lihat cara dia bicara!" serunya. "Baru dapat sedikit nama dari lukisan, sudah merasa hebat. Kamu meninggalkan rumah tanpa harta. Setelah ini, tanpa keluarga Prawira, kamu bukan siapa-siapa."

Beberapa orang yang keluar dari gedung menoleh. Raka tidak membalas dengan suara tinggi. Ia membuka map lain dan menyerahkannya kepada Wisnu.

"Pernyataan penyelesaian harta bersama sudah tercatat. Saya tidak menuntut aset Balet Larasati atau rumah keluarga Prawira. Kewajiban terhadap Keisha mengikuti putusan, bukan angka yang dibuat di luar sidang."

Wisnu menghadapkan satu lembar salinan kepada Sulastri tanpa melepaskannya dari tangan.

"Permintaan kompensasi tambahan yang Ibu sampaikan tidak masuk amar," katanya. "Jika ada komunikasi selanjutnya, gunakan jalur tertulis. Tolong jangan menghalangi atau mengganggu klien saya."

Ratna memandang akta cerai itu, lalu bibirnya melengkung tipis.

"Kamu benar-benar yakin hidupmu akan lebih baik?" tanyanya. "Sekarang orang memuji karena satu proyek taman kanak-kanak. Begitu tren lewat, kamu mungkin baru ingat siapa yang dulu memberimu rumah."

Raka menatapnya datar. "Rumah yang setiap hari mengingatkan saya bahwa saya hanya numpang bukan pemberian. Itu tagihan tanpa angka."

Sindiran di wajah Ratna hilang.

"Dan kalau pekerjaan saya gagal," lanjut Raka, "saya yang menanggungnya. Bukan alasan untuk kembali menjadi pelayan gratis."

Larasati mengambil satu langkah lagi. Aroma parfumnya sama seperti malam ulang tahun Sulastri, tetapi kini tidak lagi memanggil ingatan tentang rumah.

"Kamu akan menyesal," katanya. "Kalau aku mau, aku bisa mengejarmu lagi. Setelah kamu kembali, aku bisa meninggalkanmu kapan saja."

Raka hampir merasa kasihan. Larasati masih berbicara seolah dirinya adalah pintu yang akan selalu terbuka ketika disentuh.

"Bu Laras, kita sudah tidak punya hubungan sebagai suami istri." Ia mengangkat map akta cerai. "Nafkah Keisha akan saya transfer tiap bulan sesuai putusan. Urusan lain tidak perlu dibicarakan."

Ia berbalik.

Sulastri bergerak hendak menahan lengannya, tetapi Wisnu masuk di antara mereka.

"Jangan menyentuh pihak yang sudah meminta jarak," katanya. "Semua urusan berjalan melalui dokumen hukum. Bila gangguan berulang, kami akan mencatatnya."

Raka menuruni tangga tanpa menoleh.

Sebuah mobil tua berhenti di tepi jalan. Bagas berada di balik kemudi, sementara Sasa duduk di kursi belakang dengan sabuk pengaman terpasang. Nama Bagas sudah tercatat sebagai penjemput pendamping yang diperbolehkan selama masa penempatan sementara.

Begitu Bagas membuka pintu, Sasa turun dan berlari tiga langkah sebelum teringat pesan Raka.

Ia berhenti, melihat kanan-kiri, lalu baru mendekati Raka.

"Ayah!"

Raka berjongkok. Sasa memeluk lehernya, lalu menunjuk map.

"Itu surat supaya Ayah tidak dimarahi lagi?"

"Surat yang bilang satu urusan Ayah sudah selesai."

"Berarti Ayah bebas?"

Raka memandang gedung pengadilan di belakangnya. Lima tahun lalu, ia memasuki keluarga Prawira dengan keyakinan bahwa tanggung jawab berarti bertahan terhadap apa pun. Hari ini ia memahami bahwa tanggung jawab juga berarti tahu kapan harus berhenti membiarkan seseorang menghapus harga dirinya.

"Iya," jawabnya. "Ayah bebas."

Bagas menyandarkan siku pada jendela. "Kalau adegan filmnya sudah selesai, naik. Gue parkir dua menit lagi bisa dapat surat cinta dari petugas."

"Surat cinta juga harus tercatat," balas Raka.

Di dalam mobil, Wisnu mengirimkan daftar langkah pascaputusan: menyimpan salinan digital, memperbarui data sipil yang diperlukan, memakai rekening khusus nafkah Keisha, dan menjaga semua komunikasi tetap tertulis. Raka menandai tiap butir. Kebebasan baginya bukan alasan untuk ceroboh.

Siang itu, transfer nafkah pertama setelah akta diterbitkan masuk ke rekening yang ditetapkan. Keterangan transaksinya hanya memuat bulan pembayaran dan nama Keisha.

Tidak ada pesan untuk Larasati.

Di kontrakan, Raka memindai akta cerai, menyimpan salinan terenkripsi, lalu memasukkan dokumen asli ke dalam folder keras. Folder itu ia taruh di laci meja kamar, pada ruang yang sama dengan kotak kecil berisi liontin giok berukir naga.

Satu dokumen menjelaskan hubungan yang telah berakhir.

Satu benda masih menyimpan pertanyaan tentang hubungan darah yang belum pernah ia kenal.

Sasa mengetuk pintu sebelum masuk. Ia membawa dua gelas air dan satu gambar pohon dari masa orientasi.

"Ayah bilang hari ini kita makan siang bersama."

"Ayah ingat."

"Ayah mau senyum dulu?"

Raka menatap wajah kecil yang menunggu dengan serius. Untuk pertama kalinya setelah menerima status bebas secara hukum, senyum itu datang tanpa sisa kewajiban kepada rumah lama.

"Begini?"

"Kurang besar."

Raka tertawa. Ia menutup laci, menggandeng Sasa, dan meninggalkan kamar menuju meja makan.

Pada waktu yang sama, Larasati duduk diam di mobil Ratna.

Ponselnya menyala karena notifikasi transfer nafkah Keisha. Jumlahnya tepat seperti amar. Waktunya tepat. Keterangannya resmi. Raka memenuhi tanggung jawab tanpa menyisakan satu kata pribadi untuknya.

"Dia cuma sedang pamer tegas," kata Ratna. "Nanti juga mencari alasan untuk menghubungimu."

Larasati tidak menjawab.

Ia membuka galeri dan menggulir terlalu jauh. Sebuah foto lama muncul: Raka memegang payung di luar gedung latihan, satu bahunya basah agar kostum Larasati tetap kering. Dulu ia bahkan tidak ingat siapa yang mengambil foto itu.

Kini yang paling mengganggunya bukan wajah Raka di masa lalu.

Melainkan senyum tenang Raka pagi ini ketika berjalan pergi.

Untuk pertama kalinya, Larasati tidak yakin lelaki itu sedang menunggu untuk dipanggil pulang.

Bagaimana jika Raka benar-benar sudah menjadi orang yang berbeda—dan tidak akan pernah kembali kepadanya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!