NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Ucapan Terima Kasih Sang Jenderal

Seminggu setelah rombongan Danuwijaya turun dari Puncak, sebuah mobil dinas berhenti di depan Vila Reksonegoro.

Bening memeriksa kamera lalu menoleh kepada Sekar. "Kali ini hanya satu mobil. Jenderal yang datang saat kecelakaan membawa kedua anak."

Sekar meletakkan laporan Astarasa. "Buka gerbang."

Arka turun lebih dulu. Ia tidak mengenakan seragam lapangan, hanya kemeja lengan panjang berwarna gelap. Bimo berdiri rapat di sisinya, sedangkan Nala melompat turun dan langsung berlari ke teras.

"Mbak Sekar!"

Sekar belum sempat menyapa ketika Nala memeluk pinggangnya.

"Tanganku sudah sembuh," kata anak itu sambil menunjukkan perban kecil. "Ayah bilang aku tidak boleh menggaruk."

"Ayahmu benar."

"Bimo juga tidak sakit, tapi dia masih takut kalau hujan."

Bimo menunduk. Arka tidak menegur Nala karena membocorkan ketakutan kakaknya. Ia hanya meletakkan tangan di bahu anak laki-laki itu.

"Kami datang untuk berterima kasih," katanya.

"Kabar bahwa semua selamat sudah cukup bagi saya."

"Bagi Anda mungkin. Bagi kami belum."

Pak Djoyo mempersilakan mereka masuk. Bening tetap di teras, sedangkan Yudha menunggu di dalam mobil sesuai permintaan Arka agar kunjungan tidak terlihat seperti rombongan resmi.

Di ruang tamu, Nala membuka kotak berisi kue buatan Eyang Darmi. "Eyang belum boleh ikut. Tangannya masih digendong kain, tapi Eyang yang menyuruh kami membawa ini."

"Sampaikan terima kasih saya."

Bimo mengeluarkan sebuah gambar dari tasnya. Gambar itu memperlihatkan mobil, hujan biru yang memenuhi kertas, dan seorang perempuan memegang tangan dua anak.

"Ini untuk Tante," katanya pelan.

Sekar menerima gambar tersebut dengan hati-hati. "Boleh aku simpan di ruang kerja?"

Bimo mengangguk.

Arka memperhatikan cara wajah Sekar melunak di depan anak-anak. Namun ketika pembicaraan beralih kepada dirinya, bahu perempuan itu kembali kaku.

"Ada hal kedua yang ingin saya bicarakan," katanya. "Tim logistik sedang memetakan pemasok makanan untuk kegiatan pelatihan di wilayah Puncak sebelum pengiriman dilanjutkan ke Kota Palagan. Saya mendengar Astarasa memiliki jaringan dapur dan gudang di sini."

Sekar tidak langsung menjawab. "Apakah ini bagian dari ucapan terima kasih?"

"Bukan. Kalau perusahaan Anda tidak memenuhi syarat, tim pengadaan tidak akan memilihnya. Saya hanya memberi tahu bahwa ada proses penawaran yang terbuka."

Jawaban itu membuat ketegangan di bahu Sekar berkurang.

"Saya tidak mau belas kasihan dicampur dengan bisnis."

"Saya juga tidak mau kebutuhan prajurit dicampur dengan utang pribadi."

Pak Djoyo tersenyum kecil. Ningsih mengambil berkas profil Astarasa dan meletakkannya di meja. Sekar menjelaskan kapasitas dapur, jalur pendingin, pemasok lokal, serta masalah audit yang sedang mereka benahi.

Arka bertanya singkat dan tepat. Berapa porsi per hari? Bagaimana pengiriman saat jalan tertutup longsor? Siapa yang menguji keamanan pangan? Sekar tidak menutupi kelemahan. Ia menunjukkan rencana cadangan dan batas kapasitas yang tidak boleh dilampaui.

"Anda bisa saja menyebut angka lebih besar," kata Arka.

"Lalu gagal mengirim ketika orang membutuhkan makan? Tidak."

"Bagus."

Satu kata itu terdengar lebih tulus daripada banyak pujian yang pernah didengar Sekar di acara keluarga.

Yudha masuk membawa lembar informasi pengadaan tanpa logo khusus nama Arka. Persyaratannya sama untuk semua calon pemasok: izin usaha, sertifikat keamanan pangan, kemampuan pelacakan bahan, jadwal uji dapur, dan larangan pemberian hadiah kepada panitia.

"Batas pendaftaran lima hari lagi," jelas Yudha. "Keputusan dilakukan tim, bukan Komandan. Semua komunikasi bisnis masuk melalui surel resmi."

Sekar memeriksa halaman terakhir. "Astarasa akan ikut kalau audit awal kami selesai sebelum batas waktu."

"Kalau belum selesai, jangan dipaksakan," kata Arka. "Masih ada putaran pengadaan berikutnya."

Tidak ada ancaman bahwa kesempatan akan hilang jika ia tidak segera menyenangkan sang pemberi. Tidak ada dokumen lain yang diselipkan diam-diam. Transparansi sederhana itu terasa hampir mewah bagi Sekar.

Ponsel Arka berdering. Wajah Eyang Darmi muncul melalui panggilan video, satu lengannya masih disangga.

"Mana perempuan yang menyelamatkan cucu-cucuku?" tanyanya.

Arka menyerahkan ponsel kepada Sekar.

"Eyang seharusnya beristirahat."

"Saya beristirahat sampai bosan. Terima kasih, Nak. Kalau tidak ada kamu, saya tidak tahu apa yang terjadi pada Bimo dan Nala."

"Petugas datang tepat waktu. Saya hanya membantu mereka keluar."

"Orang lain merekam. Kamu masuk ke hujan. Jangan mengecilkan kebaikan sendiri. Kalau saya sudah boleh bepergian, saya akan datang memasakkan sayur lodeh untukmu."

Sekar tertawa pelan. "Saya tunggu, Eyang."

Panggilan berakhir, tetapi kehangatan suara perempuan tua itu tetap tinggal di ruangan.

Nala mulai bosan dan menarik Sekar ke teras untuk melihat bunga. Bimo mengikuti beberapa langkah di belakang. Sekar menunjukkan pohon kecil yang baru ditanam Pak Djoyo sebagai pengganti tanaman yang mati, lalu mengajak mereka menghitung daun muda.

"Tujuh," kata Nala.

"Delapan," koreksi Bimo sambil menunjuk daun tersembunyi.

"Bimo menang," ujar Sekar.

"Tidak ada yang menang," protes Nala. "Aku hanya tidak lihat."

Arka berdiri di pintu teras. Untuk sesaat, ketajaman di wajahnya hilang.

"Mereka tidak biasanya senyaman ini dengan orang baru," katanya ketika anak-anak berlari mengejar kupu-kupu.

"Mungkin karena kami bertemu saat mereka ketakutan."

"Bimo justru biasanya menghindari orang yang melihatnya takut."

Sekar melirik anak itu. "Dia tidak perlu malu."

"Saya tahu. Membuat dia percaya itu yang sulit."

Mata Arka turun ke pergelangan tangan Sekar. Memar sudah memudar, tetapi belum hilang seluruhnya.

"Apakah Anda aman di sini?"

Pertanyaan itu membuat Sekar waspada. "Mengapa bertanya?"

"Saat kecelakaan, Anda tampak seperti orang yang sedang pergi jauh. Minggu lalu, konvoi logistik saya melaporkan ada perselisihan di gerbang vila ini."

"Itu urusan keluarga."

"Saya tidak meminta penjelasan. Saya hanya bertanya apakah Anda aman."

Sekar terdiam. Rendra menanyakan lokasi, dokumen, dan kapan ia pulang. Arka, yang nyaris tidak mengenalnya, menanyakan keselamatan tanpa menuntut cerita.

"Saya aman," jawabnya. "Sekarang."

Arka mengangguk seolah kata terakhir itu cukup untuk memahami bahwa keadaan bisa berubah.

Sebelum pulang, ia menyerahkan kartu nama Yudha. "Untuk urusan proses pengadaan, gunakan jalur kantor yang tercetak di belakang. Untuk keadaan darurat, nomor Yudha aktif setiap saat."

"Saya tidak ingin menyalahgunakan hubungan."

"Meminta pertolongan ketika terancam bukan penyalahgunaan."

Yudha membuka pintu mobil. Nala memeluk Sekar sekali lagi, lalu naik. Bimo berjalan paling akhir. Satu kakinya sudah berada di dalam ketika ia menoleh.

Tatapannya bertahan lama pada Sekar.

Bibirnya terbuka seperti ingin memanggil, tetapi tidak ada suara yang keluar. Arka mengangkat tubuhnya dengan lembut dan mendudukkannya di kursi.

Mobil bergerak meninggalkan halaman.

Sekar masih memegang kartu nama Yudha dan gambar hujan dari Bimo.

Di dalam mobil, Arka menoleh sekali ke arah vila. Ia datang untuk membayar utang terima kasih.

Ia pulang dengan keinginan yang tidak sederhana untuk kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!